Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledakan Jiwa yang Hancur
Aroma pekat kayu yang hangus menyengat hidung Rahman dan Agil begitu mereka tiba di ujung tikungan.
Napas mereka terengah-engah, dada naik-turun berpacu dengan rasa lelah setelah berlari tanpa henti. Di depan mereka, massa telah merapat, berdesakan di balik garis polisi kuning yang kontras dengan kelabunya suasana pagi.
Melalui celah-celah pundak orang-orang yang menonton, Rahman menangkap siluet yang sangat ia kenali. Ryan. Pemuda melangkah dengan begitu berat, menyeret kakinya di atas tanah basah, menerobos tebalnya barisan kerumunan.
Sebenarnya apa yang terjadi? Pertanyaan itu berputar liar di kepala Rahman, memicu rasa cemas yang merambat hingga ke ujung jemarinya.
Sembari memijat pelipis yang berdenyut-denyut, ia mencoba menata napas. Namun, fokusnya pecah saat potongan kalimat dari reporter TV di markas Nightguard berputar ulang di benaknya.
"...Kawasan perumahan lama... “ Napas Rahman tercekat dan matanya melebar.
"Apa mungkin... ini rumah Ryan?" gumam Rahman dengan suara parau, hampir tidak percaya dengan konklusinya sendiri.
Agil yang berdiri tepat di sampingnya menangkap gumaman tersebut. Alisnya bertaut rapat, menatap kerangka hitam rumah yang runtuh di depan sana dengan raut wajah penuh tanda tanya. Apa seseorang melakukan penyerangan terhadap rumah Ryan tepat ketika mereka terjebak di sekolah? pikir Agil dalam hati.
Skenario itu terasa terlalu rapi untuk disebut sebagai kebetulan. Seseorang tampaknya sengaja memanfaatkan kekacauan di sekolah untuk mengincar tempat ini tanpa ada gangguan dari tim Nightguard maupun Ryan.
Namun, sebelum mereka sempat melangkah lebih dekat untuk menyusul Ryan, keheningan di sekitar mereka terusik oleh suara desas-desus.
Tepat di sebelah kanan Rahman dan Agil, dua orang wanita dewasa berumur sekitar 30-an tengah berdiri bersedekap. Mereka saling mendekatkan kepala, melempar tatapan sinis ke arah Ryan yang baru saja melewati mereka. Karena saking keras dan kasarnya mereka berbisik, setiap jengkal obrolan itu terdengar jelas di telinga Rahman dan Agil.
"Lihatlah itu... si Ryan," bisik wanita berbaju daster biru, menyenggol lengan temannya dengan ekspresi penuh kedengkian.
"Sepertinya cuma dia lagi yang selamat kali ini. Ck, ck... jangan-jangan tumbalnya kali ini keluarganya sendiri."
Mendengar itu, wanita di sebelahnya mendengus sinis sambil bersedekap. "Kita salah sangka selama ini," desisnya jijik.
"Kita semua salah sangka. Bukan keluarganya... bocah itu yang pemuja iblis. Ingat tahun 2012? Semua orang di sekitarnya mati, cuma dia yang selamat. Sekarang? Giliran keluarganya."
Kata-kata keji itu sukses membuat rahang Rahman mengatup rapat. Kepalan tangannya mengeras, menahan gejolak amarah yang mendadak membubung.
Omong kosong macam apa ini?! bantahnya murka dalam hati.
Meskipun sempat curiga saat awal pertemuannya dengan Ryan, ia tidak percaya dengan hal itu.
Jika Ryan benar-benar pemuja iblis, auranya pasti merah pekat seperti Jamal dulu. Namun aura Ryan... sama sekali berbeda.
Aura miliknya berwarna hitam legam. Itu bukanlah aura iblis, melainkan sesuatu yang jauh lebih asing.
Rahman baru saja hendak berbalik untuk menegur kedua wanita itu, namun Agil ternyata bergerak jauh lebih cepat.
Darah Agil sudah mendidih sampai ke ubun-ubun, menghancurkan batas kesabarannya.
"Hah! Omong kosong!" seru Agil tiba-tiba dengan suara meninggi, memotong bisikan mereka tanpa ampun hingga kedua wanita itu tersentak kaget dan mundur selangkah.
Agil mendengus remeh, melangkah selangkah lebih maju dengan tatapan yang mengintimidasi. "Bikin gosip itu pakai otak, Bu, jangan pakai dengkul. Waktu itu, Ryan masih bocah umur delapan tahun.”
Namun, sebelum kedua wanita itu sempat menyemburkan kekesalan mereka, sebuah suara lantang tiba-tiba memutus ketegangan itu.
"AAAAAGGGHHH!"
Sebuah teriakan tajam penuh penderitaan yang dalam seketika memecah kebisingan. Suara itu sangat menyedihkan, seolah menusuk jiwa setiap orang yang mendengarnya.
Ryan ambruk ke tanah, mencengkeram kepalanya sendiri dengan brutal seakan tengkoraknya siap pecah.
Hawa dingin seketika menyelimuti seluruh kawasan, menciptakan kepulan uap tipis dari napas warga yang kebingungan, tepat saat angin kencang mulai menderu dari segala arah.
BOOM!
Sebuah ledakan dahsyat tercipta hingga memicu gelombang kejut tak kasat mata. Energi spiritual berwarna hitam menyembur hebat dari tubuh Ryan, menembus awan bagai pilar kegelapan yang menelan cahaya pagi. Tekanan itu begitu kuat hingga membuat permukaan tanah di bawah kaki Ryan mulai retak.
Semua mata terpaku pada pilar hitam itu dengan pandangan ngeri sekaligus asing. Tak ada satu pun orang di sana yang mengenali manifestasi kegelapan semacam itu. Warnanya begitu pekat, memancarkan gelombang kehampaan yang belum pernah tercatat dalam sejarah.
Melihat situasi yang memburuk dengan cepat, Johandi yang berada di garis depan berbalik menghadap kerumunan dan berteriak lantang dengan suara yang menggelegar,
"Semua warga sipil, mundur! Pergi dari tempat ini sekarang juga!”
Kepanikan massal pun pecah. Warga yang awalnya berkerumun menonton kini saling sikut, berteriak ketakutan, dan berlarian menjauh.
"A-apa itu?! Itu sebenarnya energi apa?!" teriak Agil di tengah kebisingan.
Berbeda dengan Agil yang dilanda kebingungan, Rahman justru merasakan ketakutan yang menyergap hatinya. Ia tahu betul fenomena mengerikan apa yang sedang terjadi di depan mata mereka saat ini.
Pikiran Rahman terlempar pada lembaran kelam berita nasional yang sempat menggugah beberapa tahun lalu. Kasus tragis seorang Esper yang kehilangan kendali atas kekuatan spiritualnya, lalu hancur lebur dalam ledakan yang melenyapkan radius di sekitarnya tanpa sisa.
Kala itu, Asosiasi Esper mengeluarkan rilis resmi bahwa energi spiritual berakar pada jiwa, dan emosi adalah pengendalinya. Ketika emosi seseorang hancur lebur oleh trauma hebat, aliran energi tersebut akan bergolak destruktif hingga menghancurkan tubuh si pengguna.
"Ryan dalam bahaya besar, Gil!" Rahman berseru dengan napas tertahan, menatap pilar hitam di depan mereka. "Energi spiritual adalah cerminan jiwa! Kalau dibiarkan dia bisa berakhir meledak di tempat!"
Mata Agil membelalak mendengar penuturan Rahman. Logikanya berteriak bahwa akhir tragis itu harus dicegah, apa pun caranya. Ketakutan yang sempat membayangi mereka menguap begitu saja, digantikan oleh bara solidaritas yang sempat tertempa di ujung maut.
Peringatan keras Johandi tak lagi mereka gubris. Bahkan rasa perih dari aura hitam yang mulai menguliti tubuh pun mereka abaikan. Rahman dan Agil terus melangkah maju demi mendekati pilar destruktif itu. Memaksa paru-paru mereka bekerja sampai batas maksimal, keduanya berteriak histeris—bertekad memecah gejolak emosi yang sedang menelan kewarasan Ryan.
"RYAN!!! SADARLAH!!!"
"Berhenti! Jangan mendekat lebih dari itu!" teriak Johandi lantang, memberikan peringatan keras. Matanya menatap tajam ke arah Rahman dan Agil, memerintahkan mereka untuk diam di tempat demi keselamatan mereka sendiri.
Johandi sudah kehilangan terlalu banyak orang. Ia tidak akan kehilangan Ryan juga. Tanpa pikir panjang, ia mengumpulkan energi secepat mungkin dan menerjang Ryan.
Namun, sebelum Johandi sempat mengambil langkah lebih jauh, sebuah hantaman gelombang kejut menghantam dadanya.
BOOM!!!
Johandi terlempar ke belakang, terhempas oleh besarnya energi kegelapan Ryan yang melampaui akal sehat. Tubuhnya meluncur beberapa meter sebelum akhirnya menabrak tiang listrik dan ambruk bertumpu lutut hingga napasnya terputus-putus.
"Om Jo!" teriak Agil dengan mata membelalak lebar, sementara Rahman membeku kaku di posisinya dengan tubuh yang gemetar hebat. Di dalam jiwanya, Khodam Harimau Putih meringkuk di sudut terdalam, bergetar ketakutan menghadapi tekanan dari sang predator puncak yang sedang mengamuk di depan mereka.
Sementara itu, di kejauhan sesosok pria berdiri diam di atas ketinggian ruko kosong, mengamati segalanya dari balik embun pagi.
Pria misterius itu mengenakan setelan jas necis serba hitam dengan potongan yang terlalu sempurna, lengkap dengan sebuah topi yang menutupi sebagian wajahnya. Melihat pilar destruktif dan gelombang energi hitam milik Ryan yang terus mengoyak cerahnya langit pagi, seulas senyuman dingin terukir di bibirnya.
Tawa pelannya nyaris tak terdengar, tetapi senyum di sudut bibirnya justru terasa lebih mengganggu daripada teriakan.
Pria itu menurunkan sedikit pinggiran topinya. "Aku memang tidak menemukan apa yang kucari..."
Seringai asimetrisnya semakin melebar, "Tetapi... bagaimana bisa bocah itu memiliki energi yang identik dengan pusaka yang kucari?"
Awalnya ia mengira Ryan membawa pusaka yang selama ini ia cari. Namun setelah mengamati struktur energi hitam itu dengan penglihatan spiritualnya, ia segera menghapus dugaan tersebut.
Energi itu tidak berasal dari benda apa pun.
Energi itu lahir dari inti jiwa Ryan sendiri.
Kenyataan bahwa energi sekelam itu berakar dari dalam jiwa seorang manusia biasa seketika memicu binar ketertarikan di matanya,.
Bibirnya kembali membentuk senyum tipis.
"Menarik..."
Sosok itu pun menghilang dari atap ruko, seolah tak pernah berada di sana.