Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
...----------------...
Pagi itu, pukul 08.00, aku sudah berada di depan rumah Astrid. Tak butuh waktu lama, dia keluar dengan pakaian yang simpel namun rapi. Yang membuatku tertegun adalah dia menenteng sebuah tas kain berisi kotak bekal.
"Loh, kenapa bawa bekal? Nanti di sana kita beli aja, Strid," ucapku heran.
Astrid tersenyum kecil. "Biar hemat, Ka. Lagian makanan di tempat wisata itu pasti mahal banget, kan? Terus juga, ibu hamil itu banyak pantangannya. Enggak semua makanan boleh gue makan, jadi mending gue siapin sendiri dari rumah biar aman."
Aku terdiam sejenak. Mendengar kata "ibu hamil" keluar begitu santai dari mulutnya sambil memikirkan kesehatan anak itu, entah kenapa ada rasa hangat yang menjalar di dadaku. Aku hanya bisa tersenyum senang.
...****************...
Perjalanan ke Cibodas terasa canggung. Aku yang biasanya percaya diri malah jadi kaku saat menyetir. Astrid lah yang mencairkan suasana dengan obrolan ringan tentang kuliahnya. Namun, kepanikanku memuncak saat tanpa sengaja lagu romantis yang mellow terputar di playlist mobil. Aku buru-buru menggantinya dengan tangan gemetar.
"Kenapa lu ganti lagunya? Takut ya kalau gue jadi baper?" ledek Astrid sambil menoleh ke arahku dengan senyum miring.
"Gak lah! Emang lagunya gak enak aja," jawabku ketus, padahal tanganku berkeringat di setir.
Astrid tertawa renyah, "Ngaku aja kali, Ka. Telinga lu merah tuh. Apa perlu gue puterin lagu Yang romantis banget banget banget biar lu jadi cat warna merah?"
"Astrid, diem atau gue turunin lu di tengah jalan," ancamku, yang justru membuat Astrid makin tertawa puas.
Astrid tertawa lepas melihat kepanikanku. "Santai kali, Ka. Gak usah panik gitu mukanya, kayak mau kena razia aja."
...****************...
Kami sempat berhenti di rest area. Lucunya, aku tidak bisa memilih camilan sendiri. Setiap kali aku hendak mengambil keripik atau minuman bersoda, Astrid selalu melarang.
Saat aku memegang sebotol minuman dingin, Astrid langsung menepis tanganku. "Ibu hamil dilarang minum soda, Arka sayang. Taruh lagi."
"Lah kan Gue yang mau minum, bukan lu," bantahku.
"Oh, gitu? Oke, kalau lu minum itu di depan gue, nanti anak lu di dalem sini bisa protes loh, nanti kalo dede bayi nya mau juga gimana ?, sedangkan gue gak boleh minum itu" ucap Astrid dengan nada ngeledek sambil mengusal perutnya yang membesar.
Aku langsung menaruh botol itu dengan panik. "Iya, iya, bawel banget sih!"
Astrid mendekat, berbisik tepat di telingaku, "Galak amat sii calon papa, kalo dede bayinya takut gimana." ucap astrid yang makin meledek ku
"berisik gue salah mulu" ucap ku yang memerah wajahnya
Akhirnya, aku cuma membeli kopi di Coffeshop rest area. aku memesan cappucino di sana
"lu mau juga gak kopi ?" tanya ku yang sedang memesan kepada astrid.
"belum kepengen sii lu aja beli" ucap astrid sambil meminum minuman air kelapa yang dia beli barusan.
Kami berdua mulai berjalan menuju Kebun Raya Cibodas, di mobil kami membeli jajanan dan minuman dari semua jajanan yang kami beli aku hanya membeli kuaci dan segelas kopi cappucino yang sialnya, malah diminum setengah oleh Astrid.
"Strid" ucap ku
"Iyaa?" jawab astrid yang sedang meminum Cappucino ku sambil bermain Handphone.
"lu tadi gue tawarin kopi gamau, giliran gue pesen kopi malah di minum sama lu, gue baru minum dikit loh Strid" ucap ku yang sedang menyetir.
"loh siapa yang gak mau, kan gue bilang 'BELUM MAU' nah sekarang gue lagi mau" ucap Astrid dengan santai sambil meminum Cappucino ku.
"iya iya, berurusan sama ibu hamil ribet" keluh ku sambil terus fokus menyetir.
...****************...
Sesampainya di Kebun Raya Cibodas, semuanya terasa berbeda. Kami berfoto, berkeliling, sering kali aku memfoto Astrid secara diam diam menggunakan kamera yang ku bawa
setelah cukup lama kami berkeliling akhirnya kami memutuskan untuk berteduh di bawah pohon rindang dengan hamparan padang rumput yang luas untuk menyantap bekal.
"Gimana, enak gak makanan gue?" tanya Astrid penuh harap.
"Lumayan," jawabku singkat, padahal dalam hati aku merasa masakan Astrid ini jauh lebih enak dari hidangan restoran mewah manapun.
"Hah, masa cuma lumayan? Padahal gue bikin ini dari pagi buta loh, Ka," protesnya dengan nada kecewa yang menggemaskan.
"Suapin dong," pinta Astrid tiba-tiba.
Aku hampir tersedak bekal yang sedang kunyah. "Hah? Makan sendiri lah, tangan lu kan masih bisa gerak!"
"Tangan gue bisa gerak, tapi dede bayinya lagi pengen dimanja," goda Astrid dengan nada dibuat-buat. "Mumpung kita lagi piknik, kayak pasangan beneran." ledek astrid sambil menaik turun kan kedua alisnya
"Pasangan mata lu peyang," balasku, tapi perlahan aku menyodorkan sendok ke mulutnya.
Astrid menerima suapan itu, lalu menatapku intens. "Tuh kan, kalau lagi perhatian gini, lu gantengnya nambah sepuluh persen. Kenapa gak dari dulu aja sih, dasar gak usah sok jual mahal"
Aku langsung memalingkan wajah ke arah pepohonan, berusaha menyembunyikan senyum yang tertahan. "Udah, makan aja yang bener."
Saat kami sedang asik berbagi cerita, ponselku berdering. Nama Liona terpampang di layar. Astrid melirik sekilas lalu tersenyum meledek. "Hayoo, pacarnya marah tuh. Lu ajak orang lain jalan, eh pacarnya ditinggal. Xixixixi."
"Berisik ah," balasku ketus, lalu mengangkat telepon.
Liona merengek mengajakku ke kafe malam nanti. "sayang malam ini ayo kita ke cafe deket kampus, aku bosen nih mau main"
"maaf Liona hari ini aku sibuk mungkin lain kali" tolak ku.
"loh kok kamu begitu si sekarang" balas liona yang kesal.
"aku tidak bermaksud seperti itu lio–" ucap ku yang ingin menjelaskan tetapi sambungan langsung di tutup begitu saja.
Aku menolak dengan halus, dan tentu saja, Liona langsung mengamuk dan hanya selalu menginginkan apa yang dia inginkan saja.
Setelah mematikan telepon, suasana mendadak hening. Astrid menatapku dengan tatapan teduh. "Gue paham posisi lu, Ka. Gue gak minta dinikahi kok, santai aja. Gue cuma mau doain semoga lu sama pacar lu punya masa depan cerah."
Mendengar itu, rasa bersalah yang kupendam meledak. "Strid, maaf selama ini gue gak bisa selalu ada. Gue udah mikir matang-matang. Gue bakal tanggung jawab, gue siap nikah sama lu."
Astrid terbelalak. "Hey, jangan sakitin cewek lain, Ka. Lagipula, orang bermartabat kayak lu masa nikah sama orang biasa kayak gue? Malah mempermalukan keluarga lu nanti. Gue gak mau jadi beban."
"Lu bukan beban! Persetan sama keluarga gue, gue gak peduli status! Liona cuma sakit karena cinta, tapi hidup lu rusak karena gue, kasih gue waktu buat selesain urusan gue Strid" ucapku serius.
Astrid diam, sesekali menggerakkan giginya menahan gejolak emosi. "Ada satu hal yang gue sembunyiin. Mungkin kalau gue kasih tau, lu bakal merasa jijik sama gue."
"Apa maksud lu?"
Astrid memegang mata kanannya, lalu melepas softlens yang selalu ia pakai. Saat ia membuka mata, aku terpaku. Mata kirinya berwarna coklat, sedangkan mata kanannya berwarna biru cerah. Heterochromia.
"Kaget ya? Ini alasan kenapa gue selalu pake softlens cokelat. Gue sering dibully karena ini," ucapnya lirih.
"Cantik," bisikku tanpa sadar.
Wajah Astrid memerah seketika. Jantungnya berdetak kencang, aku bisa melihatnya dari tatapan matanya yang sedikit gemetar. "Kok... kok lu gak jijik?"
"Kenapa harus jijik? Itu ciri khas lu, dan itu indah," jawabku.
Suara gemuruh petir memotong suasana. Langit Cibodas yang tadi cerah mendadak gelap pekat.
"Waduh udah mau hujan aja nih, perasaan tadi panas" ucap arka yang melihat ke langit yang mulai gelap. "Ayo pulang udah jam 14.10 nih nanti keburu ujan" ajak ku sambil melihat jam di tangan kiri ku.
"Aahhh...masih jam segini nanti aja pulang nya, dede bayi nya masih mau di sini" ucap Astrid yang masih betah di sana.
Tidak lama setelah itu rintik hujan mulai turun, akhirnya aku dan Astrid memutuskan untuk mencari tempat teduh dari hujan.
...****************...
Kami mencari tempat berteduh di kafe terdekat saat hujan deras turun. Kami terjebak di sana. Di cafe itu Astrid memesan satu teh manis panas, satu es coklat dan dua makanan ringan.
Astrid memperhatikanku yang sedang meminum teh hangat. "Ka, kalau lu malu-malu terus kayak gini, kapan anak kita bakal tau kalau papanya ini sebenernya sayang?" ucap Astrid yang memulai pembicaraan dengan meledek ku
Aku hampir menyemburkan minumanku. "Siapa bilang gue sayang? Gue cuma tanggung jawab, Strid!"
"Tanggung jawab atau emang udah mulai cinta sama si mata biru ini?" Astrid mengedipkan matanya yang sudah pasang softlens.
Aku terdiam, memandangi wajahnya yang cantik dan untuk pertama kalinya, aku tidak memalingkan wajah. Aku justru terpaku.
"Jangan natap gitu ah," bisik Astrid, yang kali ini wajahnya justru ikut memerah. "Gue juga jadi malu kalau lu natap gue kayak gitu... padahal tadi gue yang mulai duluan." ucap astrid dengan malu malu
"Hahaha hahaha, makanya jangan usil" ucap ku yang tertawa puas
...****************...
Aku dan Astrid akhirnya sampai di tempat parkir setelah menunggu hujan Berhenti, Saat aku dan astrid di dalam mobil astrid sempat mengucapkan terima kasih kepada ku
"Makasih yaa ka udah ngajak kita main" ucap astrid
"Hah kita ?" tanya ku yang bingung.
"Iyaa gue sama dede bayi di sini" ucap astrid yang meledek arka Sambil memegang perutnya yang sudah membesar.
"hm iy.. Iyaa sama sama" ucap ku dengan Wajah yang memerah dan menahan rasa malu.
...****************...
Di perjalanan pulang, kemacetan parah melanda. Jam menunjukkan pukul 18.11 dan kami baru menempuh setengah jalan. Tiba-tiba, Astrid meraih plastik hitam. Tubuhnya lemas, ia muntah-muntah hebat.
"Strid Lu gak apa-apa, kan?" tanyaku panik.
"Gue... gue cuma mual..." jawabnya lemas.
Melihat ada hotel di sisi jalan, aku langsung membanting setir masuk ke dalam hotel itu, aku pergi ke area parkir. Aku menuntunnya keluar agar ia bisa menghirup udara segar.
Setelah 15 menit kondisi Astrid mulai membaik, dia mulai bisa menarik nafas lega.
"Gimana udah mendingan ?" tanya ku sambil memijat Astrid.
"iya udah mendingan" balas Astrid
Tak lama setelah itu aku memapahnya masuk ke lobi hotel.
"Arka, ngapain kita di sini? Gue hamil, Ka! Lu mau macem-macem ya? Inget di dalem sini ada bayi!" ucap Astrid panik mengingat kejadian dulu.
"Lu liat jalanan macet gitu! Kalo kita paksa pulang, lu bisa mabuk Lagi!, terus juga sekarang udah magrib terus ujan badak mending kita istirahat dulu.. Gue gak bakal ngapa-ngapain lu, Strid. Berhenti mikir yang aneh-aneh, istirahat aja dulu," tegas ku.
"oke oke tapi pesen dua kamar oke ?" ucap astrid yang memberi syarat.
"iya tenang aja" balas ku Dengan singkat
Akhirnya, dengan wajah ragu, Astrid menuruti langkahku.
...----------------...