NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:40.5k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hidup di Rumah Baru

Malam itu, di dalam rumah mereka yang hangat dan senantiasa menyimpan jutaan memori, Arumi duduk termangu di depan meja kayu. Jemarinya perlahan membereskan tumpukan surat-surat penting. Di bagian bawah, masih ada beberapa lembar surat peringatan jatuh tempo tagihan utang yang sempat membuatnya frustrasi setengah mati beberapa minggu lalu. Namun kini, di atas tumpukan itu, telah terbaring selembar kertas baru yang permukaannya masih bersih. Surat Tanda Pelunasan.

Utang-utangnya sudah bersih, disapu rata oleh kekayaan milik pria berusia 26 tahun yang saat ini sedang menumpang tidur di kamar tamu sebelah.

Rasa canggung mendadak melingkupi dada Arumi. Kertas pelunasan itu seolah menjadi segel bahwa hidupnya kini sudah resmi terikat dengan Rangga. Tak ada yang namanya kebetulan, semua ini takdir. Pun nantinya hubungan mereka tak berhasil, kertas pelunasan ini seumur hidup akan mengingatkan kalau hubungan mereka tidak biasa.

Arumi harusnya tidak merasa sungkan. Karena ini sudah menjadi perjanjian di antara ia dan Rangga.

Namun satu yang mengganggu pikirannya.

Di kantor, Rangga adalah ahli strategi. Mungkinkah ia tidak mengetahui niat terselubung Arumi? Dendam Arumi padanya? Niat Arumi dan anak-anak untuk mengerjainya? Bagaimana mungkin Rangga mengikhlaskan begitu banyak hal untuk seorang wanita yang baru saja bertemu dengannya?

Mungkin sudah saatnya Arumi menanyakan hal ini pada Rangga.

Mereka kini bukan sekedar ‘keluarga korban’ dan ‘pelaku’ lagi. Mereka sebentar lagi akan menjadi keluarga.

Arumi mengalihkan pandangannya, menatap nanar ke arah ranjang utama di dalam kamarnya.

Dulu, di jam-jam tenang seperti ini, Mas Ary-nya tercinta biasanya sudah berbaring santai di sana untuk melepas lelah setelah seharian mengajar di kampus, sesekali jemarinya sibuk scrolling layar ponsel sembari melontarkan candaan kecil yang membuat Arumi tertawa.

Namun kini, kasur itu terasa terlalu luas. Ranjang itu hanya menyisakan tubuh Arumi seorang diri.

Setitik air mata hampir saja menyeruak di sudut mata Arumi, namun ia buru-buru menyekanya. Ia bahkan tidak sampai hati untuk mengganti seprai bermotif garis biru yang terpasang di sana. Arumi sengaja membiarkannya, egois mempertahankan kain itu karena ia masih ingin aroma tubuh khas Mas Ary- nya. Aroma tubuh yang dulu selalu menenangkannya tetap tertinggal di sana, menemaninya melewati malam-malam yang sepi.

Apakah... sebentar lagi ranjang itu akan diisi oleh...

Arumi menggelengkan kepalanya cepat, ia tidak ingin memikirkan hal-hal itu. Rasanya enggan menerima Rangga menjadi suaminya menggantikan Ary. Apakah mereka tidak bisa memiliki hubungan pertemanan biasa saja?

Lalu, Arumi pun perlahan merengkuh jaket peninggalan Mas Ary ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di sana sambil berbisik lirih dengan suara yang pecah.

"Apakah harus kurelakan perasaanku, Mas? Kamu membawakanku seseorang yang sama sekali tidak kukenal... Tidak akan secepat itu hatiku bisa berlabuh pada orang lain, Mas."

Selain gap usia mereka yang timpang, Arumi jelas lebih tua, Rangga berasal dari keluarga yang rumit. Kehidupan konglomerat tidak sesederhana punya harta dan bisa membeli segalanya.

Melihat dari circle pertemanan Rangga pun, ia bisa membaca kalau relasi Rangga kemungkinan orang-orang penting. Dan bisa saja membahayakan ia dan anak-anak.

Lebih baik semua batasan dijelaskan di awal sebelum pernikahan daripada suatu saat mereka terjerat kasus anomali dan akhirnya malah mempersulit Arumi dan anak-anak.

Arumi keluar dari kamarnya, dan mendengar suara gaduh dari lantai atas. Dulu memang sudah terasa ramai, kini suasananya malah lebih ramai daripada dulu.

Wanita itu menengadahkan kepalanya ke atas, menatap plafon rumahnya. Rangga Adiwilaga sepertinya sedang workout memakai alat-alat gym di lantai atas. Terdengar bunyi samsak yang ditinju berkali-kali. Sementara Arumi juga bisa mendengar suara permainan game Aryo yang berdebam-debam, dan teriakannya yang kedengarannya sedang mengejek rekan se-timnya. Malam ini Ryan sedang melaksanakan shiftnya, walau sudah Arumi larang berkali-kali, tapi Ryan keukeuh bekerja karena tidak ingin bergantung pada Rangga. Setidaknya, ia memiliki uang jajannya sendiri.

Dug... dug... dug...

Lamunan syahdu Arumi seketika buyar saat suara langkah kaki berat Rangga terdengar ritmis menuruni anak tangga kayu menuju ke arah dapur di lantai bawah.

Mereka saling bertatapan. Arumi yang berdiri di ambang pintu kamar, dan Rangga yang sedang turun ke bawah. Pria itu melepas penyangga bahunya. Tuibuhnya hanya memakai celana training, tanpa baju atasan. Menampakkan jelas otot tubuhnya yang terlatih dan berbentuk sempurna. Dari mana ia mendapatkan banyak bongkahan bertubi-tubi semacam itu di tubuhnya? Jelnis latihan apa yang Rangga tekuni selama ini? Arumi baru kali ini melihat langsung sosok manusia dengan tubuh bagai dewa Yunani. Selama ini ia hanya melihat dari medsos atau drama AI saja.

Tatapan rangga padanya itu... apa yang pria itu pikirkan saat ini? Rangga menatapnya lekat-lekat dari atas ke bawah seakan baru kali ini melihat Arumi setelah sekian lama. Mata pria itu menilai setiap jengkal tubuh Arumi.

Arumi hanya mengenakan daster lengan buntung yang biasa dipakainya. Dan beberapa kali Rangga melihatnya dengan daster serupa. Tapi sesaat wanita itu teringat... kali ini ia tidak mengenakan bra karena berpikir mau bersiap tidur.

Terlanjur.

Sudahlah.

Bersamaan dengan itu, suara teriakan Aryo yang masih asyik memaki rekan satu tim game online-nya di lantai dua kembali menggema ke seantero rumah.

"Woi, anj1r! Lu jaga dong petinya! Alay lu gak usah ikutan sok jadi hero! Ngaco banget lu, kocak!" teriak Aryo heboh dari kamarnya.

Rangga yang baru menginjakkan kakinya di lantai bawah langsung mendongak ke arah plafon, lalu ia menyeringai ke arah Arumi, seakan berusaha menyingkirkan pikirannya yang entah apa, dan berusaha seakan tidak terjadi apa-apa dan kehidupan berjalan normal seperti biasa.

Pria itu menimpali teriakan ‘bocah gaming’ dengan suara baritonnya yang lantang tanpa beban.

"Yo! Nggak usah ngejek rekan se-tim segitunya, kali! Suara lo kedengaran sampai bawah, mengganggu ketertiban umum tahu!" seru Rangga sambil berjalan menuju kulkas. "Lagian semua orang juga pernah jadi newbie."

Suara kursi komputer yang berderit terdengar dari lantai dua, disusul suara Aryo yang sengaja dikeraskan agar bisa menembus koridor tangga. "Beda konsep, Om! Pas dulu gue masih jadi newbie, gue nggak serandom itu ya! Mau-maunya disuruh maju ke garis depan tanpa modal senjata yang pas! Itu namanya bukan pemula, Om, tapi tumbal!"

Rangga terkekeh pendek, mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas lalu menenggaknya pelan. "Ya tetep aja lo nggak boleh toxic begitu. Atur taktiknya, kasih perintah yang bener lewat voice chat. Lo kan kaptennya. Kalau kaptennya cuma bisa maki-maki, tim lo bakal rata dalam dua menit!"

"Ah, Om Rangga sok tahu! Sini naik kalau berani! Kita by-one di custom room!" tantang Aryo, suaranya terdengar sangat kompetitif.

"Kita nggak sefrekwensi bro, lu urusan dunia maya, gue urusan dunia nyata!" balas Rangga, sengaja meledek balik dengan nada bengal-nya yang khas.

“Om Rangga cupu!” seru Aryo.

“Bentar lagi gue keatas gue bekep mulut lo pake seledri.” Omel Rangga. Karena ia kebetulan melihat seikat seledri di kulkas Arumi. Kayaknya seru kalo Aryo muntah-muntah ijo.

Arumi yang mendengarkan percakapan sahut-sahutan hanya bisa mengembuskan napas panjang. Tiga bulan rumah ini sepi, mendadak kini malah jadi basecamp cowok-cowok bawel.

"Bahu Anda bagaimana kondisinya, Pak CEO? Masih luka begitu sudah dipakai tinju-tinjuan sama samsak," sahut Arumi sambil duduk di meja makan, karena hanya meja makan yang bisa menutupi lekukan puncak dadanya.

Rangga berbalik, lalu menyeringai lebar memamerkan deretan giginya yang putih bersih. Dengan gerakan santai, ia meletakkan kembali tumblernya ke kulkas, lalu mengambil sebuah apel dan pisau buah dari tempat sendok. Gerakannya begitu luwes dan lancar—menandakan bahwa pria berusia 26 tahun itu diam-diam sudah menghafal luar kepala tata letak seluruh perabotan di rumah ini.

"Itu cuma disodok pakai pulpen, Mbak. Rasanya kayak digigit semut doang, kok," sahut Rangga enteng sebelum menegak airnya.

Arumi mendengus tipis dalam hati. Rangga boleh saja berlagak tangguh sekarang, tapi ingatan Arumi tidak bisa dibohongi. Ia ingat betul bagaimana wajah Rangga sempat pias pucat pasi di ruang HRD minggu lalu saat melihat darah segar menetes deras dari bahunya sendiri demi melindunginya. Rasanya Arumi ingin tertawa mengejek kesombongan pria itu, namun ia menyadari bahwa dirinya sudah terlalu lelah untuk meladeni adu mulut malam ini.

Tak terasa, sudah seminggu penuh Rangga menginap dan menumpang hidup di rumah ini. Dan selama seminggu ini pula, sikap Rangga benar-benar santai, chill, dan tanpa beban. Ia memperlakukan rumah ini seakan-akan adalah properti miliknya sendiri. Rangga bahkan dengan tidak tahu dirinya menyortir lemari baju peninggalan almarhum Mas Ary, lalu mengambil beberapa potong kemeja dan jaket kasual untuk ia pakai bekerja ke kantor. Ia ke rumah ini nggak bawa baju. Alasannya, pakaian Mas Ary kan banyak.

Baju yang sama, orang yang berbeda.

Suasana yang berbeda.

Herannya, Arumi tidak merasa keberatan.

Ia malah terharu.

Seakan Rangga sudah ‘berteman karib’ dengan almarhum suaminya, dan kenyataan kalau baju-baju ini pas dipakai Rangga membuat Arumi bertanya-tanya mengenai berbagai kemungkinan. Apakah ini cara Mas Ary-nya mengatakan kalau ia meridhoi semuanya?

Mulai kini, Setiap pagi tepat pukul tujuh, Tony sudah stand-by menjemput Rangga dengan mobil mewah di depan pagar. Momen itu biasanya berbarengan dengan jam pulang Rian dari shift malamnya di luar. Kedua cowok ber-ego tinggi itu hanya sempat bertukar salam pendek dan kaku sejenak di depan pintu, sebelum Rangga berangkat memimpin para pegawainya.

Sebagai nyonya rumah, Arumi merasa sudah menjadi bagian dari kewajibannya untuk membawakan Rangga bekal makan siang, persis seperti cara ia menyiapkan kotak bekal anak-anaknya untuk dibawa ke sekolah dulu. Lucunya, belakangan ini Tony ikut-ikutan mengiba dengan wajah melas agar dibuatkan porsi bekal juga. Tentu saja, beban pekerjaan dapur Arumi bertambah dua kali lipat. Tapi ia sama sekali tidak protes atau mengeluh. Bagaimana bisa protes jika Rangga mentransfer uang belanja bulanan yang nominalnya mencapai tiga digit ke rekeningnya? Angka yang bahkan tidak pernah Arumi bayangkan sebelumnya.

Rangga biasanya baru pulang dari kantor sekitar pukul enam sore. Namun jika sedang masa lembur, pria itu baru akan mengetuk pintu depan saat jarum jam sudah melewati tengah malam. Di luar urusan rutinitas pagi dan bekal, mereka berdua sebenarnya jarang sekali duduk bersama untuk mengobrol atau bertukar cerita. Jadi bisa dibilang... meskipun sudah seminggu tinggal di bawah atap yang sama, Arumi tetap saja tidak begitu mengenal siapa sosok Rangga Adiwilaga yang sebenarnya. Pria itu tetap menjadi teka-teki besar yang berjalan di dalam rumahnya.

Namun, hari demi hari berlalu, Arumi seakan terus diberikan kekuatan dan dorongan batin untuk mulai membangun suasana hangat layaknya sebuah rumah tangga yang nyata. Suka atau tidak, waktu terus bergulir. Tiga bulan lagi, mereka berdua akan resmi menikah secara hukum dan agama. Seluruh berkas administrasi sudah tertata rapi di meja penghulu, bahkan seluruh dana untuk pihak Wedding Organizer pun telah dilunasi.

Dulu, Arumi memutuskan untuk menikahi almarhum Mas Ary karena ia sudah mengenal luar dalam esensi kebaikan pria itu. Dan kini, ia juga menaruh harapan yang sama; ia ingin mengenal sosok Rangga sepenuhnya sebelum ia menyerahkan sisa hidupnya di atas altar pernikahan.

Arumi beranjak dari duduknya dan mencoba melangkah mendekat. Namun, ada satu hal besar yang mendadak disadari oleh wanita itu.

Rangga... sebenarnya sedang bergerak mundur untuk menghindarinya. Langkahnya memang tak kentara, tapi lirikan matanya mengawasi Arumi.

Ya, begitulah kenyataan lucunya. Pria berusia 26 tahun itu memang merasa sangat nyaman tinggal di rumah kayu ini. Rangga dengan sangat cepat terbiasa dengan tabiat Aryo yang berisik di depan komputer, atau sikap Rian yang sedingin es saat pulang kerja. Rangga juga selalu lahap menghabiskan masakan rumahan buatan Arumi—yang meskipun rasanya biasa saja dan sederhana, namun selalu terasa begitu 'ramah' dan menenangkan di lidahnya yang biasa mengecap hidangan restoran bintang lima.

Tapi di sinilah letak masalah terbesarnya. Rasa nyaman itu perlahan bermutasi menjadi sesuatu yang berbahaya bagi kewarasan Rangga. Pria itu menyadari bahwa dirinya mulai menyukai segalanya. Ia mulai menyukai aroma rumah ini, menyukai rutinitas kotak bekal di pagi hari, dan yang paling fatal... ia mulai menyukai setiap detail yang ada di dalam diri Arumi. Ketakutan akan perasaan yang tumbuh terlalu cepat dan terlalu dalam itulah yang memaksa sang CEO muda memilih untuk membatasi diri, memasang jarak tak kasat mata tepat di saat Arumi justru sedang mencoba untuk mengetuk pintu hatinya.

1
Leni Pur indah sari
jangan di pancing Riaan.. tau2 besok udh jadi milik Rangga aja tu rumah sebelah..
neen
kheemm... gerah dan geli😄
Miss F
Rangga udh kecintaan SM mbak aruminto msh malu2 meong🤣🤣
Dede Maesaroh
🤣 kocak
Naftali Hanania
haredang ini mah....fisual sama kalimat2 nya.....bikin hilaf gak ni nanti..😍
Naftali Hanania
salut bgt sm om rangga. respek lah sekwbon lope2 nya...👍👍👍👍💖💖💖💖
Sahlendi Udiningrum
suka banget ma pasangan arumi rangga, menyalaa smuaaa💣
HilVi Tanurahardja💋
makasih upnya madam🥰
HilVi Tanurahardja💋
woaaaahh mantap ya rian
mamaqe
kodee ituuu kodeee...kan ada clue nya..sabaarrrr
mamaqe
duuhhh anak perawan malu2🤣🤣🤣🤣
mamaqe
Cian ranggaaaa
Lusi Amelia
Madame, 1 bab kureeeeng ini 🥹🤣🤣🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
jadi nge bayangjn mas rangga🤣
Miss F
mbak arumii ngiler g liat isi dlm Rangga 🤣 angkat
Nur Aisyah
💪
Siti Rohmah
mau lagi💪
mery harwati
Rangga membalas kebaikan Arumi yang menyelamatkan perusahaan Rangga dari ancaman Bu Shinta dengan membelikan Rian mini market meski dengan alasan dicicil karena Rangga juga tau Rian keras kepala, bener² smart Rangga 👍
mamaqe
ta temenin rum...mamaq malah lg ngelap iler🤣🤣🤣
mamaqe
ranggaaa..mamaq bingung mo komen apa ttg kamu..luar biasa kamu tuhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!