NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

BAB 17

Beberapa jam pun berlalu. Aku akhirnya terlelap karena tubuh kecilku tak mampu lagi menahan rasa lelah yang luar biasa.

Dalam tidurku yang tidak tenang, aku kembali bermimpi. Mimpi tentang kejadian-kejadian lima tahun yang lalu. Mimpi buruk yang cukup sering merayap datang setiap kali ketakutan menguasaiku.

Ingatanku memutar kembali kenangan-kenangan terakhir saat aku melihat wajah Abi, senyum lembut Umi, tawa Kak Waraqah, darah Bibi Salma, rintihan putus asa Elara, dan tubuh Kakek Ilyas yang terbelah.

Meski aku sudah terbiasa dengan mimpi ini, rasa sakitnya selalu terasa sama, seperti sebilah pisau berkarat yang diputar pelan di dalam dadaku. Kali ini, rentetan mimpi itu datang karena aku benar-benar takut kehilangan Goran.

Mataku terbuka dengan napas terkesiap di tengah malam.

Aku terduduk dengan dada yang naik-turun, mengusap keringat dingin di pelipisku. Pandanganku langsung tertuju ke arah hamparan kulit di depan perapian. Di sana, Goran terbaring diam, sementara Mila tertidur lelap di lantai dengan posisi duduk meringkuk, tangannya masih menggenggam erat jari kasar ayahnya.

Aku segera berdiri, mengambil air hangat yang tersisa di baskom, lalu menghampiri Goran untuk memeriksa dan membersihkan ulang lukanya.

Perban yang sebelumnya kubalut dengan tergesa-gesa perlahan kubuka. Namun, gerakan tanganku seketika terhenti. Mataku terbelalak lebar menatap luka sayatan di lengannya. Luka dalam yang beberapa jam lalu kudesak dengan dedaunan herbal itu... kini sudah hampir tertutup sepenuhnya. Dagingnya merajut diri sendiri, menyisakan garis kemerahan yang tak lagi mengeluarkan setetes pun darah.

Astaghfirullah... bagaimana bisa? batinku tak percaya.

Kecepatan penyembuhan ini sudah melampaui batas nalar. Namun, saat aku mengamati lebih dekat, aku menyadari bahwa mukjizat ini tidak datang secara gratis. Wajah Goran tampak jauh lebih pucat dari biasanya, napasnya berembus berat, dan tubuh raksasanya bergetar samar. Seolah-olah luka itu sembuh dengan membakar seluruh tenaganya sekaligus.

Sembuh secepat ini berarti ia akan berada dalam kondisi paling lemah dan rentan selama beberapa waktu ke depan.

Belum selesai rasa terkejutku, Goran tiba-tiba mengerang pelan. Pria raksasa itu terbangun. Dengan pergerakan yang sangat berhati-hati agar tak membangunkan Mila di sampingnya, ia memaksakan diri untuk duduk.

Goran melirik ke arahku sejenak, lalu memalingkan wajahnya menatap nyala api. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, aku melanjutkan tugas membasuh sisa darah kering di tubuhnya.

"Apa yang terjadi?" tanyaku memecah keheningan.

"Aku diserang... oleh banyak sekali orang," jawab Goran dengan suara parau.

Hening sejenak. Aku menghentikan usapanku.

"Apa kau membunuh orang lagi?"

Goran menoleh, menatap mataku dengan raut datar.

"Yang selalu kubunuh selama lima kali musim salju ini hanyalah hewan, Anak Bangsawan. Sampai hari ini, aku bahkan tak pernah bertemu manusia lain selain kalian berdua."

Aku mencoba mencerna kata-katanya, tapi itu belum cukup menjelaskan semuanya. Sambil terus membasuh punggung lebarnya yang kokoh layaknya tembok, aku melirik ke arah Mila. Gadis itu rupanya sudah terbangun dan membuka mata birunya, meski ia tetap diam di posisinya sambil memeluk lengan ayahnya.

"Ceritakanlah semuanya dari awal," tuntutku.

Goran menghela napas berat, matanya menerawang jauh ke dalam bara api, seolah sedang menyusun kembali kepingan kejadian yang baru saja menimpanya.

"Siang tadi, saat salju belum turun, aku melihat kalian berdua sibuk di kebun sayur," Goran memulai ceritanya.

"Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku. Aku mengambil kapakku, melompat dari tebing, dan turun menuju hutan di bawah sana."

"Ide apa?" tanyaku mengerutkan kening.

"Aku ingin membunuh sebanyak mungkin singa dan serigala yang ada di hutan ini. Kalau kau tanya apa alasanku... itu karena sebentar lagi Dewi Mokosh akan mengirimkan tanda pada kalian berdua. Tanda berupa darah yang akan datang setiap bulan, menandakan kalian sudah berubah menjadi devka."

Mendengar itu, tanganku yang sedang memegang kain basah langsung membeku.

Goran menatap kami berdua secara bergantian.

"Karena itu, saat tanda itu tiba nanti, aku ingin kalian bisa menjelajahi hutan itu dengan aman untuk mempelajari semuanya sendiri."

"Tanda?" Mila mengerjapkan matanya yang bulat, menatap polos ke arah Goran lalu menoleh padaku. "Tanda apa?"

"Ayah tak begitu mengerti," sahut Goran santai. "Tapi aku yakin Anak Bangsawan bisa menjelaskannya secara rinci, iya kan?"

Wajahku mendadak terasa panas. Ya Allah, raksasa ini sedang membicarakan menstruasi secara gamblang kepada anak sepuluh tahun! "I-iya... nanti aku jelasin," jawabku tergagap, buru-buru mengalihkan pembicaraan.

"Terus? Apa yang terjadi di hutan, Goran?"

"Saat aku berjalan nyaris ke pinggiran batas hutan, aku melihat asap dan tenda-tenda," lanjut Goran, suaranya kembali serius. "Aku tidak menggubrisnya dan berniat kembali mencari hewan buruan. Namun, salah satu orang dari mereka melihatku. Dia menunjuk ke arahku dan berteriak, 'LESHY!'."

Goran mendengus pelan. "Dan saat itulah, pasukan yang sesungguhnya muncul dan mengepungku. Jumlah mereka tak terlalu banyak, mungkin hanya tiga puluh orang. Tapi insting dan pengalamanku dari masa lalu langsung mengatakan... mereka bukan sekadar prajurit atau tentara bayaran biasa. Mereka adalah Witendz'."

"Witendz?" tanyaku asing dengan kosakata itu.

"Apa itu, Ayah?" timpal Mila penasaran.

"Witendz adalah pejuang elit tingkat tinggi," jelas Goran, matanya menyiratkan penghormatan layaknya seorang petarung. "Mereka memiliki kemampuan bertempur yang sangat mematikan. Sekalipun perisai mereka hancur dan zirah mereka penyok, mereka akan terus maju, pantang mundur. Tapi yang membuatku heran adalah... kenapa ada banyak sekali Witendz berkumpul di satu tempat yang sama? Bangsawan gila mana yang mau membuang hartanya sebanyak ini hanya untuk menyewa mereka?"

Aku mendengarkan dengan saksama, membiarkan Goran tenggelam dalam penceritaannya.

"Aku awalnya mencoba bicara pada mereka," Goran mengangkat bahunya yang diperban. "Tapi mereka mengabaikan kata-kataku. Formasi mereka rapat. Mereka memegang senjata seolah sedang melakukan tugas suci. Dan akhirnya... pertumpahan darah tak bisa dihindari."

Meski aku tidak berada di sana, nada suara Goran membuatku bisa membayangkan pertarungan itu dengan sangat jelas.

TRANG! WUSSS!

"Para Witendz itu menyerangku dari segala arah secara bersamaan," Goran bercerita sambil mengepalkan tangannya. "Aku mengayunkan kapak besarku. Kekuatanku mampu membelah pohon pinus, tapi mereka sama sekali tidak gentar. Seorang prajurit melompat sangat lincah, menghindar dari ayunanku dan menyabetkan belati kembarnya ke pahaku."

JRASH!

"Saat aku mencoba berbalik untuk menghancurkannya, dari depan, tiga pria dengan perisai baja raksasa menahan lajuku. Mereka berteriak,

'Pertahankan dinding perisai! Jangan biarkan monster ini melangkah maju! Demi kemuliaan!'.

Tombak-tombak panjang menusuk dari balik perisai, menembus kulitku."

Goran menatap kosong ke depan. "Pertarungan itu dipenuhi darah dan baja. Setauku mereka bukanlah orang jahat, Anak Bangsawan. Aku bisa melihatnya dari mata mereka. Mereka bertarung dengan kehormatan mutlak, layaknya ksatria yang sedang membasmi kejahatan paling kelam di dunia."

"Aku terus melawan, mematahkan tombak mereka dengan tangan kosong. Namun di sela-sela pertarungan yang membuat napasku hampir putus itu, aku menyadari satu hal. Lambang-lambang di zirah mereka... gambar beruang, elang, salib, dan pedang... mereka semua berasal dari bangsawan yang berbeda-beda. Ini adalah aliansi."

"Lalu bagaimana ayah bisa kabur?" tanya Mila dengan suara bergetar.

"Pertarungan itu terhenti sejenak karena seseorang berjalan tenang membelah formasi pasukannya dan masuk ke tengah arena," ucap Goran pelan. "Dia memakai helm baja berhias bulu."

Pria raksasa itu meniru ucapan sang komandan.

"Apa kau ingat aku, Leshy? Dulu kau menghancurkan rombongan hartaku dan membunuh semua orang hanya untuk mencari obat. Kau bahkan membuatku hampir mati dengan merobek perutku. Tapi berkat mukjizat Tuhan Yesus, aku berhasil selamat dan kembali untuk menuntut balas demi Tuanku Lothar."

Mendengar nama itu disebut, tubuhku langsung membeku.

Lothar? Otakku berputar cepat. Bukankah itu nama Tuan Besar yang akan menjadikanku sebagai hadiah untuk anak bungsunya? Ya, itu nama yang dikatakan Kakek Ilyas padaku di dalam kereta lima tahun yang lalu!

Jadi, komandan pasukan elit ini adalah kepala pengawal yang membeliku di pelelangan Aleksandria. Pantas saja ada puluhan Witendz dari berbagai bangsawan!

Lothar mungkin membiayai atau bahkan menjalin kerjasama dengan bangsawan lain untuk membunuh Goran.

"Tentu saja aku sama sekali tidak mengingat wajahnya di balik helm itu," lanjut Goran dengan wajah polosnya. "Tapi dari apa yang kudengar, para Witendz ini terus menyebut nama gereja dan bangsawan yang masing-masing mereka layani. Saat mereka bersiap menyerangku lagi, aku tahu aku tak bisa menang, terutama dengan tubuh yang mendadak terasa lemas terkuras habis. Aku menggunakan sisa tenagaku untuk menghantamkan kapakku ke tanah, merusak formasi mereka, lalu melompat mundur ke dalam hutan. Aku berhasil lolos dan memanjat naik kesini... namun aku harus merelakan kapakku tertinggal di sana."

Setelah menyelesaikan ceritanya, Goran tertegun. Pria raksasa yang biasa menatap dunia dengan angkuh itu kini menundukkan kepalanya dalam-dalam, terlihat sangat rapuh dan lelah.

"Dewa Perun pasti sudah menurunkan hukumannya..." gumam Goran dengan suara bergetar yang menyayat hati. "Ini semua balasan atas nyawa-nyawa yang telah kurenggut di masa lalu."

Aku menelan ludah, menyingkirkan baskom air dari pangkuanku.

"Aku mengerti bahwa setiap perbuatan di dunia ini pasti ada bayarannya, Goran," ucapku dengan nada setenang mungkin, menatap matanya tajam.

"Tapi apa yang terjadi saat ini tidak sepenuhnya adalah kesalahanmu."

Goran perlahan mengangkat wajahnya.

"Waktu itu kau tak tahu cara lain untuk mengobati Mila. Pikiranmu buntu," lanjutku penuh penekanan. "Meski caramu membunuh mereka semua jelas salah, namun pada akhirnya, kekacauan itulah yang membawamu menemukanku. Akulah yang menjadi tujuan akhirmu dalam penyembuhan Mila."

Aku beringsut lebih dekat, menyentuh lengannya yang hangat. "Maka, jika kau memang menyesalinya... perbaikilah hidupmu mulai hari ini. Jangan terlalu terpaku dan mengasihani diri sendiri karena dosa masa lalumu. Fokuslah pada apa yang harus kau lindungi saat ini."

Keheningan melingkupi kami sesaat. Aku bahkan terkejut menyadari betapa panjang dan terlalu dewasanya kalimat yang baru saja keluar dari mulut mungil anak berumur sepuluh tahun ini. Sangat tidak cocok dengan fisikku.

Mendengar nasihat telak itu, Goran menatapku tanpa berkedip. Mata biru raksasa itu tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya api perapian, meski tak ada satu pun tetesan air mata yang jatuh ke pipinya yang kasar.

"Aku sudah dari dulu sadar betapa tidak sesuainya jalan berpikirmu dengan usiamu yang masih sangat kecil, Anak Bangsawan," ucap Goran pelan. Sebuah senyum tipis, lelah namun tulus, mengembang di bibirnya.

Tangan besarnya yang sedari tadi dipegang oleh Mila, kini terangkat, mengusap puncak kepalaku dengan sangat lembut.

"Tapi kau benar," bisik Goran, suaranya kembali dipenuhi tekad baja. "Aku tak boleh mati dan tenggelam dalam penyesalan. Aku harus kuat untuk melindungi kalian berdua... karena mulai sekarang, aku punya dua anak gadis yang harus kulindungi."

1
Sarah
Hahaha 😂
Sarah
Yaelah. 😂
Sarah
Aduh, jangan sampai dikira nyolong. 😭
Sarah
Emang di zaman kuno ada yang kayak gini? raksasa gitu...? Maksudku, kalau ini zaman Nabi Adam sih make-sense karena tingginya kakek moyang kita ini juga.... 😭
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭
Sarah: Iyasih, kalau misalnya kelahiran zaman purba awal banget, Goram dan Mila pasti pendek kehitungnya. Tapi karena ini zaman pra-kelahiran rasul, tinggi mereka jadi terhitung terlalu tinggi dan gak normal. 🙂
total 2 replies
Sarah
Dia pasti masih hidup, Qatilah. Seharusnya, Waraqah bin Naufal akan bertemu Rasulullah untuk menyatakan kenabiannya nanti bukan? Tapi kalau apakah kalian bisa bertemu lagi... entahlah.
Sarah
Sakit banget baca bab ini... lihat remaja sama anak kecil survive berdua. 😭😖
Sarah
Kudanya pasti Syahid. Karena mengantar orang yang akan membenarkan kenabian Rasulullah saw bersama adiknya untuk bertahan hidup.
Sarah
Tapi... penyerangan ini... memang tidak pernah Maya baca di sejarah kah? Apa ini sesuatu yang tidak tercatat? Sesuatu yang dia lupa? Atau... sesuatu yang berubah?
Sarah: Iyasih, aku aja baru tahu Waraqah bin Naufal itu punya saudari. Dan pada dicari, rupanya bener. Cuma minim info, cuma ada yang tentang menawarkan diri ke Abdullah. 🙂
total 2 replies
Sarah
Antara dia gak diculik tapi diselamatin, atau udah diculik tapi berhasil diselametin.
Sarah
Diculik kah?
Sarah
Susu manis emang udah ada yah di zaman itu?
Maya: ada tapi bukan pake gula melainkan madu
total 1 replies
Sarah
Wah... yang mengenali kenabian nabi itu bukan sih? Yang sepupunya Siti Khadijah? Apa aku salah ingat yah?
Maya: yup betul 😄
total 1 replies
Sarah
Ah... gak bisa bayangin perasaan Abi Uminya... 😭
Sarah
Menarik, isekai tapi ke arab dan MC-nya muslimah. Meskipun nyatanya kalau orang mati ya... kagak ada reinkarnasi yang ada ditanyain man robbuka langsung. Tapi yah... di dunia ini ’kan ada banyak yang tidak ketahui. Bisa aja cewek ini diberikan takdir yang agak... lain...? Pasti ada alasannya kenapa dia malah dilemparin ke masa lalu. Bagus, thor. Konsepnya menarik banget. 👍😂
Sarah: Namanya juga fiksi kak. Nikmati aja hiburan. 😂
total 2 replies
Protocetus
kok jadi Isekai min?
Maya: lebih tepatnya historical isekai
total 1 replies
Protocetus
Thor beneran pernah kuliah di Al Azhar?
Maya: enggak hehehe 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!