mira seorang istri dari pandu, mira hanya seorang ibu rumah tangga dulu nya ia bekerja di salah satu perusahaan menjadi staf biasa . tetapi setelah menikah dengan pandu, ia di larang untuk bekerja.
***
pandu dan mira masih tinggal bersama kedua orang tua pandu dan adik nya. ibu nya melarang pandu untuk pergi dari rumah nya, gaji pandu juga kebanyakan ibunya yang ngatur. mira selalu bersabar dengan sikap pandu dan keluarganya. namun saat mira tahu pandu mengkhianatinya dengan tetangga barunya yang berstatus janda. Mira tak lagi memperdulikan pandu, ia juga tidak lagi meminta uang dan mira juga tidak menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isy_yuli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pabrik
Pagi itu matahari baru saja muncul ketika Mira berdiri di depan cermin. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana kain hitam. Rambutnya yang panjang diikat rapi. Di atas meja, ponselnya terus bergetar karena pesan masuk dari cantika.
Mira tersenyum tipis membaca pesan itu.
Tika: "Jangan telat ya. Kita harus lihat pabrik yang kemarin gua bilang."
Mira: "Tenang. gua berangkat sekarang juga."
Tika: "Kalau cocok, kita bisa langsung negosiasi produksi."
Mira: "Semoga cocok. Orderan sudah terlalu banyak."
Mira menghela napas panjang. Siapa sangka usaha piyama yang ia rintis bersama Tika sebulan yang lalu berkembang sangat cepat. Awalnya mereka hanya menjual puluhan potong. Sekarang, pesanan datang dari berbagai kota hingga mereka kewalahan memenuhi permintaan.
Saat turun ke ruang makan, Pandu sedang memainkan ponselnya sambil menyeruput kopi.
"Mau berangkat kerja, gak kepagian mir? " tanya pandu
"tidak." jawab mira cuek
"mir, hargain dong aku sebagai suami mu. aku lihat akhir akhir ini kamu berubah." geram pandu
"emang mas pernah ngehargain aku. gak kan." ucap balik mira
Tak lama kemudian muncul Bu Denok dari dapur.
"dasar istri durhaka kamu, suka melawan suami." ucap bu Denok dengan nada tidak suka.
"terserah, kalau aku istri durhaka bagaimana anak ibu yang tidak memberi nafkah dengan benar ke istrinya itu namanya dzalim" ucap mira
"mira" tegur pandu
"apa mas, betul kan dengan ucapan ku. ." ucap mira tersenyum tipis
"udahlah gak ada gunanya debat. aku berangkat kerja dulu" lanjut mira langsung keluar rumah.
Begitu pintu tertutup, Bu Denok memandang Pandu.
"Kamu biarkan saja istrimu begitu? kasik paham pandu biar tidak terus melawan." omel bu denok
"udahlah bu, malas aku yang mau debat" ujar pandu
****
Di sebuah kafe, Cantika sudah menunggu.
Begitu Mira datang, sahabatnya langsung melambaikan tangan.
"Mir!" panggil tika
"Maaf, agak terlambat." ucap mira tersenyum
"Gak papa. gua juga baru sampai." jawab tika
Mereka segera membuka laptop. Tika menunjukkan data penjualan terbaru.
Mata Mira langsung membesar.
"Ini benar?" tanya mira saking terkejutnya
"Benar. Dalam seminggu kita dapat hampir duaribu order." tawa tika
"kan kemarin gua uda cerita " lanjut tika
"iya sih, tapi beda saat lihat langsung angkanya kayak gak percaya gitu" ucap mira tersenyum tipis
"Kalau begini kita memang harus punya pabrik sendiri." lanjut mira
"Makanya hari ini kita survei." ucap tika
Mereka lalu berangkat menuju kawasan industri menggunakan taksi.
Sepanjang perjalanan, Tika bercerita penuh semangat.
"Kalau pabrik ini cocok, kapasitas produksi bisa naik lima kali lipat." ucap tika
"Kita juga bisa buat merek premium." ujar mira menganggukkan kepalanya
"Betul." seru tika
Setelah melihat pabrik pertama, mereka melanjutkan ke lokasi kedua.
Pabrik itu jauh lebih besar.
Manajer pabrik menyambut mereka dengan ramah.
"Silakan, Bu Mira, Bu Tika."
"Terima kasih."
Mereka diajak berkeliling. Tika tampak sangat antusias.
"Mesinnya modern sekali." gumam tika
"Baru dua tahun, Bu."
Mira memperhatikan setiap detail.
"Berapa kapasitas produksi per bulan?" tanya mira
Manajer itu menyebutkan angka yang membuat Tika nyaris melompat kegirangan.
Begitu selesai berkeliling, keduanya duduk di ruang rapat.
"Aku suka tempat ini," bisik Tika.
"Aku juga." bisik mira
"Kalau harga sewanya masuk, kita ambil." bisik tika
Mira mengangguk.
Mereka mulai membahas kerja sama.
****
Sementara itu di rumah, Bu Denok kembali mengomel.
"pak kok cuman segini uangnya? " omel bu denok kepada suaminya.
"gaji bapak di potong, bapak melakukan kesalahan" jawab pak pardi dengan setenang mungkin padahal gaji separuhnya ia buat foya foya bareng tari.
"kok bisa? seharusnya bapak lebih hati hati dong. jadi gini kan pakek potong gaji segala" omel bu denok
"udah gak usah ngomel terus bu. lagi pula masih ada gaji pandu kan" ucap pak pardi
"mana cukup pak, di rumah ini banyak tanggungan " kesal bu denok
****
Menjelang sore, Mira dan Tika akhirnya keluar dari pabrik.
"Kita berhasil!" seru Tika.
Mira tertawa.
"Masih tahap awal." ucap mira
"Tapi mereka setuju kerja sama."
"Benar."
Tika merangkul bahu sahabatnya.
"gua sangat bangga sama kita." ucap tika, mira tertawa kecil
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa hidupnya berjalan ke arah yang benar lagi.
****
Malam hari, Mira pulang ke rumah. ia langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan badannya.
Di kamar, Pandu sedang sibuk mengirim pesan kepada selingkuhannya.
Ia tidak sadar bahwa Mira melihat semuanya, dari belakang. mira tidak peduli dengan suaminya lebih baik ia tidur karena hari ini sudah menguras tenaga mensurvei pabrik.
"mau tidur mir? " tanya pandu saat melihat istrinya merebahkan tubuhnya di kasur
"iya " jawab mira
Pandu menatap istrinya beberapa saat. Ada sesuatu yang berbeda. Dulu Mira selalu berusaha menarik perhatiannya.
Selalu ingin mengobrol. Sekarang tidak lagi. Mira menjadi sangat cuek.
"Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?" tanya pandu.
"Kenapa memangnya?" tanya balik mira
"Kamu berubah." jawab pandu
"Berubah bagaimana?" tanya mira
"Jadi dingin." jawab pandu
Mira menatap suaminya dengan tenang.
"biasa aja" ucap mira.
Dan malam itu, Pandu mulai merasakan bagaimana rasanya diabaikan oleh seseorang yang dulu selalu mencintainya.
Bersambung...
...****************...
Hay para kawand kawand jangan lupa di like dan komen ya, biar tambah semangat nulis nya. hehehe. terimakasih sudah membaca