"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.
Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.
Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.
Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17 - Teman Yang Datang Mengancam
Bimo Hartanto datang ke apartemen Alina tanpa pemberitahuan.
Saat itu pukul delapan malam. Alina baru selesai memasang meja lipat di ruang kecilnya. Di atas meja ada laptop, dokumen perceraian, dan secangkir teh yang sudah dingin. Bel pintu berbunyi tiga kali, cepat dan tidak sabar.
Alina melihat layar interkom.
Seorang pria berdiri di depan pintu, memakai kemeja mahal dengan dua kancing atas terbuka. Wajahnya tidak asing. Bimo Hartanto, sahabat Adrian sejak kuliah, orang yang dulu sering datang ke rumah Wicaksono dan bercanda seolah Alina adalah bagian dari furnitur.
Ia pernah berkata di sebuah makan malam, "Alina cocok jadi istri Adrian. Diam, rapi, nggak banyak minta."
Saat itu semua orang tertawa.
Alina juga tersenyum, karena ia belum tahu bahwa penghinaan bisa dibungkus sebagai pujian.
Bel berbunyi lagi.
Alina menekan tombol bicara. "Ada perlu?"
Bimo mendongak ke kamera. "Buka. Kita bicara."
"Tidak."
Wajah Bimo berubah. "Alina, jangan bikin ribet. Aku datang baik-baik."
"Orang yang datang baik-baik biasanya membuat janji."
"Aku mewakili Adrian."
"Pengacara Adrian punya nomor pengacaraku."
Bimo tertawa sinis. "Wah, sekarang ngomongnya pengacara terus. Hebat juga ya, begitu punya sedikit panggung langsung merasa kuat."
Alina hendak mematikan interkom, tapi Bimo menambahkan, "Ini soal Vania."
Tentu saja.
Semua jalan selalu kembali ke Vania.
"Kalau soal Vania, saya lebih tidak perlu mendengar."
"Dia drop setelah unggahan pengacaramu. Kamu puas?"
Alina menatap kamera. "Kalau kondisinya darurat, bawa ke rumah sakit."
"Kamu dingin sekali."
"Terima kasih."
Bimo memukul pintu dengan telapak tangan. "Buka, Alina!"
Suara itu cukup keras hingga tetangga mungkin mendengar.
Alina mengambil ponsel dan menekan rekam video. Setelah itu ia membuka pintu, tapi membiarkan rantai pengaman terpasang.
Celah pintu hanya beberapa sentimeter.
Bimo langsung mencondongkan tubuh. Bau alkohol ringan tercium.
"Akhirnya."
"Bicara dari situ."
Matanya turun ke rantai pintu, lalu ia tertawa. "Takut?"
"Waspada."
"Dengar. Adrian mungkin masih sabar karena kamu ibu Arka. Tapi jangan pikir semua orang akan diam melihat kamu menyakiti Vania."
"Saya menyakiti dia dengan bukti?"
"Kamu mempermalukan perempuan sakit di depan publik."
"Dia mempermalukan saya lebih dulu dengan fitnah."
"Ya ampun, Alina. Kamu dulu tidak begini. Dulu kamu tahu tempat."
Alina tersenyum tipis. "Tempat saya bukan di bawah kaki kalian."
Wajah Bimo mengeras.
"Jangan sok kuat. Tanpa Adrian, kamu bukan siapa-siapa."
"Kalimat itu sudah kadaluarsa."
"Kamu pikir Damar akan terus menolongmu? Laki-laki seperti dia juga cuma tertarik karena kamu masih terlihat menyedihkan. Begitu drama ini selesai, dia akan bosan."
Alina menatapnya tanpa berkedip.
Bimo melanjutkan, semakin berani. "Kalau kamu pintar, cabut gugatan, minta maaf ke Vania, dan ambil kompensasi yang Adrian kasih. Jangan minta harta bersama segala. Kamu tidak menghasilkan uang itu."
"Sudah selesai?"
"Belum."
Bimo mendekatkan wajah ke celah pintu. "Kalau kamu terus keras kepala, kami bisa membuat hidupmu sulit. Kamu mau kerja? Mau sewa apartemen? Mau ketemu Arka? Semua bisa dibuat tidak mudah."
Alina mengangkat ponselnya sedikit.
Lampu rekam menyala.
Bimo melihatnya.
Wajahnya berubah.
"Kamu merekam?"
"Dari awal."
"Hapus."
"Tidak."
Bimo mencengkeram pintu. "Alina, hapus."
"Pergi sebelum saya panggil keamanan."
"Hapus!"
Ia mendorong pintu.
Rantai pengaman menahan, tapi celah terbuka lebih lebar. Alina mundur satu langkah. Jantungnya berdebar, tapi tangannya tetap memegang ponsel.
"Pak Bimo, saya sedang merekam Anda memaksa masuk."
"Jangan main-main!"
Tangan Bimo masuk lewat celah, mencoba meraih ponsel.
Sebelum ia berhasil, suara anak kecil terdengar dari belakangnya.
"Om itu jahat."
Bimo menoleh.
Nara berdiri di lorong bersama Damar. Anak itu memakai kaus tidur dan memegang kantong plastik berisi makanan. Damar berada tepat di belakangnya, wajahnya dingin.
Alina terkejut. "Damar?"
Damar menatap Bimo. "Lepaskan pintunya."
Bimo tertawa pendek. "Wah. Cepat sekali pahlawannya datang."
Damar tidak bergerak. "Aku bilang lepaskan."
Nada suaranya rendah.
Bimo mungkin terbiasa menghadapi orang yang takut pada uang dan koneksi. Damar bukan salah satunya.
Ia melepaskan pintu, tapi masih menatap menantang. "Ini urusan keluarga Adrian."
"Memaksa masuk apartemen perempuan bukan urusan keluarga. Itu pidana."
"Jangan sok jadi pengacara."
"Aku tidak perlu jadi pengacara untuk tahu satpam gedung dan polisi akan tertarik pada rekaman itu."
Bimo menatap Alina, lalu Damar, lalu Nara yang masih memandangnya dengan jijik polos.
"Kamu akan menyesal, Alina."
Alina berkata, "Ambil nomor antrean."
Wajah Bimo merah.
Ia berbalik dan berjalan ke lift.
Nara menunggu sampai pintu lift tertutup, lalu berkata serius, "Tante, orang dewasa itu tidak boleh masuk rumah orang tanpa izin."
Alina menutup pintu dan melepas rantai. Tangannya baru terasa gemetar setelah semua selesai.
Damar melihatnya. "Kamu baik?"
"Aku baik."
Nara mengangkat kantong makanan. "Aku bawain martabak. Tapi tadi ada penjahat."
Alina tertawa lemah.
Damar menghela napas. "Maaf, Nara memaksa ikut. Dia bilang martabak harus sampai hangat."
"Martabak memang lebih enak hangat," kata Nara.
Alina menerima kantong itu.
Hangat.
Tangannya masih gemetar, tapi dada yang tadi sesak mulai longgar.
*****
Rekaman Bimo sampai ke Nadia malam itu juga.
Nadia menelepon lima menit kemudian. "Ini bagus."
"Saya hampir diserang."
"Maksud saya, bagus untuk perkara. Buruk untuk sarafmu."
Alina duduk di lantai, Damar memperbaiki rantai pintu yang sedikit bengkok, Nara makan martabak di meja kecil.
"Apa langkah kita?"
"Somasi. Laporan ke pengelola gedung. Kalau perlu laporan polisi. Dan tentu saja kita kirim salinan ke pengacara Adrian."
"Dia akan bilang Bimo bertindak sendiri."
"Mungkin. Tapi ancamannya menyebut Adrian, Vania, dan akses ke Arka. Itu cukup untuk menunjukkan pola tekanan."
Alina menutup mata.
Ia lelah.
Tapi bukan lelah yang membuatnya ingin pulang. Lebih seperti lelah sebelum berlari lebih jauh.
Damar selesai memperbaiki rantai pintu. "Besok aku bisa minta orang pasang kunci tambahan."
"Aku bayar."
"Aku tidak bicara soal uang."
"Aku tahu. Tapi aku perlu membayar."
Damar menatapnya, lalu mengangguk. "Baik."
Ia mengerti.
Alina tidak ingin berutang dalam bentuk yang bisa berubah menjadi kendali.
Nara menyodorkan piring martabak. "Tante makan dulu. Kalau habis diancam, harus makan manis."
Alina mengambil sepotong. "Aturan dari mana?"
"Dari aku."
"Kalau begitu aku ikut."
Malam itu, di apartemen kecil dengan rantai pintu bengkok, Alina makan martabak sambil menertawakan aturan anak kecil.
Ia hampir lupa dirinya baru saja diancam.
Hampir.
*****
Di rumah Wicaksono, Adrian menerima video itu dari Hendra pukul sepuluh lewat.
Hendra:
Pak, ini bisa merugikan posisi kita. Bimo Hartanto menyebut nama Bapak dan Ibu Vania secara eksplisit.
Adrian membuka video.
Ia melihat Bimo berdiri di depan pintu apartemen Alina, menekan, merendahkan, mengancam akses Arka, lalu mencoba meraih ponsel. Ia melihat wajah Alina di celah pintu. Tenang, tapi pucat. Ia mendengar suara Damar. Ia melihat Nara.
Adrian menonton sampai selesai.
Lalu ia menelepon Bimo.
Bimo mengangkat dengan suara kesal. "Bro, perempuan itu benar-benar..."
"Diam."
Bimo terdiam.
Suara Adrian sangat dingin.
"Kamu datang ke apartemen Alina atas perintah siapa?"
"Aku cuma mau bantu. Vania drop, dan Alina..."
"Aku tanya atas perintah siapa."
"Nggak ada. Inisiatifku."
"Bagus. Maka tanggung sendiri akibatnya."
"Adrian, serius? Aku belain kamu."
"Aku tidak pernah memintamu mengancam ibu anakku."
Ibu anakku.
Kata itu keluar tanpa Adrian sadari.
Bimo tertawa sinis. "Sekarang kamu bela dia? Setelah semua drama?"
"Jangan dekati Alina lagi."
"Kamu mulai luluh sama dia?"
Adrian menutup telepon.
Di ruang keluarga, Vania duduk dengan selimut tipis. Ia menatap Adrian dengan mata cemas.
"Bimo bilang dia hanya ingin membantuku. Aku tidak tahu dia akan ke sana."
Adrian menatapnya.
"Kamu bicara dengan Bimo sebelum dia pergi?"
Vania menggigit bibir. "Dia menelepon. Aku menangis. Aku hanya bilang aku takut semua orang membenciku."
"Dan dia langsung pergi mengancam Alina."
"Aku tidak menyuruhnya."
Adrian menutup mata.
Tidak.
Vania jarang menyuruh secara langsung.
Ia hanya menangis di depan orang yang akan bergerak untuknya.
Dulu Adrian menyebut itu kelembutan.
Malam ini, ia mulai melihat bentuk lain dari hal yang sama.
Baca Maraton tapi takut kehilangan makna
psikopat sinting tolololllll down normal otak nya massa kurang satu kwintal 🔪🔪🔪🔪🖕🖕
pelakor Jahannam semoga tersemogakan cepat mampossss🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🔪🔪