Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Another Day, Another Flowers
Ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu dari pesan kedua ini. Pesan pertama terasa seperti ancaman. Namun yang ini, terasa personal. Seolah seseorang benar-benar memperhatikannya. Bukan hanya mengawasi mansionnya, melainkan dirinya. Ekspresinya. Kebiasaannya. Hal-hal kecil yang bahkan Damien tidak pernah sadari.
Atau mungkin, Damien memang tidak sadar lagi.
Serena memalingkan wajah cepat saat mendengar langkah kaki mendekat dari arah tangga. Damien muncul beberapa detik kemudian dengan rambut sedikit berantakan dan kemeja hitam yang belum dikancing sempurna. Wajahnya masih terlihat mengantuk, tetapi ekspresinya langsung berubah begitu melihat bunga di tangan Serena.
“Lagi?” Nada suaranya turun drastis.
Serena menyerahkan kartu itu tanpa bicara.
Damien membaca isinya dalam diam hingga Serena melihat sesuatu yang berbeda di matanya.
Bukan marah. Bahkan lebih buruk. Territorial.
Damien menatap bunga-bunga itu beberapa detik sebelum rahangnya mengeras perlahan. “Buang,” desis pria itu, tajam.
Serena mengerjap kecil. “Apa?”
“Aku tidak suka ada barang dari orang asing di rumahmu.”
Nada suaranya terlalu tenang. Dan Serena terlalu mengenalnya untuk tidak sadar Damien sedang berusaha keras mengendalikan emosinya sendiri. Pria itu berjalan mendekat lalu mengambil buket tersebut dari tangan Serena. Gerakannya lambat, namun urat di tangannya terlihat menegang jelas.
“Aneh,” gumam Serena pelan.
Damien menoleh.
“Dia tahu banyak hal.”
Tatapan Damien langsung berubah gelap. “Jangan pikirkan dia.”
“Mungkin dia melihat rumah ini.”
“Maka aku akan memastikan dia menyesal.” Kalimat itu keluar terlalu cepat dan dingin.
Dan anehnya, bagian terdalam Serena justru merasa sedikit lebih aman mendengarnya.
Damien memperhatikan wajah Serena beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat tangan dan menyentuh pipi perempuan itu pelan.
“Kau tidak tidur nyenyak.”
Serena tidak menjawab. Karena memang benar. Semalaman ia terus terbangun setiap kali mendengar suara kecil. Dan setiap kali itu terjadi, Serena selalu otomatis bergerak lebih dekat pada Damien. Mencari hangat tubuh pria itu seperti refleks. Mungkin karena selama bertahun-tahun, Damien selalu menjadi satu-satunya orang yang membuat dunia terasa terkendali.
Bahkan ketika pria itu sendiri sering menjadi alasan kekacauan dalam hidup Serena.
“Aku akan mengurus ini,” gumam Damien. Tatapannya turun perlahan ke bibir Serena sebelum kembali naik ke mata perempuan itu.
“Tapi mulai sekarang kau jangan keluar sendirian.”
“Aku masih punya pekerjaan.”
“Aku akan ikut.”
“Damien...”
“Aku serius.” Nada suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat Serena diam.
Damien selalu seperti itu. Tidak perlu membentak untuk terdengar mengontrol. Pria itu hanya perlu berbicara dengan nada rendah dan tenang, lalu seluruh ruangan otomatis bergerak mengikuti kehendaknya.
...****************...
Hari-hari berikutnya mulai terasa aneh. Serena mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan. Sebuah mobil hitam yang beberapa kali terlihat parkir jauh dari mansionnya. Florist anonim yang tiba-tiba mengirim bunga ke lokasi pemotretan tanpa nama pengirim. Lagu jazz favorit Serena yang diputar di bar bahkan sebelum ia duduk. Dan yang paling membuatnya tidak nyaman adalah seseorang tampaknya tahu jadwalnya terlalu tepat.
“Aku tidak suka ini.”
Serena duduk di kursi makeup sambil menatap buket dark burgundy tulips yang kembali dikirim ke studio siang itu.
Pesannya lebih singkat kali ini.
You always look exhausted after seeing him.
Make up artist di belakang Serena terkekeh kecil. “Secret admirer?”
Serena tidak ikut tertawa. Karena entah kenapa, semua ini mulai terasa terlalu dekat.
Damien yang berdiri di sudut ruangan langsung berjalan mendekat begitu melihat bunga itu. Tatapannya turun ke kartu kecil di tangan Serena. Lalu ekspresinya langsung berubah dingin.
“Buang.”
“Itu cuma bunga.”
“Itu obsesi.” Damien mengambil kartu itu lalu meremasnya perlahan di tangan. Rahangnya terlihat keras sekarang.
Dan Serena mulai sadar, kalau Damien tidak hanya marah karena takut seseorang mengganggunya. Pria itu marah karena ada laki-laki lain yang memperhatikan Serena sedetail dirinya. Itu membuat Damien terganggu dengan cara yang hampir primal.
Malamnya, Damien membawa Serena keluar dari kota itu. Tidak banyak penjelasan. Pria itu hanya mengatakan Serena butuh istirahat, yang anehnya, Serena menurut begitu saja.
Mungkin karena dirinya memang lelah. Atau mungkin karena semakin hari, Serena mulai merasa dunia di luar Damien terasa lebih menakutkan dibanding Damien sendiri.
Mobil hitam mereka melaju membelah jalanan malam menuju private resort di daerah pegunungan. Lampu-lampu kota perlahan menghilang, digantikan kabut tipis dan hutan gelap di sepanjang jalan. Damien menyetir sendiri malam itu.
Satu tangannya santai di setir, sementara tangan satunya menggenggam paha Serena pelan sejak tadi. Posesif dan familier. Serena membenci fakta bahwa sentuhan itu masih berhasil membuat dirinya rileks.
“Kau terlalu diam,” gumam Damien tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
“Aku lelah.”
“Kau takut?”
Serena menoleh perlahan. Dan seperti biasa, Damien langsung bisa membaca dirinya terlalu mudah.
“Aku cuma merasa… dia ada di mana-mana.”
Jemari Damien langsung mengusap paha Serena pelan. “Dia tidak akan menyentuhmu.”
“Kau terdengar sangat yakin.”
“Aku memang yakin.”
Tatapan Damien akhirnya bergerak sekilas ke arah Serena. Gelap namun tenang dan sedikit berbahaya.
“Tidak ada laki-laki yang bisa mengambil sesuatu yang kujaga selama bertahun-tahun tepat di depan mataku.”
Napas Serena langsung tertahan kecil, yang sialnya, sebagian dirinya masih menyukai cara Damien mengatakan hal-hal seperti itu.
...----------------...
...To be continue...