NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Beberapa minggu kemudian, setelah rangkaian terapi fisik yang panjang dan pemantauan intensif dari tim medis, hari yang dinantikan itu akhirnya tiba.

Dokter memperbolehkan mereka berdua untuk pulang karena kondisi fisik Pratama telah pulih sepenuhnya dan fungsi motorik Diandra menunjukkan kemajuan yang luar biasa.

Pagi itu, suasana kamar rawat VIP tampak sibuk karena beberapa pengawal sedang merapikan tas dan peralatan medis yang akan dibawa pulang.

Diandra berdiri tegak di samping ranjang, tidak lagi berada di atas kursi roda.

Kedua tangannya mencengkeram erat sebuah tongkat penyangga berkaki empat yang kini menjadi alat bantu setianya.

Meskipun langkah kakinya masih terasa agak kaku, ia tidak lagi mengandalkan kursi roda untuk berpindah tempat.

Diandra menggunakan tongkatnya dibantu oleh sang suami yang dengan setia melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Diandra, menyangga tubuh istrinya agar tetap seimbang.

Sambil melangkah perlahan menuju pintu keluar, Diandra mendongak menatap wajah tampan Pratama yang kini tampak jauh lebih segar dan berwibawa seperti sedia kala.

"Apakah kita langsung ke Yogyakarta saja? Tuan Wijaya pasti sudah menunggu kita," tanya Diandra dengan nada serius.

Pikiran taktisnya langsung tertuju pada agenda penyelidikan dan urusan bisnis krusial yang sempat tertunda di kota budaya tersebut.

Pratama menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap Diandra dengan tatapan mata yang dipenuhi kelembutan sekaligus ketegasan seorang suami yang protektif.

Ia mengusap perlahan pipi istrinya yang kini sudah kembali merona sehat.

"Sayang, kamu baru saja sembuh dan kita pulang," ujar Pratama lembut, memotong kekhawatiran istrinya.

"Rumah kita di Jakarta adalah tempat pertama yang harus kita tuju untuk mengembalikan seluruh kenyamananmu. Urusan Yogyakarta biar aku dan papa yang menanganinya."

Diandra sempat ingin mendebat, namun sorot mata Pratama yang tak terbantahkan membuatnya mengurungkan niat.

Pria itu benar. Tubuhnya memang sudah bisa berdiri, tetapi ia masih membutuhkan istirahat yang cukup sebelum benar-benar terjun kembali ke dalam pusaran konflik yang sesungguhnya.

"Baiklah, Mas. Aku menurut," ucap Diandra dengan senyuman tipis yang manis.

Dengan langkah yang perlahan namun pasti, didampingi ketukan tongkat Diandra yang ritmis di atas lantai, sepasang suami istri itu berjalan keluar meninggalkan rumah sakit.

Mereka melangkah menuju mobil limosin hitam yang sudah bersiap di lobi utama, siap untuk pulang dan menyusun strategi penutupan dari babak pembalasan mereka.

Limosin hitam mewah itu perlahan memasuki gerbang kediaman utama keluarga Bayu.

Kediaman yang megah itu tampak begitu asri, dengan halaman rumput luas yang rapi dan deretan pohon palem yang melambai ditiup angin sore.

Bagi Diandra, menginjakkan kaki kembali di rumah ini dengan raga aslinya membawa sensasi dejavu yang luar biasa.

Lima tahun lamanya rumah ini terasa sunyi tanpa jiwanya, dan kini sang nyonya muda telah kembali.

Pratama turun terlebih dahulu, kemudian dengan cekatan membantu Diandra.

Tangan kekarnya menyangga pinggang sang istri, sementara Diandra menapakkan kakinya perlahan, mengandalkan ketukan tongkat penyangganya di atas ubin marmer selasar rumah.

Di depan pintu jati yang terbuka lebar, Tuan Bayu sudah berdiri menunggu.

Rambutnya yang memutih memantulkan cahaya sore, namun gurat kelelahan yang selama bertahun-tahun bersarang di wajah tuanya seketika runtuh berganti binar kebahagiaan yang murni.

Sesampainya di dalam rumah, Papa langsung melangkah maju dan memeluk putrinya dengan sangat erat.

Air mata pria paruh baya itu merebak, membasahi pundak Diandra.

Pelukan seorang ayah yang akhirnya mendapatkan kembali putri kandungnya setelah bertahun-tahun terjebak dalam raga yang membeku.

"Putriku, akhirnya kamu pulang ke rumah ini dengan selamat," bisik Tuan Bayu dengan suara yang serak menahan haru.

Ia melepaskan pelukannya perlahan, lalu menepuk pundak Pratama dengan penuh rasa hormat dan terima kasih karena menantunya itu telah menjaga Diandra hingga titik darah penghabisan.

"Ayo, kita makan dulu," ajak Papa sambil menghapus sisa air mata di sudut matanya. Senyumnya merekah lebar.

"Papa sudah menyiapkan makanan kesukaan Diandra dan Pratama di meja makan. Semuanya masih hangat."

Mendengar perhatian sang ayah, perut Diandra seketika bergejolak manja.

Bau harum bumbu tradisional yang khas mulai tercium dari arah ruang makan keluarga, membangkitkan kerinduan yang teramat sangat pada masakan rumah.

Diandra menganggukkan kepalanya dengan lembut.

"Iya, Pa. Diandra juga sudah sangat rindu dengan masakan rumah."

Mereka bertiga berjalan perlahan menuju ruang makan.

Di atas meja makan marmer yang panjang, telah tersaji dengan rapi barisan hidangan tradisional favorit mereka.

Ada Pecel Madiun dengan sayuran segar yang disiram sambal kacang kental yang gurih-pedas, lengkap dengan rempeyek kacang yang renyah.

Di sampingnya, semangkuk besar Soto Ayam Jawa dengan kuah kuning bening yang mengepulkan uap harum beraroma serai dan daun jeruk siap memanjakan lidah mereka.

Tidak ketinggalan, sepiring penuh Martabak Telur tebal beraroma daging yang baru saja diangkat dari penggorengan.

Pratama membantu menarikkan kursi untuk Diandra sebelum dirinya sendiri duduk di sebelah sang istri.

Tuan Bayu duduk di ujung meja, menatap kedua anak dan menantunya dengan perasaan lega yang tak ternilai harganya.

Setelah badai besar yang menghantam keluarga mereka, momen makan bersama yang sederhana ini terasa seperti kemewahan tertinggi yang paling mereka syukuri.

Suasana hangat di meja makan mendadak sedikit serius saat aroma soto ayam mulai memudar, digantikan dengan aura pembicaraan bisnis yang mendesak.

Tuan Bayu meletakkan sendoknya, menatap lurus ke arah Diandra dengan tatapan seorang pemimpin yang sedang menyusun langkah strategis.

"Selesai makan, Papa harus segera berangkat ke Yogyakarta," ujar Tuan Bayu dengan nada tegas.

"Papa akan menemui Tuan Wijaya untuk membuka kembali akses data proyek strategis dan menutup lubang kerugian di anak perusahaan yang sempat dikacaukan oleh Mita. Dia benar-benar meninggalkan kekacauan besar dalam struktur organisasi kita."

Diandra, yang baru saja selesai menyuap martabak telur kesukaannya, segera meletakkan garpunya.

Insting profesionalnya yang tajam tidak bisa diam begitu saja saat mendengar tentang kekacauan di perusahaan.

Baginya, setiap detik yang terbuang adalah celah bagi musuh untuk bangkit kembali.

"Apa Diandra boleh ikut, Pa?" tanya Diandra penuh harap.

"Aku tahu detail teknis kerusakannya lebih baik daripada siapa pun. Dengan keterlibatanku, proses pemulihan akses data itu bisa selesai dua kali lebih cepat."

Namun, belum sempat Tuan Bayu memberikan jawaban, Pratama sudah memotong dengan tatapan tajam yang tidak bisa dibantah.

"Tidak usah," ucap Papa dan Pratama secara kompak, hampir bersamaan.

Diandra tertegun, matanya mengerjap tidak percaya.

"Tapi, Mas... Pa..."

"Dengar, Sayang," potong Pratama, suaranya melembut namun penuh otoritas.

Ia mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Diandra di atas meja.

"Fokusmu saat ini hanyalah pemulihan fisik. Kamu baru saja belajar berjalan dengan tongkat, dan dokter menekankan bahwa kamu butuh waktu untuk stabilisasi otot. Yogyakarta bukan tempat untukmu saat ini, dengan segala tensi dan tuntutan fisiknya."

Tuan Bayu mengangguk setuju, menambahi dengan nada kebapakan yang sangat protektif.

"Pratama benar, Diandra. Papa dan Pratama akan menangani urusan Wijaya dengan tangan besi. Kami tidak ingin kamu lelah di jalan, apalagi kondisi keamanan di Yogyakarta masih harus kita sterilkan dari sisa-sisa pengikut Mita."

Diandra terdiam sejenak. Ia melihat ke arah ayahnya, lalu beralih ke suaminya.

Ia sadar, di balik larangan itu, ada ketakutan yang mendalam akan kehilangan dirinya lagi.

Mereka berdua telah melihat betapa hancurnya Diandra saat nyawanya terancam, dan mereka tidak akan membiarkan risiko sekecil apa pun menimpanya lagi.

"Papa akan membawa Diko dan tim pengamanan khusus," sambung Tuan Bayu lagi.

"Sementara kamu, tetaplah di Jakarta bersama Pratama. Kalian berdua harus benar-benar pulih di bawah pengawasan dokter pribadi di rumah ini."

Diandra akhirnya menghela napas panjang. Ia tahu tidak ada gunanya mendebat dua pria yang sangat mencintainya ini.

Dengan sedikit enggan, ia menganggukkan kepala sebagai tanda kepatuhan.

"Baiklah," jawab Diandra pelan, kemudian menatap mereka berdua dengan sorot mata yang penuh tekad.

"Tapi berjanjilah, begitu urusan data di Yogyakarta selesai, berikan aku akses penuh. Aku tidak akan membiarkan satu pun jejak perbuatan Mita tersisa di sistem kita. Jika aku tidak bisa pergi ke sana secara fisik, aku akan menyelesaikannya dari ruang kerja ini dengan komputerku."

Pratama tersenyum tipis, meremas tangan istrinya dengan penuh keyakinan.

"Tentu, Sayang. Kita akan hancurkan sisa kerajaannya bersama-sama, tepat dari meja kerjamu sendiri."

1
Aretha Shanum
oh paling malas bca, ujung2 nya ga jelas
Dede Dedeh
kiraan mau happy ending........
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!