Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.
Celestine setuju.
Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.
Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 16 : Perjanjian dua kerajaan
Aula pertemuan rahasia di sayap utara istana terasa jauh lebih intim dibandingkan arena terbuka pagi tadi. Hanya ada meja bundar besar yang terbuat dari kayu jati berukir emas, dengan beberapa peta wilayah yang terbentang di atasnya. Theodore duduk di kursi utama, sementara George dan Celestine duduk berdampingan, menghadapi para delegasi dari wilayah pesisir yang kini tampak sangat patuh.
"Jadi," Theodore memulai pembicaraan sambil menyesap teh rempahnya. "Master Malvic, aku dengar kau ingin merevisi kontrak perlindungan kapal dagangmu setelah melihat demonstrasi Jenderal George tadi?"
Master Malvic, pria tambun dengan pakaian sutra berwarna ungu, berdehem gugup. "Benar, Yang Mulia. Setelah melihat bagaimana Jenderal George membelah baja hitam... kami menyadari bahwa pengawalan biasa tidak akan cukup untuk menghadapi ancaman bajak laut sihir di Laut Selatan. Kami memohon agar Jenderal George sendiri yang merancang sistem pertahanan untuk armada kami."
George menatap peta laut yang terbentang. Ia meletakkan tangan kristalnya di atas titik-titik pelabuhan utama. "Kau ingin aku melindungi kapal-kapal ku, tapi kau masih menggunakan bahan bakar alkimia yang mudah meledak jika terkena panas ekstrem. Itu adalah kelemahan fatal."
"Lalu, apa saranmu, Jenderal?" tanya Malvic dengan rasa ingin tahu.
"Aku akan menugaskan beberapa alkemis terpilih dari tim Celestine untuk memasang inti kristal es di setiap ruang mesin utama," George menjelaskan dengan nada otoriter. "Inti itu akan menjaga suhu tetap stabil. Dan jika kapal kalian diserang, aku bisa memicu energi dari jarak jauh melalui ikatan mana untuk menciptakan perisai es sementara di lambung kapal."
Celestine mengangguk setuju. "Itu ide yang brilian, George. Dengan begitu, kita tidak perlu menempatkan banyak tentara di setiap kapal. Cukup satu inti kristal yang terhubung dengan pusat kendali di Valley."
Theodore mengetukkan jarinya ke meja. "Dan sebagai imbalannya, Malvic, aku ingin pajak perdagangan emas di pelabuhanmu diturunkan sepuluh persen untuk kas kerajaan. Bagaimana?"
Malvic tampak ragu sejenak, namun ia melirik ke arah George yang sedang menatapnya dengan mata kelabu yang dingin dan tajam. "Setuju, Yang Mulia. Keselamatan armada kami jauh lebih berharga daripada sepuluh persen pajak."
Setelah para delegasi pergi dengan wajah puas sekaligus ngeri, Theodore menghela napas lega dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kau lihat itu, George? Kau baru saja memenangkan negosiasi ekonomi tersulit tahun ini tanpa harus mengeluarkan satu keping emas pun."
"Aku hanya mengatakan apa yang logis, Theodore," sahut George sambil melepaskan sarung tangannya. "Aku tidak suka berbelit-belit dengan angka."
"Itulah yang membuatmu efektif," puji Theodore. "Sekarang, Celestine, bagaimana dengan persiapan akademi barumu? Aku dengar kau sudah mulai menyeleksi kandidat penyihir pertama?"
Celestine tersenyum lebar, matanya berbinar penuh semangat. "Ya, Kak. Aku sudah menemukan lima belas pemuda dengan bakat mana yang unik. Mereka bukan hanya penyihir api atau air biasa, tapi mereka yang memiliki resonansi dengan energi alam. George akan mulai melatih fisik mereka minggu depan."
"Melatih fisik penyihir?" Theodore menaikkan alisnya. "Bukankah mereka biasanya hanya duduk di perpustakaan?"
"Penyihir yang tidak bisa lari saat mananya habis adalah penyihir yang mati, Yang Mulia," George memotong dengan tegas. "Aku akan memastikan mereka bisa bertarung dengan tangan kosong sebelum mereka menyentuh tongkat sihir."
"Aku suka cara berpikirmu," Theodore terkekeh. "Oh, satu lagi. Besok akan ada kunjungan resmi dari Kerajaan Azure. Mereka adalah tetangga kita yang paling tenang, tapi juga yang paling misterius. Kabarnya, mereka membawa seorang putri yang ingin belajar teknik alkimia dari kita."
Celestine mengerutkan kening, ada nada curiga dalam suaranya. "Putri dari Azure? Sejak kapan mereka tertarik pada alkimia kita? Bukankah mereka lebih suka meditasi dan puisi?"
"Mungkin mereka tertarik pada 'keajaiban' baru yang kita miliki di sini," Theodore melirik George sambil tersenyum menggoda.
George hanya mendengus. "Aku punya banyak pekerjaan di barak militer besok. Aku tidak punya waktu untuk menemani putri-putri yang ingin belajar puisi."
"Kau harus hadir, George," kata Celestine sambil menyenggol lengan George. "Ini adalah acara kenegaraan. Dan aku tidak mau kau meninggalkan aku sendirian menghadapi tamu-tamu itu."
"Baiklah, aku akan hadir. Tapi jangan salahkan aku jika aku terlihat bosan," jawab George pasrah.
Malam itu, setelah pertemuan selesai, George dan Celestine berjalan menyusuri koridor balkon yang menghadap ke taman paviliun mawar. Udara malam Valley terasa sejuk, membawa aroma bunga yang baru saja mekar di bawah sinar rembulan.
"Kau melakukannya dengan sangat baik hari ini, George," bisik Celestine. "Rakyat mulai memujamu, dan para jenderal tua itu sekarang patuh padamu. Kau benar-benar menjadi bagian dari Valley."
George berhenti berjalan dan menatap ke arah langit yang bertabur bintang. "Aku masih merasa seperti bermimpi, Celestine. Beberapa bulan yang lalu aku adalah seorang ksatria yang menunggu kematian di tengah salju. Sekarang, aku berada di istana emas, merancang masa depan sebuah kerajaan."
Celestine menggenggam tangan George, memberikan kehangatan yang selalu dibutuhkan pria itu. "Itu karena kau pantas mendapatkannya. Kau memiliki hati yang murni di bawah es itu."
George menarik tangan Celestine dan mencium jemarinya dengan lembut. "Aku hanya berharap kedamaian ini bertahan lama. Surat dari ayahku dan kunjungan dari Azure... aku merasa dunia sedang bergerak ke arah yang baru, dan kita berada di pusatnya."
"Selama kita bersama, kita bisa menghadapi apa pun yang datang dari luar sana," kata Celestine mantap.
Mereka berdiri di sana cukup lama, menikmati kesunyian malam yang indah. Di kejauhan, lampu-lampu kota Valley berkelap-kelip seperti hamparan permata yang jatuh ke bumi. Sejarah agung kerajaan ini memang telah melewati banyak bab peperangan, namun bab yang sedang mereka tulis saat ini terasa jauh lebih berharga bagi mereka berdua.
................
Pagi hari di pelabuhan udara Valley disambut dengan pemandangan yang tak biasa. Sebuah kapal terbang megah dengan layar berwarna perak kebiruan meluncur anggun di antara awan. Kapal itu tidak mengeluarkan asap pembakaran alkimia seperti kapal Valley pada umumnya, melainkan bergerak senyap dengan dorongan energi angin yang murni. Itulah kapal pesiar milik Kerajaan Azure.
Di balkon penyambutan, George berdiri dengan seragam jenderalnya yang baru—setelan biru gelap dengan aksen perak yang membuatnya terlihat sangat berwibawa. Di sampingnya, Celestine tampak cantik dengan gaun berwarna jingga matahari, namun matanya terus memperhatikan kapal yang mulai bersandar itu dengan tatapan menyelidik.
"Kau terlihat sangat gelisah, Celestine," bisik George tanpa menoleh. "Apakah ada yang salah dengan protokol penyambutannya?"
"Tidak ada yang salah dengan protokolnya, George. Hanya saja, aku mengenal Putri Seraphina dari Azure. Kami pernah bertemu di pertemuan alkemis muda tiga tahun lalu. Dia... sangat gigih jika menginginkan sesuatu," jawab Celestine sambil merapikan sarung tangannya.
"Gigih dalam hal apa?" tanya George heran.
"Kau akan lihat sendiri," gumam Celestine.
Pintu kapal terbuka, dan seorang wanita dengan jubah tipis berwarna biru laut melangkah turun. Rambutnya putih panjang seperti buih ombak, dan matanya berwarna biru jernih yang tampak tenang namun tajam. Di belakangnya, beberapa pengawal membawa peti-peti yang dihiasi mutiara.
"Selamat datang di Valley, Putri Seraphina," sapa Theodore dengan senyum diplomatiknya yang paling menawan. "Sebuah kehormatan bagi kami menerima kunjungan dari Kerajaan Azure."
Seraphina membungkuk anggun. "Terima kasih, Raja Theodore. Keindahan Valley selalu menjadi pembicaraan di istana kami. Namun, kudengar belakangan ini Valley memiliki sesuatu yang lebih berkilau daripada emasnya sendiri."
Mata Seraphina langsung beralih ke arah George. Ia berjalan mendekat tanpa ragu, membuat para pengawal sedikit tegang. "Dan ini pasti Jenderal George Augustine. Sang Ksatria Es yang menjadi pembicaraan hingga ke pesisir Azure. Benar-benar sebuah anomali yang indah."
George membungkuk pendek, menjaga jarak formalnya. "Hanya seorang prajurit yang menjalankan tugas, Putri."
"Prajurit dengan lengan kristal putih yang menyimpan energi matahari? Itu bukan sekadar prajurit, Jenderal," sahut Seraphina dengan senyum simpul. Ia beralih menatap Celestine. "Putri Celestine, senang melihatmu lagi. Kau tampak... sangat sibuk belakangan ini."
"Sangat sibuk membangun masa depan kerajaan, Seraphina," jawab Celestine dengan nada yang sopan namun tegas. "Mari, Theodore sudah menyiapkan perjamuan kecil untuk menyambutmu."
Sepanjang perjalanan menuju aula istana, Seraphina terus mengajukan pertanyaan tentang teknik penyatuan mana yang dilakukan George dan Celestine. Ia seolah-olah memiliki ketertarikan akademis yang sangat mendalam terhadap kekuatan George.
"Jenderal George," panggil Seraphina saat mereka melewati koridor utama. "Kudengar kau sedang membangun akademi militer baru. Di Azure, kami memiliki teknik meditasi air yang mungkin bisa menstabilkan mana esmu lebih jauh lagi. Mungkin kita bisa berdiskusi secara pribadi nanti malam?"
Celestine yang berjalan sedikit di depan tiba-tiba berhenti. Ia berbalik dan tersenyum, namun senyumnya tidak mencapai matanya. "Sayang sekali, Seraphina. Malam ini George sudah memiliki jadwal latihan intensif dengan para penyihir fajar. Dan sebagai pengawas utama akademi, aku harus memastikan tidak ada gangguan luar selama proses itu."
"Oh, tentu saja. Aku tidak bermaksud mengganggu," jawab Seraphina tenang, namun tatapannya tetap tertuju pada George. "Hanya saja, potensi Jenderal George terlalu besar untuk dibatasi oleh satu cara pandang saja."
George merasa suasana di sekitarnya mendadak menjadi lebih dingin daripada es utara. Ia menoleh ke arah Celestine yang kini berjalan lebih dekat di sampingnya, bahkan sedikit menggandeng lengannya dengan posesif.
"Kau baik-baik saja?" bisik George pada Celestine saat mereka sampai di aula perjamuan.
"Aku? Aku sangat baik. Hanya merasa udara hari ini sedikit... lembap karena kedatangan orang-orang laut ini," sahut Celestine ketus.
"Celestine, apakah kau cemburu?" tanya George dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai bisikan.
Celestine terdiam sejenak, wajahnya merona merah. "Jangan konyol, George. Aku hanya waspada. Kerajaan Azure tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Perhatikan saja cara dia menatap lengan kristalmu. Dia bukan hanya mengagumi kekuatanmu, dia sedang menghitung nilainya."
Perjamuan siang itu berlangsung dengan penuh teka-teki diplomatik. Seraphina menunjukkan beberapa penemuan Azure yang bisa membantu ekonomi Valley, namun ia selalu menyelipkan pujian untuk George di setiap kesempatan. Theodore, yang menyadari ketegangan antara kedua putri itu, hanya bisa menyesap anggurnya sambil menahan tawa.
"Jadi, George," kata Theodore di tengah perjamuan. "Putri Seraphina membawa hadiah berupa kristal air dari laut dalam. Dia ingin kau yang mengujinya secara langsung di arena latihan besok sore. Bagaimana?"
George melirik Celestine yang sedang memotong daging rusanya dengan tenaga yang agak berlebihan. "Jika Putri Celestine mengizinkan jadwal latihanku diubah, aku tidak keberatan, Yang Mulia."
Semua mata tertuju pada Celestine. Celestine meletakkan pisaunya perlahan dan menatap Seraphina. "Tentu saja. Sepertinya akan menarik melihat bagaimana 'air' dari Azure menghadapi 'es' dari Valley. Aku sendiri yang akan memimpin sesi pengujian itu."
"Aku menantikannya, Putri Celestine," sahut Seraphina dengan tenang.