Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 - LURUH
“Mas Arya... bisa dilepaskan? Semua orang melihat,” bisik Nala gugup
Arya segera melepas pelukannya. Dengan membisikkan kata maaf, tepat di telinga Nala.
Dari kejauhan, Dipta mengawasi segalanya. Tak hanya Dipta, anggota keluarga yang lain juga melihat semuanya dari awal.
Mereka dapat melihat, Arya yang sejak awal berada di belakang Nala. Arya tampak seperti serigala yang sedang mengawasi mangsanya. Dan mangsa itu adalah Nala.
“Dipta, seperti kita akan betul-betul menjadi satu keluarga.” ujar Hanifah yang diam-diam tersenyum saat melihat anaknya mau berdekatan dengan seorang wanita.
Dipta tersenyum formal untuk menanggapi pernyataan dari Hanifah. “Saya tak tau dengan masa depan. Hanya saja, jika memang Nala jatuh hati pada Arya, saya akan menerimanya. Namun jika tidak, maka saya yang akan menjadi penghalang saat Nala menolaknya.” ujar Dipta. Arya memang sahabatnya, namun jika ini menyangkut adiknya dia tak akan pandang bulu. Dia tak akan membiarkan adiknya merasakan sakit lagi setelah bahagia datang dengan begitu lancar.
Maya mengelus punggung suaminya. Dia akan mendukung apapun yang keputusan yang diambil suaminya. Maya sangat tau masa lalu keluarga Dipta yang tersimpan rapat. Nala tak hanya adik Dipta, tapi juga adiknya. Melindunginya adalah tugasnya juga. Dia tak akan membiarkan Nala merasakan sakit untuk kedua kalinya.
Melirik ke arah Nala yang masih tampak malu-malu, ia tersenyum.
“Tenang, semuanya akan baik-baik saja.” bisik Maya
...****************...
Suasana resepsi masih riuh, namun bagi Arya, dunia seolah menyempit hanya pada meja bundar tempat mereka duduk saat ini. Dipta duduk tepat di seberangnya, sementara Nala berada di antara mereka, tampak tenang meski sesekali memijat pelipisnya pelan—mungkin akibat keributan gedung atau guncangan memori yang tak ia sadari.
Arya menyesap jus jeruknya, matanya menatap Dipta dengan topeng ketenangan seorang CEO, namun sesekali lirikan tajamnya jatuh pada Nala. Melirik Nala yang menikmati makanan dan pipi yang menggembung, sangat lucu di matanya. Setiap kali Nala tertawa kecil mendengar lelucon Maya, jantung Arya berdenyut nyeri. Ia merindukan tawa itu, tapi ia lebih merindukan binar penuh cinta dari mata Nala saat menatapnya. Namun, dirinya tak mampu mengekspresikan perasaannya saat ini. Topeng kalem lah yang harus terpasang tanpa celah.
"Kau tampak banyak pikiran, Arya," tegur Dipta, menyadari sahabatnya itu lebih banyak diam
"Hanya memikirkan proyek baru," dusta Arya lancar. "Sangat menantang, tapi aku yakin bisa menaklukkannya."
Lirikan Arya kembali jatuh pada Nala. Ya, menaklukkan kembali kekasihku yang pergi tanpa pamit,
...****************...
Di sudut ruangan yang remang, ponsel di saku jas Arya bergetar. Sebuah pesan dari Kevin masuk: “Tuan, dokumen sudah di tangan. Sangat mengejutkan.”
Arya berpamitan singkat pada meja itu, melangkah menuju area balkon yang sepi. Kevin sudah menunggu di sana dengan map cokelat yang tampak berat. Tanpa suara, Arya menyambarnya.
Di bawah lampu temaram, Arya membaca baris demi baris rekam medis itu.
Diagnosa: Retrograde Amnesia akibat trauma tumpul pada kepala.
Deg!
“Amnesia?” gumam Arya saat membaca rekam medis milik Nala.
Arya mulai memahami alasan dibalik sikap formal Nala terhadapnya. Itu bukan sekedar kepura-puraan, namun ingatan tentang dirinya telah terkunci dalam memori.
Napas Arya tercekat. Melihat hari dan waktu kejadian, itu adalah hari yang sama dimana hari janji mereka. Arya tak menyangka, di balik masa lalu ada sebuah lubang besar di dalamnya. Hari pertemuan di saat ia menunggu Vika di taman kota, di sisi lain sebuah tragedi mengenaskan terjadi. Hari yang sama saat ia mengumpat dalam hati karena merasa dicampakkan. Setetes air mata yang tak sempat jatuh menggantung di pelupuknya. Vika tidak meninggalkannya. Vika tidak mengkhianatinya. Gadis itu sedang bertaruh nyawa untuk menemuinya.
Namun, saat ia membalik halaman berikutnya, tangan Arya gemetar hebat hingga kertas itu lecek. Fakta kepolisian yang dilampirkan Kevin mengungkap penyebab kecelakaan: korban jatuh ke jalanan setelah bertengkar dengan seorang wanita. Bertengkar dengan seorang wanita?
Arya melihat foto wanita itu. Arya sangat mengenal wanita itu. Itu adalah ibu kandung Vika-nya. Sungguh, wanita itu tak pernah berhenti mengganggu Vika. Arya teringat cerita Vika di masa lalu. Arya teringat curhatan Vika di masa lalu tentang betapa keras dan dingin ibunya. Tentang bagaimana Vika merasa seperti burung dalam sangkar yang selalu dipaksa terbang sesuai keinginan sang ibu. Dituntut menjadi sempurna, menjadi gadis anggun, pintar, cantik dan serba bisa.
Teringat saat awal bertemu, Vika tampak seperti boneka hidup. Namun, suatu waktu dirinya tak sengaja melihat Vika menolong seseorang secara diam-diam. Menghubungi ambulans saat semua orang tampak berkerumun tanpa bertindak lebih. Di saat itu, pertemuan pertamanya sungguh berkesan.
Kemudian saat hari libur sekolah taruna, dirinya kembali bertemu dengan Vika. Hanya saja kali ini, di matanya Vika tampak hidup. Bahkan dirinya terkejut saat Vika mampu memukul seorang preman. Teringat itu Arya tertawa kecil dan segera membantunya. Di situlah awal kedekatan mereka. Rasa nyaman begitu terasa. Bahkan Arya mampu menjadi diary hidup milik Vika. Vika yang selalu resah saat ibunya kembali datang menemuinya.
“Ibunya sendiri...” desis Arya, suaranya parau oleh kemurkaan yang murni. Arya teringat akan kesengsaraan Vika-nya di masa lalu. Arya yakin itu bukan pertengkaran sederhana. Pasti ada unsur pemaksaan yang membuat Vika memberontak hingga Vika terdorong ke jalanan dan terjadi kecelakaan itu.
Rahangnya mengeras hingga urat di lehernya menonjol. Sungguh ironi yang sangat menyedihkan. Jika sepuluh tahun lalu ia hanyalah pemuda polisi yang tak punya kuasa untuk melawan keluarga ningrat Nala, maka sekarang ia adalah raksasa. Ia bukan lagi sekadar ingin memilikinya; ia ingin membalaskan dendam atas sepuluh tahun yang tercuri.
“Kevin,” panggil Arya tanpa menoleh, suaranya sedingin es.
“Ya, Tuan?”
“Siapkan ‘sangkar emas’ itu secepat mungkin. Tapi kali ini, tambahkan dinding yang tak bisa ditembus oleh siapa pun, termasuk ibunya. Mulai besok, tidak boleh ada satu pun air mata yang jatuh dari matanya karena wanita itu.”
Kevin tak tau apa yang terjadi di masa lalu. Hanya saja, wanita dalam foto itu telah membangunkan iblis yang tertidur. Kevin yakin, wanita dalam foto itu akan sangat mengalami kesialan secara berturut-turut. Bahkan memilih menghilang daripada menikmati kesialan yang berdatangan.
Arya menatap kembali ke dalam gedung, ke arah Nala yang sedang tersenyum sopan pada tamu. Matanya kini tidak lagi hanya penuh obsesi, tapi juga pelindung yang gelap.
Maafkan aku karena pernah meragukanmu, Vika. Sekarang, biarkan aku yang menjadi tamengmu. Siapa pun yang menyentuhmu—bahkan ibumu sendiri—akan berhadapan dengan nerakaku.