NovelToon NovelToon
Misteri Sekolah Warisan

Misteri Sekolah Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Mustaqimah

Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.

Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17-Kasus Yang Ditutup

Langit tampak mendung kelabu, seolah ikut meratapi kepergian yang begitu cepat dan menyakitkan. Awan-awan hitam menggantung rendah di atas tanah pemakaman umum, menumpahkan gerimis halus yang dingin, membasahi setiap nisan dan gundukan tanah di sana. Suasana di sekitar makam Dinda terasa begitu hening, hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan dan bisikan doa yang berbaur dengan suara angin yang berdesir pelan.

Hari itu, jenazah Dinda Kusuma akhirnya dikebumikan. Prosesi pemakaman berlangsung khidmat dan penuh kesedihan. Hadir seluruh warga sekolah Hantage School Academy, mulai dari Pak Herman, para guru, staf, hingga seluruh teman-teman sekelas Dinda, termasuk Elara dan Keisha yang sejak tadi tak henti meneteskan air mata. Semua mata tertuju pada gundukan tanah merah yang kini menjadi tempat peristirahatan terakhir gadis pendiam itu. Tak ada lagi ejekan, tak ada lagi perundungan, hanya rasa duka yang mendalam dan penyesalan yang terasa terlambat.

Setelah tumpukan tanah dan batu nisan terpasang rapi, perlahan-lahan para pelayat mulai mundur dan beranjak pergi satu per satu, memberi ruang bagi keluarga yang ditinggalkan untuk meluapkan kesedihan terakhir mereka.

Di depan makam yang masih basah itu, Bu Hasanah dan Dina masih tetap duduk berlutut. Ibu dan anak itu menangis tersedu-sedu, memeluk batu nisan dingin itu seolah masih bisa memeluk tubuh hangat Dinda. Ratapan pilu Bu Hasanah terdengar memecah keheningan, membuat siapa pun yang mendengarnya merasakan perih yang menyesakkan dada.

"Nak... Maafkan Ibu ya, Nak... Ibu nggak bisa jaga kamu... Kamu anak baik, Nak... Kamu anak paling berbakti... Kenapa Tuhan ambil kamu secepat ini..." isak Bu Hasanah, tangannya gemetar membelai ukiran nama putrinya di atas batu.

Di sampingnya, Dina yang masih berusia 14 tahun itu terlihat bingung dan sangat sedih, ia memeluk erat lengan ibunya sambil terus menangis tanpa suara, matanya yang sembab menatap foto kakaknya yang terpajang di sana.

Tak lama kemudian, Pak Herman berjalan mendekat perlahan. Langkahnya berat, wajahnya tampak lelah dan penuh rasa bersalah yang mendalam. Di tangannya, ia menggenggam sebuah amplop cokelat tebal. Ia berlutut di samping Bu Hasanah, menundukkan kepalanya dengan penuh rasa hormat dan duka.

"Bu Hasanah..." panggil Pak Herman pelan, suaranya parau. Wanita itu menoleh, menyeka air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. "Ini... ini sedikit bantuan dari pihak sekolah dan kami semua, Bu. Kami tahu ini tidak bisa menggantikan apa yang Ibu hilangkan, tapi setidaknya semoga bisa sedikit meringankan beban Ibu dan Dina ke depannya. Terimalah ini, sebagai bentuk rasa hormat kami terhadap almarhumah Dinda, murid yang sangat kami sayangi."

Pak Herman menyodorkan amplop itu. Di dalamnya bukan hanya uang santunan, melainkan juga beasiswa penuh untuk pendidikan Dina di masa depan.

Bu Hasanah menatap amplop itu dengan mata yang semakin berkaca-kaca. Ia menerima pemberian itu dengan tangan gemetar, lalu menatap wajah Pak Herman yang tampak tulus bersalah. Rasa sedihnya sedikit terobati oleh perhatian itu. Ia mengangguk berulang kali, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Terima kasih, Pak... Terima kasih banyak atas semua kebaikan Bapak dan semua guru di sekolah itu... Dinda selalu bangga bisa sekolah di sana... Terima kasih sudah peduli sama kami... Terima kasih..." ucap Bu Hasanah terbata-bata, air matanya kembali mengalir deras, kali ini karena rasa haru yang bercampur duka.

Pak Herman hanya mengangguk pelan, tak sanggup berkata-kata lagi. Ia bangkit berdiri, memberi isyarat kepada Bu Melda dan guru-guru lain untuk mulai bergerak pergi dari sana. Waktu untuk perpisahan pribadi keluarga sudah habis, dan ada banyak hal lain yang harus segera diselesaikan.

"Ayo teman-teman, Bapak-Ibu guru, mari kita beranjak. Biarkan keluarga menenangkan diri sebentar lagi," ucap Pak Herman lirih kepada kerumunan murid dan guru yang masih berdiri di belakang.

Satu per satu, mereka pun berbalik badan dan mulai berjalan menjauh dari makam Dinda. Langkah kaki mereka terdengar samar-samar di jalan setapak pemakaman yang berumput basah. Elara dan Keisha berjalan paling belakang, sesekali menoleh ke belakang menatap gundukan tanah itu dengan hati yang masih hancur lebur.

Sesampainya di gerbang utama pemakaman, tempat parkir kendaraan sekolah dan mobil para guru berbaris rapi, suasana yang tadinya hening berubah sedikit menjadi riuh rendah persiapan pulang. Namun, di tengah kerumunan itu, kedatangan dua orang pria berseragam polisi membuat semua orang seketika diam dan menatap keduanya. Itulah kedua petugas yang kemarin menangani kasus kematian Dinda.

Mereka berjalan cepat menghampiri Pak Herman yang sedang berbicara dengan sopir bus sekolah. Pak Herman langsung berhenti bicara saat melihat kedatangan kedua polisi itu. Wajahnya berubah menjadi tegang seketika, sorot matanya mengisyaratkan rasa khawatir yang mendalam.

Salah satu petugas, yang menjadi penyidik utama, langsung menyapa Pak Herman dengan suara rendah namun cukup terdengar oleh orang-orang di dekatnya. Di tangannya, ia membawa sebuah map berwarna merah yang tebal dan terlihat resmi.

"Pak Herman... Kebetulan sekali kami bertemu Bapak di sini," ucap polisi itu. Ia melirik sekilas ke arah murid-murid yang berkerumun, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Pak Herman. "Kami datang khusus menemui Bapak untuk menyampaikan hasil lengkap pemeriksaan otopsi almarhumah Dinda Kusuma. Hasilnya baru saja keluar dari laboratorium tadi siang, dan kami langsung berangkat ke sini."

Pak Herman mengangguk cepat, wajahnya makin tegang. Ia menoleh ke kiri dan kanan dengan cemas, lalu langsung menggandeng lengan kedua petugas itu dengan sedikit tergesa-gesa.

"Baik, Pak. Terima kasih sudah datang. Mari ikut saya, kita bicarakan ini di tempat yang agak sepi sedikit, di sana saja..." jawab Pak Herman cepat. Ia langsung membawa kedua polisi itu berjalan menjauh dari kerumunan murid dan guru, menuju ke arah mobil dinas sekolah yang terparkir agak terpisah di ujung halaman, jauh dari jangkauan pendengaran siapa pun.

Di antara kerumunan murid, Elara yang sejak tadi diam dan memperhatikan segala gerak-gerik Pak Herman, langsung menangkap keanehan itu. Jantungnya seketika berdegup kencang. Perasaannya kembali tidak enak. Hasil otopsi? Kenapa harus dibawa ke tempat sepi? Kenapa Pak Herman terlihat begitu gugup dan buru-buru? Padahal ini urusan terbuka, kenapa harus dirahasiakan?

Ingatan Elara kembali melayang ke percakapan telepon Pak Herman dengan Nyonya Tamara di atap sekolah waktu itu. Perintah untuk menutup kasus, perintah untuk membuat laporan seolah Dinda bunuh diri... Rasa curiga yang sudah ada sejak kemarin kini memuncak menjadi kepastian bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.

Elara menoleh ke samping, Keisha sedang berbicara pelan dengan Salsa dan Zoey, tampaknya belum menyadari apa yang baru saja terjadi. Tanpa berpikir panjang lagi, didorong rasa penasaran dan keinginan mengetahui kebenaran demi sahabatnya yang sudah tiada, Elara perlahan-lahan menjauh dari teman-temannya. Ia berjalan membelakangi mereka, lalu bergerak mengendap-endap di balik deretan mobil dan pepohonan besar yang ada di pinggir area parkir itu.

Di balik rimbunan pohon besar dan deretan kendaraan yang terparkir di pinggir area pemakaman, suasana terasa jauh lebih sunyi, hanya terdengar suara desiran angin yang membelai dedaunan. Di sanalah Pak Herman berhenti melangkah, diikuti rapat oleh kedua petugas kepolisian.

Salah satu petugas, yang bertindak sebagai penyidik utama, segera mengeluarkan sebuah map berwarna merah tebal dari tas kerjanya. Ia membuka map itu, menunjuk pada lembaran-lembaran kertas yang berisi tinta hitam hasil pemeriksaan laboratorium dan tim medis, lalu mulai menjelaskan dengan nada suara rendah namun tegas.

"Baik, Pak Herman. Saya sampaikan langsung inti hasilnya saja," ucap polisi itu sambil menatap Pak Herman lekat-lekat. "Berdasarkan pemeriksaan mendalam terhadap jenazah almarhumah Dinda Kusuma, baik dari segi kondisi fisik, luka yang ada, maupun hasil tes laboratorium... kami mendapatkan temuan yang sangat jelas dan mengarah pada satu kesimpulan pasti."

Polisi itu berhenti sejenak, memilih kata-katanya agar tegas namun tidak terlalu keras. Ia melanjutkan, "Luka-luka di tubuh korban tidak murni akibat benturan jatuh dari ketinggian. Ada bekas pukulan benda tumpul di bagian punggung dan dada, serta jejak perlawanan yang samar di pergelangan tangan. Selain itu, kami menemukan zat penenang dosis tinggi yang bercampur dalam darahnya. Artinya, korban sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri, bahkan mungkin sudah meninggal, sebelum tubuhnya diletakkan di atap sekolah. Pak Herman... kami bisa menyimpulkan seratus persen bahwa kematian Dinda bukan kecelakaan, bukan bunuh diri, melainkan pembunuhan berencana."

Suasana hening seketika. Angin sepoi-sepoi terasa dingin menusuk tulang. Di balik semak-semak tak jauh dari sana, Elara menutup mulutnya erat-erat dengan kedua tangan, matanya terbelalak penuh amarah dan kesedihan. Ia tahu, ia sudah menduganya, tapi mendengar kepastian itu langsung dari mulut penyidik membuat hatinya terasa remuk sekaligus berapi-api.

Pak Herman menghela napas panjang, napas yang terdengar berat dan pasrah. Ia tidak tampak terkejut mendengar kata "pembunuhan", seolah ia sudah tahu jawabannya sejak awal. Ia menatap kedua petugas itu dengan pandangan yang memohon pengertian, lalu berkata perlahan namun tegas.

"Saya mengerti laporan kalian... Saya paham betul apa arti dari semua temuan itu. Tapi... dengarkan permintaan saya ini. Saya mohon... kasus ini cukup sampai di sini saja. Tutup saja kasusnya. Anggap saja ini musibah biasa, atau kecelakaan tragis. Jangan dilanjutkan lagi penyelidikannya."

"Apa?!" seru kedua polisi itu bersamaan, keduanya saling pandang tak percaya lalu kembali menatap Pak Herman. Wajah mereka penuh keterkejutan dan kebingungan.

"Pak Herman, Bapak sadar apa yang Bapak katakan?" tanya salah satu polisi itu dengan nada tak percaya. "Ini pembunuhan, Pak! Ada nyawa yang direnggut secara paksa dan kejam. Ada pelaku yang berkeliaran bebas. Kenapa harus ditutup? Di mana rasa keadilan untuk korban dan keluarganya? Kami tidak mengerti alasan Bapak."

Pak Herman menundukkan wajahnya, ia tahu permintaannya ini sangat keliru di mata hukum, tapi ia tidak punya kuasa untuk menolak perintah itu. Ia menjawab dengan suara berat dan lirih.

"Ini bukan keinginan saya, Pak... Percayalah, saya juga sedih dan marah. Tapi ini adalah perintah mutlak... permintaan langsung dari Nyonya Tamara, pemilik tunggal Hantage School Academy."

Pak Herman mengangkat wajahnya kembali, matanya tampak lelah dan penuh kekhawatiran. "Beliau mendengar kabar ini sejak kejadian pertama kali, dan beliau memberi perintah yang sangat tegas. Nyonya Tamara sama sekali tidak menginginkan kasus ini diselidiki lebih lanjut, apalagi sampai dibawa ke meja hijau atau diberitakan ke publik. Beliau tidak mau nama baik sekolah tercemar, tidak mau reputasi lembaga pendidikan yang sudah dibangun ratusan tahun ini menjadi buruk dan hancur gara-gara satu kejadian ini. Beliau ingin semuanya selesai dan dilupakan begitu saja."

Kedua polisi itu terdiam. Nama Nyonya Tamara bukanlah nama asing bagi kalangan berkuasa. Mereka berdua saling pandang kembali, kali ini dengan raut wajah yang berubah menjadi cemas dan ragu. Salah satu di antara mereka, yang tampak lebih berpengalaman dan tahu seluk-beluk dunia birokrasi dan kekuasaan, menghela napas panjang lalu berbicara kepada rekannya.

"Kita tahu siapa Nyonya Tamara... Kita tahu seberapa besar kekuasaan dan pengaruh yang dimilikinya. Beliau bukan orang sembarangan, jaringannya luas sekali, bisa sampai ke atas sana," ucap polisi itu pelan, matanya melirik sekilas ke arah Pak Herman. "Sebaiknya kita turuti saja permintaan ini, kawan. Kalau kita melawan atau memaksa lanjut menyelidiki, kita sendiri yang akan rugi. Bisa jadi karir kita hancur, atau hal buruk lain menimpa kita. Beliau punya kuasa untuk membuat semua bukti lenyap dan kita yang disalahkan nantinya."

Polisi itu kemudian menoleh ke arah Pak Herman dan mengangguk tanda setuju, nada bicaranya berubah pasrah. "Baiklah, Pak Herman. Saya setuju. Kami akan ikuti keinginan Nyonya Tamara. Laporan resmi akan kami ubah dan kami susun sedemikian rupa agar kasus ini dianggap selesai sebagai kematian biasa akibat musibah. Tidak ada tersangka, tidak ada pembunuhan, dan kasus ini akan ditutup rapat."

Mendengar jawaban itu, raut wajah tegang Pak Herman perlahan melemah. Beban berat seolah terangkat dari bahunya, meski di matanya masih tersisa bayang-bayang rasa bersalah yang mendalam. Ia mengangguk pelan, napasnya terasa lebih lega sekarang.

"Terima kasih... Terima kasih banyak atas pengertian dan kebijaksanaan Bapak berdua. Sekali lagi, saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini," ucap Pak Herman lirih.

Tanpa menambah kata-kata lagi, kedua petugas itu segera menutup kembali map merah berisi kebenaran itu, lalu berbalik badan. Mereka berjalan menjauh menuju kendaraan dinas mereka yang terparkir di gerbang, meninggalkan Pak Herman yang masih berdiri termenung sendirian di tempat itu, dan meninggalkan sebuah kejahatan besar yang sengaja dikubur begitu saja.

Sementara itu, di balik semak-semak yang rimbun itu, Elara masih berdiri mematung.

Amarah yang meluap-luap di dada Elara seolah tak lagi bisa dibendung. Darahnya mendidih, setiap inci tubuhnya bergetar menahan kemarahan yang memuncak. Di matanya, Pak Herman yang berjalan santai kembali ke arah kerumunan itu bukan lagi sosok guru yang dihormati, melainkan seseorang yang telah mengkhianati kepercayaan, mengkhianati keadilan, dan mengkhianati nyawa sahabatnya demi selembar nama baik.

Tanpa berpikir panjang, tanpa mempedulikan apa pun, Elara mengeraskan langkahnya. Niatnya bulat: ia akan menghadap Pak Herman saat itu juga, akan berteriak di depan semua orang, dan menuntut penjelasan atas kejahatan yang sengaja ditutup-tutupi itu.

"Pak Herman!!" batinnya berteriak, napasnya memburu. "Bapak pikir Bapak bisa diam saja begitu saja?! Bapak pikir saya akan diam melihat kejahatan ini dikubur begitu saja?!"

Elara mempercepat langkahnya, nyaris berlari menuju arah kepala sekolahnya itu. Ia sudah tak peduli lagi pada aturan, tata krama, atau bahaya yang mungkin mengancam dirinya. Namun, tepat saat ia hendak menerobos sekelompok murid yang sedang berjalan pulang, sesosok tubuh jangkung tiba-tiba melangkah maju dan berdiri tegak tepat di hadapannya, menghalangi jalannya sepenuhnya.

Elara hampir menabrak dada bidang orang itu. Ia mengangkat wajahnya dengan napas memburu, matanya menyala penuh emosi. Di hadapannya berdiri Arkan. Wajah Arkan sama sekali tak berubah, datar dan tanpa ekspresi, namun sorot matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata Elara, seolah ia sudah tahu apa yang baru saja didengar gadis itu, dan apa yang hendak dilakukan Elara saat ini.

Arkan menatapnya dingin, suaranya rendah dan datar tanpa ada nada bimbang. "Lo mau ke mana?"

Elara mendengus kasar, berusaha mendorong bahu Arkan agar ia menyingkir, namun tubuh pemuda itu kokoh bagai tembok batu, tak bergeser sedikit pun. Rasa kesal dan marah makin memuncak, ia tak butuh dihalangi siapa pun saat ini.

"Minggir!" jawab Elara ketus, suaranya bergetar menahan amarah. Matanya melotot menatap Arkan. "Minggir, Arkan! Aku mau ke sana! Aku mau protes sama Pak Herman! Aku mau tanya sama dia, apa isi otak dan hatinya! Bisa-bisanya dia diam aja dan menutup kasus kematian Dinda begitu aja?! Dia tahu, Arkan! Dia tahu betul kalau Dinda dibunuh! Dia tahu ini pembunuhan berencana, tapi dia malah diam dan menyuruh polisi mengubur kebenarannya demi apa?! Demi nama baik sekolah sialan ini?!"

Elara berusaha kembali menerobos, namun Arkan kembali menahannya dengan satu gerakan tangan yang cepat dan tegas. Ia mencengkeram lengan Elara, tidak menyakiti namun cukup kuat untuk menahan gadis itu di tempatnya.

"Jangan bodoh, Elara," ucap Arkan dengan nada datar dan dingin, suaranya rendah namun menusuk. "Percuma lo protes. Percuma lo teriak di depan dia, di depan semua orang di sini. Mereka nggak bakal dengerin lo. Mereka punya telinga yang tertutup rapat buat kebenaran, apalagi kalau kebenaran itu bisa merugikan mereka."

Elara menatapnya tak percaya, berusaha melepaskan cengkeraman itu. "Maksud kamu apa?! Itu kan pembunuhan! Itu kan nyawa manusia! Apa mereka sudah nggak punya hati nurani sama sekali?!"

Arkan melepaskan cengkeramannya perlahan, lalu menatap sekilas ke arah Pak Herman yang kini sudah bercampur dengan kerumunan guru, sebelum kembali menatap Elara dengan tatapan tajam dan dalam.

"Lo baru sadar sekarang?" tanya Arkan sinis, nada bicaranya tetap sedingin es. "Demi nama baik, reputasi, dan harta kekayaan sekolah ini... mereka rela mengorbankan apa saja. Nyawa murid, keadilan, kebenaran... semuanya jadi hal sepele kalau dibandingkan sama nama besar Hantage School Academy dan kekuasaan Nyonya Tamara. Bagi mereka, harta dan nama baik itu segalanya. Kalau ada yang mengganggu itu, mau itu Dinda, mau itu lo, atau mau itu siapa pun... bakal mereka singkirkan atau mereka bisukan dengan cara apa pun. Termasuk mengubur kasus pembunuhan sekalipun."

Kalimat-kalimat itu menghantam dada Elara lebih keras daripada pukulan fisik. Kata-kata Arkan begitu dingin, begitu nyata, dan begitu menyakitkan. Elara terdiam terpaku, napasnya tersengal-sengal. Amarahnya perlahan bercampur dengan rasa putus asa yang mendalam. Jadi dunia di sekolah ini sekejam itu? Jadi hukum dan keadilan tak berlaku di sini?

"Jadi... jadi Dinda mati sia-sia? Pembunuhnya bebas berjalan santai sementara Dinda dikubur sama kebenarannya?" tanya Elara lirih, suaranya pecah, matanya kembali berkaca-kaca namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena kemarahan yang semakin memadat menjadi tekad.

Arkan menghela napas pelan, lalu membalikkan badannya seolah tak ingin ada orang yang melihat mereka berbicara berdua. Sebelum ia pergi, ia menoleh sedikit ke samping, menatap Elara sekilas dari balik bahunya.

"Kalau lo memang peduli sama Dinda, kalau lo memang mau cari kebenaran..." ucap Arkan dingin, nadanya berubah sedikit lebih serius namun masih penuh misteri. "Lo nggak bisa harap sama mereka, sama polisi, atau sama Pak Herman. Lo harus cari buktinya sendiri. Lo harus cari keadilan itu sendiri, pakai cara lo sendiri. Karena cuma itulah satu-satunya cara buat dapetin apa yang lo cari. Ingat itu."

Tanpa menunggu jawaban atau pertanyaan lebih lanjut dari Elara, Arkan segera melangkah pergi. Ia berjalan menjauh, menyatu dengan kerumunan murid lain yang mulai bergerak menuju bus sekolah, meninggalkan Elara yang masih berdiri mematung sendirian di pinggir jalan setapak pemakaman itu.

Elara menatap punggung Arkan yang menjauh hingga hilang di balik badan kendaraan. Kata-kata pemuda itu terus berputar di kepalanya, masuk ke dalam otak dan hatinya, mencerna setiap maknanya perlahan-lahan.

"Percuma lo protes..."

"Mereka cuma peduli sama nama baik dan kekuasaan..."

"Cari bukti sendiri... cari keadilan sendiri..."

Angin sore berhembus kencang, menerbangkan rambut Elara yang berantakan. Ia mengusap sisa air mata di pipinya, menatap langit yang mulai gelap. Di kejauhan, samar-samar ia bisa melihat arah makam Dinda yang kini sepi, tempat Bu Hasanah dan Dina masih berduka.

Perlahan namun pasti, raut wajah Elara berubah. Rasa marah yang meledak-ledak tadi perlahan berubah menjadi ketenangan yang mengerikan. Matanya yang tadi basah kini memancarkan kilatan tekad yang tajam dan tak tergoyahkan. Arkan benar. Ia baru saja mencoba melabrak, dan itu akan menjadi tindakan bodoh yang sia-sia. Di tempat ini, keadilan tak akan jatuh dari langit. Ia harus meraihnya sendiri, meski harus turun ke dalam kegelapan.

"Dia benar..." gumam Elara pelan, suaranya bergetar namun penuh kekuatan. Ia mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. " Kalau aku nunggu mereka, Dinda bakal dikubur selamanya sebagai korban kecelakaan atau bunuh diri. Pembunuhnya bakal hidup enak sementara kejahatannya terlindungi oleh nama baik sekolah."

Elara mengangkat wajahnya, menatap bangunan sekolah yang terlihat samar di kejauhan, bangunan yang indah namun menyimpan ribuan rahasia kelam dan darah di balik temboknya.

"Aku nggak bakal diam saja. Aku nggak bakal biarkan Dinda mati sia-sia," ucap Elara dengan suara tegas dan berbisik, seolah bersumpah di hadapan langit. "Mulai sekarang, aku nggak bakal percaya sama Pak Herman, sama polisi, atau siapa pun yang ada di sistem sekolah ini. Aku akan cari bukti sendiri. Aku akan cari tahu penyebab pasti kematian Dinda, siapa pelakunya, dan apa saja rahasia mengerikan yang disembunyikan Sekolah Warisan ini di balik kemegahannya."

"Kasus ini mungkin ditutup di meja polisi," batin Elara penuh janji. "Tapi di sini... di dalam diriku... kasus ini baru saja benar-benar dibuka. Dan aku tidak akan berhenti sampai semuanya terungkap, dan keadilan yang sesungguhnya terbayar lunas."

1
Felita Gunawan
wah penasaran bgt ni ayo kak lanjut cerita nya
Mustaqimah: Makasih udah baca cerita ku, Kakak/Smile//Smile//Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!