NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 Dua Saudara, Satu Wanita

Juna melangkah pelan memasuki lorong rumah sakit dengan buket bunga putih di tangan dan kantong buah di sisi lainnya. Aroma obat-obatan bercampur suara langkah perawat membuat suasana terasa dingin dan melelahkan. Di depan kamar rawat, ibu Ravin langsung berdiri menyambutnya dengan wajah sedikit lega.

“Juna… kamu datang juga,” ucap beliau lirih.

Juna mengangguk sopan sambil menyerahkan bunga dan buah yang dibawanya. “Saya cuma mau lihat keadaan Ravin, tante.”

Ayah Ravin menepuk bahu pemuda itu pelan, menganggapnya seperti teman dekat yang benar-benar peduli. Sementara Selina yang duduk di kursi dekat jendela diam-diam memperhatikan Juna sejak tadi. Meski matanya masih sembab karena memikirkan kakaknya, ada sedikit rasa senang saat melihat pria yang diam-diam ia sukai datang menjenguk.

“Terima kasih sudah datang,” kata Selina pelan sambil menunduk malu.

Juna hanya tersenyum tipis sebelum matanya diam-diam mencari sosok Dewi di ruangan itu. Namun kursi yang biasanya ditempati gadis itu kosong. Tidak ada tasnya, tidak ada suara cerewetnya, bahkan ponselnya pun tidak terlihat.

“Dewi nggak ada?” tanya Juna berusaha terdengar biasa.

Ibu Ravin menghela napas kecil. “Dia ke campus latihan ballerina. Kemarin sempat absen jadi latihan mereka harus diulang.”

Juna terdiam sesaat lalu mengangguk kecil. Ada rasa kecewa yang ia sembunyikan rapi di balik wajah tenangnya. Rupanya alasan sebenarnya ia datang bukan hanya untuk Ravin.

Di sisi lain, aula latihan campus dipenuhi suara musik klasik dan langkah sepatu ballet yang bergema keras di lantai kayu. Beberapa penari tampak kesal karena formasi utama harus diulang sejak awal. Dewi berdiri di tengah ruangan dengan napas sedikit terengah, menerima tatapan jengkel teman-temannya.

“Kamu tahu nggak sih gara-gara kamu absen, gerakan utama jadi berantakan semua,” keluh salah satu temannya.

Dewi menunduk merasa bersalah. Rambutnya sedikit berantakan karena latihan panjang sejak tadi pagi.

“Maaf… kemarin aku benar-benar ada urusan penting,” ucapnya pelan. “Aku janji bakal fokus latihan sekarang.”

Pelatih mereka memandang Dewi beberapa detik sebelum akhirnya bertepuk tangan keras memanggil semua kembali ke posisi. Dewi menarik napas panjang lalu kembali berdiri tegak. Meski pikirannya masih tertinggal di rumah sakit dan Ravin, kali ini ia memaksa dirinya fokus pada panggung yang selama ini ia impikan.

Sementara itu, Ravin sampe dan berdiri di depan gerbang utama kerajaan megah yang menjulang tinggi. Langit senja berwarna keemasan menyelimuti istana, sementara deretan pengawal segera berlutut hormat begitu melihat sosok pangeran Aruna kembali.

“Pangeran Aruna telah kembali!”

Suara itu menggema membuat suasana istana mendadak ramai. Beberapa pelayan bahkan terlihat menahan haru karena kabar hilangnya sang pangeran selama berhari-hari membuat seluruh kerajaan gempar.

Ravin masih belum terbiasa dengan semua itu. Ia hanya berjalan perlahan mencoba meniru sikap Aruna sebaik mungkin meski dadanya dipenuhi gugup.

Di aula utama, raja dan selir Ratih sudah menunggu. Begitu melihat putranya datang, selir Ratih langsung memeluk Aruna erat dengan mata berkaca-kaca.

“Aruna… ibu pikir kehilanganmu…” suaranya bergetar menahan tangis.

Raja yang biasanya terlihat dingin pun ikut mendekat. Wibawanya sebagai penguasa masih terasa kuat, namun kali ini sorot matanya dipenuhi rasa bersalah.

“Ayah gagal menjagamu,” ucap sang raja pelan.

Ravin terpaku sesaat menerima pelukan dan perhatian yang bukan miliknya. Perasaan asing memenuhi dadanya. Ia bahkan tidak tahu bagaimana seharusnya Aruna menjawab semua itu.

Tak lama kemudian ayah Arum yang merupakan penasihat utama kerajaan berdiri di dekat singgasana sambil menundukkan kepala hormat.

“Hamba hanya menjalankan kewajiban menjaga pangeran semalam di kediaman kami.”

Raja mengangguk penuh penghargaan. “Tetap saja, aku berutang banyak padamu.”

Ravin diam memperhatikan percakapan mereka. Semua orang tampak begitu menyayangi Aruna sampai membuatnya semakin gugup memainkan peran itu.

Raja kemudian menatap putranya lekat-lekat. “Bagaimana keadaanmu sekarang, Aruna?”

Pertanyaan sederhana itu langsung membuat Ravin menegang. Tangannya tanpa sadar mengepal di balik lengan jubah kerajaan. Namun ia berusaha tetap tenang dan menahan kepanikan di wajahnya.

“Aku… baik, ayah.”

Jawaban singkat itu membuat aula kembali hening beberapa detik. Ravin hanya berharap tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh pangeran itu sebenarnya adalah orang lain.

Pintu aula kerajaan terbuka perlahan saat Ravin berjalan keluar bersama penasihat kerajaan. Langkah para pelayan terdengar pelan di sepanjang lorong istana yang dipenuhi pilar emas dan kain sutra merah gelap. Ravin masih mencoba menenangkan pikirannya setelah bertemu raja, sampai langkahnya mendadak terhenti.

Di ujung lorong berdiri seorang pria dengan pakaian kebesaran putra mahkota.

Tatapan Ravin langsung membeku.

Wajah itu… adalah Juna.

Untuk sesaat dadanya terasa sesak. Dunia seperti mempermainkannya lagi. Di kehidupan modern, Juna selalu berada di atasnya — lebih tenang, lebih disukai, lebih sempurna di mata semua orang. Dan sekarang bahkan di dunia ini pun sama.

Yudra adalah putra mahkota.

Anak raja dan ratu utama.

Sedangkan Aruna… hanya putra dari selir.

Ravin menundukkan wajah sedikit, menyembunyikan tatapan getir di matanya. Bahkan di dua kehidupan berbeda, dirinya tetap kalah dari orang yang sama.

Penasihat kerajaan langsung membungkuk hormat begitu melihat sang putra mahkota.

“Salam hormat untuk Yang Mulia Putra Mahkota.”

Yudra mengangguk tenang. Wibawanya terasa lembut namun tetap membuat semua orang segan. Setelah itu ayah Arum memilih pergi meninggalkan mereka berdua.

Kini hanya tersisa Ravin dan Yudra di lorong istana yang sunyi.

Yudra melangkah mendekat dengan senyum kecil yang tampak tulus. “Sudah lama kita tidak berbicara seperti ini. Mau minum teh bersama?”

Ravin sebenarnya muak melihat wajah itu, tapi ia tetap mengikuti Yudra menuju paviliun taman kerajaan. Angin sore berhembus pelan menggoyangkan tirai-tipis putih di sekitar tempat duduk mereka. Aroma teh melati memenuhi udara sementara pelayan menuangkan minuman hangat dengan hati-hati.

Yudra memandang Aruna beberapa saat sebelum bicara pelan.

“Aku mendengar kau menghilang cukup lama. Ibu Ratih sangat mengkhawatirkanmu.”

Ravin hanya tersenyum tipis hambar. “Semua orang terlihat sangat khawatir padahal aku baik-baik saja.”

Yudra menghela napas kecil. “Tetap saja kau adikku.”

Kalimat itu justru membuat Ravin merasa semakin kesal. Adik. Selalu berada di bawah bayang-bayangnya.

Beberapa saat suasana menjadi hening sebelum Yudra akhirnya menyebut nama yang membuat mata Ravin berubah dingin.

“Apa kau mendengar soal Arum?”

Cangkir teh di tangan Ravin berhenti sesaat.

“Aku dengar dia pergi dari rumah.”

Yudra tampak murung setelah mengatakan itu, namun Ravin justru tertawa kecil dingin.

“Bukankah penyebabnya ada di depan matanya sendiri?”

Yudra terdiam.

Tatapan Ravin tajam menembusnya tanpa rasa takut sedikit pun. Berbeda dengan Aruna asli yang selalu menjaga sikap di hadapan putra mahkota, Ravin justru berbicara dengan sindiran yang begitu lancar seolah semua kekesalan lama keluar begitu saja.

“Seorang wanita yang menyukai putra mahkota selama bertahun-tahun lalu tiba-tiba harus melihat pria itu dijodohkan dengan wanita lain.” Ravin menatap teh di depannya dingin. “Menurut kakanda… apa dia akan baik-baik saja?”

Yudra tampak terkejut mendengar nada bicara itu. Entah karena tersinggung atau kaget melihat perubahan Aruna yang begitu berbeda dari biasanya.

“Aku tidak pernah berniat menyakitinya,” ucap Yudra pelan.

“Tapi tetap melakukannya.”

Jawaban cepat Ravin membuat suasana semakin berat. Angin taman yang tadi terasa tenang kini justru terasa dingin menusuk.

Yudra menundukkan pandangan sesaat. “Perjodohan dengan Ajeng diputuskan kerajaan. Aku tidak bisa menolaknya.”

Ravin menatap pria di depannya lama. Wajah itu tetap sama seperti Juna — tenang, lembut, dan selalu terlihat benar di mata orang lain. Justru itu yang membuatnya muak.

“Aneh sekali,” gumam Ravin dingin. “Calon penerus tahta tapi bahkan tidak punya keinginan memperjuangkan apa yang dia mau.”

Yudra perlahan mengangkat pandangannya.

“Aku tidak terlalu menginginkan tahta.”

Kalimat itu membuat Ravin hampir tertawa sinis.

Orang seperti Yudra selalu punya semuanya sampai bisa berkata tidak menginginkannya. Sementara orang lain bahkan harus kehilangan banyak hal hanya untuk bertahan hidup.

Ravin menggenggam cangkir tehnya erat sambil menahan rasa kesal yang terus memenuhi dadanya. Semakin lama berada di dekat Yudra, semakin besar perasaan bahwa dirinya memang ditakdirkan selalu kalah dari pria itu di kehidupan mana pun.

Ravin meletakkan cangkir tehnya sedikit keras di atas meja batu. Suara kecil itu memecah keheningan taman kerajaan yang sejak tadi terasa menyesakkan. Ia sudah terlalu muak mendengar semua ucapan Yudra yang terdengar bijak namun tidak mengubah apa pun.

Tanpa berkata lagi Ravin bangkit dari duduknya dan hendak pergi.

Namun langkahnya tertahan saat suara Yudra terdengar dari belakang.

“Kalau aku bisa memilih… aku akan meninggalkan semuanya.”

Ravin berhenti.

Angin sore meniup pelan jubah kebesaran putra mahkota. Yudra masih duduk diam sambil menatap cangkir tehnya sendiri dengan sorot mata rumit.

“Tahta… gelar putra mahkota… semua itu tidak pernah benar-benar kuinginkan.” Suaranya rendah dan berat. “Aku rela melepas semuanya kalau bisa bersama Arum.”

Ravin perlahan menoleh dengan tatapan dingin.

“Tapi aku tidak punya kuasa atas hidupku sendiri.”

Yudra mengangkat pandangannya pelan ke arah Ravin. Ada rasa lelah yang selama ini tersembunyi di balik sikap tenangnya.

“Aku juga tidak ingin kita bermusuhan hanya karena mencintai wanita yang sama.”

Kalimat itu justru membuat emosi Ravin naik semakin tinggi. Entah kenapa dadanya terasa panas mendengar Arum dijadikan alasan untuk mempertahankan hubungan baik di antara mereka.

Ravin tertawa kecil sinis.

“Putra mahkota memang lucu.”

Yudra terdiam.

“Kau menerima perjodohan dengan Ajeng…” suara Ravin mulai tajam menusuk, “tapi masih berharap Arum menunggumu?”

Tatapan Yudra perlahan berubah serius.

“Itu bukan—”

“Pengecut.”

Satu kata itu keluar begitu saja dari mulut Ravin.

Bahkan dirinya sendiri sedikit terkejut karena mengatakannya sejelas itu pada calon penerus kerajaan. Namun semua kekesalan yang selama ini tertahan seolah meluap tanpa bisa dihentikan.

“Kau tidak berani melawan kerajaan, tidak berani mempertahankan wanita yang kau cintai, tapi masih ingin semuanya tetap baik-baik saja.”

Ravin melangkah mendekat beberapa langkah. Tatapannya penuh rasa muak.

“Dan dengar baik-baik.” Rahangnya mengeras. “Aku tidak pernah sudi menduduki posisi putra mahkota ataupun merebut apa pun darimu.”

Yudra memandangnya tanpa berkedip.

“Tapi kalau soal Arum…” suara Ravin melambat namun jauh lebih tegas, “aku akan tetap berada di sisinya.”

Semua kata itu keluar begitu alami seolah Ravin benar-benar sedang melindungi Arum. Bahkan ia sendiri tidak sadar sejak kapan dirinya mulai begitu memihak gadis itu.

Yudra tampak membeku beberapa saat mendengar ucapan adiknya. Untuk pertama kalinya ia melihat Aruna berbicara dengan emosi sebesar itu demi seseorang.

Namun Ravin sudah terlalu kesal untuk peduli. Ia langsung membalikkan badan dan pergi meninggalkan taman kerajaan tanpa memberi hormat sedikit pun.

Langkahnya cepat melewati lorong istana sampai tiba-tiba seseorang menariknya dalam pelukan erat.

“Pangeran Aruna!”

Ravin refleks menegang.

Seorang pria berpakaian pengawal kerajaan memeluknya dengan wajah penuh haru dan lega. Matanya bahkan sedikit memerah seperti hampir menangis.

“Hamba pikir pangeran benar-benar tidak akan kembali…”

Ravin menatap pria itu bingung sekaligus kesal karena dipeluk tiba-tiba.

Pria itu adalah Arkara, pengawal pribadi sekaligus sahabat paling setia Aruna sejak kecil.

Arkara mundur sedikit sambil tertawa lega. “Pangeran benar-benar membuat semua orang khawatir.”

Namun Ravin justru makin merasa terganggu.

Sejak datang ke dunia ini semua orang terus memandangnya dengan kasih sayang dan perhatian yang bukan untuk dirinya, melainkan untuk Aruna asli.

Dan semakin banyak orang memperlakukannya seperti itu… semakin besar rasa asing dan sesak yang memenuhi dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!