NovelToon NovelToon
The Nethermist

The Nethermist

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Clevareus

( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )

Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lost Princess

Kembali ke 10 Februari

Hari keberangkatan tim ekspedisi Kerajaan Nightdoom menuju Peak Cavalry.

Pada hari yang sama, kelompok Clarissa sedang berada dalam kondisi yang kurang mengenakkan.

Clarissa bersama Deon dan Edward saat itu sedang menyiapkan keberangkatan mereka untuk mencari desa atau pemukiman terdekat. Namun, mereka tidak terlalu berharap setelah insiden pecahnya langit.

Kerajaan Peak Cavalry yang selama ini menjaga dan mengawasi Bukit Gray Hills saja dapat hancur dalam waktu kurang dari satu hari. Rasanya kurang pantas jika mereka tetap berpikir bahwa sebuah desa kecil dapat bertahan dari invasi besar-besaran yang melanda dunia ini.

Tetapi, jika benar masih ada desa yang bertahan, benarkah mereka mau menerima keluarga kerajaan atau bahkan sekadar pendatang asing yang membutuhkan bantuan?

Edward memimpin kelompok yang hanya berisikan tiga orang tersebut. Meskipun dirinya tidak memiliki pengalaman yang jelas sebagai seorang pemimpin, tetap saja tugas itu terasa paling cocok dibebankan kepadanya.

Edward berjalan paling depan sambil terus memperhatikan keadaan sekitar.

Perjalanan mereka memakan waktu beberapa jam hingga akhirnya mereka berhasil keluar dari hutan di sisi lain Bukit Gray Hills.

Namun, mereka masih jauh dari kata lega.

Siang hari itu mereka benar-benar kehabisan tenaga. Persediaan air dan makanan yang mereka bawa juga semakin menipis.

Tidak ada pilihan lain.

Mereka harus tetap berjalan ke arah utara.

Edward mengetahui arah itu dengan baik. Jika mereka terus bergerak lurus ke utara, mereka akan sampai di sebuah kerajaan yang memiliki kekuatan militer yang cukup memadai.

Kerajaan Zaburawa.

Sebuah kerajaan yang kekuatan militernya dianggap cukup kuat. Setidaknya, Edward yakin kerajaan itu memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dari invasi monster yang datang tanpa diduga-duga ini.

Clarissa akhirnya bertanya.

"Berapa lama kah kita akan sampai ke kerajaan itu jika berjalan?"

Edward yang mendengar pertanyaan tersebut hanya bisa menjawab dengan nada kurang yakin.

"Mungkin sekitar satu minggu lebih."

Clarissa langsung terkejut.

Dirinya bertanya-tanya, apakah mereka bahkan mampu bertahan lebih dari dua hari dalam kondisi seburuk ini?

Namun menyerah bukanlah pilihan.

Setidaknya sampai Deon menyadari satu hal yang membuat suasana kembali muram.

"Begitu ya... mau bagaimana lagi..."

Deon terdiam sesaat sebelum kembali berbicara.

"Tu-Tunggu dulu, Tuan Edward. Dari yang terakhir kali saya dengar, Kerajaan Zaburawa itu bukankah membentuk aliansi dengan Kerajaan Zarath?"

Edward menutup matanya dan mengembuskan napas sedikit lebih keras.

Memang, apa pilihan mereka saat ini?

Pilihan pertama adalah mati di tempat antah berantah karena kehabisan makanan dan tenaga.

Pilihan kedua adalah sampai ke Zaburawa dan dianggap sebagai musuh. Skenario terburuknya, mereka bisa dipenjara.

Deon yang mendengarnya langsung menjadi lemas.

Hufttt...

Dirinya berharap andai saja mereka bertemu dengan penyintas yang baik hati, seseorang yang mau menolong mereka.

Tidak lama kemudian, Clarissa merasa melihat sesuatu.

Dirinya memotong keluhan Deon yang terus berharap bertemu penyintas baik hati bak malaikat yang dikirim dewa untuk menuntun mereka.

"Heyy, kalian berdua. Apa kalian melihat sesuatu di sana?"

tanya Clarissa.

Edward dan Deon langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Clarissa.

Namun rasanya mereka tidak melihat apa pun.

Bahkan setelah menyipitkan mata hingga hampir menutupnya sepenuhnya, mereka tetap tidak menemukan apa yang dimaksud Clarissa.

Sayangnya, Edward dan Deon benar-benar tidak dapat melihat sesuatu yang dilihat Clarissa.

Namun itu tidak masalah.

Saat ini mereka hanya perlu mengikuti Clarissa.

"Sesuatu" yang dilihat Clarissa adalah sebuah bola terbang yang memancarkan cahaya hijau muda yang terang.

Clarissa akhirnya yakin bahwa benda tersebut adalah sesuatu yang penting dan tidak boleh dianggap remeh.

Tanpa berpikir panjang, Clarissa berlari menuju arah bola terbang seukuran genggaman tangan itu.

Edward dan Deon langsung terkejut melihat tindakan Clarissa yang terlalu spontan.

Dengan sisa tenaga yang mereka miliki, keduanya berusaha mengejar Clarissa yang entah mendapatkan semangat dan energi dari mana.

Clarissa yakin bola itu sedang mencoba menunjukkan sesuatu kepada mereka.

Atau setidaknya, kepada dirinya.

Setelah sekitar sepuluh menit berlari tanpa arah yang jelas, mereka akhirnya sampai di sebuah tempat yang membuat mereka terpaku.

Di hadapan mereka terbentang sebuah danau.

Danau itu dikelilingi pepohonan rindang dan tumbuhan hijau yang subur.

Tentu saja pemandangan tersebut membuat mereka sangat senang.

Terutama Deon yang hampir melompat begitu melihat hamparan air yang begitu luas.

Bahkan Edward sendiri merasa bahwa kualitas air di danau tersebut sangat baik. Airnya sangat jernih dan tampak bersih.

Danau itu juga tidak terlalu dalam.

Selain itu, ada cukup banyak ikan yang terlihat berenang di dalamnya.

Tempat yang sempurna untuk kondisi mereka saat ini.

Clarissa begitu bahagia hingga hampir melupakan keberadaan bola terbang yang sepertinya memang sengaja menuntunnya menuju danau tersebut.

Setelah meminum air dari danau itu, bola cahaya yang sebelumnya hanya mengawasi dari kejauhan akhirnya berani mendekatinya.

Begitu dekat hingga Clarissa merasa dirinya bisa menyentuhnya.

Perlahan, Clarissa mengangkat tangannya.

Dan menyentuh bola cahaya tersebut.

Hangat.

Menenangkan.

Begitu tangannya menyentuh bola itu, cahaya hijau muda yang dipancarkannya menjadi semakin terang.

Suasana di sekitar terasa damai.

Bola itu juga terasa sangat lembut, hampir seperti gumpalan energi yang penuh kelembutan.

Saat itu suasana benar-benar tenang.

Edward mulai mencoba menangkap ikan di danau.

Sementara Deon sibuk membuat alat-alat memasak sederhana dari kayu dan batu yang ada di sekitar mereka.

Di sisi lain, pada waktu yang sama, kondisi Nightdoom masih berada dalam masa pemulihan setelah invasi besar-besaran tiga hari yang lalu.

Gideon sedang membagi kelompok kerja untuk membersihkan darah yang membanjiri jalanan dan tanah kerajaan.

Para pekerja konstruksi yang masih hidup ditugaskan membangun kembali bangunan yang hancur, sedikit demi sedikit.

Raja Rasdinand saat itu sedang mengadakan rapat kenegaraan bersama para bangsawan.

Mereka membahas kondisi ekonomi yang anjlok parah akibat insiden tersebut, sambil menunggu laporan yang lebih akurat dari wilayah Rasava yang dicurigai mengalami pencemaran tanah dalam skala besar.

Di istana utama, Ratu Emily berada di kamar Fabian untuk merawat anak bungsunya yang sedang demam.

Meskipun para perawat telah berkali-kali memintanya beristirahat, Emily tetap bersikeras berada di samping Fabian sepanjang waktu.

Sementara itu, Fiona Nightvale, anak tertua keluarga Nightvale, menghabiskan harinya di dalam kamar.

Entah kenapa, sejak keberangkatan tim ekspedisi pagi tadi, dirinya hanya duduk di depan cermin.

Memandangi pantulan dirinya sendiri.

Berjam-jam lamanya.

Dan terus berlanjut hingga malam hari.

Bahkan setelah makan malam selesai, Fiona tetap kembali ke kamarnya dan duduk di depan cermin yang sama.

Pikirannya saat itu hanya dipenuhi oleh satu nama.

Leoric.

Leoric.

Dan Leoric.

Tidak sekalipun dirinya memikirkan Cortinus.

Apalagi hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Sebenarnya, jauh sebelum insiden pecahnya langit, Fiona memang sudah dikenal sebagai sosok yang misterius.

Bukan hanya di kalangan masyarakat, tetapi juga di antara para pelayan dan penghuni istana utama.

Segala sesuatu tentang Fiona sulit ditebak.

Contoh paling sederhana adalah selera kopinya.

Kadang ia menyukai kopi pahit.

Terkadang ia menyukai kopi manis.

Kadang ia sangat menyukai kopi.

Dan terkadang ia justru membencinya.

Tidak ada yang pernah benar-benar memahami dirinya.

Waktu terus berlalu hingga menunjukkan tengah malam.

Namun Fiona masih belum beranjak dari depan cerminnya. Dengan tatapan kosong, ia perlahan mengangkat tangannya. Lalu menyentuh permukaan cermin di depannya.

Dan saat itulah sesuatu yang mengejutkan terjadi. Dirinya secara tiba-tiba mendapatkan sebuah penglihatan dari cermin yang ada di hadapannya. Mirip seperti yang pernah dialami Emily saat menyentuh bunga di kebun istana.

Fiona sempat terkejut.

Namun karena berita mengenai kejadian Emily sudah cukup tersebar di lingkungan istana, dirinya tidak mengalami kepanikan berlebihan hingga berteriak.

Sebaliknya, Fiona hanya tersenyum.

Tangannya tetap menempel pada cermin itu.

Seolah dirinya menikmati apa pun yang sedang diperlihatkan kepadanya.

Kembali kepada kelompok Clarissa.

Saat ini mereka masih berada di area danau. Malam telah tiba, namun tidak ada satu pun dari mereka yang langsung tertidur.

Mereka duduk bersama di dekat api unggun. Mulai berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing.

"Aku ingin menjadi koki yang hebat. Koki yang bisa membuat setiap orang bahagia setelah memakan masakanku."

Kata Deon.

Clarissa dan Edward mendengarkan dengan tenang saat Deon menceritakan impiannya untuk menjadi panutan bagi para koki di seluruh dunia.

Setelah Deon selesai, Edward melanjutkan.

"Saya..."

Dirinya terdiam sesaat.

"Saya ingin seorang anak."

Clarissa dan Deon menoleh ke arahnya.

Edward tersenyum kecil.

"Saya ingin menjadi seorang ayah yang baik."

Clarissa dan Deon hanya mendengarkan.

Mereka bertiga kini berbaring di atas hamparan rumput yang tumbuh di tepi danau, Memandangi langit malam yang dipenuhi bintang-bintang.

Setelah Edward selesai berbicara, kini giliran Clarissa.

"Aku..."

Dirinya terdiam sesaat.

"Aku ingin bertemu dengannya."

Edward dan Deon menoleh.

Clarissa memandang langit.

"Aku ingin bertemu dengan Leoric."

Suaranya perlahan mengecil.

"Aku..."

Clarissa menggenggam pakaiannya sendiri.

"Aku takut."

Angin malam berhembus perlahan.

"Tapi di sisi lain, aku juga penasaran."

Dirinya tersenyum tipis.

"Apakah dia baik-baik saja..."

Clarissa menutup matanya.

"Tidak."

Dirinya menggeleng.

"Aku yakin dia baik-baik saja."

Angin yang lembut sesekali berhembus melewati pepohonan, Membuat dedaunan saling bergesekan dan menghasilkan suara yang menenangkan. Suara alam itu perlahan menemani malam mereka.

Membuat ketiganya tanpa sadar mulai memejamkan mata.

Dan perlahan tertidur.

Mereka bahkan tidak lagi berpikir untuk menentukan siapa yang harus berjaga malam.

Saat itu tidak ada pikiran buruk yang mengganggu mereka.

Tidak ada rasa takut.

Tidak ada kecemasan.

Yang tersisa hanyalah ketenangan.

Clarissa membuka matanya.

Kepalanya dipenuhi rasa cemas yang tidak dapat dijelaskan. Dirinya tidak menyadari bahwa saat ini ia berada di reruntuhan Peak Cavalry.

Yang ia lakukan hanyalah berjalan.

Dan terus berjalan.

Tanpa arah yang jelas.

Napasnya mulai terengah-engah.

Lalu dirinya melihat sesuatu.

Seseorang.

Di kejauhan.

"Itu..."

Clarissa membelalakkan matanya.

Roberto.

Ya.

Roberto yang selama ini menjaganya.

Roberto yang telah mengorbankan dirinya saat kehancuran Peak Cavalry, Saat ini duduk diam di tengah reruntuhan.

Clarissa langsung berlari ke arahnya.

Dirinya hanya ingin mengatakan satu hal. Satu hal yang sejak lama ingin ia ucapkan.

"Maaf..."

Gumaman itu keluar dari mulutnya.

"Maaf..."

Clarissa terus berlari.

"Maaf..."

Air mata mulai mengalir dari matanya.

Namun kemudian dirinya menyadari sesuatu.

Ada seseorang yang berdiri di samping Roberto.

Tidak.

Ada sesuatu.

Sosok itu berdiri diam di sisinya.

Tubuhnya samar.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Rambutnya berwarna putih.

Dirinya hanya berdiri tanpa mengucapkan apa pun.

Tanpa bergerak.

Tanpa menunjukkan ekspresi.

Hanya mengarahkan tangannya ke arah Roberto.

Dan saat itu juga Roberto yang tadinya duduk diam mulai terlihat gelisah.

Wajahnya masih tidak terlihat jelas, Namun Clarissa tahu.

Roberto sedang menangis, Roberto ketakutan.

"Nona Clarissaaaa..."

Suara Roberto terdengar.

"Tolong..."

Clarissa membeku.

"Tolong aku..."

Suara Roberto semakin menyayat hati.

"Tolong aku..."

Tubuh Clarissa gemetar.

"Sakit..."

Air matanya mulai mengalir semakin deras.

"Sakit..."

Roberto menangis.

"Sakittttt..."

Clarissa menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Dirinya tidak mampu melakukan apa pun.

"Maaf..."

Air matanya terus jatuh.

"Maaf..."

Dirinya terus mengulang kata yang sama.

"Maaf..."

"Maaf..."

"Maaf..."

"Maaf..."

Tanpa henti.

Sembari menangis.

Sembari melihat Roberto yang terus menderita, Sosok berambut putih itu kemudian mengangkat tangannya. Lalu menyentuh kepala Roberto.

Jeritan Roberto langsung berubah menjadi suara yang mengerikan.

Semakin keras.

Semakin menyakitkan.

Semakin menusuk telinga.

Clarissa hanya bisa berdiri diam, Tubuhnya gemetar, Kakinya terasa berat.

Dirinya ingin berlari, Ingin menolong Roberto.

Namun tidak mampu bergerak sedikit pun.

Seolah tubuhnya sendiri menolak untuk mendekat.

Perlahan...

Tubuh Roberto mulai berubah menjadi abu.

Sedikit demi sedikit.

Bagian lengannya menghilang lebih dulu.

Lalu bahunya.

Kemudian seluruh tubuhnya mulai hancur menjadi serpihan abu yang terbawa angin.

"TIDAK!"

Clarissa berteriak.

"ROBERTOOO!!"

Namun semuanya sudah terlambat. Tubuh Roberto lenyap sepenuhnya, Meninggalkan dirinya sendirian bersama sosok berambut putih itu.

Sosok tersebut tidak bergerak, Tidak berbicara, Tidak menunjukkan emosi apa pun.

Hanya berdiri diam.

Menatap ke arah Clarissa.

Meskipun wajahnya masih tidak terlihat jelas.

Lalu perlahan...

Sosok itu mengangkat tangannya.

Dan menunjuk ke arah Clarissa.

Tidak ada kata-kata.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada suara.

Hanya satu gerakan sederhana.

Menunjuk.

Namun entah kenapa, gerakan itu terasa jauh lebih menakutkan daripada monster mana pun yang pernah Clarissa lihat.

Saat itulah suara yang familiar terdengar dari kejauhan.

"Nona Clarissa!"

Suara Edward.

"Nona Clarissa!"

Suara Deon menyusul.

Mereka berdua terus memanggil namanya.

Berulang kali.

Dengan nada panik dan nada ketakutan. Clarissa menoleh ke segala arah, Namun tidak dapat menemukan mereka. Suara itu ada di mana-mana.

Terlalu dekat, Sekaligus terlalu jauh.

Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, Napasnya semakin berat, Dirinya memegang kepalanya dengan kedua tangan.

Tidak.

Ini terlalu banyak.

Terlalu menyesakkan.

Terlalu mengerikan.

"Tidak..."

Clarissa berbisik.

Sosok berambut putih itu masih menunjuk ke arahnya.

"Tidak..."

Clarissa menggigit bibirnya.

Lalu akhirnya dirinya berteriak.

"AHHHHHHH!"

Tepat setelah itu—

Clarissa membuka matanya.

Dirinya langsung duduk sambil terengah-engah, Napasnya kacau, Dadanya naik turun dengan cepat, Keringat dingin membasahi dahinya, Butuh beberapa detik sebelum dirinya menyadari sesuatu.

Danau.

Api unggun.

Malam.

Edward.

Deon.

Semuanya masih ada.

"Itu..."

Clarissa menatap kosong ke depan.

"Itu cuma mimpi..."

"Nona?"

Suara Edward terdengar penuh kekhawatiran.

"Apakah Anda baik-baik saja?"

Deon juga langsung menghampiri.

"Apakah Anda bermimpi buruk?"

Clarissa menyentuh dahinya, Masih mencoba menenangkan napasnya yang belum stabil. Dirinya mengangguk pelan.

Namun sebelum sempat menjawab lebih jauh, matanya tertuju pada satu titik.

Ke sisi lain danau.

Tubuh Clarissa langsung membeku.

Di sana. Di antara pepohonan yang gelap, Ada seseorang.

Tidak.

Ada sesuatu.

Sosok berambut putih itu. Berdiri diam, Menatap ke arah mereka. Wajahnya tetap tidak terlihat jelas, Tidak bergerak.

Tidak berbicara.

Hanya berdiri di sana.

Seolah menunggu sesuatu.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Clarissa berharap apa yang baru saja ia alami benar-benar hanya mimpi.

1
ShikiSlurx
parah bangsawan bangsawan disini kayaknya kejam banget deh
WER
semangatnya 💪💪💪
Clevareus: siapp
total 1 replies
𝐊𝐚𝐞𝐥
secara tata bahasa aman sejauh ini. plot-nya juga lumayan. tapi info dump-nya cukup parah. terlalu banyak sejarah yang dijelaskan dalam satu bab. karakternya juga terlalu banyak diperkenalkan.

semangat!
Quinnela Estesa
chapter awal, jangan langsung dikasih adegan tempo tinggi😊 nanti setelahnya bakalan kehabisan bahan bakar deh.

seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.
Clevareus: oke makasih masukannya
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
haha nice lah pokoknya 🔥🔥🔥. Tengkorak 💀 apa itu di belakang nya.../Shame/. Hanya saran sedikit saja, monster-monster yang keluar tidak terlalu di jelaskan ya, jika emang gitu niat author tidak masalah namun setidaknya berikan sedikit jenis garis besar nya aja seperti ada yang bisa terbang/ ada yang berotot atau yang lainnya, gitu aja.
Clevareus: okee siapp
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
uhh... seram nya oii😬
AngkaSatu
Oke sejauh ini masih oke tetapi ada beberapa hal yang bisa diperbaiki. Ini adegan bisa dibuat lebih baik lagi misalnya disaat kedua kekasih itu ingin mengucapkan sumpah setia mereka langit tiba tiba retak dan ada mata yang melihat mereka dari atas tersebut semua orang yang menjadi tamu undangan berlarian kesana kemari. Oke segitu dulu dan maaf jika kritikan ku sedikit nyingung🙏
Clevareus: malahan aku berterimakasih kalau ada yang ngasih saran disini🔥
total 2 replies
DreamXimaginatioN😴
hmm comenter ku seperti kebanyakan pembaca lainnya yaitu terlalu banyak informas tapi bagian tengah sampai akhir mulai menarik kok😁. Aku menyarankan agar kata dan paragraf bagian awal bab pertama pada novel di buat semewah/ sebagus mungkin, buat mancing pembaca. Tapi kembali ke author sendiri sih mau di edit atau tidak. Aku menilai bab ini sudah cukup menarik di tambah tata bahasanya rapi, sudah berkelas ini 👍😁.
AngkaSatu
Pendapatku tentang Clarissa. Menurutku Clarissa itu belum diperkenalkan dengan baik. Orang orang akan bilang "Oh oke dia trauma karena perang" Tetapi bila buat Clarissa nya diperkenalkan dulu kasih dialog dulu maka orang orang akan merasa sedikit perihatin. "Oh kasian sekali Clarissa."
AngkaSatu
Menurutku terlalu banyak informasi yang dilemparkan sekaligus. Orang orang bisa lupa nanti tokoh tokoh pentingnya nanti
Clevareus: oke kak, makasih pendapatnya yaa
total 1 replies
Not Not
Gak tau mau komen apa lagi 😹 udah bagus kok
Clevareus: makasihh 🔥
total 1 replies
Not Not
terlalu banyak info dump diawal/NosePick/ mendingan ditunjukkan lewat adegan
WER
semangatttt authorrrrrr 😆
S3C
semangat author 👍👍👍👍👍👍
Clevareus: makasihh
total 1 replies
NonaMudaDesi
Kelihatannya menarik, nitip sendal kak, aku kesini lagi kalo bab nya udah banyak heheheheh, oh iya sedikit saran nih kak, kalau bikin kata perparagraf jangan terlalu banyak, jadinya kelihatan numpuk. saran aku sih jangan lebihin 10 baris kakk, btw semangatttt kakakkk
Clevareus: okee makasih ya kakk, diatas chapter 5 aku udah mulai perhatikan paragraftnya kok, makasih ya 🙏🔥
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
author, ini paragrafnya terlalu panjang dan numpuk😅
Manusia Ikan 🫪: oalaaah wkaowkaowkao
total 3 replies
Manusia Ikan 🫪
tapi...
Manusia Ikan 🫪
iiiiiih mata apa itu😵
WER
semangat author
Clevareus: makasih ya kak support nya🙏🔥
total 1 replies
Wawan
Kembang buat Leoric ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!