SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Tidak Wajar
Bau formalin yang sempat mereda kini kembali menyerang indra dengan intensitas yang jauh lebih menyengat, seolah-olah dinding-dinding beton itu sendiri sedang mengeluarkan keringat dingin dan beracun. Arga berdiri tegap di tengah puing-puing kaca dan logam, matanya terkunci pada sosok manekin yang memegang cermin di depannya. Permukaan tubuh manekin itu mulai retak, namun bukan serpihan kayu atau plastik yang berhamburan, melainkan cairan merah kental yang segera menguap menjadi kabut ungu pekat yang menyelimuti lantai.
"Pencipta Formula..." gumam Arga, mengingat suara wanita yang terdengar dari pengeras suara tadi.
Suara langkah kaki yang berat dan berirama mulai terdengar dari arah lemari penyimpanan. Satu per satu, manekin-manekin yang tadinya diam membisu kini turun dari tempatnya. Penampilan mereka mengerikan; mereka tidak memiliki kulit luar, melainkan hanya tumpukan serat otot merah yang basah, saraf-saraf putih yang berdenyut seperti kabel listrik hidup, dan kerangka tulang yang telah dilapisi logam perak berkilauan.
Gerakan mereka tidak lagi kaku atau patah-patah. Mereka bergerak dengan keluwesan yang mematikan, layaknya predator yang sedang mengincar mangsa. Mata mereka, bola mata asli yang ditanamkan pada rongga tengkorak buatan, menatap Arga dengan tatapan lapar yang dingin dan intelek.
"Arga, menjauh dari meja-meja itu!" suara Lintang tiba-tiba memecah keheningan, terdengar keluar dari speaker interkom di dinding. Sepertinya gadis itu berhasil membajak sistem komunikasi dari ruang kendali di luar. "Mereka adalah Biological Automata. Diprogram untuk mengenali energi Indigo-mu sebagai bahan bakar. Semakin kau mengeluarkan kekuatan, semakin kuat mereka jadinya!"
Arga yang sempat mengangkat tangan siap melepaskan serangan segera menahan diri. Ia menurunkan tangannya, membiarkan cahaya di lengannya meredup. Benar saja, manekin terdepan yang siap menerjang mendadak melambat gerakannya, seolah kehilangan arah saat sumber energinya menghilang.
Namun, bertahan bukan berarti aman. Makhluk-makhluk itu mulai bergerak melingkar, membentuk formasi mengepung Arga di tengah ruangan. Salah satu di antaranya, yang berukuran lebih besar dengan rongga dada terbuka memperlihatkan pompa mekanis sebagai pengganti jantung, melangkah maju. Dari ujung jarinya yang runcing seperti jarum bedah, menetes cairan hijau neon yang mendesis saat menyentuh ubin keramik.
"Subjek Arga," suara manekin itu terdengar aneh, merupakan gabungan dari ratusan suara murid yang disambung-sambung menjadi kalimat. "Darahmu... adalah katalis... yang kurang... dari Proyek Raka."
Tanpa peringatan, makhluk raksasa itu melesat. Arga sigap menghindar ke samping, berguling cepat di bawah meja laboratorium untuk berlindung. Ia meraih tabung pemadam api di dekatnya dan menyemprotkannya ke arah lawan, berharap kabut putih bisa menjadi penghalang penglihatan. Namun upaya itu sia-sia. Manekin itu menembus kabut dengan mudah, cakar-cakar tajamnya nyaris mengiris leher Arga jika ia tidak memiringkan kepala secepat kilat.
Arga menyadari situasinya genting. Ia tidak bisa menyerang secara kasar karena akan memberi makan musuh, namun ia juga tidak bisa terus lari. Pandangannya beralih ke buku catatan hitam yang tergeletak tak jauh. Di halaman belakang terdapat skema teknis yang tertulis "Frekuensi Penonaktifan".
"Lintang! Kau masih di sana?" teriak Arga sambil memanjat rak penyimpanan tinggi untuk mencari posisi lebih aman. "Cari frekuensi sinyal kendali mereka! Mereka dikendalikan dari bawah tanah!"
"Sedang kucoba! Tapi sistem pertahanan di sini aktif, bayangan-bayangan mulai mengepung ruang kendali!" jawab Lintang terputus-putus diselingi suara derau listrik yang keras.
Di bawah sana, tiga manekin mulai memanjat rak menggunakan kuku-kuku logam mereka. Jejak kaki berlumpur yang pernah Arga lihat di asrama mulai muncul kembali di langit-langit, berputar-putar seolah menandakan bahwa bahaya dari dimensi lain masih terus mengawasi.
Di tengah kepanikan itu, mata Arga menangkap sesuatu yang ganjil pada dada manekin pemimpin. Di balik putaran roda gigi dan oli mesin, ia melihat sepotong kecil kain berwarna abu-abu yang terselip. Itu adalah sobekan seragam sekolah, dan warnanya masih terlihat merah basah. Itu adalah jangkar emosional, sumber perintah yang menggerakkan semua monster ini.
"Kalian berani menggunakan kakakku bahkan untuk menggerakkan sampah-sampah ini!" amarah Arga memuncak.
Tinta hitam di lengannya berdenyut panas membara. Arga mengambil keputusan berisiko. Ia tidak akan melepaskan energinya keluar, melainkan memadatkannya di dalam dirinya sendiri, mengubah lingkungan sekitar. Suhu di ruangan itu anjlok drastis dalam hitungan detik. Uap formalin yang melayang di udara berubah menjadi kristal-kristal es tajam yang melayang.
Tubuh manekin-manekin yang terdiri dari jaringan basah mulai merespons. Gerakan mereka melambat parah, otot-otot mereka mengeras karena pembekuan mendadak.
"Sekarang!" teriak Arga dalam hati.
Ia melompat turun dari ketinggian rak, bukan untuk memukul, melainkan untuk meraih. Tangannya menyambar masuk ke dalam rongga dada manekin pemimpin, mencengkeram sobekan kain seragam itu dengan kuat.
Saat kulitnya bersentuhan dengan kain itu, ribuan gambar melintas cepat di benak Arga. Ia melihat bayangan Raka terbaring di atas meja bedah yang dingin, dikelilingi oleh sosok-sosok berpakaian pelindung lengkap. Ia mendengar jeritan batin kakaknya saat jiwa dan raganya dipisahkan melalui proses kimia yang menyakitkan.
"Lepaskan dia!" raung Arga.
Dengan satu sentakan kuat, ia merobek kain itu beserta inti kendalinya keluar dari tubuh monster itu.
Seketika, seluruh sistem koneksi yang menghidupkan manekin-manekin itu terputus. Pemimpinnya ambruk hancur menjadi tumpukan daging beku dan besi tua, diikuti oleh yang lainnya yang kehilangan nyawa dan jatuh tak berdaya.
Namun kedamaian itu hanya berlangsung sesaat.
Lantai di depan Arga terbuka, dan asap hitam yang jauh lebih pekat mengepul keluar. Dari kegelapan lubang itu, muncul sesosok wanita mengenakan gaun laboratorium berwarna perak menyilaukan. Wajahnya cantik namun memiliki ekspresi yang kaku dan dingin, matanya berwarna putih perak penuh tanpa pupil, persis sama dengan tanda yang dimiliki Sang Arsitek.
"Aku Dr. Elena, Kepala Departemen Kimia," ujarnya dengan suara yang begitu merdu dan lembut, namun terdengar menipu hingga membuat kepala Arga terasa pening. "Kau baru saja menghancurkan mainan favoritku. Tapi tidak apa-apa... kain yang kau pegang itu mengandung sisa DNA Raka paling murni. Terima kasih telah mengambilnya untukku."
Dr. Elena hanya perlu mengangkat jari telunjuknya. Sobekan kain di tangan Arga tiba-tiba bergerak sendiri, berubah wujud menjadi ular kecil yang terbuat dari darah padat. Ular itu melilit pergelangan tangan Arga dan menggigit tepat di atas tanda tinta hitam.
Rasa sakit yang luar biasa menyengat seluruh tubuh Arga, seolah-olah saraf-sarafnya sedang dibakar hidup-hidup. Ia bisa merasakan kekuatan dan energinya tersedot keluar secara paksa, mengalir melalui ular darah itu menuju telapak tangan Dr. Elena.
"Subjek Nol Satu sudah stabil di bawah sana," Elena tersenyum tipis, menikmati penderitaan Arga. "Sekarang kita butuh Subjek Nol Dua untuk menjadi pendinginnya. Selamat datang di fase kedua, Arga."
Lantai keramik di bawah kaki Arga mendadak meleleh, berubah menjadi kolam cairan kimia berwarna hijau pekat yang dalam. Arga tak mampu melawan daya hisap itu. Tubuhnya tenggelam, terseret turun ke dalam kegelapan Ruang Isolasi yang terletak jauh di bawah fondasi sekolah.
Di dalam cairan kental itu, Arga bisa merasakan ribuan pasang mata yang mengawasinya dari segala arah, mata-mata dari manekin-manekin yang belum selesai diproduksi. Dan di kejauhan, di dalam sebuah tabung kaca raksasa yang menjadi pusat ruangan, ia melihat Raka.
Kakaknya itu tergantung diam, namun dari punggungnya tumbuh ribuan kabel dan selang yang menyambung langsung ke dinding-dinding sekolah. Raka kini bukan lagi sekadar tahanan, ia telah menjadi jantung yang menopang kehidupan dari seluruh bangunan mengerikan ini.
Arga mencoba berteriak memanggil nama kakaknya, namun paru-parunya hanya terisi oleh cairan kimia yang dingin. Tinta hitam di tubuhnya kini merambat cepat naik hingga ke wajah, menutupi separuh matanya dengan kegelapan mutlak. Perang untuk merebut kembali kemanusiaan mereka baru saja masuk ke tahap yang paling mengerikan.