Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Melody berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang masih sedikit kaku. "Duh, di mana sih itu orang? Cepet bener ilangnya, udah kayak hantu aja dehh!" gerutunya sambil celingak-celinguk.
Ia menghentikan salah satu siswa yang sedang membawa tumpukan buku. "Eh, liat Kaisar nggak?"
"Oh, tadi liat masuk ke perpus, Kak," jawab siswa itu sopan.
"Oke, thanks!" Melody berbalik arah menuju perpustakaan. "Anak rajin ternyata. Pantes pinter. Selain pinter di pelajaran, pinter juga megang senjata dia," gumamnya mengingat latar belakang keluarga Luca yang mengerikan itu.
Melody mendorong pintu perpustakaan yang berat. Suasananya sangat sepi dan dingin, hanya ada aroma buku tua dan pembersih lantai. Di pojokan dekat rak buku sejarah, ia menemukan sosok yang dicarinya. Kaisar sedang menyandarkan tubuhnya di sofa panjang, bukan di kursi kayu biasa. Wajahnya tertutup sebuah buku tebal, seolah ia sedang tidur dengan tenang.
Melody berjalan mendekat dengan langkah sangat pelan, nyaris berjinjit. Ia duduk di sebelah Kaisar, menjaga jarak agar tidak terlalu dekat.
"Ini kalau gue bangunin, bakal dicekek nggak ya? Atau dia refleks mau mukul gue dengan serangan mautnya?" batin Melody was-was. Ia menatap buku yang menutupi wajah Kaisar, mencoba menerawang ekspresi cowok itu.
Karena pinggangnya masih terasa nyeri dan efek pijatan semalam membuatnya merasa rileks, Melody akhirnya menyerah. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa di samping Kaisar.
"Tunggu dia bangun aja deh..." gumamnya sangat pelan.
Melody menutup matanya sebentar, berniat hanya ingin beristirahat sejenak. Namun, suasana perpustakaan yang sunyi dan hembusan AC yang stabil justru menjadi pengantar tidur yang sempurna. Tak butuh waktu lama, napas Melody mulai teratur dan kepalanya perlahan merosot ke arah bahu Kaisar. Gadis itu tertidur sangat pulas, benar-benar lupa kalau orang di sebelahnya adalah calon bos mafia yang paling ia takuti.
Beberapa saat kemudian, tangan yang berada di bawah buku itu bergerak sedikit. Kaisar tidak benar-benar tidur. Ia menurunkan buku yang menutupi wajahnya, menoleh pelan ke samping, dan menatap gadis yang kini dengan beraninya menjadikan bahunya sebagai bantal.
Tatapan Kaisar tetap tajam dan datar, namun ia tidak menjauhkan bahunya. Ia hanya diam, membiarkan Melody terus menyelami mimpinya di tengah keheningan perpustakaan.Kringgg!
Bunyi nyaring dari ponsel Melody membelah keheningan perpustakaan. Melody tersentak, namun kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Dalam kondisi setengah sadar, ia justru mengeratkan pegangannya pada "benda" hangat di sampingnya yang ia pikir adalah guling empuk di kamarnya.
Posisi Melody sekarang justru memeluk pinggang Kaisar dari samping, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher cowok itu karena merasa terganggu dengan suara ponsel.
"Melody..." desis sebuah suara berat dan sangat rendah tepat di telinganya.
Suara itu dingin, namun sanggup menyetrum seluruh saraf di tubuh Melody. Ia membuka mata lebar-lebar dan langsung membeku saat melihat kemeja sekolah putih yang sangat ia kenal berada tepat di depan hidungnya.
"A-anjing!" pekik Melody refleks.
Ia langsung mundur dengan panik dan mencoba berdiri. Namun, karena rasa nyeri di pinggangnya mendadak menyerang ditambah keseimbangannya yang belum stabil karena baru bangun tidur, kaki Melody oleng. Tubuhnya limbung ke belakang.
Sebelum punggungnya kembali menghantam lantai, tangan kokoh Kaisar bergerak kilat. Bukannya ditarik untuk berdiri tegak, Kaisar justru menarik lengan Melody ke depan dengan tenaga yang cukup kuat.
SRET!
Akibat tarikan itu, Melody justru mendarat tepat di atas pangkuan Kaisar. Kini posisinya sangat intim; Melody duduk di paha Kaisar dengan kedua tangan yang secara otomatis bertumpu pada bahu bidang cowok itu agar tidak terjatuh.
Deg.
Jantung Melody berdegup kencang hingga terasa mau melompat keluar. Matanya terkunci pada manik mata hitam Kaisar yang sedalam samudra. Dari jarak sedekat ini, Melody bisa melihat betapa sempurnanya pahatan wajah di depannya—rahang tegas yang tampak seperti diukir, hidung bangir, dan aura dominasi yang sangat kuat.
Kaisar tidak melepaskannya. Tangannya masih melingkar di pinggang Melody, memastikan gadis itu tidak bergeser sedikit pun. Tatapan Kaisar tetap datar dan tajam, namun ada kilatan aneh yang sulit diartikan saat ia menatap bibir Melody yang sedikit terbuka karena kaget.
"Sudah puas tidurnya?" tanya Kaisar dingin, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh intimidasi.
Melody menelan ludah dengan susah payah. "Ya Tuhan... ini orang definisi ganteng tapi mematikan itu nyata," batinnya menjerit, sementara wajahnya kini sudah merah padam melebihi warna liptint-nya.
"G-gue... anu... itu..." Melody mendadak gagap, otaknya yang biasa encer mendadak mogok kerja menghadapi situasi panas di perpustakaan yang sepi ini."Ngomong yang jelas," perintah Kaisar. Suaranya rendah, nyaris berbisik, tapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Melody yang sudah kehilangan akal sehat karena jarak mereka yang terlalu intim, malah fokus pada hal yang salah. Matanya terpaku pada bibir tipis Kaisar yang terlihat sangat menggoda di bawah lampu perpustakaan yang remang. Otaknya korslet, filter di mulutnya hilang seketika.
"Mau cium..." ucapnya spontan.
Dunia seolah berhenti berputar. Melody langsung membelalakkan mata, menyadari kebodohan tingkat dewa yang baru saja ia lontarkan. "Mulut sialan! Apa-apaan gue?!" jeritnya dalam hati.
Kaisar tidak menjauh. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis yang mematikan—pemandangan yang sangat langka dan berbahaya. "Mau apa?" panggilnya lagi, seolah ingin memastikan pendengarannya.
"Enggak! Enggak! Fiks, mulut gue typo! Maksudnya mau... mau pinjem kamus!" bantah Melody panik, wajahnya sudah semerah kepiting rebus. Ia mencoba meronta untuk turun dari pangkuan Kaisar, tapi tenaga cowok itu bukan tandingan baginya.
Kaisar tiba-tiba mengulurkan tangannya, mencengkeram tengkuk Melody dengan lembut namun posesif, menarik wajah gadis itu mendekat.
Cup.
Bibir dingin Kaisar menyentuh bibir Melody. Mata Melody membelalak sempurna, seluruh tubuhnya kaku seperti tersengat listrik. "Anjirrr! Beneran dicium?!" batinnya berteriak histeris.
Awalnya hanya sentuhan singkat, namun sedetik kemudian Kaisar mulai melumatnya perlahan. Gerakannya sangat tenang tapi menuntut, menunjukkan dominasi yang mutlak. Melody yang tadinya ingin memberontak, perlahan justru merasa terbuai. Aroma maskulin yang kuat dari tubuh Kaisar dan kelembutan yang tidak terduga membuat pertahanan Melody runtuh.
"Aduh, mana enak lagi..." gumam Melody pasrah dalam hati sambil perlahan memejamkan matanya, menikmati sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Merasakan respon dari Melody, tangan Kaisar yang berada di pinggang gadis itu bergerak menariknya agar semakin merapat, seolah tidak membiarkan ada celah udara di antara mereka. Ia memperdalam lumatannya, menyesap bibir Melody dengan intensitas yang membuat napas gadis itu mulai memburu. Di perpustakaan yang sunyi itu, hanya terdengar suara detak jantung mereka yang saling berpacu, mengabaikan fakta bahwa mereka berada di sekolah dan siapa pun bisa saja masuk kapan saja.