Allyssa harus meninggalkan hidup nyamannya di Bandung dan memulai semuanya dari awal di Jakarta. Di sekolah barunya, ia mencoba menjalani kehidupan remaja seperti biasa, meski perlahan ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di sekitarnya.
Pertemuan dengan orang-orang baru, termasuk sosok misterius yang sulit dipahami, membuat hidup Allyssa berubah. Kejadian demi kejadian datang tanpa ia duga, seolah membawanya masuk ke dalam rahasia yang lebih besar.
Di tengah semua itu, ia hanya berpegang pada satu hal yang paling berarti—saudara kembarnya. Namun sebuah kejadian di malam yang seharusnya biasa saja, mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Allyssa menyadari bahwa tidak semua cerita berjalan sesuai harapan. Ada yang harus berhenti di tengah jalan—dan tak pernah sempat selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aynaaa12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 13
“Yaudah nggak usah nyolot gitu dong Lun! Gue kan cuman nawarin aja!” Ujar Valeska tak kalah sewotnya.
“Kalian berdua ini ya, bisa nggak sih nggak sih gak saling ngegas! Kita cape dengernya, tau gak!” Daniel bingun dengan keduanya. Mereka adalah sahabat dekat, namun saat ngobrol selalu keliatan seperti orang yang sedang berdebat.
“Si Luna tuh! Suka nyolot duluan!”
“Lagian Lo, lemot amat jadi orang!”
“Yaudah sih, tinggal nggak usah jawab! Sensi amat!”
“Ya kalau gue nggak jawab Lo ngomong sama siapa! Nggak sadar Lo yang lain kayak batu. Diam mulu dari tadi.” Ujar Aluna tanpa sadar. Ia langsung menutup mulutnya spontan takut orang yang dimaksud tersinggung.
“Luna, kenapa Lo ngomong gitu!”
“Gue keceplosan! Lagian Lo sih, mancing Gue mulu!”
“Kalian bisa akur gak sih! Ini kita dengarin kalian dulu apa mau bahas project.” Arya sungguh heran dengan kedua gadis itu.
“Bener tuh! Gimana mau bahas kalian ribut mulu!”
Mereka mulai melanjutkan pembahasan yang sebelumnya terhenti karena perdebatan Aluna dan Valeska.
“Anggota kita kan terbatas nih, kita bagi 3 divisi aja gimana? Tiap divisi masing-masing dua orang. Nah, satu orangnya jadi ketua.”
“Gue setuju! Yang lain gimana?”
“Gue sih setuju. Divisinya berati yang penting-penting aja kan ya?
Mereka memulai menulis beberapa divisi yang cukup penting untuk project drama. Dari hasil diskusi itu beberapa divisi yang dilist ada acara,kostum, dokumentasi, dan perlengkapan.
“Jadi gimana nih, divisi apa yang bakal kita cancel?”
“Gimana kalau divisi kostum dihapus. Karena biasanya di divisi perlengkapan udah termasuk sama kostum dan lain-lain.” Ujar Allyssa memberi saran. Yang lain pun tampak setuju.
Sejak tadi Allyssa hanya memerhatikan teman-temannya. Namun sekarang dia juga merasa perlu menyampaikan ide yang dia punya. Apalagi selain suka baca, Allyssa sangat suka dengan seni. Dia sudah membayangkan project ini ke depan. Di kepalanya sudah ada beberapa ide drama yang akan dipentaskan. Namun, itu akan ia tahan sampai tim mereka akan bahas tema yang akan dipilih nantinya.
“Oke fiks ya!” Ujar Aluna mencatat divisi yang sudah disetujui.
Saat mereka sudah selasai memilih divisi, seseorang datang dengan wajah datarnya.
“Sorry Gue telat.” Ujar laki-laki itu datar, lalu didik di salah sau sisi sofa yang memang masih kosong.
Mendengar itu yang lain tampak kaget. Gak biasanya seorang Gabriel meminta maaf. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Allyssa yang memang tak tahu watak laki-laki itu. Allyssa hanya diam tanpa ekspresi. Sementara pelaku yang membuat beberapa teman kelompoknya kaget terlihat memandang Allyssa lekat, namun langsung dialihkan saat gadis itu juga hendak melihat ke arahnya
‘DEG. Perasaan apa ini’ Ujar Gabriel dalam hati saat mata keduanya hampir saling menatap.
Sementara Allyssa ia bersikap sewajarnya. Diam, lalu akan berbicara ketika merasa perlu saja.
“Untung Lo datang! Kalau gak, sia-sia kita ngumpul hari ini.” Ujar Arya.
“Sekarang aja dokumentasinya, gimana?. Biar langsung dikirim ke Pak Trisno. Tau sendiri kan kalau gak dikirim, yang ada poin kita malah dikurangin!” Ujar Valeska panjang.
Mereka akhirnya mengambil foto dokumentasi kegiatan hari itu. Beberapa foto sudah dikirim ke grup yang sudah mereka buat siang tadi. Beberapa ide juga sudah mereka catat. Mulai dari pembagian divisi, pembagian tugas, pemilihan tema, dan juga teks drama yang akan mereka ambil. Untuk ketuanya sendiri adalah Gabriel. Karena sebelumnya tidak ada yang ingin jadi ketua, akhirnya mereka sengaja menunjuk Gabriel yang telat datang sebagai ketua. Gabriel tentu tidak masalah dengan hal itu. Sementara, Allyssa juga menawarkan dirinya yang akan mencari beberapa teks drama yang cocok dengan tema yang dipilih timnya.
Kegiatan kelompok itu berakhir pukul 21.50. Cukup menguras tenaga dan pikiran memang. Mereka siap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.