Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Aruna terbangun ketika sayup-sayup terdengar suara gemuruh petir yang menyambar, Keningnya mengerut untuk membiasakan bias cahaya yang menusuk kedua matanya.
Aruna mendesis pelan, sialan! Ia jadinya ketiduran?
Melirik rolex yang melingkar pada pergelangan tangannya, sudah pukul 7 malam jadi ia tertidur sekitar dua jam an?
"Sudah bangun?"
Kepala Aruna bergerak pelan. Dan seketika mendapati Noah yang tengah mendekat kearahnya lengkap dengan sebuah handuk ditangannya.
"Sorry aku ketiduran"
"No problem Aruna. Aku lebih senang, Itu artinya kamu nyaman disini"
Aruna lagi-lagi melotot, Ia menatap laki-laki yang tengah bertelanjang dada itu dengan pandangan yang seolah-olah siap untuk menerkamnya.
Apa-apaan Noah ini? Apa dia bilang nyaman? Ia jelas tidak salah dengar kan? Padahal hubungan mereka baru resmi dua jam yang lalu bukan berarti Noah seenaknya kan bilang kalau dirinya nyaman disini?
Hallo Aruna ... Bukankah itu wajar merasa nyaman di rumah seorang kekasih? Kenapa kamu mesti malu-malu? Jelas kamu menyukainya kan?
Tapi tetap aja ... Aruna masih belum terbiasa. Apalagi kalimat-kalimat Noah beberapa saat yang lalu masih membuatnya terngiang-ngiang dan berdebar sampai sekarang.
"Apa kamu baik-baik saja soal status ku?"
"Status apa?"
"Kalau aku adalah mantan pacar Marinos. He's your friend Noah"
"Sekalipun kamu mantan istrinya, Aku nggak perduli Run. I just wanna You. Not your status or whatever your are"
"Oke, katakan bahwa kamu nggak masalah sama status ku. Tapi gimana pandangan orang-orang terhadap kita?"
"Pandangan apa? Kamu perduli dengan orang-orang yang bicara dibelakang?"
"Noah kamu pasti paham maksud ku. Jelas akan banyak yang menggunjing kita nantinya"
"Fuck them Aruna. Kita hanya harus saling percaya dan saling mendukung sama lain. That enough untuk hubungan kita"
"....."
"I promise. Aku nggak akan biarin orang-orang yang benci dengan kita menyakiti kamu"
Kini Aruna terdiam. Ia menatap kedua tangannya yang kini sudah berada dalam genggaman Noah.
"Run? You okay?"
Rasa dingin itu menyentaknya seketika. Ia kembali pada realita dan meninggalkan kejadian beberapa saat lalu yang berputar di kepalanya. Tangannya reflek mendorong tangan Shayne yang bertengger manis di pipinya.
"I'm okay"
"Kita makan malam diluar?"
"Kamu udah baikan?"
"Seperti yang kamu lihat"
"Kamu istirahat aja ya. Aku buatin makan malam gimana?"
"Ide bagus. Tapi sorry aku jarang beli bahan masakan Darling "
Aruna mendesah, "Yaudah kita keluar aja ya. Tapi kamu yakin udah baikan?"
"Iya"
"Oke wait aku mau cuci muka dulu. Kamar mandinya dimana?"
"Sebelah dapur. Ayo kuantar"
"Noah aku bukan anak kecil"
Noah terkekeh lalu ia membiarkan Aruna yang berjalan meninggalkan dirinya. Sialan! Kenapa wajah ketus gadis itu akan semakin terlihat menggemaskan?
.
.
.
.
.
"Langsung pulang?"
"Iya. Kasihan Arin nunggu di rumah sendirian"
"Aku ikut boleh?"
"Nggak Noah!" Kali ini Aruna benar-benar ingin berteriak kesal. Pasalnya, laki-laki didepannya ini tengah merengek ingin ikut dirinya pulang. Gila bukan?
"Sayang ... Aku sendirian di rumah"
"Biasanya kamu emang sendirian kan? Kamu juga oke-oke aja"
"Sekarang nggak bisa "
"Kenapa bisa?"
"Aku takut kangen "
Aruna menepuk keras lengan atletis itu hingga sang pemilik mengaduh pelan, "Jangan kayak anak kecil. Udah aku mau pulang dulu. Kasian itu supir taxi nya nunggu"
"Lagian kenapa sih kamu pesen taxi? Aku bisa antar kamu"
"Kamu baru baikan. Jadi lebih baik kamu istirahat ya "
"Kalau badanku kumat lagi, aku bisa kan telfon kamu kapanpun?"
Aruna tersenyum lebar. Lalu ia mengangguk pelan bersamaan ia yang memeluk tubuh Noah erat, "Kamu bisa panggil aku kapanpun"
"....."
"Aku pulang ya. Jangan begadang hari ini"
"Ya. Kamu hati-hati dan jangan lupa kabari aku di rumah"
Dan setelahnya Aruna benar-benar pergi meninggalkan Noah dengan taxi-nya. Gadis itu menghembuskan nafas lega ketika mobil taxi mulai membelah jalanan ibukota di malam ini.
Pikirannya menerawang jauh. Semua kejadian beberapa hari ini yang ia alami benar-benar banyak menguras tenaganya. Kejadian yang tak terduga, kejadian yang banyak menguras air mata dan fisiknya. Aruna hanya berdoa jika langkah yang ia ambil kali ini tidak membawanya pada kesengsaraan yang sama.
"Kok baru pulang mbak?"
Baru melepaskan jaketnya, Aruna sudah ditodong oleh sang adik didalam kamarnya. Adiknya itu tanpa permisi merebahkan tubuhnya begitu saja di atas ranjangnya.
"Kepo!"
"Mbak kencan ya?"
"Kencan kepalamu!"
"Kencan sama Bang Noah ya mbak?"
"Apaan sih. Sok tahu!"
"Tuh kan Arin bener. Kencan dimana mbak tadi? Terus-terus gimana bang Noah orangnya?"
Arina terlihat antusias. Gadis itu bahkan sudah bangkit dari rebahannya dan berganti duduk tegak.
"Nggak usah ngaco! Udah sana keluar! Aku mau mandi!"
"Cerita dulu mbak..."
"Cerita apasih?!"
"Bang Noah"
"Minggir Arina!"
"Mbak ih nggak seru. Tapi mbak beneran dating sama Bang Noah?"
"Iya! Puas kamu!! Udah sekarang keluar sana!"
"Cieeee cieeee love in Bali atau love in Parkiran ini ceritanya mbak?"
"ARINA!!!"
Kemudian gadis mungil itu mengacir pergi begitu saja ketika sang kakak sudah melayangkan bantak untuknya. Bersamaan dengan Arina yang keluar, dering ponsel milik Aruna berbunyi nyaring. Dengan cepat ia meyahut benda pipih itu didalam tasnya.
Menggeser ikon hijau lalu menempelkan ponsel itu antara telinga dan pipinya,
'Apa Van?'
'Run kamu dimana?'
'aku di rumah baru napak di kamar. Ada apa?'
'Run bisa tolongin aku?'
'apa?'
'Run aku di kantor polisi sekarang '
'Apa?!! Kok bisa?!'
'Aku habis nabrak orang. Tapi aku bisa jamin aku nggak sepenuhnya salah kok. Aku disini satu lawan tiga Run jujur aku nggak mampu'
'sialan! Kok bisa sih Van ya ampun ... Yaudah tunggu aku disitu. Kamu di Polsek mana?'
'Polsek Jambore Run'
'Ya aku otw. 15 menit sampe'
Jaket yang tadi ia lepas, kini kembali dipakainya. Setelah mematikan sambungan telfon Aruna bergegas menuju tempat yang tadi ia bicarakan dengan Vano di telfon. Untung saja Go-Jek yang ia pesan tidak sampai 10 menit sudah mangkring didepan rumahnya.
Sepuluh menit kemudian Aruna sudah menapakkan kakinya di Polsek Jambore . Ia sempat celingukan mencari sosok Vano sebelum akhirnya kedua netranya mendapati laki-laki itu tengah terduduk lesu dipojok ruangan lengkap dengan dua orang wanita paruh baya yang tengah mengomel berisik sambil menunjuk Vano.
"Van?!" Ia berseru lumayan kencang dan hal itu sukses membuat beberapa orang di pojok ruangan itu menoleh kearahnya.
"Aruna? Ya ampun?!!"
"Ya ampun kamu kenapa?! Sebenarnya apa yang terjadi sih?!"
"Kamu keluarga nya anak nggak tau adab ini?!"
Kini Aruna menoleh. Menatap wanita paruh baya dengan lipsitk pink menyala disampingnya. Aruna meneliti penampilan wanita itu. Dari atas hingga bawah, dapat Aruna tafsirkan semua fashionnya jika diuangkan akan berkisar hampir 500 juta.
Khas sekali ibu-ibu sosialita dengan anak manjanya yang kini Aruna beri pandangan penuh. Laki-laki dengan kacamata hitam yang bertengger manis dihidung bangirnya. Dan menyebalkannya laki-laki itu kini menatapnya dengan pandangan seolah Aruna adalah wanita rendahan yang paling rendah.
Sialan! Aruna benci di remehkan!
"Ya saya kakaknya!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...