Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Bab 17
Malam di atas bukit itu semula terasa seperti hadiah kecil setelah perjalanan panjang yang nyaris merenggut nyawa. Udara dingin mengalir perlahan, menyelinap lewat celah jendela dan pintu, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Rumah tua yang mereka tempati seakan menyimpan keheningan yang hangat, seperti pelukan samar dari dunia yang sudah lama ditinggalkan. Bumi memilih tidur di kamar atas, tepat di bawah atap kayu yang sesekali berderit halus. Ia sengaja membiarkan jendela terbuka, berharap angin malam bisa menenangkan pikirannya yang masih berantakan. Di bawah, Pam dan Nuri tidur di kamar terpisah, hanya dipisahkan oleh satu dinding tipis yang mungkin menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang mereka sadari. Malam itu tidak ada percakapan panjang. Tidak ada perdebatan. Tidak ada rencana. Hanya kelelahan yang akhirnya menang.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Bumi terbangun dengan jantung berdegup tidak beraturan. Pada awalnya, ia tidak tahu apa yang membangunkannya. Dunia masih terasa kabur, seperti mimpi yang belum selesai. Tapi lalu ia mendengarnya—suara yang asing sekaligus sangat familiar. Deru mesin. Halus, tapi nyata. Bukan suara angin. Bukan suara hutan. Itu suara sesuatu yang bergerak… sesuatu yang hidup.
Ia langsung duduk tegak, napasnya memburu. Matanya menoleh ke arah jendela yang terbuka. Cahaya redup dari luar masuk, membingkai sesuatu yang membuat tubuhnya membeku.
Pesawat kapsul mereka… terangkat perlahan dari tanah.
Lampu di bawahnya menyala samar, menerangi rumput seperti panggung kecil yang dingin. Mesin berdengung stabil, tidak liar, tidak rusak—seolah dikendalikan oleh tangan yang tenang dan tahu apa yang sedang dilakukan.
“Kaaak Nuri! Paaam!” teriak Bumi, suaranya pecah oleh panik yang tiba-tiba menyergap.
Ia berlari keluar kamar tanpa berpikir, hampir tergelincir di tangga karena terburu-buru. Langkahnya berat, tidak sinkron dengan pikirannya yang kacau.
Pintu kamar di bawah terbuka hampir bersamaan. Pam keluar dengan rambut terurai, wajahnya masih setengah tertidur, tapi langsung berubah tegang saat melihat ekspresi Bumi. Nuri keluar lebih cepat, matanya tajam, tubuhnya langsung siaga seperti prajurit yang terbiasa menghadapi bahaya tanpa peringatan.
“Ada apa?” tanya Nuri, suaranya rendah tapi penuh kewaspadaan.
“Pesawat…” Bumi hampir tidak bisa menyusun kalimat. Ia menunjuk ke luar. “Pesawat kita!”
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, mereka bertiga berlari keluar rumah.
Langit malam terbentang luas, bertabur bintang yang tampak begitu tenang, seolah tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di bawahnya. Dan di sana, di tengah keindahan yang menipu itu, pesawat kapsul mereka menjauh perlahan, naik lebih tinggi, meninggalkan tanah… meninggalkan mereka.
Bumi berdiri terpaku. Tidak ada kata yang keluar.
Pam jatuh berlutut di tanah. Lututnya menekan rumput yang dingin dan basah, tapi ia tidak bergerak. Rambutnya jatuh menutupi wajah, bahunya bergetar pelan.
“Ini… semua salahku…” suaranya pecah, hampir tidak terdengar.
Tangisnya tidak keras, tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih berat.
Nuri tetap berdiri, matanya bergerak cepat, menyisir setiap sudut seolah berharap menemukan jawaban di dalam kegelapan.
“Tenang,” katanya, meski suaranya sendiri terdengar tegang. “Kita harus tetap tenang.”
“Kita nggak seharusnya bermalam…” Pam masih terisak, suaranya serak oleh penyesalan.
Bumi hanya diam. Pandangannya masih terpaku pada titik kosong di langit, tempat pesawat itu menghilang.
Nuri menghela napas panjang, mencoba menyusun logika di tengah kekacauan.
“Ini pasti ulah orang,” katanya akhirnya. “Bukan alien. Bukan mutan.”
Sekeliling mereka sunyi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya angin malam yang bergerak pelan, seolah ikut mengawasi.
Nuri menoleh ke Bumi. “Ada cara hubungi Emma?”
Bumi menggeleng pelan.
Tidak ada.
“Tentu saja,” gumam Nuri dengan nada sinis. “Apa sih yang kamu tahu?”
Kalimat itu seperti memantik api yang sudah lama tertahan.
“Aku nggak tahu!” balas Bumi, suaranya meninggi. “Mana aku tahu, Kak! Aku bahkan nggak tahu kenapa kita ada di sini!”
“Aku juga nggak tahu!” suara Nuri meledak lebih keras. “Tapi aku udah setahun di sini! Berjuang sendiri! Nggak kayak kamu yang gampang banget bilang nggak tahu!”
Kata-kata itu menghantam lebih dalam dari yang seharusnya.
Bumi terdiam, wajahnya menegang.
Pam berdiri tiba-tiba, matanya menyala.
“Cukup!” teriaknya. “Kita butuh solusi, bukan ribut!”
Hening langsung jatuh.
Namun belum sempat suasana benar-benar reda—
BOOOM!
Suara keras mengguncang udara. Seperti sesuatu yang jatuh dari ketinggian dan menghantam tanah dengan brutal.
Mereka bertiga langsung menoleh ke arah hutan.
Gelap.
Dalam.
Misterius.
Pam menatap Bumi. “Emma bisa dikontrol orang lain?”
Bumi ragu, tapi kali ini ia memaksa dirinya menjawab. “Mungkin tidak… aku nggak pernah lihat orang lain ngasih perintah.”
“Berarti pesawatnya…” Pam menggantung.
“Manual,” sambung Nuri cepat.
Mereka saling pandang.
Ada seseorang di sana.
“Kita ke sana!” Bumi langsung bergerak.
Namun Nuri menarik bajunya dengan keras. “Kamu itu polos atau nekat?! Lihat kita!”
Bumi menunduk. Piyama tipis yang mereka pakai jelas tidak cocok untuk masuk ke hutan malam.
“Iya…”
Pam menarik napas dalam. “Kita ambil perlengkapan dulu.”
Mereka masuk kembali ke rumah. Kali ini tidak ada santai. Gerakan mereka cepat, terarah. Mereka mengganti pakaian dengan yang lebih kuat, membawa makanan, air, dan senter yang menyala dengan cahaya kekuningan dari bahan bakar sederhana.
Lalu mereka masuk ke hutan.
Hutan itu seperti dunia yang berbeda. Gelapnya terasa hidup. Setiap langkah diiringi suara ranting patah. Dari atas, terdengar suara burung-burung aneh—bukan kicauan biasa, tapi lebih seperti gesekan logam.
Waktu berjalan lambat.
Hampir tiga puluh menit mereka menyusuri jalan tanpa arah yang jelas.
“Kita bener nggak sih?” tanya Bumi akhirnya.
Nuri mendengus. “Kamu selalu ragu.”
“Ragu itu penting!” balas Bumi cepat. “Biar kita waspada!”
Pam berhenti. Ia menatap mereka berdua dengan wajah lelah.
“Kalian di masa kalian juga kayak gini?”
Tidak ada jawaban.
“Kalian ada di sini mungkin bukan cuma buat pulang,” lanjut Pam. “Mungkin buat belajar bareng.”
Bumi dan Nuri saling pandang.
Lalu, tanpa kata, mereka mengangguk.
Pam berbalik. “Ayo.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Dan akhirnya—
Pesawat itu terlihat. Tersangkut di antara pepohonan, badannya penuh goresan, tapi masih utuh. Bumi berlari mendekat, menyentuhnya, berharap menemukan sesuatu yang tersisa. Namun harapannya runtuh. Energi inti bumi… hilang. Ia memukul badan pesawat dengan kesal.
Pam menunduk. “Maaf…”
Nuri tidak menjawab. Ia justru menatap ke sekeliling.
“Dia masih di sini,” katanya pelan.
Lalu ia berteriak ke dalam kegelapan, “Hei! Kami butuh itu!”
Hutan tetap diam.
Bumi menghela napas kesal. “Mana ada maling ngaku…”
Namun tiba-tiba daun bergerak. Pelan. Namun berisik. Dari balik bayangan yang pekat, sesuatu muncul. Besar. Berat. Seekor beruang. Tapi bukan beruang biasa. Matanya menyala aneh. Tubuhnya lebih besar dari seharusnya. Dan di cakarnya ada sebuah cincin bercahaya. Energi inti bumi.