NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Suasana di ruang makan terasa semakin menyesakkan bagi Aliya.

Tak lama kemudian, derap langkah kaki terdengar dari arah tangga.

Seorang pemuda dengan gaya yang lebih santai namun memiliki sorot mata setajam Emirhan muncul.

Ia adalah Hakan, adik laki-laki Emirhan yang baru saja tiba dari luar negeri.

"Siapa dia?" tanya Hakan sambil menyipitkan mata, menatap Aliya yang duduk kaku di kursi kayu jati yang besar.

Zaenab mengembuskan napas panjang dan menggelengkan kepalanya dengan raut wajah penuh kekecewaan.

"Entahlah, Hakan. Kakakmu baru saja membawanya masuk dan mengatakan bahwa dia adalah calon pendamping hidupnya."

"Apa? Calon pendamping hidup?"

Hakan tertawa remeh, langkahnya mendekat ke arah meja makan.

Ia memperhatikan seragam yang sempat terlihat di dalam tas Aliya yang terbuka sedikit.

"Dia bahkan masih sekolah! Kak Emir pasti sudah gila."

Hakan berdiri tepat di depan Aliya, menatapnya dengan pandangan merendahkan.

Ia merogoh dompet kulitnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang bernominal tinggi, lalu melemparkannya ke atas meja di depan Aliya.

"Dengar, Gadis Kecil. Kak Emir mungkin sedang hilang akal, tapi aku tidak. Kamu pasti membutuhkan uang, kan? Berapa yang kamu mau untuk pergi dari sini dan meninggalkan kakakku? Ambil ini!"

Aliya menatap tumpukan uang itu dengan mata yang berkaca-kaca.

Rasa hinaan itu lebih sakit daripada luka fisik yang ia derita.

Dengan suara gemetar namun tegas, ia mendorong kembali uang itu.

"A-aku tidak mau uang Anda. Aku di sini bukan karena itu," ucap Aliya lirih namun penuh penekanan.

Mendengar jawaban Aliya, Laura yang sejak tadi memperhatikan dari sudut ruangan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

Suara tawanya yang melengking terdengar begitu sinis, memenuhi ruang makan yang megah itu.

"Oh, lihatlah! Gadis suci ini sedang berakting!" seru Laura di sela tawanya.

"Semua wanita miskin yang datang ke rumah ini selalu mengatakan hal yang sama di awal. Tapi kita lihat saja, berapa lama kamu bisa bertahan tanpa menyentuh harta keluarga Karadağ."

Aliya hanya bisa menundukkan kepala, membiarkan air mata setetes demi setetes jatuh ke pangkuannya.

Di lantai atas, sayup-sayup terdengar suara perdebatan hebat antara Emirhan dan ayahnya, sementara di bawah sini, Aliya harus berjuang sendirian menghadapi badai penghinaan dari keluarga yang seharusnya ia sebut sebagai keluarga barunya.

Di dalam ruang kerja yang kedap suara itu, suasana terasa begitu tegang hingga seolah-olah oksigen di dalamnya menipis.

Onur berdiri membelakangi jendela besar, sementara Emirhan berdiri tegak di tengah ruangan dengan tatapan yang tak tergoyahkan.

"Ayah, tolong... Tolong hargai aku sekali ini saja. Aku mencintainya, Ayah," ucap Emirhan dengan nada rendah namun penuh tekanan.

Ada kerentanan yang jarang ia tunjukkan, namun kali ini ia mempertaruhkan segalanya.

"Cinta?" Onur berbalik, menatap putranya dengan tatapan tajam yang bisa mengintimidasi siapa pun.

"Emir, kamu tahu dia masih sekolah. Kamu seorang CEO, wajah perusahaan kita. Apa yang akan dikatakan dunia bisnis jika melihatmu bersanding dengan seorang gadis yang bahkan belum menyelesaikan ujian akhirnya?"

"Sebentar lagi dia lulus, Yah," potong Emirhan cepat, suaranya mantap.

"Usia hanyalah angka. Dia memiliki kedewasaan dan keberanian yang tidak dimiliki wanita mana pun yang pernah Ayah kenalkan padaku. Dia menyelamatkan nyawaku, dan sekarang aku ingin menyelamatkan masa depannya."

Onur terdiam. Ia menatap lekat-lekat wajah putra sulungnya itu.

Ia melihat rahang yang mengeras, mata yang berkilat penuh tekad, dan sikap keras kepala yang begitu ia kenali.

Onur menghela napas panjang dan berat. Ia seolah sedang bercermin.

Di hadapannya kini berdiri duplikat dirinya sendiri—seorang pria Karadağ yang tidak akan pernah mundur jika sudah menetapkan hatinya pada sesuatu.

Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu sebelum Onur akhirnya kembali bersuara.

"Kamu benar-benar ingin mempertaruhkan nama baikmu demi dia?" tanya Onur dengan nada yang sedikit melunak, meski tetap terasa berat.

"Aku akan mempertaruhkan segalanya, Ayah. Karena tanpa dia, aku tidak akan berdiri di sini hari ini," jawab Emirhan tanpa ragu sedikit pun.

Onur memejamkan mata sejenak, lalu melambaikan tangan sebagai isyarat agar Emirhan keluar.

"Bawa dia makan. Tapi ingat, Emirhan, jalan yang kamu pilih tidak akan mudah. Ibumu dan Laura tidak akan melepaskannya begitu saja."

Di ruang makan yang megah itu, suasana terasa mencekam.

Aliya masih menunduk, bahunya berguncang hebat karena tangis sesenggukan yang berusaha ia redam. Namun, bukannya merasa iba, Hakan justru semakin mendekat dengan tatapan yang dingin.

"Masih belum cukup juga aktingmu?" desis Hakan kasar.

"Pergilah yang jauh dan jangan pernah kembali lagi ke sini. Kamu hanya akan menjadi noda hitam bagi nama besar keluarga kami!"

Aliya yang sudah sangat terguncang dan ketakutan tidak sanggup lagi bertahan.

Ia merasa seluruh isi rumah ini memusuhinya. Tanpa sepatah kata pun, ia bangkit dari kursinya dan berlari keluar menuju pintu besar, mengabaikan seruan Zaenab yang masih menatapnya dengan pandangan menghina.

Tepat saat itu, Emirhan baru saja keluar dari ruang kerja ayahnya di lantai atas.

Dari balkon dalam, matanya menangkap siluet Aliya yang berlari keluar dengan air mata membasahi pipi.

Jantungnya seolah berhenti berdetak melihat gadis itu tampak begitu hancur.

Emirhan langsung menuruni tangga dengan langkah seribu, wajahnya memerah karena amarah yang meluap.

Ia tiba di ruang makan dan melihat Hakan masih memegang dompetnya, sementara Laura tersenyum puas di sudut ruangan.

"Apa yang kalian lakukan?!" bentak Emirhan dengan suara menggelegar yang sanggup membuat seluruh pelayan di rumah itu membeku.

Suaranya yang menggelegar membuat Hakan terperanjat dan Laura seketika menghentikan tawanya.

Emirhan menatap mereka satu per satu dengan tatapan membunuh, sebelum akhirnya pandangannya tertuju pada uang yang berserakan di atas meja.

"Siapa yang berani menghinanya?!" teriak Emirhan lagi, urat-urat di lehernya menegang.

Tanpa menunggu jawaban dari adik atau ibunya, ia langsung berbalik dan berlari mengejar Aliya ke arah gerbang luar, tidak akan membiarkan gadis itu pergi sendirian dalam kondisi serapuh itu.

Emirhan berlari sekuat tenaga, mengabaikan napasnya yang memburu, hingga akhirnya ia berhasil meraih lengan Aliya tepat di depan gerbang besar.

Dengan satu tarikan lembut namun pasti, ia menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapan dadanya yang bidang.

"Lepaskan aku, Emir! Tolong lepas!"

Aliya meronta dalam tangisnya, tangannya memukul lemah dada Emirhan.

"Tempatku bukan di sini. Mereka benar, aku hanya orang asing. Aku hanya akan menjadi noda bagi keluargamu. Biarkan aku pergi!"

"Ssshhh... Diamlah, Sayang. Lihat aku," bisik Emirhan, mempererat pelukannya hingga Aliya tidak bisa lagi menghindar.

Ia membenamkan wajahnya di rambut Aliya, menghirup aroma yang selalu menenangkannya.

"Tidak ada noda, Aliya. Tidak ada yang salah denganmu," ucap Emirhan dengan nada rendah namun penuh penekanan.

"Hanya ada kamu dan aku. Apa pun yang mereka katakan, itu tidak akan mengubah posisimu di hatiku."

Aliya perlahan berhenti meronta, meskipun tubuhnya masih gemetar hebat karena sisa tangisnya.

Ia menatap Emirhan dengan mata sembab yang menyayat hati.

Emirhan perlahan merenggangkan pelukannya, lalu menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata yang membasahi pipi Aliya dengan sangat lembut.

Ia menangkup wajah gadis itu, memastikan Aliya hanya melihat ke arahnya.

"Ayo kita masuk kembali. Jangan biarkan mereka menang dengan melihatmu menyerah," ujar Emirhan dengan tatapan yang kembali menguat.

"Ayah sudah memberikan izin. Beliau sedang menunggu kita untuk sarapan bersama. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengeluarkan satu kata pun yang bisa menyakitimu lagi di meja makan nanti."

Aliya menarik napas panjang, mencoba mencari kekuatan di dalam manik mata Emirhan yang begitu yakin.

Dengan perlahan, ia menganggukkan kepalanya. Emirhan tersenyum tipis, menggandeng erat jemari Aliya seolah tidak akan pernah membiarkannya lepas lagi, dan membimbingnya berjalan kembali masuk ke dalam rumah megah yang kini harus mulai ia hadapi dengan kepala tegak.

Kembali ke ruang makan, suasana yang tadinya panas mendadak mendingin saat Onur melangkah masuk.

Dengan wibawa yang tak terbantahkan, ia menarik kursi di ujung meja dan menatap Aliya dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

"Duduklah, Aliya. Sekarang waktunya kita makan," ucap Onur, suaranya tenang namun memerintah.

Emirhan menarikkan kursi untuk Aliya tepat di sampingnya.

Dengan penuh perhatian, ia mengambilkan beberapa potong roti, keju, dan buah-buahan ke piring gadis itu.

"Makanlah sedikit, kamu butuh energi," bisiknya.

"Terima kasih, Emir," lirih Aliya, nyaris tak terdengar.

Meja makan itu menjadi panggung keheningan yang menyesakkan.

Hanya terdengar denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.

Laura yang duduk di seberang mereka mencengkeram erat kedua tangannya di bawah meja, kukunya memutih menahan amarah yang membuncah.

Sementara Hakan sesekali mencuri pandang ke arah wajah Emirhan, mencoba mencari celah dari ketegasan kakaknya.

Selesai makan, Onur bangkit berdiri. "Semuanya, ikut ke ruang keluarga. Kecuali kamu, Laura. Ini urusan intern keluarga Karadağ."

Mata Laura membelalak tak percaya. "Paman?! Tapi aku—"

"Masuk ke kamarmu, Laura," potong Onur tanpa menoleh.

Laura menghentakkan kakinya dengan emosi yang meledak, ia berlari menaiki tangga dan membanting pintu kamarnya keras-keras.

Di ruang keluarga, Onur duduk di sofa tunggalnya, sementara Emirhan tetap setia berdiri di samping Aliya yang duduk di sofa panjang.

"Siapa namamu?" tanya Onur membuka

percakapan.

"Aliya," jawabnya singkat sambil menunduk.

"Apakah kedua orang tuamu tahu kamu ada di sini?"

Aliya terdiam sejenak, bayangan ibunya yang mengusir semalam kembali muncul, membuatnya hanya bisa menggelengkan kepala perlahan.

Hakan yang sejak tadi menahan diri akhirnya bersuara dengan nada meremehkan.

"Lihat, Ayah? Dia kabur dari rumah tanpa izin. Dia bukan wanita baik-baik, dia hanya memanfaatkan Kak Emir!"

Brak!

Emirhan bangkit dengan gerakan kilat. Ia melangkah lebar menghampiri adiknya dan mencengkeram kerah baju Hakan hingga pemuda itu terangkat sedikit dari sofa.

Matanya menyala seperti api yang siap menghanguskan apa pun.

"Diam atau aku akan menghajarmu sekarang juga, Hakan!" bentak Emirhan tepat di depan wajah adiknya.

"Satu kata hinaan lagi keluar dari mulutmu tentangnya, aku tidak akan peduli lagi kalau kamu adalah adikku!"

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!