NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Aroma Pengkhianatan

Air dingin dari keran wastafel yang berkarat menghantam wajahku, membawa sensasi kebas yang sangat kubutuhkan.

Aku mencengkeram tepi wastafel keramik yang retak itu, membiarkan air menetes dari ujung hidung dan daguku, jatuh ke saluran pembuangan. Di cermin kusam di hadapanku, pantulan seorang pria dengan kantung mata hitam dan rahang yang mengeras menatap balik ke arahku. Garis-garis kelelahan tergambar jelas di wajah itu, sebuah peta rasa sakit yang kubangun selama sepuluh tahun terakhir.

Di sudut ruangan apartemen mangkrak ini, deretan layar monitor raksasaku terus memancarkan cahaya biru yang menyengat mata. Aku meraih handuk kecil, mengusap wajahku dengan kasar, lalu berjalan menyeret langkah menuju meja kerja stainless steel-ku.

Layar utama menampilkan grafik bursa saham Jakarta yang bergerak real-time.

Garis merah panjang menukik tajam ke bawah pada kode emiten VNGD—Vanguard Group. Kematian Hakim Agung Setiawan yang diiringi oleh kebocoran dokumen suap semalam telah memicu kepanikan massal di lantai bursa. Para investor asing dan pemegang saham ritel membuang saham Vanguard seolah lembaran itu terkena wabah penyakit menular. Triliunan rupiah menguap dari nilai perusahaan Darmawan Salim hanya dalam waktu setengah hari perdagangan.

Darmawan pasti sedang berteriak hingga urat lehernya putus di ruang eksekutifnya sekarang. Ia pasti sedang sibuk menelepon para menteri, menjanjikan uang suap dua kali lipat untuk meredam penyelidikan kepolisian.

Pikiranku tiba-tiba melayang pada Elara.

Pagi ini, ia mengirimiku pesan bahwa ia merasa takut dan dunianya bertabrakan. Mengingat sifatnya yang keras kepala dan insting detektifnya yang tajam, aku berani bertaruh nyawaku bahwa ia tidak pergi ke kantornya pagi ini. Ia pasti pergi menemui ayahnya. Ia pasti mengonfrontasi Darmawan Salim secara langsung.

Membayangkan wajahnya yang hancur saat mendengar kebohongan atau pembenaran dari mulut ayahnya sendiri membuat dadaku terasa diremas kuat. Ada dorongan bodoh di tanganku untuk mengambil ponsel, meneleponnya, dan mengatakan bahwa ia bisa datang ke tempatku untuk bersembunyi dari kekacauan ini.

Tapi aku menepis pikiran itu dengan gelengan kepala yang keras.

Fokus, Arlan. Aku tidak bisa melindunginya jika aku sendiri sudah mati. Dan agar aku tidak mati, aku harus memastikan target berikutnya lumpuh sebelum mereka sempat mengatur serangan balik.

Darmawan Salim adalah otak dari Vanguard, tapi ototnya... anjing penjaga yang selama ini menggigit siapa saja yang berani mendekati rahasia mereka... adalah Jenderal Sudiro. Pria itu mengendalikan ratusan prajurit bayaran, preman berseragam, dan jaringan senjata gelap yang disembunyikan di balik perusahaan jasa keamanan fiktif.

Untuk menghancurkan Sudiro, aku butuh cetak biru (blueprint) dari fasilitas gudang bawah tanahnya di kawasan pelabuhan Tanjung Priok. Dokumen itu tidak ada di jaringan internet terbuka. Benda itu hanya bisa didapatkan melalui transaksi fisik di dunia bawah tanah.

Aku melirik jam tangan perakku. Pukul tujuh malam.

Waktunya menemui Rusdi.

Rusdi adalah seorang perantara informasi di pasar gelap. Pria kurus kering yang kecanduan judi bola dan memiliki utang di mana-mana, namun ia memiliki jaringan peretas dan pencuri dokumen yang sangat luas. Aku sudah menyewanya dua minggu lalu untuk mencuri cetak biru gudang Sudiro dari laptop seorang kontraktor bangunan yang disewa sang jenderal.

Transaksi kami selalu sederhana: tidak ada nama asli, tidak ada pertemuan tatap muka di tempat terang, dan pembayaran dilakukan dengan kepingan koin emas murni yang tak bisa dilacak oleh bank.

Aku mengenakan kembali jaket windbreaker gelapku, menaikkan tudungnya untuk menutupi kepalaku, lalu menyelipkan sebuah pisau lipat taktis berbahan karbon ke dalam saku celanaku. Aku tidak pernah membawa senjata api. Suara tembakan hanya akan mengundang terlalu banyak penonton.

Pasar Elektronik Glodok di malam hari adalah sebuah labirin beton yang membusuk.

Sebagian besar toko pilaran telah menutup rolling door besi mereka sejak sore. Lorong-lorong sempit di lantai dasar hanya diterangi oleh lampu neon yang berkedip-kedip, memancarkan cahaya kekuningan yang sakit. Bau di tempat ini adalah perpaduan yang mencekik antara debu kardus yang lembap, bau tembaga dari kabel bekas, kencing tikus, dan sisa minyak dari gerobak nasi goreng di pinggir jalan.

Aku berjalan menyusuri lorong blok C, menundukkan wajahku. Sepatuku melangkah tanpa suara, menghindari genangan air kotor yang menetes dari pipa pendingin ruangan di langit-langit.

Titik pertemuan kami adalah sebuah kios reparasi radio tua yang sudah bangkrut bertahun-tahun lalu di sudut paling ujung lantai dasar. Kios nomor 404.

Semakin aku mendekati kios tersebut, suasana lorong terasa semakin sunyi. Terlalu sunyi. Suara dengung lalu lintas dari Jalan Gajah Mada di luar sana seolah teredam oleh ketebalan dinding beton pasar ini.

Langkahku perlahan melambat.

Insting bertahan hidupku—mekanisme pertahanan yang kuasah dari dipukuli preman jalanan saat aku baru kabur dari panti asuhan dulu—mulai berkedut tidak nyaman. Ada sesuatu yang salah.

Mataku menyapu tumpukan kardus bekas televisi di sebelah kiriku. Aku melihat debu di atas permukaan lantai semen. Ada jejak sepatu bot tebal di sana. Ukurannya terlalu besar untuk kaki Rusdi yang kurus, dan polanya adalah sol bergerigi tajam. Jenis sepatu yang dipakai oleh petugas keamanan taktis, bukan pedagang elektronik.

Lalu, indra penciumanku menangkapnya.

Di tengah bau apak debu dan kabel terbakar, hidungku mencium aroma yang sangat spesifik. Bau asap tembakau dari cerutu murah bercampur dengan wangi minyak rambut pomade beraroma peppermint.

Rusdi tidak pernah merokok cerutu. Ia adalah pecandu rokok kretek murahan yang selalu batuk setiap kali berbicara. Dan ia bahkan tidak punya cukup rambut untuk diolesi pomade.

Aroma ini berasal dari orang lain. Orang yang baru saja berdiri di lorong ini kurang dari lima menit yang lalu, dan kini sedang menahan napas di suatu tempat dalam kegelapan.

Rasa asam tiba-tiba naik ke pangkal tenggorokanku.

Jebakan.

Aku tidak menghentikan langkahku secara tiba-tiba agar tidak terlihat mencurigakan. Aku terus berjalan dengan ritme yang sama, namun tangan kananku perlahan meluncur masuk ke dalam saku celana, ibu jariku menyentuh tuas pembuka pisau lipatku. Otot-otot di betis dan punggungku menegang, bersiap melontarkan tubuhku kapan saja.

Saat aku tepat berada di depan rolling door karatan kios nomor 404 yang setengah terbuka, aku tidak masuk ke dalam. Aku pura-pura menunduk untuk mengikat tali sepatuku, menggunakan bayangan dari tiang beton di dekatku untuk menyembunyikan posisiku.

Melalui celah sempit di bawah rolling door yang terbuka, aku melihatnya.

Bukan tumpukan sparepart radio. Aku melihat ujung laras hitam dari sebuah senapan mesin ringan MP5 yang diturunkan, menempel pada paha seseorang yang mengenakan celana kargo hitam.

Dari pantulan genangan air di lantai, aku menyadari bahwa bukan hanya ada satu orang di dalam kios itu. Ada tiga bayangan yang berkerumun di dalam sana. Dan satu lagi berdiri di balik tumpukan kardus di belakangku, memotong jalur pelarianku.

Empat orang prajurit bayaran. Pasukan Jenderal Sudiro.

Mereka menemukanku.

Darahku mendingin. Adrenalin menyuntikkan kepekaan luar biasa pada sistem sarafku. Waktu seolah berjalan lebih lambat.

Pria di balik tumpukan kardus di belakangku pasti telah memberikan sinyal pada teman-temannya di dalam kios bahwa target sudah masuk ke zona bunuh diri. Terdengar bunyi decit pelan dari sepatu bot karet yang bergeser di atas lantai semen dari dalam kios. Mereka bersiap untuk menyergap dan memberondongku dari dua arah.

Aku tidak memberi mereka kesempatan untuk menarik pelatuk.

Masih dalam posisi berjongkok, aku melentingkan tubuhku ke belakang dengan kekuatan penuh, menendang tumpukan kardus televisi raksasa itu hingga roboh menimpa pria yang mencoba menyergapku dari belakang.

"Brengsek!" pria itu mengumpat kaget saat kardus-kardus tebal itu menghantam wajah dan senapannya.

Pada detik yang sama, rolling door kios nomor 404 ditendang terbuka dari dalam. Tiga orang pria berbadan tegap dengan rompi taktis hitam menyerbu keluar, senapan mereka terangkat.

Tapi aku sudah tidak berada di titik itu.

Memanfaatkan momen jatuhnya kardus, aku berguling ke samping, berlindung di balik pilar beton penyangga gedung. Rentetan tembakan yang memekakkan telinga merobek keheningan pasar malam itu.

TAT-TAT-TAT-TAT!

Peluru kaliber 9mm menghancurkan etalase kaca di seberang lorong, menghamburkan serpihan kaca tajam seperti hujan es. Pecahan plester dari pilar beton yang melindungiku berjatuhan ke atas rambut dan pundakku.

Mereka tidak berniat menangkapku hidup-hidup. Sudiro telah memberikan perintah eksekusi di tempat.

"Menyebar! Jangan biarkan bajingan itu lolos!" teriak salah satu dari mereka, suara beratnya menggema di lorong yang sempit.

Aku menarik napas panjang, menekan punggungku erat-erat pada pilar beton yang dingin. Aku tidak memiliki senjata api untuk balas menembak, dan aku kalah jumlah empat banding satu. Lari di lorong lurus ini sama saja dengan bunuh diri; mereka akan menembak punggungku hingga hancur.

Aku harus mengubah lorong ini menjadi medan perangku.

Aku melihat ke atas. Di langit-langit lorong yang hanya setinggi dua setengah meter, terpasang jaringan kabel listrik tebal yang berantakan, dibiarkan menggantung rendah oleh manajemen pasar yang buruk. Tepat di atasku, ada sebuah kotak sekering sentral yang pintunya sudah karatan dan terbuka.

Seorang prajurit bayaran melangkah pelan mendekati pilar tempatku bersembunyi. Bayangannya memanjang di lantai, memberikan petunjuk pergerakannya. Tiga langkah lagi, dia akan berbelok dan menemukanku.

Aku meraih pisau lipat dari sakuku. Dengan ibu jari, aku menekan tuasnya. Bilah karbon sepanjang sepuluh sentimeter melesat keluar dengan bunyi klik yang tajam.

Satu langkah. Dua langkah.

Saat ujung senapan pria itu terlihat dari balik pilar, aku tidak menunggu. Aku melesat keluar dari persembunyianku, menepis laras senapannya ke arah atas dengan lengan kiriku agar tembakannya meleset ke langit-langit, sementara tangan kananku mengayunkan pisau, menyayat urat nadi di pergelangan tangannya.

Pria itu berteriak kesakitan, senapannya terlepas dari genggamannya.

Sebelum teman-temannya yang berada lima meter di belakang menyadari apa yang terjadi, aku menarik tubuh pria yang terluka itu, menjadikannya perisai manusia. Tembakan membabi buta dari dua temannya menghantam punggung pria malang itu. Darah hangat memercik mengenai wajahku.

Aku mendorong mayat hidup itu ke arah mereka untuk memecah formasi. Dalam kepanikan itu, aku melompat meraih senapan MP5 yang tadi terjatuh di lantai, meremas larasnya yang masih panas.

Aku tidak menembakkannya ke arah mereka. Aku memutar tubuhku dan menembakkan sisa peluru di magasin itu lurus ke arah kotak sekering sentral di langit-langit lorong.

BLAM! BZZZZT!

Percikan api biru yang menyilaukan meledak dari kotak listrik itu. Suara ledakan trafo bergema keras. Dalam sekejap, seluruh lampu neon di blok C pasar elektronik itu mati total. Kegelapan absolut menelan kami semua.

"Sialan! Aku tidak bisa melihat apa-apa! Nyalakan senter taktis kalian!" teriak sang komandan.

Aku membuang senapan yang sudah kosong itu ke sudut ruangan untuk menciptakan suara pengecoh. Mengandalkan ingatan spasialku tentang tata letak pasar ini—ingatan yang telah kuasah sejak sore tadi saat melakukan survei lokasi—aku merayap cepat menyusuri lantai yang basah, menghindari cahaya senter putih yang mulai menyapu lorong secara acak.

Aku merayap melewati pecahan kaca dan darah, menyelinap masuk ke sebuah celah sempit di antara dua kios kosong. Aku menahan napasku, menekan tubuhku ke dinding yang berbau lumut.

Lampu senter mereka menyorot panik menembus kegelapan, mencari-cari bayanganku. Mereka berteriak satu sama lain, mengutuk dalam bahasa kotor.

"Dia tidak mungkin jauh! Cari sampai dapat! Sudiro akan memotong leher kita kalau kita pulang dengan tangan kosong!"

Aku tidak berniat menunggu mereka menemukanku. Dari celah kios ini, ada tangga darurat berkarat yang menghubungkan lantai dasar dengan area basement parkir. Aku meluncur turun melalui pegangan tangganya tanpa suara, menghilang ke dalam perut bumi pasar Glodok, meninggalkan mereka yang masih kebingungan di atas.

Sepuluh menit kemudian, aku berjalan menembus hujan deras di kawasan Kota Tua, sekitar dua kilometer dari pasar Glodok.

Pakaianku basah kuyup. Terdapat noda darah milik prajurit bayaran tadi di kerah jaketku. Napasku masih sedikit memburu saat aku meneduh di bawah sebuah halte bus yang kosong dan gelap.

Aku bersandar pada tiang besi halte yang dingin, menengadahkan wajahku ke arah atap.

Tubuhku selamat, tapi pikiranku berputar kencang seperti mesin yang kehilangan pelumasnya.

Bagaimana mereka bisa tahu?

Pertemuanku dengan Rusdi diatur melalui jaringan Dark Web yang terenkripsi berlapis-lapis. Aku menggunakan jaringan pribadi virtual yang dipantulkan dari tiga negara berbeda sebelum pesan itu sampai ke komputernya. Tidak ada penyadapan polisi yang bisa menembus itu dalam waktu sesingkat ini.

Jika mereka melacak ponselku, pasukan Sudiro pasti sudah menyerbu apartemenku di Pluit sejak siang tadi, bukan menungguku di pasar Glodok.

Hanya ada dua kemungkinan yang logis.

Kemungkinan pertama: Rusdi mengkhianatiku. Ia tahu aku membutuhkan cetak biru gudang Sudiro, lalu ia pergi ke pihak Sudiro untuk menjual informasi pertemuanku dengan harga yang jauh lebih tinggi. Di dunia bawah tanah, kesetiaan hanyalah masalah angka di atas meja.

Namun, probabilitas itu kecil. Rusdi adalah pengecut. Ia tahu klien anonimnya (aku) membayar dengan emas, dan ia tahu rumor tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang mengkhianati 'sang Joker' akhir-akhir ini.

Kemungkinan kedua... dan ini adalah kemungkinan yang membuat rahangku mengeras hingga gigiku bergemeretak ngilu.

Seseorang di dalam sirkel komunikasiku. Seseorang yang memiliki kemampuan meretas lapisan enkripsiku, atau seseorang yang menyusup ke dalam jaringan server-ku tanpa memicu alarm intrusi.

Aku memejamkan mata, memutar kembali memori tentang semua langkah yang kuambil dalam 48 jam terakhir. Kematian Handoko. Bar The Obsidian. Pembakaran ruang arsip Setiawan. Pertemuan di galeri seni.

Tidak ada yang tertinggal. Aku telah membakar semuanya.

Kecuali...

Mataku terbuka lebar. Detak jantungku yang baru saja mereda kini kembali berpacu dengan ritme yang lebih gelap.

Kecuali data yang kubocorkan semalam. Data suap Hakim Setiawan yang kukirim ke kepolisian dan media. Aku menggunakan algoritma routing canggih, tapi bagaimana jika Vanguard Group memiliki tim siber bayangan yang mampu membaca metadata dari dokumen asli sebelum aku mengenkripsinya? Bagaimana jika mereka tidak melacak lokasi IP pengirimku, melainkan melacak jejak digital dari software peretas yang kugunakan untuk berkomunikasi dengan Rusdi?

Darmawan Salim tidak hanya duduk diam dan panik saat Setiawan mati. Ia membiarkan Setiawan bunuh diri untuk memotong cabang yang busuk, sementara ia mengarahkan seluruh sumber dayanya yang bernilai triliunan rupiah untuk memburu akar masalahnya: aku.

Aku berdiri dari sandaran tiang halte. Hujan di sekitarku terasa lebih dingin dari sebelumnya, seolah meresap langsung ke tulang rusukku.

Rencanaku yang kuanggap sempurna, simfoni balas dendam yang kubangun dengan ketelitian seorang bedah saraf... ternyata tidak bermain di ruang hampa. Aku sedang melawan sebuah kekaisaran yang memiliki uang untuk membeli kemampuan apa pun di dunia ini.

Malam ini, para prajurit bayaran itu bukan hanya sekadar pesan peringatan. Mereka adalah bukti bahwa dinding perlindunganku telah retak. Tempat persembunyianku di Pluit mungkin tidak lagi aman untuk waktu yang lama.

Aku menatap genangan air hujan di jalanan aspal, memantulkan cahaya merah dari lampu lalu lintas yang berkedip di persimpangan.

Ada celah yang belum kututup. Ada mata yang mengintaiku dari dalam kegelapan jaringan yang kubangun sendiri.

"Ada tikus di dalam rencanaku."

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!