NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8| Ini Berbahaya

Kedua sisi pipinya mengembung sebelum mendengus kesal, Sebastian menunjuk-nunjuk ke arah Aluna dengan tatapan mata dinginnya. Pria jangkung di depannya ini mengirimkan pesan singkat, mengajaknya bertemu di belakang gudang gedung sekolah. Di sinilah mereka berdua berada, dengan guratan wajah yang tak jauh berbeda.

"Well, lo benar-benar bikin gue speechless Aluna. Dari sekian banyak alasan kenapa harus itu, huh?" Sebastian menurunkan tangannya yang menunjuk-nunjuk Aluna dengan rahang mengetat.

Aluna memutar bola matanya, dan menjawab, "Yeee! mana gue tau. Gue kira dia benar-benar impoten karena nggak sengaja kesundul kepala gue. Gue cuman mau nenangin dia doang, siapa juga yang mau nikah sama dia."

Bibir tebal seksi Sebastian berdecak dua kali, berkacak pinggang menghadapi gadis remaja aneh satu ini. Jika boleh Sebastian jujur ia pun merasa geli dengan Aluna-gadis yang ia labeli dengan kata 'licik', siapa sangka gadis di depannya itu dalam beberapa hari tak terhitung berapa kali membuat Jayden mengamuk.

"Si banteng maunya nikah sama gue aja ya 'kan?" sela Kai yang entah sejak kapan ia berada di balik pilar gedung menguping pembicaraan keduanya, kepalanya menyembul lebih dahulu sebelum melangkah mendekat ke arah Aluna dan Sebastian.

Aluna mencabik, entah kenapa ia merasa Kai lebih horor dibandingkan setan jelangkung. Sebastian melotot disambut cengengesan tak jelas Kai—sahabatnya, merasa ditatap dengan tatapan menyelidik Kai membuang muka.

"Lo ngapain ada di sini?" tanya Sebastian menyipitkan kedua matanya.

"Gue?" ulang Kai, "tentu aja mau ngapelin calon pacar gue dong."

'Idih si najis.' Aluna memutar malas bola matanya saat Kai mengedipkan sebelah matanya, berpura-pura mual ingin muntah setelahnya. "Siapa juga yang mau jadi pacar lo, dan please stop manggil gue 'banteng', kalo nggak mau giliran lo yang gue sundul," tukas Aluna sebal.

Kekehan renyah Kai mengudara bersamaan desiran angin siang yang menyejukkan, manik mata hitam dingin Sebastian melirik keduanya bergilir. Kerutan halus di dahinya terlihat, sejak kapan Kai dekat dengan Aluna. Ia dan ketiga sahabatnya jelas tidak suka dengan Aluna, mengingat bagaimana jahatnya Aluna.

Aluna mendesah frustrasi, "Masalah ini lo yang atasi apapun caranya, gue cuman mau terima beres. Gue cabut dulu, bye!"

Aluna membalikkan tubuhnya dan melangkah terburu-buru menjauh dari keduanya, Kai menjilat bibirnya masih menatap punggung belakang Aluna yang kian menjauh. Seringai tercetak samar di bibirnya, Sebastian memijat dahinya yang berdenyut.

"Jangan main-main sama dia," peringat Sebastian, "kalo lo nggak mau masuk jebakan lo sendiri."

Garis bibir yang ditarik tinggi perlahan turun, ekspresi Kai berubah seketika. "Kasih gue alasan kenapa gue nggak boleh main-main sama dia, toh dia nggak ada yang punya," balas Kai ketus.

Kedua tangan Sebastian diturunkan dari sisi pinggang, keduanya kini berdiri berhadapan-hadapan saling tatap. Baik Kai maupun Sebastian keduanya telah lama menjadi sahabat, paham pemikiran satu sama lain memiliki sisi gelap yang tak ingin dibicarakan.

"Lo yakin mau gue sebutin alasannya?" Alis mata Sebastian mengerut, sementara tatapan matanya mencemooh Kai.

Kai mendadak bungkam, menutup rapat-rapat mulutnya. Sebastian mendengus, perlahan membelakangi Kai. Ketika tungkai kakinya bersiap-siap akan diayunkan meninggalkan Kai, suara bariton berat itu menghentikan niat Sebastian.

"Lo kira cuman gue, lo nggak usah muna deh Bas. Kalo gue lo larang terang-terangan kek gini. Lo sendiri lupa ngaca, huh. Apa yang lo idam-idamkan nggak kalah mustahilnya ketimbang gue!" seru Kai lantang.

Kedua telapak tangan Sebastian mengepal, rahangnya mengeras.

"Seenggaknya dia saat ini belum punya siapa-siapa, apa salahnya gue ngedeketin dia. Gue mau terang-terangan memperjelas apa yang gue mau, nggak secara sembunyi-sembunyi. Lalu nusuk sahabat gue sendiri dari belakang kek lo misalnya," sindir Kai pongah.

Kedua mata Sebastian memerah, ia kembali menghadap Kai. Sahabatnya satu ini memang dikenal ramah pada banyak orang yang membuat orang-orang berpikir Kai bukan orang yang berbahaya. Nyatanya ada banyak topeng yang menyembunyikan siapa Kai sebenarnya, tatapan matanya pun terlihat mengelap.

"Harus banget lo bawa dia di saat kayak gini?"

"Lo tersinggung? Tapi lo duluan yang nyinggung perasan gue, sialan. Apa salahnya gue deketin Aluna, saat lo deketin Zea di belakang Gavino. Gue diam aja nggak komen apaan tuh," sahut Kai santai.

"Shut up brengs*k," jawab Sebastian cepat dengan intonasi pelan dan penuh tekanan.

Kai terkekeh renyah tak marah sama sekali dengan makian Sebastian, Sebastian menggertak gigi gerahamnya menahan keinginan melayangkan tinjunya ke arah wajah tampan Kai.

...***...

Aluna menggerutu memaki Kai di sela langkah kakinya menyelusuri lorong gedung, suara bel masuk menggema di seluruh penjuru gedung. Aluna mempercepat langkah kakinya, berbelok di balik tikungan.

"Ugh...." Aluna merintih saat tubuhnya bertabrakan dengan dada bidang-keras, hingga kedua tungkai kakinya terpukul mundur dua langkah ke belakang.

Erangan marah tertahan di kerongkongan siap disembur pada si penabrak namun, makian kesalnya ditelan bulat-bulat kembali kala manik matanya bersirobok dengan manik mata hazel tajam yang kini menatap lurus ke arah wajahnya.

Tanpa Aluna sadari ia menahan napas, menarik paksa bibirnya membingkai senyum kaku.

"So—sorry gue nggak sengaja," ujar Aluna nyaris mencicit.

Gavino berdiri tegak tanpa suara hanya manik matanya yang bergerak melirik Aluna dari bawah sampai ke atas, seakan-akan ia tengah mengamati gadis remaja di depannya itu dengan saksama. Aluna mengigit bibirnya berdiri kaku, telapak tangan Aluna berpeluh. Kedua kelopak mata Aluna berkedip dua kali, aura tokoh pria protagonis utama satu ini benar-benar terasa berbeda. Aluna mungkin bisa tertawa, marah, dan mengancam tiga protagonis pria lainnya tapi tidak dengan tokoh Gavino.

Gavino mengayunkan tungkai kakinya ke depan, refleks kaki Aluna mundur ke belakang setiap langkah maju yang Gavino ambil maka Aluna akan mundur. Gavino menghentikan langkah, Aluna ikut berhenti alis mata Gavino berlipat tampak tak senang dengan tindakan gadis licik di depannya itu.

"Hehe..., lo—lo jangan cemberut gitu. Serem tau," gumam Aluna nyengir kuda sebelum meringis.

"Lo takut sama gue, hm?" Sebelah asli mata tebal Gavino ditarik tinggi ke atas, deep voice mengalun bersaman semilir angin yang berhembus membuat bulu kuduk Aluna berdiri.

Kepalanya menunduk perlahan, jari jemari lentik Aluna saling bertautan. Rasa takut yang ia rasakan murni respon dari pemilik tubuh, bukan Aluna. Bagaimana cara Aluna menjelaskan apa yang tengah ia rasakan, bungkamnya Aluna diperhatikan dengan saksama.

"Apa lo—" Gavino menahan laju perkataannya, mengulum bibirnya yang terasa kering.

Tanpa kata ia berbalik melangkah meninggalkan Aluna yang berdiri kaku di tengah-tengah lorong, punggung belakang Aluna basah. Kepala Aluna kembali terangkat, atensinya fokus ke depan memperhatikan punggung lebar yang kian mengecil. Degup jantungnya terdengar jelas, Aluna mendesah lega.

"Dangerous man," monolog Aluna, kepalanya mengangguk kuat-kuat saat berbicara. "Gue harus jauhin itu orang, gila aja bulu tangan gue aja langsung sampek berdiri."

Aluna mengangkat tangannya, memperhatikan bulu tangannya yang berdiri. Sementara tangan satunya lagi mengusap-usap dadanya naik-turun.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!