Gara-gara difitnah "impoten" oleh mantan istri, Kenzo sang CEO Mafia terpaksa menikahi Zia, dokter spesialis sekaligus pengacara yang mulutnya sepedas cabai.
Sialnya, Zia juga punya hobi latah yang bikin harga diri Kenzo jatuh di depan anak buahnya!
"EH COPOT-COPOT, MAFIA GANTENG PISTOLNYA KARATAN!"
Mantan istri? Kena mental lewat jalur medis dan hukum! Tapi bagi Kenzo, menghadapi musuh lebih mudah daripada menghadapi satu istri latah ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Persekutuan Calon Mertua dan Penjara Mewah
Sinar matahari sore yang hangat menembus kaca setinggi plafon di Rumah Utama Kediaman Mahendra.
Di dalam ruang keluarga yang didominasi marmer Italia, suasana tampak sangat tenang.
Papa Juan menyandarkan punggungnya di sofa kulit buaya sambil menyesap teh earl grey.
Di sampingnya, Mama Soraya sedang sibuk maskeran sambil membolak-balik katalog perhiasan di tablet mahal miliknya.
"Pah, lihat deh kalung sama gelang ini," ujar Mama Soraya.
"Bagus buat dipakai ke acara amal minggu depan. Atau mungkin bisa buat kado selamat datang untuk Zia kalau dia main ke sini lagi?"
Mama Soraya menatap suaminya penuh harap.
"Mama masih kepikiran pas mereka ke sini kemarin. Serasi banget kan si Kenzo sama Zia?"
Papa Juan menurunkan koran bisnisnya sedikit.
"Iya, bener banget, Ma. Papa juga sreg. Jarang-jarang kan Kenzo mau ngenalin pacarnya ke rumah sampai seserius itu."
"Menurut Papa, Zia itu punya pembawaan yang beda. Berani dan nggak jaim. Mahendra butuh menantu yang punya prinsip kayak gitu," lanjut Papa Juan mantap.
"Bener, Pa! Mama tuh paling seneng pas lihat Zia berani protes ke Kenzo kemarin. Selama ini kan nggak ada yang berani lawan anak itu," Mama Soraya terkekeh.
"Mama sih sudah siapin mental. Pokoknya Zia harus jadi menantu kita. Titik! Mama nggak sabar pengin denger kabar mereka lanjut ke pelaminan."
Papa Juan mengangguk setuju.
"Papa juga sudah menyiapkan mahar yang tidak main-main. Satu unit apartemen mewah di pusat kota, satu rumah di Beverly Hills, dan satu pulau pribadi di Maladewa."
"Tinggal sebut nama, langsung Papa balik nama besok. Gimana menurut Mama?"
Tiba-tiba, ponsel di atas meja marmer itu bergetar hebat. Nama "Kenzo si Anak Kutub" berkedip di layar.
Papa Juan langsung menerima panggilan itu dan menekan tombol loudspeaker.
"Halo, Kenzo?"
"Pa, Ma. Kenzo sudah memutuskan. Tiga hari lagi Kenzo menikah dengan kekasihku, Zia Xaviera," ucap suara berat Kenzo tanpa basa-basi.
BRAK!
Mama Soraya hampir terjungkal dari sofa. Bahkan maskernya pecah sebelah saking kagetnya.
"APA?! TIGA HARI?! Kenzo, kamu jangan bercanda ya! Mama belum booking MUA internasional!"
"Papa, cepat telepon orang buat cari gedung, desainer, dan katering paling mahal!"
"Tenang, Ma! Tarik napas dulu," Papa Juan berusaha menenangkan istrinya.
"Kenzo, kamu tenang saja. Papa sudah siapkan Pulau Maladewa sama apartemen buat mahar kamu. Gimana? Amazing, bukan?"
Terdengar helaan napas panjang dari Kenzo di seberang sana.
"Simpan saja dulu mahar dari Papa. Zia punya permintaan mahar sendiri... Gerobak bakwan dari emas murni 24 karat. Tolong Papa urus emasnya sekarang."
"Apa? UNIK BANGET MENANTU KITA! LANGSUNG PESEN EMASNYA SEKARANG, PA!" seru mereka berdua serempak.
Mama Soraya mulai histeris kegirangan begitu telepon ditutup. Ia benar-benar gembira.
"Pa! Kita harus renovasi aula hotel kita! Pasang dekorasi warna kesukaan Zia! Pokoknya harus heboh dan mewah!"
Mama Soraya menarik-narik lengan baju Papa Juan dengan semangat.
Di sisi lain ruangan, tepatnya di bagian sudut, dua orang pelayan yang sedang membersihkan pajangan kristal saling berbisik.
"Gila ya, Tuan sama Nyonya sampai segitunya. Ini beneran di luar prediksi BMKG, Ra," bisik pelayan pertama bernama Kinanti.
"Padahal dulu waktu Nona Clarissa mau jadi calon mantu, muka Nyonya Soraya lempeng banget kayak keramik."
"Ya jelas beda lah," sahut pelayan kedua, Rara, sambil melirik ke arah pintu.
"Nona Clarissa itu kalau ke sini gayanya selangit. Kita aja dianggap kayak pajangan, nggak pernah disapa."
"Mana pernah dia mau makan masakan dapur sini. Katanya takut kolesterol lah, takut kotor lah. Kesal banget aku, Kin. Pengin tak 'hih'! Sombongnya itu lho, nggak ketulungan!"
"Bener banget kamu, Ra! Inget nggak waktu Nona Zia ke sini kemarin? Dia mau berbaur sama kita-kita dan nyapa duluan."
Kinanti makin semangat bergosip.
"Malah yang paling gong, Nona Zia asyik nanyain resep sambal ke Bibi di dapur. Terus ya, dia juga berani marahin Mas Kenzo di depan kita semua lagi."
"Itu baru namanya calon Nyonya Mahendra yang punya nyawa! Nggak kaku kayak Nona Clarissa yang mirip manekin toko."
"Iya, Nona Clarissa mah cuma menang cantik luar doang. Auranya juga dingin banget kayak es mambo. Kalau Nona Zia kan bar-bar lucu gitu tapi bikin rumah ini jadi hidup."
Meninggalkan kehebohan di kediaman utama, suasana di markas besar Kenzo justru sedikit sunyi.
Zia masih berdiri mematung di tengah ruang kerja yang dingin.
"Bajingan! Kayaknya itu otak Mas Letoy beneran konslet!" teriak Zia frustrasi.
Ia baru sadar kalau caping bambunya masih tergeletak mengenaskan di lantai marmer mengkilap itu.
Zia memungutnya dengan perasaan dongkol.
"Sabar ya, Ping... Capingku sayang. Kita lagi dijebak sama Bos yang otaknya geser."
Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Rico muncul dengan gaya kalem.
"Nona Zia, mari. Bos sudah menunggu di mobil untuk mengantar Nona pulang."
Zia mendengus kesal sambil menghentakkan kakinya. Ia menyambar capingnya dan melangkah keluar mengikuti Rico.
Sepanjang koridor menuju lobi, para anak buah Kenzo tampak berbaris rapi seperti sedang antre sembako.
"Eh, itu yang katanya calon Nyonya Mahendra?" bisik salah satu penjaga berkumis tipis.
"Iya, tapi kok penampilannya... unik ya? Pakai daster batik sama sandal jepit? Merakyat banget," sahut temannya nahan tawa.
Merasa dibicarakan, Zia langsung menoleh galak.
"Heh! Kalian bisik-bisik apa?! Mau saya pukul pakai caping ini biar hidung kalian rata?! Laki-laki kok mulutnya lemes banget!"
Para penjaga itu langsung tegak lurus menunduk hormat, tidak berani bersuara lagi.
Rico hanya bisa memijat pelipisnya yang mendadak pusing karena tingkah Zia.
Sesampainya di depan lobi, Kenzo sudah berdiri di samping pintu Mercedes hitamnya.
"Lama sekali," tegur Kenzo dingin.
"Sabar napa, Mas Letoy! Orang sabar itu pantatnya lebar! Mas tahu kaki saya ini masih gemeteran habis denger pengumuman nikah tadi!" sahut Zia ketus.
"Masuk," perintah Kenzo singkat sambil membukakan pintu untuk Zia.
Pemandangan langka itu membuat para anak buahnya melongo karena baru kali ini Bos mereka bersikap se-posesif itu.
Di dalam mobil, suasana hening mencekam seperti uji nyali. Zia duduk mepet ke pintu, memeluk capingnya erat-erat.
"Mas beneran mau nikah sama saya? Emang Mas nggak malu punya istri yang jempol kakinya masih ada bekas tepung bakwan begini?"
Kenzo melirik dari spion tengah.
"Tidak. Saya lebih suka kejujuran kamu daripada kepalsuan perempuan di luar sana. Dan soal tepung itu... gampang. Nanti tinggal disemprot air emas juga beres."
Zia mendengus keras. "Halah, dasar Mas Letoy gila! Banyak duit tapi otaknya konslet!"
Begitu mobil berhenti di depan lobi apartemen, Kenzo ikut turun dan mengantar Zia sampai ke depan pintu unitnya.
Di sana Rico sudah standby bersama dua pengawal baru.
"Mulai detik ini, apartemen ini dijaga ketat," ucap Kenzo dingin. "Ingat, jangan coba-coba kabur. Tiga hari lagi jemputan akan datang."
"Dih, apaan! Kenapa jadi posesif bener sih, Mas Letoy! Iya-iya! Saya masuk nih, mau tidur!"
Zia membanting pintu unitnya tepat di depan hidung Kenzo.
Di dalam, Zia langsung melemparkan capingnya ke sofa.
Namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah tumpukan kardus besar di tengah ruang tamunya dengan label:
"PAKET ISTIMEWA - DARI CALON MERTUA TERHEBAT"
Zia mendekat dengan ragu, lalu membuka salah satu kardus. Matanya nyaris melompat keluar melihat isinya.
Ternyata isinya adalah ratusan botol balsem setan dari berbagai ukuran, lengkap dengan sebuah voucher emas.
"Sialan! Satu keluarga emang gila semua!" teriak Zia histeris sambil memeluk salah satu botol balsem raksasa itu.
saat ni perjalanan menuju konflik sebenarny udh di mulai ,,
tentu saja di bumbui dg sifat dokter reog yg takk terduga ,,
knp ad barang2 Dari mafia Marco Dan kenzoo ,, siapa sebenarny ayah angkat Zia ini ,,
ayooo dtggu kelanjutan ny ,,
lanjuuut kak ,,
penasaran banget
tp yaaaa gx tau klo pas sarapan nnti ,, wibawa mafia ny msh ad gx🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
sx pun mereka mafia,, tp sikap solidaritas , sikap kerja sama Dan sikap persaudaraan mereka patut di acungi jempol ,,
krn bagaimana pun mereka ttap manusia yg memiliki hatii ,,
meski di beberapa waktu mereka bisa menghabisi musuh tanpa belas kasihan ,,
si kenzzo Dan jajaran ny udh kehilangan wibawa mafiany gara2 masakan dokter reog ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
dmna mafia gx da harga diri ny di depan zia klo udh ngereog 🤭🤭🤭🤭🤭
cosplay jd mafia ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
makhluk bodoh katanya ,,
makiin seruuuu cerita ny ,,