Ada yang lo pengen banget, itu bisa lo liat, tapi gak bisa lo gapai, itu gimana sih rasanya?
***
S1—
Diary Of Jane.
Jane terpaksa kok buat sama Ares, karena dia Ares cuma punya dia. Bahkan sama sekali gak cinta dengan Ares, tapi Ares selalu berusaha, selalu ada di samping Jane, berharap cewek itu pada akhirnya akan jatuh cinta sama dia.
Pahit di awal, manis di akhir. Pada akhirnya Jane jatuh cinta dengan Ares.
S2—
I love you Bramasta.
Kisah bagaimana Bramasta juga ingin di cintai.
——— 🌟
ig. @sindipaulia_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sindi putri aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17. Merendah agar bisa meroket
Diary of Jane 17
Jane meminum kopi yang baru disuguhkan Arka, ganteng ganteng jadi pelayan kafe, nasib lo kok gini? "Arka, lo punya masalah apa sih?"
"Gue gak punya masalah apa apa." Arka mengelak dengan memalingkan wajahnya, tapi Jane tau, Jane gak bisa di bohongi, karena udah jelas banget di muka Arka.
"Ngelak," singkat Jane membuat Arka menghela nafas, "gue gak mau lo jadi terlibat, ini masalah gue." Tekan Arka.
"Gue udah terlibat kali, gue di ikut ikutkan ke masalah lo, buktinya gue disini, buat bujuk lo pulang ke rumah lo. Plis deh, satu pinta gue, lo pulang aja, capek gue nyari, lo tau aja, gue tadi nyasar gara gara ojol semprul yang gak tau jalan, panas banget nyari ini starbucks." To the points aja deh, Jane udah capek banget.
"Gue udah janji sama diri gue sendiri."
"Arghh! Susah payah gue cari Starbucks ini, lo justru kayak ngusir gue. Pulang gak? Kalo lo gak pulang gue santet!"
"..." Arka menutup mulut rapat-rapat.
"Seenggaknya demi gue, demi... Emm, ya demi balas budi atas kelelahan gue finding nemo, tapi ini finding Arka. Pulang napa? Rumah lo sejuk, ada AC nya, gak kayak di sini, panas, sempit. Toh, gara-gara ngekost lo tambah kurus." Jane menyubit lengan kanan Arka.
"Lo merhatiin gue?"
"Banget." Sejenak Jane menyesali perkataannya barusan, "gimana enggak. Lo aja terus mondar-mandir di depan gue. Gue bahkan sampai hafal ukuran baju yang lo pakai." Jane mengaduk-aduk kopinya dengan sendok teh.
Alasan yang sangat hiperbola.
"Tapi ada syaratnya."
Plis deh, gak usah syarat-syaratan, Jane gak mau terlibat janji, "jangan gede-gede syaratnya, gue gak mau janji sesuatu yang gak bisa gue tepatin."
"Lo bantu gue pindahan."
"Oh." Kirain apa.
.
.
Akhirnya Arka mau pulang. Tentunya karena Jane dan kata-katanya yang ajaib, "Huft." Jane meregangkan otot tangannya, "selesai."
"Thanks," Jane merasa matanya bisa jatuh karena terlalu lebar membukanya, "oke." Jane tersenyum hangat, padahal tangannya kejang-kejang karena Arka habis memeluknya dan mengecup ujung kepalanya.
Muka gue panas astaga tuhaaaan kuatkan hamba. Jane melihat taxi yang mulai menjauh itu.
📝📝📝
Tugas selesai.
Arka pulang ke rumahnya.
Gue pulang ke rumah gue.
Apakah sudah ending cerita?
Entah.
📝📝📝
Jane mengambil ponselnya yang berdering, sebuah panggilan masuk dari Raya.
"Ha.."
"JANE! ASTAGA! JANE!" teriak gadis yang mengaku teman Jane itu dari seberang sana,
"Kuping gue astaga! Auto budeg lo buat!" bentak Jane tak kalah sengit.
"Sorry, gue seneng, anjaaaaay! Gue menang lotre undian, hadiahnya nonton konser!"
"Sumpah lo?!" Jane gak percaya, Raya beruntung banget, gak kayak dia, jangankan menang lotre atau undian, dia mau liat konser dan punya tiket aja dia sial, tiketnya robek gara gara nabrak nenek-nenek yang lagi jalan, si nenek-nenek marah marah terus mengoyak tiket cangtip limited edition yang Jane dapatkan dengan menabung selama.. pokoknya Jane lama banget nabung buat beli itu tiket, tapi dalam sekejap raib gara-gara nenek jahad.
"Jane! Lo masih hidup kan? Oy! Lo masih dengerin gue kan? Astaga Jane!"
"Oy! Gue masih disini merenungi hari-hari sepi, aku tanpamu— skip, ngapain sih gue nyanyi."
"Lah?! Back to the topik awal, lo mau gak ikut gue?"
"Ikut lah, lo tunggu gue yah?"
"Oke siyap. Jangan lupa bawa duit, soalnya gue lagi bokek nih,"
"Aman, tenang aja, gue bawa duit, recehan."
"Dih lo!"
"Haha, canda ish, oke bye," Jane menutup ponselnya. Tiba tiba dikejutkan oleh sosok Johan yang duduk di kasurnya,
"Kak, beliin gue cilok ya?" Imut banget sih lo, pake mata di ajep-ajep lagi rasanya pengen gue cekek.
"Plis ya kak, lo baik deh kak, gue lagi malas keluar kak." Males banget Jane kalo udah denger Johan manggil dia kakak, karena Jane pasti berakhir dengan menuruti satu permintaan dari adiknya itu.
"Bawel lo!" Jane berjalan keluar dengan kesal, sekian banyak pembantu tapi kenapa harus Jane yang keluar dari zona rebahannya, ingat ini weekend. Seharusnya Jane santai di kamar sambil nonton story atau ngumpulin foto Jungkook.
"Ck— punya adek kok gini amat sih." Jane menendang kerikil tak berdosa ke sembarang arah, dan tak tahu jika kerikil itu mengarah serta mendarat di kaki seseorang.
"Lo?!" Ujar Jane bersamaan dengan orang itu.
"Diana!" Jane berlari dan langsung memeluk sahabat lamanya yang hilang.
"Huhu, gue kangen banget sama lo!"
"Cailah, gue cuma pergi bentaran doang, lo udah kayak ditinggal bertahun tahun." Diana menyentuh jidad Jane keras, "gimana? Selama gue pergi, lo udah ada gebetan belom?"
"Boro-boro, banyak sih cowok yang deket sama gue, tapi, ah mereka cuma hadir buat nambah kesialan dalam hidup gue,"
"Ck—" Diana menarik bahu Jane agar lebih dekat dengannya, "menurut gue, mereka itu suka lo,"
"Halu doang mah! Ah masaaa gue yang butek gini ada yamg suka." Jane merendah lagi ini. Aslinya dia cantik cuma kurang percaya diri aja.
"Merendah buat dilambungkan, itu lo. Serius deh, lo itu cantik, tapi ya gitu." Kata terkahir tulung, kok ngejanjel ya, "lo itu kurang gaya."
Jane emang gak pandai gaya, rambutnya biasa aja, mukanya biasa aja, dia itu biasa aja, "Gak lah, gue mah pas di limpul, muka rata-rata gue mah."
Diana ingin memakan Jane jika bisa, cantik tapi gak mau ngaku cantik, itu gimana coba? "Hhh, serah lo deh, gue males ngasih pidato pencerahan buat lo."
"Ya ya ya, terangkanlah, terangkanlah, jiwa yang berkabut serta penuh dosa, bila masa... Tlah tiadaaaa..." Pletak, sebuah jetakan yang amat sangat keras serta menyakitkan mendarat di kepala Jane.
"Huhu, kepala cangtip gue."
"Udah ah, males gue, lama lama gue sama lo bisa STRESS gue! Intinya lo itu cantik, udah mau rendah diri lagi lo? Gue sleding ke planet mars baru tau lo!" Diana masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Jane yang 'sok polos' itu.
Ah, sungguh reuini yang sangat... bagus. Jane berjalan kembali untuk mencari kang cilok, sebelum juragan muda yang mukanya 'hampir' sama dengan dirinya menelfon dan berkata, "kak, cilok buat gue udah ketemu belum?"
Susah emang kok.
Setelah ritual beli membeli dan tawar menawar dengan mang Yayan, si penjual cilok, Jane dapat gratisan cilok satu bungkus, ia pulang kerumahnya,
"Lumayan." Jane menaik-naikkan alisnya sambil menunjukkan apa yang baru ia dapat, "gratis."
"Lo guna guna tuh kang cilok?"
"Gue pelet Jon, haha." Jane mulai menusuk ciloknya sambil menatap layar ponselnya, gak ada yang dia liat, cuma postingan temen-temennya yang lagi buat boomerang. Makhluk di sampingnya juga, memakan cilok sambil membalah chat dari seseorang, siapa itu? Bukan urusan Jane.
"Eh Jon, gue cantik kagak?"
Johan menoleh dan menyipitkan matanya memperhatikan setiap lekuk wajah 'kakaknya' itu, "Dari mana lo dapat kepercayaan diri yang tinggi itu?"
Tuh kan, tuh kan, Udah dibilang juga, Jane itu gak cantik, mending gue gak nanya, toh dengan gue nanya pun gue di hujat punya kepercayaan diri yang tinggi, "Dari Diana."
"Oh, baik banget Diana ngasih lo kepercayaan diri, biasanya lo itu ngerendah mulu."
Emang iya yah? Gue merendah?
"Lo ngatain diri lo sendiri gak cantik, lo biasa aja, lo bakal jomblo sampai nikah, gak bakal ada pangeran yang datang ke hidup lo."
Iya, tapi kenapa lo kayak... Ck—
"Sebegitunya yah?"
"Ho'o." Balas Johan, Jane hanya manggut-manggut. "Tapi kalo gue kepedean, jatuhnya sombong entar, kalo gue sombong dan ngatain diri sendiri cantik, tapi sementara orang lain nilainya lain gimana? Kan gue bisa malu tuh. Gue gak mau dikata kepedean."
"Lo gak kepedean Jane, lo kurang pede alias percaya diri!"
"Iya tapi."
"Gak usah tapi-tapian, lo itu harus pede, biar gue gak jadi pindah sekolah!" Unek unek nih, ketahuan banget kalo nih sikil gak mau satu sekolah sama gue.
"Sikil lo!"
"Noh, sikil." Johan mengangkat kakinya dan meletakkannya di pangkuan Jane.
"Ish, badak lo yah! Gak pernah cuci kaki apa yah?" Jane menyingkirkan 'benda' yang sangat amat 'harum' dan 'wangi' itu dari pangkuannya.
"Gue gak peduli, sikil gue bau tapi banyak yang suka tuh."
"Ish, kelainan banget! Ada yang gitu?"Jane menggeliat geli, mana ada yang mau dekat dekat dengan 'sikil' bau, "Ada noh, Selvia, dia ngejar-ngejar gue." Johan merebahkan kepalanya di kasur Jane.
"Gobl*k banget si Selvia."
"Tau tuh."
Bersambung, hore, aku up dua kali👍
tambah pusing😵
OK...
Jempolnya tulung😘
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya y
sebulan ga buka noveltoon, ceritanya dah end🥺🥺🥺🥺
di tunggu karya barunya thor
maaf ya aku lm baru mampir, dh boom like smua_<
akhirnyaa
selamat thir karyamu kereen
feedback to yokk ka🤗