Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.
Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.
Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BORING
Kehidupan sehari-hari Luz, jadi sepi. Mereka tinggal serumah. Tapi dia jarang pulang, jadi tetap saja Luz tidur sendirian. Di depan publik mereka tampak seperti pasangan yang harmonis. Luz tetap menjadi gandengan Karel saat menghadiri acara bersama, saling memuji di media sosial bahkan berfoto sebagai keluarga kecil yang bahagia.
Mereka bersandiwara dengan hebatnya.
Di balik layar tetap saling dukung sesuai kesepakatan. Bedanya, Luz tidak mencari pasangan lebih menikmati hidupnya sendiri. Jadi semacam kontrak hidup bersama. Tidak ada adegan romantis penuh emosi. Menjalani kehidupan masing-masing dan pakai uang beres.
Terhitung sudah hampir seminggu Luz menghabiskan waktu sendirian. Menonton series, kadang bereksperimen di dapur. Asik sih, bebas berekspresi. Bebas tidur jam berapa pun yang ia suka, termasuk bangun kapanpun.
Malam ini, Luz rebahan di balkon. Menatap langit malam dan mengkhayal. Sambil mendengarkan musik, tanpa harus ke skip iklan, karna sudah berlangganan premium. Tanpa harus mikirin bayarnya gimana.
“Sekarang hidup gue enak. Gue hidup mewah, makan enak, tempat tinggal nyaman. Bukan jadi anak kost an yang serba hidup pas-pasan. Orang tua gue emang kaya, tapi gue punya abang yang egois. Jadi gue tetep aja gak punya duit kalo gak cari sendiri,” gumam Luz.
“Di nikahin anak tunggal tajir melintir itu anugrah dan keberuntungan. Tapi alasan di balik itu, entah bisa gue sebut apa. Itu kekurangan yang harus gue terima, atau sial?” Luz jadi kepikiran banyak hal menakutkan ke depannya.
Bosan sudah Luz disini. Ia tidak tahu tahan sampai kapan, menikah hanya dengan uang. Apa Luz liburan aja buat seneng-seneng?
Mendengar ada suara dari dalam. Luz beranjak. “Kemana aja sampe gak inget balik cuy.”
Karel baru pulang dari luar kota. “Sibuk.”
Sangat malas sekali sekarang, rasanya hanya ingin bermalas-malasan saja. Namun, Luz perlu banyak bergerak agar sehat. Akhir-akhir ini, berat badannya kian bertambah.
“Lay, mending ini makan dulu.”
Enak aja manggil nama orang seenaknya. Luz jadi sewot di buatnya. Karel ini apa-apaan sih?
“Lho marah? Why?” Karel tampak kaget, dia bergidik bahu. Bingung sih sebenarnya apa salahnya? Ia rasa tidak ada. Makan? Udah di bawain. Menghadapi mood ibu hamil serumit ini ternyata.
“Tau nama gue Luz, L-u-z tapi gak bisa apa panggil gue Lulu, El, masa Lay? Emangnya gue jablay?”.
“Itu ngaku.”
Luz langsung mengambil centong dan melemparnya. “Kurang ajar lo!”
“Abisnya nama lo unik. Lo yang hamil, gue yang baby blues yang ada.” Karel tertawa.
“Lo pasti ke luar kota sama cowok lo ya? Makanya betah. Hayo ngaku!” Luz mulai meledek Karel lagi. “Benerkan?”
“Iya, iya.”
Karel melihat Luz tampak murung, malah tidak terawat. Ada apa dengannya sampai seperti orang frustasi. “Kenapa?”
“Gue cuman... sedih.” Luz menaruh dagunya di atas meja, melihat Karel menyiapkan makanan.
“Alasannya?”
Luz menenggelamkan wajahnya di antara tangan yang di lipat. “Gue sedih, gak ada temen ngobrol.”
“Harusnya kan seneng, bisa bebas kemana aja.”
“Iya sih.”
“Hangout sama temen lo?”
Luz terdiam. Biasanya kalau gabut, ia pergi jalan sama Zaren. Tapi sekarang dia? Dia pergi, tidak ada gantinya. “Dulu, gue kemana-mana suka minta temenin sama Zaren.”
“Zaren, taulah. Tapi imbalannya, paling taulah juga. Gue happy sama dia, meskipun gak cinta. Lebih buat seneng-seneng aja.” Intonasi nada bicara Luz terdengar putus asa.
Karel jadi mikir, apa selama dia sendirian, ada terbesit hal gila yang ingin dia lakukan?
“Gausah sedih, cari hiburan ayo.” Karel menyodorkan makanan, ada sayuran, tahu dan tempe.
“Makan. Gue mau siapin susu sama vitamin,” katanya. Ini adalah rutinitasnya dengan James. Menyiapkan makanan, juga susu hangat.
Bedanya, Luz sedang hamil. Jadi mood nya tidak beraturan.
Tring. Handphone Luz berdering, ia langsung mengecek pesan masuk. Dari Mireya.
Mireya: ketemuan yuk, kangen
Luz: dimana?
Mireya mengirimkan lokasi.
Luz langsung makan dengan cepat. Meneguk air terburu-buru. “Gue mau ketemu Mirae.”
“Siapa?”
“Temen. Udah ah gausah kepo, gue pergi dulu. Anterin. Nunggu taksi lama,” katanya sambil memakai cardigan rajut dan tas.
“Take care!” Karel mengejar langkah Luz. “Lo lagi hamil, kalo ke peleset gimana?”
--✿✿✿--
“Mirae!” Kepala Luz berasa plong bisa menghirup udara luar lagi. Ia memeluk Mireya dengan erat.
“Gimana keadaan lo? Makin gemoy, lucu tauu. Apalagi ini perutnya makin nduttt, bulettt. Hihi udah berapa weeks?” Mireya tersenyum hangat, mengelus perut Luz.
Luz langsung menariknya duduk. “19 weeks. Oiya gimana nih ada cerita apa?”
“Eh kesini sama siapa?” Mireya melirik ke sekitar. Khawatir kalau Luz sendirian malam-malam.
“Eum sama suami, dia nunggu di---gatau,” kata Luz sambil terkekeh.
“Gue mau curhat lagi.” Mireya mengaduk minumannya yang sudah dingin.
Luz merasa ada obrolan intens. “Soal pacar lo?”
Mireya mengangguk, ia mengeluh soal sikap pacarnya. “Jeremiah mulai berubah lagi. Gue capek, gatau harus gimana. Dia bilang mau atur jadwal ketemu ortu gue tapi selalu ada alasan. Kemarin seminggu ke belakang, dia ngilang gak tau kemana.”
“Sabar ya. Lo berdoa aja, atau mungkin ini jawaban. Kalo dia gak baik, sinyalnya udah jelas ya ini.” Luz mencoba memberikan kekuatan.
“Gue cinta dan sayang banget sama dia. Apa itu belum cukup? Gue ngerasa dia selingkuh.” Dugaan Mireya sangat kuat.
Luz jadi berpikir keras. “Penasaran banget sama orangnya. Yang mana sih?”
“Bentar gue tunjukkin.” Mireya menunjukkan foto dengan pacarnya. “Ini pelakunya, orang yang bikin gue sakit hati mulu tapi bisa bikin gue seneng secara bersamaan.”
Mireya hendak menangis tapi malu. Ia usap air matanya dan tertawa. Berharap suasana mencair. “Gimana sekarang seru? Cie udah nikah. Gak nyangka lo nikah sama cowo yang mau di jodohin sama gue.”
“Hehe iya dong. Gue juga gak nyangka, ternyata dia diam-diam naksir gue dari lama. Terus pas confess dalam keadaan gue udah bunting. Gue jujur aja dan dia terima, cuman keluarganya gatau soal anak ini anaknya siapa sebenarnya.” Luz mengelus perutnya, ada rasa khawatir.
“Tapi Karel, udah janji bakalan akuin anaknya secara hukum.”
Mireya mengerutkan kening. “Syukurlah kalo dia beneran sayang dan perlakuan lo dengan baik. Untung gak gue terima. Tapi gue penasaran gimana ceritanya?”
Luz pun bercerita. Kalau awalnya gamau cerita karna takut di pecat tapi Karel janji gak akan pecat dia. “Sebenarnya itu alasan gue gamau di pecat karna gue lagi hamil, butuh pekerjaan buat biaya hidup. Sebelum itu gue belum nikah, ayahnya pergi gitu aja dan itu salah gue. Gue yang mengunci pinggang dia sampe keluar di dalam jadi ini sepenuhnya tanggung jawab gue. Kalo dia yang keluarin dengan keinginan nya itu jadi keputusan dia mau lanjut atau enggak gue bingung. Gue juga udah di usir dari rumah pas itu gatau harus gimana lagi bertahan sendirian.”
“Dia bilang, kalo soal uang dia bisa bantu tapi apa gue juga perlu status sosial buat jalan keluarnya? Ya jelas gue butuh suami, gue gak boong gue capek harus kerja dan lakuin semuanya sendiri gue takut bayi aku kenapa-kenapa.”
“Gimana kalo kita nikah aja? Kata dia, dia bilang bakalan nafkahin gue. Gue tanya lagi terus bayi aku? Ternyata dia siap jadi ayah hukumnya dan siap membiayai hidup dia sampai dewasa asalkan gue mau sama ria itu aja. Gue tinggal duduk diam di rumah merawat dia sampai besar. Gitu awalnya. Dan dia ngebuktiin, gue ngerasa di cintai penuh.” Luz terpaksa menambahkan bumbu romantis berharap Mireya percaya.
Mireya terharu. “Aaa jadi speechless. Seneng banget, ini lebih dari cukupkan buat lo? Setelah lo di buang gitu aja sekarang dapet seseorang yang baik banget. Langgeng terus ya sampe maut memisahkan. Hai kenalin aku maut. Haha.”
“Hahaha sumpah kocak banget lo.”
Mireya sampai mengeluarkan air mata. “Bercanda sumpah. Jangan marah. Hati gue masih milik Jeremiah.”
“Aman Mir, santai aja.”
“Udah malem banget, balik ayo, ntar lo masuk angin.”
Mereka pun meninggalkan meja. Luz berdiri di depan kafe mencari Karel. Di chat tak di bales. Di telepon tak di angkat. Sama seperti Mireya yang mencoba menghubungi pacarnya.
“Laki lo gak ada? Ayo gue anter pulang aja, dari pada kenapa-kenapa,” ajak Mireya.
Tanpa menolak Luz langsung masuk. Mereka mengobrol sampai tak terasa telah sampai.
Mireya jadi tahu alamat barunya.
“Oh disini, keren. See you ya!”
Luz langsung bergegas menuju rumahnya. Ia mendorong pintu dan terdiam. Pemandangan yang membuatnya gedek. “Aduh, aduh... ada terong sama terong lagi berduaan.” Sindirnya bercanda.
Lantas Karel menjauh. “Bentar kebelet.”
Luz berjalan masuk tanpa menghiraukannya. Ia meneguk air putih. “Kayaknya disini gue harus minta maaf, karna lancang masuk dan mergokin kalian. Kocak ya, istri sah minta maaf ke pacar suaminya. Sebuah fenomena langka haha.”
James kesal. Luz datang di waktu yang salah. “Maksud lo apa? Tau diri dikit kek.”
“Oh gitu ya?!” Luz berbalik badan dan dahinya mengerut. Ia meletakkan gelas dan menghampiri James.
“Kenapa liatin gue kayak gitu?”
Luz tidak percaya. “Kenapa muka lo semirip itu sama muka Jeremiah?!” Ia menggelengkan kepala, menepis dugaannya.
“Tunggu, lo punya kembaran. Atau jangan bilang sebenarnya lo adalah James pacarnya Karel sekaligus Jeremiah pacarnya Mirae?!”
James berdiri dan menatap Luz tajam.
“Gausah sok tau!”
“Jawab!”
“Jangan kenceng-kenceng. Kalo sampe Karel denger dan salah paham. Gue gak akan segan—“
Luz langsung menampar pipi James. “Kurang ajar lo! Lo udah sialan, mainin sahabat gue, orang yang gue sayang. Bahkan bukan cuman itu, Lo mainin perasaan Karel yang udah tulus cinta dan rela lakuin apapun buat pertahanin hubungan kalian termasuk nyeret gue ke dalamnya?!” Luz menunjuk wajah James penuh amarah.
James mencekram rahang Luz hingga tubuhnya terangkat. “Diem bisa? Iya gue emang Jeremiah James. Berani buka mulut gue bakalan viralin kelakuan lo. Termasuk bilang sama Bu Elena kalau lo hamil bukan cucunya.”
“Oke gue bakalan tutup mulut tapi tinggalin sahabat gue sebelum semuanya ke bongkar.” Luz menggeleng. Itu tidak boleh terjadi. Reputasinya akan buruk, ia akan kehilangan semuanya dalam sekejap. “Pergi dari hadapan muka gue sekarang, atau gue yang pergi?”
“Gak akan. Gue sayang keduanya.”
“Anj*ng emang lo semuanya di embat.”
Marah rasanya, mengetahui sahabatnya di selingkuhin dengan orang yang sama. Permainan cinta macam apa ini? Jadi selama ini, Karel merasa menjadi satu-satunya untuk James padahal dia mendua dengan perempuan.
Dan Mireya mencintainya habis-habisan malah ternyata orang yang dia cintai mendua dengan sesama jenis. Takdir macam apa ini?
Luz merasa frustasi, ia marah dan ingin berteriak. Kenyataan buruk itu harus ia ketahui. Lututnya lemas, ia mulai merosot dan jatuh bersandar ke sofa.
“James mana?”
Luz hanya diam membisu.
“Kenapa?”
Luz menangis dalam diamnya. Apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan hati dan mental Karel dan Mireya? Tidak mungkin ia diam saja, tapi James juga mengancamnya.
“Luz?” Karel menjentikkan jari di depan wajah Luz.
Luz menggeleng, ia melipat tangan di atas lutut dan menunduk. Menangis sejadi-jadinya. Berharap amarahnya mereda.
“Are you okay?”
Luz bicara dalam batinnya. Ia ingin menyelamatkan kewarasan Mireya dan Karel. Tapi bagaimana caranya?
...--To Be Continued--
...