Katanya kisah cinta masa SMA itu paling sulit dilupakan, apakah mitos itu berlaku untuk Raina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NRH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Crazy Little Things ....
Pagi hari di sekolah.....
Aku berangkat dengan mata agak sedikit bengkak, karena semalam kurang tidur dan banyak menangis. Rayka sempet nyaranin untuk kompres pake air es dulu sebelum berangkat, tapi aku menolak karena pagi itu dingin sekali. Aku juga keenakan memakai hoodie, akhirnya aku izin ke guru piket untuk pakai jaket ke dalam kelas karena mukaku juga udah percis muka orang sakit.
Aku keasyikan ngobrol dengan guru piket, karena mereka tanya gimana kelancaran persami kemarin. "Rainaaa katanya persami sukses ya selamat ya kamu sama Pandu emang luar biasa!" kata Pak Didik. "Itu semua berkat Pandu yang bisa cover aku pak, dia tahu step by step perencanaan yang matang" jawabku. Lalu Pandu datang dari arah gerbang "Du!" kataku. "Raina kamu sakit? Mata udah kaya biji ketumbar gitu haha" kata Pandu sambil menertawakan. "Ish ish ish aku tetep cantik kan tapi?" jawabku. "Just calm na! Everything is gonna be alright" kata Pandu sambil mengelus rambutku. "Apasih du? Aku oke ok" kataku. Akupun berjalan bersama Pandu menuju ke kelas. Semua adik tingkat yang seekskul denganku, semuanya memandangiku dan Pandu. Mungkin mereka bergosip tapi menurut Pandu "udah biasa digosipin sama Raina". Aku sih gak masalah.... Toh, Pandu benar-benar cuma sahabat baikku dari kelas sepuluh... "Ada kejutan tuh dalem kelas kamu" kata Pandu sambil menunjuk ke arah kelasku. "kejutan apaan?" tanyaku. "Liat aja sendiri nanti!" jawab Pandu.
Ketika aku masuk ke kelas, semua teman-temanku sedang mengerubungi seseorang yang sama sekali tidak dapat kulihat jelas. Aku lalu melewati mereka dengan dingin dan duduk di kursiku. Rayka juga sepertinya ada di kerumunan itu, karena bangku dia kosong. "Murid baru ya? Sampe diriung gitu" batinku.
Ketika guru mata pelajaran Bahasa Sunda masuk, semua teman-temanku bubar jalan dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Aku belum sempat lihat bagaimana sosok murid baru yang barusan itu, karena aku gak mood juga untuk kepo. Aku malah langsung memperhatikan Pak Falaq yang menjelaskan tentang lagu-lagu sunda jaman dulu. "Pokoknya aku harus fokus belajar lagi! Aku harus manfaatin waktuku buat hal-hal yang bermanfaat dan menyibukkan diri dengan duniaku sendiri" pikirku.
"Na, kamu belum lirik ke belakang?" tanya Rayka.
"Oh murid baru ya? Belum liat nanti aja lah istirahat!" jawabku.
"Ehhhh........ Belum sempat Rayka melanjutkan perkataannya, Pak Falaq malah menanyaiku sederet pertanyaan. "Raina, setahu bapak kamu pernah ikut lomba menyanyi lagu daerah kan?" kata Pak Falaq. " Iya pak pas SMP" jawabku. "Ada piagamnya?' tanya beliau lagi. "Ada pak" jawabku. "Yaudah coba sini kedepan kasih contoh teman-teman kamu lagu sunda" kata Beliau. "hhhm pak, Raina lupa lagi tekniknya soalnya udah lama banget" jawabku. "Gapapa sebisa kamu aja" tutur Beliau.
Akupun berjalan penuh kemalasan saat itu, karena aku malu disuruh menyanyi depan kelas "takut fals, takut salah lirik, takut ada yang lebih ngerti terus ngetawain aku" semua pikiran itu muncul di otakku. Aku tidak berani melihat sekeliling kelas, karena aku tahu semua mata sedang tertuju padaku saat itu. Tepat setelah berada didepan papan tulis, aku berbalik badan menghadap kearah teman-temanku dan langsung kututup kedua mataku seketika sambil menarik nafas pertama dalam-dalam. "ibuuuu.... Aku disuruh nyanyi sunda lagi" jeritku dalam hati.
"Mapay jalan satapak ngajugjug ka hiji lembur...
Henteu karasa capena sabab aya nu diteang...
Hujan angin dordar gelap taya tempat keur ngiuhan
Sanajan awak rancucut teu paduli kajeun teuing
Nu penting mah asal nepi ka tempat anu dituju
Rek neangan mawar bodas nu moal lila kaala
Sugan tea moal gagal
Kembang geus aya nu boga
Balik teh asa hoream
Lempang ge asa ngalayang....."
(terjemahan :
Meniti jalan setapak menuju ke satu desa
Tidak terasa lelahnya karena ada maksud yang dituju
Hujan, angin dan petir tidak ada tempat tuk meneduh
Meskipun badan basah kuyup, tidak peduli sudah tanggung...
Yang penting aku sampai ke tempat yang dituju
Mencari mawar putih yang tidak lama lagi akan kudapat
Harapanku agar tidak gagal, ternyata mawar putih sudah ada yang memiliki.
Pulangpun tanpa semangat...
Jalanpun terasa melayang....)
Ketika lagu berhasil kunyanyikan hingga akhir, aku lega karena semua teman-teman bertepuk tangan. Perlahan, aku membuka kedua mataku untuk mengembalikan kepercayaan diri yang tadi sempat hilang karena grogi, "itu murid baru???? Itu Lian????" hatiku menjerit seketika saat pandanganku tiba-tiba terfokus pada satu orang murid laki-laki yang tempat duduknya sedari tadi dikerumuni banyak orang. "Lian gak pindah? Itu lian beneran?" semua pertanyaan memuncak dalam pikiranku. Aku ingin segera mendatanginya dan menanyakan semua hal yang sempat jadi kecurigaanku. "Lian kamu bohongin aku! Kamu maunya apa sih?".....
Aku kembali ke tempat duduk dengan air mata yang hampir saja menetes, ditambah lagi saat itu aku lihat Lian tersenyum ke arahku dan mengacungkan dua jempolnya seakan memuji penampilanku barusan. "Naaa youre still amazing!!! Suara kamu masih oke ko untuk nyanyi lagu daerah" kata Rayka. "Ka please just answer my question" kataku berbisik. "About what?" katanya. "Murid yang tadi itu Lian?" kataku. "Iya sayang, dia gak jadi pindah" jawabnya.
"God!!!! its like crazy little thing... Ada apa sama hati aku sekarang? Kenapa aku bahkan gak tau harus bereaksi kaya apa? Satu sisi aku seneng Lian gak jadi pindah... Tapi disisi lain aku gak suka dia udah bikin aku khawatir dan gak karuan semaleman".....
lanjuutttt
ditunggu feedbacknya 😍
ditunggu kunjungannya di :
CAHAYA YANG HILANG
TERJEBAK DALAM PERNIKAHAN SEMU