NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hamil?

"Babe, kamu rasa, Adam sudah ada pacar belum?"

Ana yang dari tadi diam sejak Adam memulai kelas, kini membuka mulut. Kubalas dengan menaikkan bahu. Malas menanggapinya.

"Ish, kamu gak asyik! Aku kan nanya pendapat kamu, jangan bilang gak tau, no komen atau sejenis mengangkat bahu seperti itu," ucap Ana tidak puas hati dengan respon yang kuberikan.

Lisa yang jadi pendengar tak diundang ikut menoleh kebelakang melihat pada Ana.

"Eh, Lo bisa pikir pakai logika gak? Mana mungkin pria seganteng pak Adam gak punya pacar. Dan kalau pun dia gak punya pacar, bukan berarti dia mau sama Lo? Dasar narsis!" sengit Lisa.

"Eh, Lisa. Hari itu, dia sendiri kok yang bilang belum punya pacar, kekasih, tunangan, apa lagi istri. Kenapa kamu yang sewot? Iri ya?" protes Ana.

"Lah, Lo sendiri udah dengar dia ngomong gitu. Terus, ngapain lagi Lo nanya? Winda bukannya adik pak Adam, bukan juga tetangganya. Dia sama aja sama kita, mahasiswa pak Adam yang lagi berdiri di depan itu." Lisa semakin tajam membidas.

"Aku cuma tanya pendapat aja, masalahmu apa? Lagian dia bilang gitu udah lama, sebelum kita libur. Jadi siapa tau sekarang dia sudah punya gandengan." Ana kembali menyanggah.

"Ana, Lisa, apa ada yang ingin kalian berdua bagikan di kelas ini?" Adam yang sedang menerangkan mata kuliah di depan menimpali.

Ana malah senyum-senyum sendiri, tapi tidak dengan Lisa. Mungkin karna geram dia meluahkan semuanya.

"Ini Pak. Ana, dari tadi sibuk aja ingin tahu status bapak. Dia mau tahu, bapak sudah punya pacar apa belum. Pantas saja jawaban mata kuliah programing yang mudah pun dia gak bisa jawab," ucap Lisa.

Ana di sebelahku hanya tersenyum, sedikitpun tidak terasa dengan kata-kata pedas Lisa yang sengaja menyindirnya.

"Saya minta tolong buat semua agar memperhatikan apa yang akan saya terangkan. Simpan sesi gosip untuk nanti, setelah kelas ini selesai." Untuk pertama kalinya suara Adam lebih tegas dari biasanya. Biasanya dia akan mengajar dengan candaan dan tawa, membuat semua betah berlama-lama di dalam kelas. .

"Dia kenapa? Kok kayak bad mood gitu?" Ana berbisik padaku

"Ribut dengan kesayangannya lah. Itu aja Lo gak bisa mikir. Dasar oon!" Lisa kembali menimpali.

"Eh, Lisa aku gak nanya sama kamu ya? Heran, dari tadi nyambar mulu? Caoer banget jadi orang." Ana mendesis keras ke arah Lisa, lalu kembali memandangku menanti jawaban.

"Aku juga gak tau, Ana. Kalau mau mau tau, tanya aja sama orangnya."

Wajah Ana lansung cemberut mendengar jawabanku.

"Kamu kenapa sih, beb? Kayak Adam aja, bad mood. Huh!" Setelah mengucapkan itu, Ana sedikit menggeser duduknya menjauh dariku dan  tak lagi bicara.

Aku yang memang lagi tidak ada mood membiarkan saja Ana dengan dramanya.

***

Selesai mata kuliah Adam, aku lansung pulang kerumah. Moodku benar-benar sedang tidak baik-baik saja saat ini.

Keadaan rumah sepi. Adam masih di kampus. Aku memilih berbaring di kamar tamu, tempat aku beristirahat sejak malam tadi.

Setelah mendapatkan klimaks tadi malam, Adam coba membelai kepalaku, dan sebenarnya aku masih mau berbaring di sampingnya, memeluknya sampai tertidur. Tapi ego-ku lebih menguasai hati.

Kuingkari keinginan terbesar hati yang masih ingin bermesraan dengannya. Lantas aku bangun, kuambil koperku, lalu meninggalkan Adam sendiri di dalam kamar.

Hingga akhir Minggu aku dan Adam masih perang dingin. Masing-masing kami diam seribu bahasa, tidak ada yang memulai untuk bicara. Subuh tanpaku, makan siang, makan malam pun sendiri-sendiri.

Sejak Selasa sore, demamku datang lagi, selera makanku hilang. Aku paksakan periksa ke dokter dan mendapatkan perawatan yang seharusnya untuk penyakitku.

Tapi, selera makan masih tidak ada. Kalau makan pun aku akan muntah. Efeknya tubuhku semakin lemas dan aku terpaksa mengambil libur lagi. Setiap hari aku memaksakan diri bertemu dokter, itupun atas sarannya. Semua kurahasialan dari Adam dan kedua orang tuaku.

Jum'at malam, tumben-tumbennya Adam pulang membawa makanan saat aku sedang memaksa diri memakan roti. Dan akhirnya, dia mengibarkan bendera putih atas perang dingin antara kami saat dia turut duduk di meja makan.

"Saya tadi bungkus bakso, beli dekat pasar malam depan. Ini makanan kesukaan kamu, kan? Saya ambil mangkok dulu," tuturnya lembut dan berlalu ke dapur. Meleleh juga liurku mendengar makanan kesukaan-ku itu di sebutnya. Sudah lama aku tidak makan jajanan itu.

Dulu semasa SMA, aku sering mamemakan jajanan itu, apalagi bakso yang di jual keluarga Virgo. Jadinya aku bisa melihat dia meski tanpa bertegur sapa atau pun bermesraan. Aih, kenangan itu membuat hatiku semakin merindukan dia.

Adam kembali bersama 2 mangkok dan di tuang sebungkus untukku. Dia menyodorkan semangkuk bakso itu kehadapanku dengan senyum kecil mengajakku makan.

Aku lihat kedalam mangkuk, banyak bakso kecil-kecil dan satu bakso urat yang besarnya hampir sekepalan tinju. Kulihat Adam sekilas, dari mana dia tahu makanan kesukaanku ini?

Ah, mungkin kebetulan saja.

Lansung saja aku santap makanan kesukaanku itu. Sesuap, dua suap, tiga suap. Baru saja selera makanku datang , tiba-tiba rasa mual lebih mendominasi. Segera aku berlari kedapur dan memuntahkan semua yang barusan kumakan di wastafel.

"Kita ke klinik sekarang."

Baru saja keluar ingin kembali ke meja makan suara tegas itu menyapa gendang telingaku. Adam masih duduk di kursi meja makan menatapku lekat. Aku menggeleng, menolak ajakannya itu.

"Kenapa kamu selalu menolak ke klinik dengan saya? Keadaanmu sudah parah seperti ini. Sudah dua Minggu, Winda! Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dari saya?" ucap Adam yang telah berdiri dari kursinya, tatapannya lebih tajam dari tadi, menyelidik.

"Siang tadi aku sudah ke dokter," jawabku enteng sambil melangkah kedapur mengambil air hangat untuk membilas tenggorokan.

"Oh, susah pergi? Jadi, apa kata dokter?"

Pertanyaan itu harusnya di lontarkan dengan rasa prihatin, tapi nada yang keluar dari mulutnya seakan munjudge-ku.

"Gak ada apa-apa. Kamu gak usah khawatir dan gak perlu tahu karna gak ada hubungannya dengan kamu sama sekali," balasku sinis karna tersinggung dengan intonasinya.

"Oh, tidak ada hubungan dengan saya? Kenapa? Karna saya bukan ayah biologis kandunganmu itu?"

Aku tersedak mendengar suara yang semakin dekat itu. Adam sudah berdiri di belakangku.

"Kamu ngomong apa tadi?" tanyaku ingin memastikan setelah menatapnya.

"Jujur pada saya, Winda? Apa kamu hamil?" tanya Adam. Wajahnya yang serius tadi berubah muram menanti jawabanku.

"Ka-kamu menuduh aku hamil?" Suaraku seakan tercekat mengulang pertanyaannya itu. Seluruh tubuhku terasa menggigil.

Adam meraup wajah lalu berpaling dariku. Hembusan nafasnya terdengar nyaring.

"Jawab, Adam! Kamu menuduh aku hamil?" Suaraku meninggi dan Adam kembali memandangku. Matanya berair dan setitis air matanya mengalir di pipi, tapi cepat-cepat di seka.

"Saya hanya bertanya, Winda. Saya bukan menuduh. Saya tidak tahu harus berpikir apa. Saya buntu!" jawab Adam. Suaranya bergetar dan rahangnya mengeras.

"Dua hari yang lalu, saya bertemu dengan papa, dia mengajak saya makan siang dan menanyakan kabar kamu. Saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya memberitahu keadaanmu yang tidak sehat dan selalu muntah-muntah. Wajah pucat, tidak ada gairah, hilang selera makan. Dan kamu tahu apa yang papa bilang?"

Setitis lagi air matanya mengalir yang lansung di seka dengan punggung tangan.

Aku pun terdiam, pandanganku mulai kabur dengan air mata yang kutahan.

"Syukurlah! Untung Adam dan Winda sudah menikah, kalau tidak, mungkin tidak sempat bintikan anak itu dengan nama Adam. Itu yang papa bilang!" Sauara  Adam kembali menunggi.

"Awalnya saya tidak paham, jadi papa terangkan sedikit tentang status anak di luar nikah. Jelas di sana Papa pikir anak yang kamu kandung sekarang mungkin hasil dari hubungan keterlanjuran kita dulu, jadi penting untuk kita menikah cepat. Tapi tentu saja Papa tidak tahu kalau kita tidak melakukan hubungan seks yang bisa menghasilkan bayi karena saya tidak menceritakan kejadian malam itu sebenarnya." Adam melanjutkan, lalu menyandarkan punggung ke dinding.

"Saya tidak pernah menyentuh kamu sejauh itu, Winda. Tidak mungkin janin itu anak saya. Papa menyuruh saya membawa kamu ke dokter untuk memastikan dan memberi tahu dia kalau ada berita baik. Sekarang apa yang harus saya jawab pada dia? Kamu selalu menolak bila saya ajak ke dokter."

Adam tersenyum sinis sambil memencet batang hidungnya.

Cairan yang sudah menggenang di pelupuk mataku perlahan mengalir. Apa harus aku berterus terang?

"Jadi saya mohon. Kalau benar kamu hamil, siapa ayahnya? Jujur pada saya, Winda." Adam kembali serius memandangku.

"Sampai hatimu memgatakan aku sehina itu? Apa kamu pikir aku ini sekotor itu? Apa kamu pikir aku pernah selingkuh di belakangmu, bermesraan dengan lelaki lain?" Beruntun pertanyaan itu kuajukan padanya. Sungguh, aku benar-benar tersinggung dengan tuduhannya itu.

"Tidak. Saya tahu kamu pernah melakukan itu. Tapi, sebelum kita menikah kamu pernah bilang kalau kamu tidak perawan lagi. Masih ingat kan?"

Ya, aku masih ingat waktu berbohong padanya tentang hal itu, tapi  semua itu kulakukan hanya untuk mengubah pikirannya.

"Mungkin itu janin dari hubungan kamu dengan kekasih kamu sebelum menikah dengan saya? Benarkah anak yang kamu kandung sekarang milik Adri?"

Suara Adam pelan saat mengatakan kemungkinan itu. Kebohongan yang pernah kulakukan dulu, kini memakan diriku sendiri.

"Apa yang akan kamu lakukan jika aku benar-benar hamil anak orang lain?" Pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Beberapa saat Adam diam dan wajahnya kembali muram.

"Jujur, saya sendiri tidak tahu, Winda. Apakah kamu ingin hidup bersama dengan ayah janin itu? Apa hukumnya semua ini? Saya sendiri masih awam tentang agama, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan." Adam kembali meraup wajah.

"Tapi kalau benar apa yang papa katakan, saya rasa anak itu lebih layak di bintikan ayah kandung dua. Saya tidak pernah sentuh kamu sejauh itu, Winda. Masih sempat untuk saya melepaskan kamu dan meminta ayah dari janin itu bertanggung jawab. Janin itu hak dia, bukan halnsaya."

Kini aku yang terdiam mendengar jawaban Adam. Apa dia benar-benar akan melepaskan aku, agar bisa kembali pada lelaki lain yang di sangka ayah dari kandungan ini?

"Bagaimana dengan tanggung jawab kamu padaku? Kamu menikahi aku karna tanggung jawab juga kan?" Aku tetap melanjutkan kesalah pahaman ini. Aku ingin tahu sejauh mana dia sanggup bersabar mempertahankan aku di balik semua sifat burukku.

Bukankah dia pernah bilang aku ini cinta pertamanya?

"Ya, tapi ini melibatkan hak. Janin itu berhak tahu siapa ayah kandung dia. Dia berhak mendapatkan kasih sayang dari ayah kandung dua. Saya tidak ingin mengambil yang bukan hak saya, Winda. Karna saya sendiri anak di luar nikah." Sesaat Adam menjeda, menyeka air mata di pipinya.

"Saya tidak sanggup merebut hak dia sedangkan saya sendiri di beri kesempatan untuk hidup dan besar dengan ibu dan ayah kandung saya. Saya juga ingin dia mendapatkan kesempatan itu."

Tanpa menunggu responku, Adam melangkah pergi. Manapaki tangga menuju kamarnya.

***

Aku tak tahu, apa aku tersinggung dengan pikiran Adam yang sampai hati menuduhku hamil anak laki-laki lain, atau sebenarnya dia yang mau melepaskan aku karna sudah lelah dengan semua ini? Akibatnya perang dingin kembali berlanjut.

Minggu itu, mama dan papa datang menjenguk kamu. Mereka seolah memberi sinyal ingin mengetahui perkembangan kehamilanku, dan Adam berusaha merubah topik. Moodku yang tidak baik sepanjang hari itu tidak diambil hati oleh meraka. Mungkin mereka pikir aku benar-benar hamil.

Parahnya, saat aku mau kedapur ingin membuatkan mereka minum malah di cegah mama.

"Eh, ndak apa-apa, Sayang. Winda duduk aja, biar Mama yang buatkan minum. Winda mau minum apa?"

Itulah kata-kata mama saat aku ingin membuat susu coklat dan mencelupkan dengan biskuit Oreo setelah melihat iklan di tv.

Obrolanku dengan Adam juga kikuk. Kami sama-sama canggung. Adam masih dengan sifat dinginnya padaku, meski dia coba menutupi semua itu dengan senyum.

Seminggu kemudian, demamku sudah berangsur pulih. Tapi dokter seakan marah karna aku selalu mengulur waktu untuk melakukan perawatan lebih lanjut. Dokter juga berpesan padaku agar menuemuinya setiap hari.

Kuliahku terabaikan, karna memang tubuh belum normal seperti dulu. Hanya pada hari Jumat, kupaksakan diri pergi ke kampus untuk mengikuti mata kuliah programming dengan Adam. Selebihnya aku selalu libur.

Setiap kali pulang menemui dokter, aku akan tidur sepanjang hari. Dan malam aku kan bangun untuk mengganjal perut.

Adam tidak peduli lagi padaku, jadi dia tidak mempersoalkan. aktivitas rutinku itu. Bugus juga tidak perlu mendengar omelannya.

Seminggu ini ujian pertengahan semester akan di lakukan. Perang dingin dengan Adam sedikit banyak memberi ruang privasi untukku belajar sendiri tanpa gangguan.

Minggu malam, tamu bulanan datang, membuat moodku semakin buruk. Emosi semakin membuncah. Sedikit saja di singgung, hati lansung panas.

Rabu pagi, sebelum kertas organisasi Sains komputer di mulai, Ana meminjam pena padaku karna alat tulisnya ketinggalan. Jadilah dia pelampiasan emosiku, hingga dia terdiam dengan emosiku. Tapi masih sempat aku dengar dia mengomel.

"Huh! Dia yang PMS, aku yang kena getah."

Jujur, aku sadar persiapanku untuk ujian belumlah maksimal meski sudah belajar bersungguh-sungguh beberapa hari ini. Susuah untukku fokus atas masalah yang menimpaku akhir-akhir ini. Masalah kesehatan, mesajalah dengan Adam, masalah barang haram Adri yang hilang, di tambah Mak merah yang memilih datang berkunjung Minggu ini. Rasanya bagai jatuh di timpa tangga.

Haih!

.

.

.

Jum'at malam, John mengajak aku ketemuan karna dia tahu aku sudah selesai ujian. Ketika aku tolak ajakannya, dia malah sengaja menyindirku.

Oh, pak suami gak ngasih izin Lo keluar ya? 

Kurang ajar memang. Dan ketika aku ketik balasan pesannya, dia malah sengaja mengungkit masalah yang ingin aku lupakan.

Btw, bagaimana tentang uang 100 juta itu? Sudah ada jalan keluarnya?

Hah? Jadi aku yang harus tetap mengganti uang sebanyak itu? Cepat-cepat aku ketik balasan pesannya itu.

Kenapa gue yang harus gue ganti? Lo bilang Boy mencari gue, tapi sampai sekarang gak ada tuh tanda-tanda dia nyari gue.

Tidak berselang lama John membalas pesanku itu.

Makanya gue mau ngajak Lo ketemuan malam ini. Gue mau ngomongin masalah ini sama Lo. Jadi, gue dapat info, dia udah mutusin minta ganti rugi barang yang hilang itu sama Lo, karna sampai sekarang Adri belum juga dia temukan. Kemana entah bajingan itu perginya. 

Sumpah, jantungku berdetak lebih cepat setelah membaca pesan John. Aku takut Boy benar-benar mencariku dan meminta ganti rugi atas kehilangan barang haram milik Adri. Pikiranku berkecamuk, kemana harus kucari uang 100 juta dalam waktu dekat? Notif pesan masuk menghentikan lamunanku.

Dari Ana.

Beb, masih PMS? Hehe. Sorry, aku lupa ngasih tau. Adam sudah setuju ikut pertandingan masak-masak tu. Acaranya Minggu ini, di kampus jam 9.

Aik, ini lagi 1 masalah yang aku lupa.

Oh ya? Selamat ya, kamu berhasil membuat dia setuju untuk berpartisipasi.

Kukirim pesan itu pada Ana. Nafas panjang kuhela dalam-dalam. Aku yakin, Adam tidak akan memberi tahukan hal ini padaku. Jujur, aku sangat kecewa dan tersinggung jika Adam memang tidak memberitahukan hal ini. Haruskah aku jujur saja pada Ana tentang hubunganku dengan Adam?

Thanks you! Ohya, aku juga udah dapat nomor dia. Hehe. Tadi aku kasih alasan biar mudah menghubunginya Minggu depan. Terus dia kasih deh nomornya. Dan satu lagi, dia belum tau kalau kamu ikut sekali dalam acara itu. Apa aku kasih tau aja, kebetulan aku juga lagi chatingan sama dia nih :p

Apa? Adam sedang berkirim pesan dengan Adam? Bergegas aku keluar dari kamar, pura-pura ingin membuat minum di dapur. Untungnya rumah Adam ini ruangannya terbuka, tidak banyak sekat, jadi aku bisa lihat dia dari dapat dengan jelas. Adam sedang duduk di kursi depan TV, tapi matanya fokus pada ponsel canggihnya.

Sedang aku memperhatikan dia yang masih belum menyadari kehadiranku di dapur, ponselku bergetar legi. Pesan dari Ana. Dia mengirim screenshot pesannya dengan Adam.

Buat apa? Dia kirim ini padaku.

Me: Hai, Adam. Lagi ngapain tuh? Hihi. Jangan lupa hari Minggu ya? ;)

Babyboo: Hai, Juliana. Tidak ada, sedang menonton TV saja.  Iya, insyaallah saya datang.  :(

Me: Lagi nonton apa? Aku juga lagi nonton. Hehe. Kok bisa samaan ya? Jodoh kali gak? Hehe.

Babyboo: Haha. Berhayal terus, pantas dalam kelas tidak fokus. 

Me: Dalam kelas tadi gak fokus karna dosennya ganteng banget

Hanya sampai di sana pesan yang di screenshot Ana. Entah apa yang di tulisnya setelah itu. Entah lah. Dan Adam dari tadi matanya tak lepas dari ponsel. Malah dia masih belum menyadari kehadiranku yang sedang memperhatikannya. Yang lebih menyakitkan hati, Ana save nomor Adam, Babyboo. Kepala bapaknya yang Babyboo.

Lansung kuketik balasan.

Makasih ya manusia paling dermawan sudah Sudi berbagi apa yang kamu chat dengan Adam. Teruslah berusaha memberitahunya, kalau aku ikut sekali dalam acara itu, takutnya nanti dia cancel jika tau aku ikut. Ya udah, aku mau tidur. Night.

Sengaja kubuang gelasku ke dalam westafel, lalu menoleh sekilas ke arah Adam. Hah, baru sadar dia aku berada didapur. Tapi dia menoleh sekilas saja, setalah itu kembali sibuk dengan ponselnya.

Arghh!

Malam itu, sama seperti 2 Minggu lalu, aku tidur sendiri lagi. Mungkin karna Mak merah yang datang melayat ini, aku jadi mudah emosi. Tapi aku tidak bisa bohong, aku kangen, rindu akan berhatuan Adam. Aku kangen tidur di peluknya.

Keesokan harinya, aku hanya mengurung diri di dalam kamar. Kucoba berpikir mencari solusi atas semua masalah yang menimpaku. Tapi otakku buntu. Rasanya ingin kutepis semua masalah yang memberatkan pikiranku ini dan lupakan semuanya, karna begitulah selama ini caraku menghadapi masalah.

Tapi apa aku akan begitu terus? Tidak tidak. Aku harus pikirkan jalan penyelesaiannya.

Masalah pertama, perlukah aku beritahu Adam tentang dugaan kehamilanku ini? Yang nyatanya hanya dugaannya saja yang kuluruskan. Tapi, sebenarnya aku ingin menunggu dia membujukku. Itulah masalahnya, egoku. Aku ingin mendengar dia minta maaf dan membujukku dari pada perang dingin begini. Malah dia kepikiran mau membuangku ke pangkuan lelaki lain. Aku kesal.

Masalah kedua, keributan dengan Adam di clab Minggu lalu yang menyebabkan aku pindah kamar. Dan aku tidak tahu, susah berapa lama dia berhubungan dengan Erin? Tapi dia belum juga minta maaf padaku karna sudah membentak dan memarahiku di tempat umum. Belum lagi pengakuan gilanya tentang statusku sebagai istrinya di depan temanku.

Masalah ketiga, dari mana aku dapatkan uang 100 juta dalam waktu yang singkat? Aku takut, Boy benar-benar mencariku, atau mungkin bisa saja dia menculikku. Masalah ini lebih nenakutkan. Jadi, dari mana aku  bisa dapatkan uang sebanyak itu? Minta papa atau mama? Eh, aku bukan tipe yang suka meminta-minta. Dulu saja waktu menginginkan boneka Berbie, aku malah mikir sejuta kali. Mungkin ini termasuk ego diri juga?

Hafgh! Pusing! Kepalaku serasa mau pecah.

Satu-satunya masalah yang selesai sat ini hanya kunjungan Mak merah, yang sudah kembali ke alamnya. Besok harus menghadapi masalah ke 4, Julian.

Kalau bukan teman, rasanya ingin kumaki dia.

Minggu pagi, Adam sudah keluar rumah. Setelah menerima pesan dari Ana, baru aku tahu alasannya keluar pagi-pagi sekali.

Beb, coba tebak. Pagi ini aku sarapan dengan siapa? Dengan Adam. Oh My Ghost! Aku seneng banget! Tadinya aku mau ngajak kamu sekali, tapi ya, sayang sekali itu gak akan terjadi. Haha. Becanda kok. Hehe. Jangan iri ya? Kasih aku peluang dulu menikmati hari-hari dengan calon suamiku. Bye bab :D

Wow! Sudah bisa dia keluar dengan perempuan lain sekarang. Semakin hari semakin terlihat belangnya. Dasar laki-laki buaya! Bilang sayang bilang cinta taunya, bullshits!

MSKL

Sengaja kukirim balasan singkat itu pada Ana. Singkatan yang kuartikan sendiri, Mati Saja Kalian. Dan Ana hanya membalas dengan omoji menjulurkan lidah, ternyata dia tidak peduli dengan singkatan aneh yang kukirim itu.

Setelah mengganjal perut dengan roti bakar, hatiku tergerak ingin naik ke kamar atas. Terkahir kali berada di kamar itu, waktu mengambil semua baju-bajuk, itupun ketika Adam tidak ada dirumah. Selama dia dirumah, menginjak tangga pun aku tak pernah.

Kubuka pintu kamar itu perlahan. Wangi. Ya, kamar itu selalu wangi dengan aroma lavender, aroma kesukaanku.

Seperti biasa, keadaan tempat tidur rapi. Perlahan aku duduk di pinggir ranjang. Satu bantal yang ada di sana kuambil dan kucium. Aroma Adam masih menempel. Aku tersenyum sendiri, menahan perih di hati. Sungguh, aku merindukan dia.

Bantal kupeluk erat, sambil mengedarkan pandangan kesekeliling. Seandainya Adam benar-benar melepaskanku, mungkin ini terakhir kalinya aku melihat kamar ini.

Ketika pandanganku jatuh ke ruang kerjanya, keningku berkerut, karna ruangan itu berantakan. Setiap sudut di kamar tidur ini rapi, tapi kenapa meja kerjanya berantakan? Hatiku diketuk rasa curiga. Penuh tanda tanya.

Bantal masih kupeluk saat kaki melangkah ke meja kerjanya. Aku ingin melihat lebih dekat. Mungkinkah kertas-kertas yang berserak itu kertas ujian semester kelasku?

Perlahan senyum jahat terbit di bibir.

Meja itu aku dekati denga. 1001 niat. Aku mau melihat nilai yang di dapat Ana pada ujian kali ini. Hampir tiap hari meminta bimbingan Adam, apa  ada perubahan?

Namun, senyum jahatku kenyataan ketika melihat judul kertas di atas sampul coklat itu. Bantal yang kupeluk juga jatuh kelantai. Tubuhku serasa tak bermaya.

SURAT GUGATAN CERAI

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!