kehadiran dosen baru di kampus key, membuat key frustasi. mengutuk, mencaci dosen tersebut menjadi kebiasaannya dan menyantet adalah pilihan terakhir yang sedang key pertimbangkan.
SEASON 2 !!! di gabungkan, baca di sini!!
jangan lupa jadikan favorite, like, comment and vote..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deby Widiastuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Pesan masuk
Bapak bulan bintang: kapan ke sini? Jangan pura-pura lupa dan coba menghindar !!
Key berdecak kesal melihat isi pesan dari arka, lalu ia langsung mengunci ponselnya dengan bersamaan datangnya ojek yang ia pesan.
Tanya udah di mana atau mau di jemput engga gitu kek apa kek !!
Nggak ada baik-baiknya banget sih si arka ini !!
“ pak sudah sampai...” ujar babang ojek. Key segera turun dan memberikan selembaran uang
pada abang ojeknya dan tidak lupa mengucapkan salam perpisahannya. “ makasih ya bang, ati-ati..” ujar key yang membuat baper abang ojek yang usianya mungkin sama dengannya.
“ Ini kali ya rumahnya, maps nya tepat banget di sini.” Rutuknya.
Key melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah berwarna coklat dengan pagar yang terbuka
itu. Lalu ia segera menuju pintu utama dan mengetuknya.
" Permisi..."
“ Assalamualaikum..”
" Permisi...”
" Pak arka...”
" Main yu.." sapa key mencoba memanggil manusia yang berada di dalamnya.
“ Permisi..” key mulai lelah berteriak memanggil penghuninya, ia lupa bahwa ia bisa menelfon
arka. Namun saat ia merogoh tasnya untuk mengambil handphone suara wanita terdengar dari dalam rumah.
" Ah iya bentar..” teriaknya.
" Maaf ya lama..” sapa seorang wanita berambut panjang dan berkulit putih mulus dengan tinggi badan yang jauh dari key.
" Ah iya nggak papa...” sahut key terpesona.
" Wih siapanya
si arka nih? Ceweknya ya? Gila bening amet nih cewek pake tinggi pula..
sempurna.” Rutuk key yang masih terpesona dengan kecantikan wanita yang berdiri
di depannya.
" Silahkan
masuk, mau ketemu s-..” ujar wanita itu.
" Arka.. eh salah pak arka..” potong key sembari tersenyum. " Oh gitu, yaudah masuk
aja mba...” wanita itu mempersilahkan key masuk dan membawanya ke ruang tv bukan ruang tamu.
" Bentar ya saya panggil...” semabri berjalan meninggalkan key.
" Harus gue foto nih untuk dokumentasi dan di share di Lambert kampus, biar para fansnya patah hati.” Cicit key dengan raut bangganya.
Cekrekk.
" Oh sudah datang , nggak nyasar key?" tiba-tiba arka muncul saat key sedang memperhatikan objek yang baru beberapa menit ia ambil
" Hampir pak." Titah key sembari tersenyum. “ Oh gitu, yaudah sini ikut saya...” titah arka.
" Pak saya hauss" gumam key. " Nanti minumnya lagi di buat...” arka terlihat membaca pikiran key.
Ih peka banget sih, sukak..
" Mau kemana pak?.” Tanya key sembari membuntuti arka.
" Kamar..” ujar arka yang membuat key terhenti. " Hah? Kamar? Bapak gila ya? Jangan macam-macam ya pak !! Bapak pikir saya cewek apaan hah?" Sentak key.
" Saya nggak mikir-mikir apa apa..” jawab arka santai. " Itu maksud bapak apa? Ngajakin
saya ke kamar? Jangan mentang-mentang bapak dosen, jadi seenaknya ya. Dan bapak
nggak tau malu banget sih pak, ada ceweknya di sini juga masih sempet ngajak
cewek lain. Jangan- jangan bapak ngumpetin anak gadis orang ya?"
" Udah ngocehnya? Udah nuduh nya?" arka tiba-tiba terlihat sinis.
" Hah?" key semakin di buat bingung. “ Saya kan blm selesai bicara Keysa!” titahnya.
“ Saya mau pergi ke kamar, nah di sebelah kamer saya itu ruang kerja saya. Nah kamu masuk duluan ke ruang kerja saya.” Arka mencoba menjelaskan kesalahpahamannya pada key.
" Hah? Ohh..” key langsung mengut-mangut. " Geer banget sih kamu jadi cewe, siapa juga
yang mau ngajakin kamu ke kamar.” Sindir arka yang langsung berjalan lagi.
" Idih, di bilang kegeeran? Saya cuman waspada pak!!” key mencoba menahan rasa malunya, ia hanya waspada saja. " Jangan bilang kamu mau?" tanya arka yang tiba-tiba membalikan badannya.
Key melotot “Eh eh ati-ati ya pak kalo ngoceh.” Cicit key dengan raut wajah kesalnya.
“ Loh yang harusnya ati-ati kan kamu bukan saya, mulut kamu itu loh pengen saya lakban." Cerca arka.
" Enak aja, bapak pikir saya barang yang perlu di lakban?" key tak terima dengan perkataan arka yang selalu menyalahkan mulutnya.
" Terus harus di apain biar diem? Apa harus?.” Tiba-tiba arka menyentuh mulutnya dengan jarinya masih dengan mencoba memalingkan wajahnya.
Key langsung melotot dan memundurkan tubuhnya." Woy woy jangan macam macam ya pak.” Sentak key. " Siapa sih yang macam-macam ? Kamu ini dari tadi nuduh terus!!” arka mencoba terlihat kesal dan sinis, padahal di dalam hatinya ia sangat ingin tertawa saat mengerjai key.
" Lagian cewek tadi itu bukan pacar saya. Dia adik saya, kamu ini selalu berasumsi sendiri.
Hobi baru ya?" ujar arka. " Iya pak, baru banget !!.” jawab key santai tanpa melihat wajah arka.
" Yaudah nih kamu koreksi ini semua lembar jawaban.” Saat arka dan key sudah memasuki ruang
kerja arka. " Oke” key mencoba cuek.
" Kamu sudah makan?"
" Belum pak, laper nih. Pizza dong hehe.” Wajahnya berubah saat mendengar kata makanan yang
membuat bibirnya merekah. " Saya keluar dulu..” pamitnya.
Key mulai mengoreksi satu persatu lembar jawaban di depannya, matanya terfokus pada kalimat-kalimat yang di tulis oleh adik tingkatnya. Kadang ia tersenyum sendiri saat membaca jawaban nyeleneh dari adik tingkatnya itu. Sekitar tiga puluh menit berlalu dengan cepat, key sudah menyelesaikan 22 lembar jawaban yang ia
koreksi. Tangannya mulai lelah, begitu juga dengan matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya berharap bisa memberikan tenaga untuk tetap terbuka. Namun apa daya, matanya kini sudah tak sanggup lagi. Tangganya pun
sudah lelah menggendong bolpoin, akhirnya ia menidurkan kepalanya pada tangan
yang menjadi bantalannya di meja. Perlahan ia mulai terlelap dan mulai berpindah ke alam mimpi.
Tak lama arka masuk ke ruangannya, lagi dan lagi ia menghela nafasnya kasar. " Kapan sih ini anak bersikap manis ? Nyeleneh terus tingkahnya."
" Ketemu tempat nyaman bentar aja udah tidur.." ruruk arka.
" Duh dia katanya lapar, apa gue bangunin aja ya? Atau biarin dia tidur dulu?” tanya arka. Akhirnya arka memutuskan untuk membiarkan key tertidur dulu, ia pun segera melangkahkan kakinya keluar.
" Kenapa keluar lagi bang?" Tanya Sasa. " Dia tidur.." jawab arka cuek.
" Hah? Tidur? Kok bisa gitu?"
" Ngantuk banget kali..." jawab arka cuek. " Iya tau, tapi kan dia lagi berurusan sama lu sebagai dosen." Sasa mulai terheran-heran dengan sikap unik key.
" Dia mah mana pernah bersikap manis sama gue."
" Lah emang lu ngarepin dia bersikap manis sama lu?” tanya gadis berambut panjang itu.
" Nggak lah, maksud gue sopan santun dia ke gue sebagai dosen hampir enoll" jawab arka ketus. " Loh kok gitu? Dia keliatan cewek baik-baik kok." Belanya.
" Entah, setiap dia ngeliat gue ngeggas Mulu omongannya." Jawab arka sembari terduduk di sofa di depan tv. " Hah serius? Wah unik juga ya.." sahutnya sembari tersenyum.
" Unik apanya? Dia itu bikin gue darah tinggi terus." Cerca arka tak terima melihat
adiknya membela key.
" Ya unik lah, tumben aja baru ada mahasiswi lu yang engga pecicilan, kegenitan dan sok
kecantikan." Ucapnya yang ikut terduduk dan meletakan gelas berisi jus yang tadinya untuk key di meja di depannya. " Ya berarti dia engga normal lah, masa dia bilang muka gue butek." Cerca arka tak terima jika teringat key sering mengatainnya seperti itu.
" Serius? Hahaha wah asli kocakk tuh cewek.." gadis itu tertawa renyah.
" Heh mulut lu sa!!" sentak arka.
" Wkwk serius deh bang unik banget, coba aja calon kakak ipar lu tuh dia." Gadis itu mulai berangan-angan. " Apaan sih lu...” ujar arka yang bangkit dan pergi meninggalkan adiknya yang sedang membayangkan tingkah unik key.
*
" Pak Kok saya nggak di bangunin?" teriak key yang keluar dari ruang kerja arka. Arka pun
segera keluar dari kamarnya. " Ya kan kamu lagi tidur, saya jadi nggak enak...” sahutnya yang muncul dari balik pintu.
" Pak saya laper..” rengeknya sembari mengelus perutnya." Tuh Sanah makan..” suruh arka yang menunjuk meja makan yang berada di ujung.
" Hey .." sapa gadis yang keluar dari kamar di depan kamar arka.
" Hey .." kikuk key menyapa balik gadis di depannya.
" Sasa, adiknya bang arka. Dosen butek lu.." sapanya yang langsung membuat key melek.
" Hah? Hem.uem..anu.." key semakin di buat kikuk.
Wah si arka ngadu apa aja tuh ke adiknya?
Jangan bilang dia jelek-jelekin gue !!
" Santai aja kali." Sahut gadis yang tersenyum ke arah key yang begitu manis.
" Hah, iya Key ..” sapa key memperkenalkan diri.
" Kok bisa sih lu jadi asdos dia?” tanya sasa sembari menarik tangan key emnuju ruang makan. " Karena hukuman.’ Singkat key.
" Hukuman? Hukuman gimana?” tanya sasa semakin penasaran. " Gue nggak sengaja
ngelempar sepatu terus kena mukanya.” Jawab key yang menarik kursi di ruang
makan itu.
“ silahkan di makan..” sahut sasa.
" Hah? Serius?” lanjutnya.
" Iya tapi kan gue ga sengaja, iyakan pak?’ key terlihat sudah tidak bersalah sama sekali
terhadap arka, buktinya kini ia dengan lancar menceritakan masalah yang dulu membuat ia kelimpungan. " Wahh kok keren banget sih..." Cicitnya " Sa, apanya yang keren? Abang lu kena timpuk di bilang keren?" cerca arka yang
menyusul duduk di kursi meja makan.
wih gue kira si arka manusia yang nggak bisa kalo nggak ngomong formal..
ternyata dia nggak sekaku itu cuy..
" Keren lah bang, mana ada mahasiswi yang berani gitu. Cuman lu doang key yang berani.”
Ujar sasa yang melihat key yang sedang asik menyuapkan pizza ke mulutnya.
" Terus terus, gimana jadi asdosnya bang arka.? Asik?" tanya sasa semakin antusias.
" Butek gue sa.." lagi-lagi key terlalu jujur. " Hah?.” sasa di buat semakin terkejut dengan jawaban-jawaban jujur key.
" Kena semprot dia Mulu, liat muka sewot dia Mulu. Gimana ga butek tuh? Tapi ya untungnya kalo ngajar ke kelas gantiin dia, lumayan lah bisa cuci mata. Banyak cogan juga adik tingkat gue.” Sahut key sembari membrikan senyum kudanya.
" Wahh lumayan banget tuh ya..." sasa terkikih mendengar curhatan key.
" Heh heh, mata kamu ini harus di jaga Keysa.." sinis arka menatap key.
" Hemm, yaelah pak cuci mata aja nggak boleh. Saya butek liat bapak.” Jawab key jujur lagi
yang membuat sasa menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
" Abang lu cerewet amat sih? Heran deh.” Nynyir key pada sasa.
" Emang, dia tuh cerewet, bawel, posesif . Dia pindah ke sini ya karena gue kuliah di sini." Sasa terlihat sedang menyindir arka.
" Oh ya? Wah kasian ya yang nanti jadi istrinya. Nggak kebayang seposesif apa..” Sahut key santai.
" Keysa !! Koreksi tugas mu cepat.” Sentak arka yang kupingnya mulai panas mendengar ocehan dari wanita di depannya.
" Iya iya, galak amat sih..” rengut key.
" Haha tapi dia baik kok, perhatian, lembut...” bela sasa.
" Lembut? Lembut apanya? Ke gue ga ada lembut-lembutnya...” ujar key sembari mengangkat gelasnya.
" Jadi kamu mau di lembutin Keysa?” tanya arka terlihat menggoda.
Uhuk uhuk..
" Hah? Engga pak, enggak makasih.” Jawab key cepat sembari bergidik.
" Wkwk aduh kak lucu banget sih.” Sasa semakin terkekh melihat dua manusia yang sama-sama menjelekan.
" Tapi cuman kurang lembut aja kalo sama Tunangannya.” Cicit sasa yang membuat arka melebarkan mata ke arahnya. " Hah? Tunangannya?” key di buat kepo dengan peryataan sasa. " Iya dia kan udah tunangan.." sahut sasa tanpa memperdulikan arka yang melotot ke arahnya.
" Wah pak kok nggak pernah cerita sih? Kan saya bisa berbagi info ke fans bapak.." ujar key santai, tapi ada sedikit tusukan di dadanya.
" Kamu juga fans nya bukan?’ tanya sasa mengetes key.
" Gue? ck ya kali gue ngefans sama pak arka. Iya engga pak?" tawa key terdengar sumbar karena sasa dan arka terdiam.
Diam.
" Kok kurang lembut kenapa pak?” tanya key semakin penasaran, saat melihat respon arka yang mendadak budeg.
Diam
" Kan mereka di jodohin.” Jawab sasa pada akhirnya.
" Hah? Di jodohin? “ key terkejut dengan pernyataan sasa.
" Kok bapak engga nolak?” key melirik arka yang terlihat acuh dengan nyinyiran dua manusia
di sekitarnya.
" kenapa harus saya tolak? Kamu cemburu? lagian ngapain sih nanya-nanya. Terus kamu juga sa,
ngapain sih cerita?” arka akhirnya kesal dengan semua ocehan dua manusia yang terus membicarakannya.
" Lagian kalian kalo mau ngomongin saya ya jangan di depan orangnya dong. Panas nih kuping!” sentak arka lalu beranjak dari kursinya.
" Loh pak dari pada di belakang lebih engga baik loh.” Jawab key santai.
“ pakk saya boleh pulang?” teriak key saat melihat arka memasuki kamarnya. “ ya..” sahutnya. “
ihh gitu aja marah, nggak seru ya sa..” sahut key pada sasa yang membuat gadis itu tersenyum. Key terdiam sejenak saat mengingat kalimat yang arka tuduhkan padanya.
" tadi gue di suruh ngoreksi, sekarang gue minta balik malah di iyain. gimana sih?" gumam key.
“ gue cemburu? Alhamdulilah gue masih waras untuk tidak cemburu ..” gumam key.
Tapi beda dengan hatinya.