Dodik Aksara Bintara Bangga. Calon pewaris Maha Dewi Group yang mewarisi lebih dari sebagian saham di sana.
Suatu hari, Dodik mengetahui kebenaran orang tuanya yang tersembunyi selama bertahun-tahun. Karena marah, ia kabur dari rumah. Tanpa sengaja, ia tidur bersama seorang perempuan--
Ini hanya tidur! Tidur dalam artian sebenarnya, bukan khusus. Namun, warga desa malah memaksanya menikahi perempuan, yang tak lain adalah anak Pak RT.
Kehidupan Dodik berubah 180 derajat. Tinggal di desa, dikelilingi sapi, dan ibu mertua yang menyebalkan ....
Bagaimanakah kisah kehidupan Dodik selanjutnya?
Instagram: @citragtw_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citra Gtw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Dibodohi Orang Bodoh
Jadi dia mempermainkanku? batin Citra.
Seketika Citra mengasah tatapannya setajam mungkin. Mulutnya mengerucut kesal. “Lepaskan aku!” teriak Citra sembari mendorong Dodik, tetapi Dodik malah menahannya dengan kuat. Posisi di bawah tidak memberikan Citra kekuatan lebih besar.
“Lepaskan aku!” seru Citra lagi.
Dodik malah tersenyum miring. Dia tengah membalas dendam.
“Bukannya kamu akan menjalankan tugasmu sebagai istri?” tutur Dodik.
Dibanding gugup, Citra menjadi ketakutan. Dia hanya bercanda, kan? batinnya.
Dodik melepaskan tangan satunya. Lalu membuat jari telunjuk dan jari tengahnya berdiri dan berjalan pelan menelusuri pipi kuning Citra. Itu hanya sebentar. Kedua jari itu pun bersatu dengan ketiga jari lainnya untuk mengusap dahi Citra sampai ke rambutnya.
“Cie … Adik Citra,” sahut suara anak kecil tiba-tiba.
Dodik langsung menghentikan gerakannya. Dia dan Citra menoleh bersamaan. Rupanya seorang anak laki-laki berada di tengah pintu. Entah kapan pintu itu terbuka. Seingatnya, pintu itu tertutup sebelumnya.
Setelah menangkah basah Citra dan Dodik, anak kecil itu langsung lari sembari berteriak, “Bu! Ada sapi!”
Sa-sapi? batin Dodik tertegun. Karena merasa terhina, dia pun melepaskan tangan Citra dan bangun.
“Siapa yang disebut sapi itu?!” tanya Dodik tersinggung.
Citra juga bangun. Dia langsung memeluk tubuhnya sendiri. Kemudian dia melirik ke Dodik.
“A-apa maksudnya aku?” Dodik menunjuk dirinya sendiri. “Ma-maksudku kita,” tambahnya mengoreksi.
Citra menunduk sembari mengangguk.
“Siapa anak itu?! Berani sekali dia!” seru Dodik. “Bahkan setelah mengelilingi dunia seumur hidupnya, dia tidak akan pernah menemukan sapi setampan diriku.”
“Dia anaknya Bude Titik. Dia udah lihat sapi dinikahkan beberapa kali. Mungkin karena itu—“
“Titik?” sahut Dodik memotong kalimat Citra. “Budemu yang sialan itu, kan? Kenapa dia masih berani ke sini setelah apa yang dilakukannya kepada kita?”
“Gimanapun dia masih keluargaku. Dia ngelakuin itu karena enggak sengaja. Ibu pasti bisa menjelaskannya,” balas Citra.
Dodik mengangguk-angguk. Meski dia belum bisa memaafkan Titik, dia akan mengalah, tidak akan memperumit masalah dengan melebih-lebihkannya.
Pandangan Dodik menurun. Dia masih melihat Citra memeluk tubuhnya dengan wajah tidak baik-baik saja. Seakan-akan Dodik bisa menerkamnya kapan saja.
“Kenapa kamu masih seperti itu?!” seru Dodik.
Citra pun bangun. Akhirnya dia melepaskan pelukannya. Kakinya berbelok bersiap pergi. “E-enggak … enggak papa,” elaknya.
“Apa kamu berpikir aku akan benar-benar menyentuhmu?!” tebak Dodik.
Citra tidak menjawab. Dia pun melangkahkan kakinya.
“Tenang saja. Aku tidak akan menyentuhmu. Seharusnya aku tidak menyuruhmu menandatangani kontrak dengan aturan-aturan itu. Bagaimana kamu bisa menjalankan tugasmu sebagai istri dengan payudaramu yang kecil itu? Kamu tidak akan bisa melakukannya,” ejek Dodik.
Langkah Citra langsung berhenti. Dia pun berbalik dan berjalan mendekati Dodik. Kemudian dia menunduk berulang-ulang. “Maafkan aku, Tuan, maafkan aku.” Dia pun menegakkan tubuhnya. “Maafkan aku karena payudaraku kecil. Haruskah aku membesarkannya?” tanya Citra dengan wajah menyesal.
Dodik terperangah dengan reaksi Citra. Dia tidak benar-benar bodoh, kan? batinnya.
“Tuan. Gimana, Tuan? Apa Tuan tahu caranya? Maksudku, untuk membesarkan payudaraku?” Citra menambahi.
“KEUAAAR!” sentak Dodik. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Dia benar-benar bodoh, batinnya.
Citra pun berbalik. Setelah keluar dari kamar, dia tertawa pelan. “Dia enggak berpikir aku benar-benar bodoh, kan?” gumamnya.
***
Selalu like dan koment.
Untuk yang udah nikah, selamat menemupuh hidup baru (Abaiin aja. Cuma nambahin kata.)
ga jelas2 ceritanya
pusing bacanya ceritanya TDK berkembang itu dan itu lagi di bolak balik