Semenjak Kamu pergi.. Tak tau bagaimana lagi harus menata hati ini. Hancur berkeping terasa hampa tanpa kamu disini. Begitu sakitnya hati, membelenggu jiwa yang entah sampai kapan akan berakhir. Aku sangat menyayangimu Yara, kini aku kehilanganmu, kamu tinggalkan ku bersama dua buah hati kita hingga aku menemukanmu Zalfa Arshila.
Seluruh yang ada pada dirimu tak ubahnya seperti Yara istriku yang telah tiada. Bayangan Yara melekat kuat dalam dirimu. Tapi kusadari.. Shila dan Yara adalah dua orang yang berbeda. Apa rasaku ini karena kedua anak ku atau kah kamu memang mengisi ruang hatiku.. Yang jelas saat ini yang kutahu.. ada sosok baru di hidupku, yaitu kamu Zalfa Arshila.
Lanjutan Kisah cinta Kapten Rivaldi Alfario. Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Ingin bahagiamu
Derasnya hujan membuat kabut membuyarkan pandangan. Bayangan Shila pun tidak terlihat. Rival gemetar gugup mencari kunci mobil yang sudah jelas terlihat di depan matanya. Pikirannya kacau.
"Sayang..tunggu Abang" gumamnya. Rival mengambil ponselnya lalu menghubungi Zein.
"Zein.. tolong bantu jaga anak Abang. Shila kabur"
***
Rival mengedarkan pandangan memutari asrama namun tak dilihatnya bayangan Shila sedikit pun. Di depan pos kesatrian Rival berhenti dan membuka kaca mobilnya.
"Gandhi.. apa kamu lihat istri saya lewat disini??" tanya Rival panik.
"Shila hilang??" tanya Gandhi ikut panik.
Sudah di pastikan Shila tidak lewat disana. Karena anggota jaga pun tidak tau.
"Ijin Danki, coba putar balik lewat jalan belakang. Pintu ke arah pasar tidak di jaga" saran Gandhi.
"Kamu ikut saya!!!" ajak Rival.
"Siap!"
Danki A segera bergeser dan Gandhi mengambil alih kemudi.
--------
"Ijin Dan.. jika berkenan.. bolehkah saya tau apa yang terjadi sampai Shila pergi" tanya Gandhi.
"Shila hamil"
"Haahh"
"Apa yang hah.. Apa tidak boleh wanita yang sudah bersuami terus jadi hamil???"
"Ijin Danki tapi......"
"Biasa saja kalau begini. Saya tidak mau pusing dengan semua kata ijinmu itu" kata Rival memotong ucapan Gandhi sambil terus melihat ke arah jalanan.
"Apa dia tidak ingin hamil anak... Abang???"
"Cckk.. dia salah paham.. Dia mengira aku tidak menginginkan anak ku itu" tak tau kenapa kata semacam curhat itu muncul begitu saja dari bibirnya.
"Sebenarnya Abang mencintai Shila atau tidak??" tanya Gandhi tegas.
"Kamu ini tanya atau bagaimana??? Tidak usah mengada-ada.. sudah sampai seperti ini, sampai bisa mengandung benih Abang, mana mungkin Abang tidak cinta istri Abang" kesal Rival frustasi.
"Maaf bang" jawab Gandhi lirih.
Samar mata melihat jauh ke depan. Rival dan Gandhi melihat Shila berlari ke arah laut dari sebelah pelabuhan.
"Aduh.. mau apa dia bang???" pekik Gandhi sambil mempercepat laju mobilnya mengikuti Shila. Gandhi memarkir asal mobil Rival.
Mobil baru saja berhenti. Rival turun dan berlari mengikuti Shila disusul Gandhi di belakang.
"Deeek.. " teriak Rival memanggil Shila. Shila menoleh lalu berlari lagi ke arah ujung batu karang. Rival menyusul langkah Shila.
"Abang jangan mendekat!" tangis Shila pecah sejadi-jadinya.
"Apa yang kamu pikirkan dek. Kenapa kamu menghindari Abang? Oke.. Abang salah sayang. Sini dek.. bahaya disana" Rival membujuk.
"Shila mau bawa anak Shila pergi. Abang hanya ingin anak dari mbak Yara karena hanya mbak Yara yang Abang cintai"
"Salah paham apalagi ini dek??? Abang sayang semua anak Abang. Abang bapaknya.. nggak mungkin Abang nggak sayang" Ucapan Shila memukul telak perasaan Rival tepat di jantung. Bagaimana bisa ia sampai membuat Shila jadi seperti ini.
"Sejak Abang tau Shila hamil. Abang mendiamkan Shila. Kalau Abang nggak mau anak ini harusnya Abang bilang dari awal" teriak Shila.
"Ya Allah dek, pikiran apa itu?" Bentak Rival.
"Abang lagi banyak pekerjaan di kantor, tanya Oka kalau nggak percaya dek! Jujur Abang memang kaget saat tau kamu hamil, tapi bukan berarti Abang nggak suka Kehamilanmu. Sungguh sayang" Hati Rival sangat sakit menghadapi kejadian ini.
"Terus apa bang?? Shila terlalu menyusahkan Abang?" Shila mundur ke tepi tebing karang yang tinggi itu.
"Dek..sayang.. jangan nekat. Ada anak Abang di perut kamu dek. Demi Allah Abang sayang dia"
Shila tidak mengindahkan ucapan Rival, Shila berbalik akan melompat ke laut. Rival sangat cemas, tangannya menyambar balok kayu di sebelah tali jangkar dengan kakinya lalu melempar kayu itu tepat ke arah Shila agar perhatian Shila teralihkan dan Shila tidak melompat ke laut, tapi naas balok kayu itu malah mengenai belakang leher Shila. Istri Rival itu ambruk, ia masih bisa melihat Rival berlari panik ke arahnya. Rival menangis dan memeluknya erat.
"Sampai akhir pun, Shila tidak akan pernah mendapatkan cinta Abang" lirih nya sambil berlinang air mata.
"Dek, mas nggak sengaja. Ya Allah.. kenapa aku selalu membuat celaka istriku??" Rival gemetar melihat tangannya penuh darah.
"Shila.. sayang"
Shila hilang kesadaran dan tidak ingat apa-apa lagi. Rival segera membawa Shila ke rumah sakit.
***
Disana om Suherman melihat Shila masih tidak sadar di ruang perawatan. Kepala Shila di perban.
"Keterlaluan..!!!!" Rival menarik kerah baju Rival. Kaki Rival sudah sangat lemas, nyawanya seolah tidak tersambung dengan raganya.
Plaaakk.. buuugghh
"Bagaimana caramu menjaga istrimu????"
Tak ada perlawanan dari bapak dua anak itu.
"Kemana saja isi kepala mu. Sudah punya dua anak masih tidak awas menjaga istri. Apa yang terjadi tadi?"
"Salah paham" cuma itu yang keluar dari mulut Rival.
"Salah paham apa??"
"Shila hamil om"
"Astagaaaaaaa Rival!!!! Terus kamu malah mencelakai dia seperti ini???"
"Shila mengira aku tidak menginginkan anak ku om. Dia juga mengira aku nggak sayang sama dia"
"Ini jelas salahmu. Nggak mungkin istri bilang seperti itu kalau kamu cukup memberi nya perhatian dan yang pasti om yakin dia masih mengira kamu tidak menerima anak itu karena kamu hanya sayang sama Yara saja" Rival menoleh ke arah om Suherman.
"Ya Tuhan..jadi benar begitu??? Kamu ini seorang suami Rival. Kamu harus sadar. Istrimu itu Shila"
"Itu nggak benar om. Aku sangat sayang sama Shila. Aku sangat sayang sampai takut Shila akan bernasib sama seperti Yara kalau dia hamil" Gandhi memegangi tubuh Rival yang mulai histeris tak bertenaga. Gandhi tidak menyangka Dankinya mengalami trauma seperti ini.
"Val, Tekankan dalam hati mu sekali lagi. Shila bukan Yara.. dia akan kuat mengandung anakmu sampai saatnya lahir nanti. Jangan membuat mentalmu anjlok sampai bisa menyakiti Shila seperti ini!!!" ucap Om Suherman sambil memijat kepala Rival dan menyuruhnya duduk bersandar agar lebih rileks. Nampak jelas wajah Rival penuh ketakutan dan beban.
"Aku mencintai Shila lahir batin om. Aku menginginkan anak ku dengan Shila" Terasa sekali di hati bayangan Shila saat Rival menutup matanya. Ia menyentuh dadanya dengan sebelah tangannya sedangkan sebelah tangannya lagi menggenggam jemari Shila yang belum sadar.
"Abang sayang kamu" lirih nya.
***
Rival duduk berhadapan dengan Gandhi di sebelah kanan ranjang Shila.
"Sejak kapan kamu kenal Shila" tanya Rival.
"Sejak Shila kuliah bang"
"Pasti kamu cukup lama mengenal Shila" ucap Rival.
"Shila gadis yang tenang dan pintar bang. Sebenarnya dia tidak frontal seperti ini, tapi kali ini aku tidak tau kenapa bisa begini"
Rival tersenyum mendengar nya.
"Biasa khan wanita kalau PMS atau hamil rata-rata seperti ini. Khatam di luar kepala Abang merasakannya"
"Semoga setelah ini saya dapat jodoh yang seperti.... yang saya mau bang" ucapnya hampir menyebut nama Shila.
"Bilang seperti Shila juga nggak apa-apa. Asal jangan bermimpi mengharap Shila kembali padamu. Kamu tau khan Shila milik siapa?" tegas Rival.
"Cckk..Siap?? Milik Abang" gemas Gandhi mengundang tawa Rival.