NovelToon NovelToon
Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO

Status: tamat
Genre:Komedi / Cintapertama / Perjodohan / Nikahmuda / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:8.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adisty Rere

Adult romance

Bijaklah dalam menentukan bacaan. Cerita ini mengandung konflik yang berat. Tak disarankan untuk remaja


Litania atau yang lebih rela dipanggil Litan adalah gadis remaja cantik, ceria dan apa adanya. Hanya saja ia memiliki kelemahan dalam mengatur emosi. Diusia yang masih labil itu, tanpa sepengetahuannya, ia dijodohkan dengan seorang pria tua yang menjadi CEO di sebuah perusahaan otomotif di Jakarta. Keadaan juga memaksanya menerima perjodohan dengan pria berumur yang tak lain tak bukan adalah tetangganya dulu. Sosok yang sangat ia benci hingga rela pindah jauh dari pria itu. Namun, takdir mempertemukan mereka dan keduanya terikat dalam sebuah pernikahan tanpa keikhlasan.

"Bisa gak sih ngomongnya itu sopan dikit? Inget, aku itu suami kamu, lebih tua 16 tahun." Chandra berucap menahan kekesalan.

"Lalu aku harus panggil apa? Cintaku, manisku, sayangku, atau kanda tersayang?" balas Litania kesal. Pukulan di dahinya masih terasa panas. Kini ia juga harus menerima omelan pria tua itu.

"Dasar bangkotan expired."

Akankah sikapnya bisa berubah ketika sudah berubah status sebagai seorang istri?

Lalu apakah bisa Chandra—sang suami—mengubah sikap barbar-nya itu.

Hayu kepoin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adisty Rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi sebelum cinta bersemi lagi.

Hangat, terasa nyaman. Berada di punggung Chandra mengingatkan Litania akan masa kecilnya. Masa kecil yang selalu ia benci tapi juga rindukan. Masa kecil yang selalu menjadi bayang kelam tapi tetap terbayang di ingatan. Masa di mana dirinya selalu tertawa bila berada di gendongan pria itu.

Tak pernah terbayangkan, kali ini punggung itu kembali menggendongnya setelah sekian lama. Mendekapnya lagi setelah melewati hari yang mengerikan. Chandra bagai pahlawan tampan yang menyelamatkan di menit terakhir sebelum bencana.

Mengembuskan napas panjang, Litania makin mengeratkan kalungan lengannya. Dihirupnya aroma tubuh Chandra. Wangi mint, begitu menenangkan.

Maafin aku. Aku salah. seharusnya aku dengerin kata-kata kamu. Litania membatin. Rasa kesal dan sesal menyatu. Membuatnya malu untuk bicara. Selama perjalanan ia hanya bungkam. Tak bertenaga untuk bicara ataupun lainnya.

Aku memang bodoh. Aku to*lol. Lagi, Litania merutuk diri sendiri.

Tibalah mereka di depan pintu hotel. Chandra masih setia menahan beban dan menurunkan tubuh kurus Litania di sisi ranjang. "Kamu tunggu di sini, aku ambil air hangat sama obat dulu."

Litania tak bersuara, hanya anggukanlah respon tercepatnya. Ia perhatikan punggung tegap suaminya itu hingga hilang di balik pintu kamar mandi.

Dada Litania mendadak sesak, air pun tak terasa telah luruh dari pelupuk matanya. Kebaikan Chandra memang tiada bandingan, tetapi dirinya yang diselimuti rasa dendam menolak semua kenyataan. "Maafin aku ... aku sepertinya memang istri durhaka yang gak tau terima kasih."

Pintu bathroom terbuka, Litania dengan cepat menghapus jejak air matanya. Ia ingin tetap dilihat tegar oleh orang lain.

Masih dalam kebisuan. Litania mengamati setiap perlakuan tulus Chandra. Pria itu tanpa jijik mengelap dan merendam pergelangan kakinya yang bengkak akibat ikatan. Lagi, air mata Litania kembali menetes hingga mengenai pergelangan tangan pria beriris hitam itu.

Mendongakkan kepala, Chandra menatap wajah Litania yang sudah bergelimang air mata. "Kamu kenapa nangis?"

Menggelengkan kepala dengan cepat, Litania mencoba membohongi mata Chandra. "Gak kok. Aku gak nangis," kilahnya.

Menghela napas panjang, Chandra rebahkan dirinya di samping Litania. Ia rengkuh tubuh Litania yang sudah bergetar halus. "Nangis aja. Jangan di tahan."

Terisak, Litania sudah tak bisa berpura-pura kuat. Ia tumpahkan segala ketakutan yang tertahan sedari tadi. Ia peluk erat tubuh kekar Chandra. "Bang ... aku ... aku minta maaf. Andai aja aku dengerin kamu, semuanya gak akan kayak gini ...."

"Udah, jangan di pikirin lagi." Mengusap punggung Litania, Chandra mengembuskan napas lirih. Dibelainya perlahan kemudian kembali berkata, "Semua akan kembali normal, jadi jangan takut lagi."

"Tapi, aku—"

"St, udah. jangan diungkit. Kamu udah aman. Si brengsek itu juga udah di kantor polisi." Chandra lepaskan rangkulan lalu mengelap jejak kesedihan Litania dengan sapu tangan. "Sekarang kamu tenang, ya ... kita obatin tangan kamu dulu."

Litania melihat pergelangan tangannya yang membiru, membiarkan tangan gemetarnya itu dipegang oleh Chandra. Memasrahkan diri pada pria itu agar mengobati luka fisik dan tanpa sadar juga menghapus luka batinnya.

"Kenapa kamu baik banget? Kamu gak benci sama aku? Aku udah sering banget bikin kamu kesel. Kamu gak marah?" tanya Litania setelah selesai dengan tangisnya.

"Enggak, aku gak bisa marah kalo sama kamu."

Menautkan alis, Litania mulai penasaran akan ucapan Chandra barusan. "Kenapa?"

Tiba-tiba terlintas sekilas ucapan Chandra ketika tengah memukul Reno. "Bang Chandra. Aku mau nanya."

"Hmm, apa?"

"Apa kamu suka sama aku?" tanyanya ragu-ragu. Ia ingin memastikan pendengarannya juga perasaan pria itu.

"Iya." Chandra menjawab singkat.

Litania terdiam. Ia tarik tangannya karena gugup. Salah tingkah karena jawaban singkat Chandra.

"Jangan gerak dulu. Ini belum dikasih salep." Chandra kembali meraih tangan Litania.

"T-tapi sejak kapan? Bukannya Abang benci banget ya sama aku?" Litania makin gusar, ingin berhenti bertanya, tapi perasaan tak bisa diajak kompromi. Lagi-lagi ia cecar pria yang tengah mengoleskan obat itu dengan pertanyaan. "Bang Chandra lagi gak becanda, 'kan?"

"Finish." Chandra tersenyum hangat kala pengobatan penuh cinta darinya telah selesai. Ia arahkan matanya menatap wajah Litania yang sudah berubah warna—merah bagai tomat. "Tentu saja enggak. Perasaan bukan lelucon Litania ...."

"Lalu ... ucapan itu serius?"

"Emb." Chandra mengangguk seraya mencubit pipi Litania. Menaruh kotak obat di bawah kolong ranjang, Chandra kembali mengunci pandangan gadis itu. "Aku serius sayang sama kamu. Tadi aja aku hampir gila. Aku takut kamu kenapa-napa. Untung aja ponsel kamu aktif, jadi polisi bisa mencari keberadaan kamu."

Lagi, Litania terbengong. Tanpa sadar mulut sedikit menganga.

"Bisa gak ekspresinya biasa aja," goda Chandra. Senyumnya sedikit terukir di tengah kecanggungan.

Membuyarkan keterpanaan, Litania menelan ludah dan kembali bertanya, "T-tapi, kenapa semenjak ketemu aku, kamu gak pernah ramah. Selalu aja judes?"

"Itu karena aku bersyukur ketemu kamu lagi. Cuma gengsi buat mengakui."

"Kenapa?" Litania berpikir sejenak, lalu kembali meluncurkan pertanyaan, "Itu artinya Abang beneran suka sama aku?"

Litania makin manatap dalam iris hitam Chandra. Liar, bola mata itu bergerak dengan cepat. Menandakan sang empunya mata tengah gusar.

"Itu ... itu ...." Chandra menggantung lisan. Tak tau harus melanjutkan kata.

Namun, tanpa diduga. Wajah terkejut Litania melemas, berganti menjadi murung. Ia senang ternyata Chandra menyukainya tapi merasa bersalah di saat bersamaan. "Aku gak pantes kamu suka."

"Kenapa?"

"Itu, Reno ... karena Reno udah ...."

Menangkup wajah sedih Litania, Chandra malah mengulas senyum hangat. "Di mana? Di mana dia menyentuhmu?" Chandra menjeda ucapan, manatap dengan mata teduhnya dan mulai mendekatkan bibir di dahi Litania. "Apa di sini?"

Membelalak, Kegugupan Litania makin menjadi. Ia tak menjawab, hanya mata saja yang mengerjap. Sebuah kecupan hangat mendarat di dahinya.

"Di mana lagi?"

Litania makin merasa bersalah, ia gigit bibir bawahnya. "Itu—"

Tanpa aba-aba, Chandra menempelkan bibir mereka. Memagut dengan perlahan. Membiarkan naluri cinta memimpin. Meraup dengan lembut agar Litania mau menerima cintanya.

Melepaskan pagutan, Chandra lap bibir Litania dan menempelkan dahi mereka. "Ayo, kita mulai dari awal. Aku takut kehilangan kamu, Litan. Aku gak peduli dengan umur. Aku anggap pertemuan gak sengaja kita setelah sekian lama hingga kita berakhir menikah adalah karena jodoh. Aku juga gak peduli jika ada yang mencibir kita. Yang aku tau, kita sekarang udah nikah. Jadi lakukan peran kita dan jujurlah dengan perasaan."

****

Menjelajahi jalanan, Litania sengaja membuka kaca mobilnya. Membiarkan angin kencang menerpa wajah. "Aku suka di sini. Aku suka aroma pantai."

"Iya, kalau ada waktu nanti kita ke sini lagi." Chandra berucap seraya menipiskan bibir. Memandang tawa Litania membuatnya merasa bahagia. Serasa lega. Kebohongan dan rahasia yang telah lama ia jaga rapat ternyata memberikan efek besar ketika dibuka. Litania tak marah dan malah memilih melupakannya.

"Ngomong-ngomong kita mau ke mana?" tanya Litania.

"Nge-date."

Merona, pipi Litania menegang. Mendengar jawaban singkat Chandra membuatnya sedikit melambung. Kencan? Kata yang sudah lama ia impikan. Apalagi bersama sosok yang ia suka sejak lama. Asli, andai ada sayap. Sudah dipastikan ia akan terbang.

"Nge-date ke mana?" tanya Litania lagi.

"Rahasia, dong."

1
Bungatiem
yaaa males dah nerusin
Retno Isma
🌹🌹🌹🌹🌹
Retno Isma
👍👍👍👍👍👍👍
ZHANG LINGHE 🥰🥰🥰
😁
Wullan Cahyo
sumpah aku baca nihh novel udah berulang-ulang tapi tetep ngakak 🤣🤣
awal baca mungkin 2021 dan ini udah ke3 kali ny hahahah
sampe kram perut aku 🤣🤣🤣
Anie Jung
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Muji Mbakyu
makin seru ceritanya
Muji Mbakyu
bagus makin penasaran
Muji Mbakyu
makin lucu ceritanya
Muji Mbakyu
bagus ceritanya
Aqila Nurul
aku padamu authoorrr ,imajinasimu lbih tau 😘😘😘
Aqila Nurul
watt arjun bkin emosi nih litan
Aqila Nurul
klo soal duit emak2 nomor satu jngan ktingalan 🤣🤣
Aqila Nurul
coklat jngan jangan ngidam thorr
Aqila Nurul
Luar biasa
Aqila Nurul
makin seru nih
Aqila Nurul
jngan ksih kendor litan biar linglung dlu bang kocan nya
Aqila Nurul
cakep litan dewasa sdikit mantul biar bang kocan makin cinta
Aqila Nurul
madu jadi racun dlam rumah tangga
Aqila Nurul
ya otor gk sru msak gk ada pemanasan udah d skip hadehh thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!