Cinta terpendam adalah perasaan suka diam-diam. Mencintai sendiri.
Setiap insan pasti pernah merasakan Cinta Terpendam.
Memendam cinta walau hanya sehari, atau bahkan lebih.Terlepas dari cinta itu terbalas atau tidak. Tetap cinta itu itu sempat terpendam.
Beruntung bagi seseorang yang memendam cinta, saat cintanya terbalas. Terlepas berapa lama cinta itu terpendam.
Namun, bagaimana jika cinta terpendam berlabuh pada seorang pembenci?
Khadziya Putri seorang gadis berusia 17 tahun, tiga tahun memendam cinta membuatnya tersiksa akan sakitnya mencintai dalam diam.
Reynan Prayoga laki-laki yang membuatnya berdebar-debar, membuat Ziya salah tingkah, tapi dia juga mematahkan hati Ziya.
Reynan begitu membenci Ziya, setiap berhadapan Reynan akan melontarkan kata kasar dan pedas.
Kenapa Reynan begitu membenci Ziya? Akankah benci berubah jadi cinta?
Mungkinkah cinta terpendam cukup lama akan terbalas?
Ikuti kisahnya di Novel ini. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marta Linda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jatuh Sudah Harga Diriku!
Tiga hari cukup panjang bagi Redo, menunggu hari itu jelas membuatnya tidak sabar. Berbeda dengan Ziya, semakin mendekati hari itu, semakin gugup dia rasakan.
Selama tiga hari menunggu Redo terus memberikan perhatian lebih pada Ziya. Redo selalu bersikap manis untuk menarik hati Ziya, dia tetap menjemput Ziya pulang sekolah tanpa menanyakan perasaan Ziya. Dia hanya akan menanyakan hal itu saat waktunya tiba.
Saat ini mereka di dalam mobil menuju rumah Ziya, Redo membuka percakapan membuat Ziya merasa nyaman bersamanya. Redo bisa mengimbangi Ziya yang pendiam. Meski di hatinya tak sesuai dengan apa yang dia lakukan.
"Kamu sudah siap untuk besok," pancing Redo.
"Siap," jawab Ziya singkat.
"Aku ingin kamu menerimaku, aku akan gila jika kamu menolak," ucap Redo berlebihan.
"Jatuh sudah harga diriku!" batin Redo.
Redo pria tampan biasa di kejar-kejar wanita karena ketampanan, kali ini harus mengejar wanita demi menang dalam taruhan. Dia mengeluarkan semua kemampuannya menarik hati Ziya.
Mendengar kata-kata Redo membuat Ziya bahagia, sebegitu cintakah Redo padanya. Dia benar-benar merasa di cintai. Dia sudah memutuskan akan menerima Redo.
"Kita mampir ke Cafe depan dulu ya." Ucap Redo.
Ziya mengangguk menanggapi pertanyaan Redo. Redo ingin membeli makanan untuk ibu Ziya. Mobil berhenti di depan cafe, Redo turun lalu masuk ke dalam cafe itu. Ziya mengamati dari dalam mobil, hatinya menghangat mendapati Redo begitu perhatian pada ibunya.
"Dia begitu baik. Aku tidak tega untuk menolaknya, dia terlalu baik untuk tersakiti." bisik hati Ziya.
Tidak lama Redo tampak keluar cafe dengan tentengan di tangannya. Ziya yakin itu makanan yang Redo akan bawakan untuk ibu kali ini, Redo tidak pernah lupa membelikan sesuatu untuk ibunya setiap kali Redo mengantarnya pulang.
Meski senang mendapati Redo perhatian begitu, tetap saja Ziya merasa tidak enak dengan kebaikan Redo.
"Kenapa harus repot-repot," ucap Ziya setelah Redo duduk di kursi kemudi
"Ini tidak merepotkan, aku senang melakukan ini." Ucap Redo berbohong.
"Kau tidak tau, bahkan ini sangat merepotkan bagiku." batin Redo.
Demi sebuah kemenangan dalam taruhan Redo melakukan semua itu. Ya, Khaira menantang Redo untuk menaklukkan hati Ziya agar berpaling dari Reyhan. Sebagai sahabat Khaira prihatin akan nasib cinta Ziya yang bertepuk sebelah tangan, dia ingin Ziya melupakan Reyhan dengan menghadirkan Redo di kehidupannya.
Tidak lama mobil terhenti di depan rumah Ziya, Redo dan Ziya turun dari mobil melangkah menuju pintu.
"Kenapa turun tidak menungguku, sudah ku katakan jangan turun jika aku belum membukakan pintu untukmu," ucap Redo sembari melangkah.
Redo sengaja mempermasalahkan hal-hal kecil yang dia anggap akan berdampak besar baginya. Ziya yang turun mobil tanpa menunggunya membukakan pintu jadi masalah baginya. Dia ingin turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobil penumpang untuk Ziya layaknya memperlakukan gadis pujaan hati. Dengan begitu dia yakin Ziya akan merasa di cintai.
Redo dan Ziya memasuki rumah secara bersamaan, tidak tampak ibu di sana.
"Duduklah, aku akan menemui ibu." Ucap Ziya.
Redo mengangguk kemudian duduk, sambil menunggu ibu Ziya dia membuka ponsel mengambil gambar fotonya dan mengirim foto itu pada Khaira.
📨Siapkan hadiahku, besok aku akan mengmbilnya.
Pesan itu di kirimkan Redo pada Khaira setelah dia berhasil mengirim fotonya. Dia menunggu balasan pesan dari Khaira namun tidak ada.
Tidak lama tampak Ziya muncul dengan ibu di belakangnya. Ibu tersenyum merekah melihat tentengan Redo yang berada di atas meja. Dia bisa menebak yang di bawa Redo kali ini makanan mahal bila di lihat dari paperbag yang bertuliskan salah satu cafe ternama di kota itu.
"Nak Redo tidak usah repot-repot, ibu jadi tidak enak kalau Nak Redo bawa makanan terus. Kesannya ibu jadi keenakan," ucap ibu Ziya basa basi.
"Tidak merepotkan, Bu. Ini sudah jadi kebiasaan bagiku, jadi tidak bisa kalau datang dengan tangan kosong. Di terima ya, Bu," ucap Redo menyodorkan paperbag berisi makanan tersebut. Lagi-lagi Redo harus berbohong.
"Terima kasih Nak Redo, ayo kita makan sama-sama," ajak ibu Ziya.
"Tidak, Bu. Saya akan langsung pulang," jawab Redo lalu berdiri berniat untuk pamitan.
"Jangan begitu, tidak boleh menolak. Ayo!" ibu menarik tangan Redo memasuki rumah menuju dapur. Redo tidak bisa menolak.
Ziya menyiapkan makanan dia tas meja. Redo memperhatikan Ziya yang cekatan mempersiapkan perlengkapan untuk makan. Semua tidak lepas dari pandangan ibu. Ibu memperhatikan Ziya dan Redo bergantian. Dia tersenyum bangga mendapati Redo seperti terpesona menatap Ziya tanpa mengalihkan tatapannya sedetikpun.
Ibu berdehem yang mampu mengalihkan tatapan Redo ke arah ibu.
"Ziya sudah terbiasa melakukan semua pekerjaan rumah layaknya seorang ibu rumah tangga. Tidak ada yang tidak bisa dia lakukan, dia serba bisa. Dia anak baik, ibu harap kamu bisa menjaga hatinya. Jangan pernah sakiti dia." Ibu berkata serius.
"Iya, Bu." Meski tidak yakin dengan jawabannya, Redo tetap mengucapkannya.
Redo kepikiran akan ucapan ibu Ziya, dia merasa bersalah melakukan semua ini. Berpura-pura manis di depan dua orang yang mempercayainya, menyakiti ibu dan anak hanya demi sebuah hadiah.
"Nak Redo," suara ibu membuyarkan lamunan Redo.
"Mikirin apa, sampai gak dengar ibu ngomong. Masih muda udah banyak pikiran aja," ucap ibu.
"Ziya di sini, bukan di sana," celetuk ibu
"Ibu Apaan sih," ucap Ziya malu.
"Maaf, Bu. Saya mikirin ujian akhir yang sebentar lagi," ucap Redo setelah diam sesaat mencari alasan yang tepat.
"Oalah, kirain ibu mikir apaan," ucap ibu Ziya
"Jangan terlalu di pikirin, di jalani saja. Rajin belajar, semua akan mudah jika kamu rajin belajar." Ucap ibu yang percaya akan perkataan Redo.
Redo mengangguk samar, lagi-lagi dia berbohong. Mereka bertiga melanjutkan makan dengan di selingi obrolan dan candaan dari ibu. Sikap ibu Ziya yang penuh canda dan tawa mampu membuat hati Redo menghangat, berbeda dengan Mamanya yang sibuk dengan diri sendiri tanpa memperhatikan anak-anaknya.
Saat sedang makan adik Ziya memasuki dapur dengan mengucap salam, dia segera mengambil duduk tepat di sebelah Ziya berniat akan ikut makan. Matanya tak lepas memandang makanan yang tidak pernah terjamah lidahnya itu, tidak ingin melewati kesempatan yang ada, dia mengambil piring namun terhenti saat mendapat jeweran di telinga dari kakaknya.
"Adek! cuci tangan dulu. Kamu itu baru pulang, tanganmu kotor begitu mau ambil makanan," ucap Ziya dengan nada sedikit tinggi.
"Aduh, Kak. Sakit Kak." Ucap Adik Ziya meringis.
"Taruh piringnya dan cuci tangan!" Perintah Ziya
"Iya." Ucap Tian meletakkan piring dengan wajah meringis menahan sakit di telinganya.
Bersambung...
Mohon dukungannya teman-teman. Maaf belum bisa update setiap hari. Author akan usahakan mulai besok akan up setiap hari. Kasih LIKE, dan VOTE biar author semangat up nya. Terima kasih buat yang sudah kasih Like, rate5 dan Vote di novel ini. Ailopyu all.
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉