Kedua orang tuanya meninggal berbarengan, tiga adik kecilnya terancam kelaparan, Adeline Dewi dipaksa untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih instan daripada sekedar 'pendamping bayaran'. Memang dasar semprul, ia nekat menjadi ART di rumah konglomerat memalsukan foto di ijazah dengan dokumen dari calon kandidat sebelumnya yang ia tipu.
Tujuan utama Adeline, mencuri dan balas dendam.
Sedikit-sedikit barang mewah yang tampaknya tak terpakai, ia ambil dan ia jual. Syukur-syukur dapat perhiasan.
Tapi aksinya ketahuan oleh pemilik rumah, Argan Atmorajasa. Salah Adeline sendiri, dengan seenaknya mencium laki-laki itu di depan teman-teman Argan. Sudah pasti pria itu langsung menandai Adeline.
Tapi, ada alasan kuat kenapa di usia 36 Argan masih melajang. Dan saat tahu alasannya, membuat Adeline ingin mundur saja rasanya.
Di lain pihak ia juga diganggu oleh Dewa, Si Kepala Bodyguard dengan pesona luar biasa. Ia menyimpan sejuta misteri, apakah termasuk rahasia Adeline juga?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Dekat Nih
Setelah Rinjani dirasa sudah berpenampilan ‘sempurna’, Adeline pun membersihkan kamar mandi, mengisi supply toiletries yang habis, nyapu, ngepel, nyedot debu pakai vacum, nyuci keset, ganti sprei (btw, kalau di rumah orang kaya, handuk dan sprei diganti setiap hari), dia juga vacuum sofa dan gorden, pasang pengharum ruangan, dan kegiatan per-ART-an lainnya.
Sekarang tinggal bagian kolong Ranjang Rinjani yang sempit, mau tak mau kasurnya harus diangkat dulu.
Latex ternyata sangat berat kalau harus diangkat oleh Adeline sorang diri.
Jadi wanita itu melongok keluar kamar Rinjani untuk mencari seseorang random yang lewat dan bisa dimintainya bantuan.
Kebetulan...
Dewa lewat.
Cara jalannya masih agak pincang, dia sedang sibuk dengan tabletnya. Sepertinya baru memeriksa beberapa bagian di rumah itu.
“Pak Dewa!” panggil Adeline sambil menghampirinya.
Dewa pun berhenti dan tersenyum sumringah ke arah Adeline.
“Pak Dewa bisa-“
Cup!
Iya, pria itu mencium Adeline sekilas, di bibir wanita itu.
Sekilas tapi langsung bikin mogok otak.
Rasanya dunia Adeline langsung berhenti beroperasi, tapi yang beda sendiri, area tengah pahanya langsung tantrum.
“Ah...” Adeline sampai spechless.
Dewa menegakkan tubuhnya dan tersenyum manisssss syekaliiii
Tapi senyumnya memang menghipnotis sih. Bayangin pas mau ngebegal, disenyumin, jadi sungkem. Se-menyenangkan itu memang.
“Kan kamu sendiri yang mau di cium saya setiap pagi.” Begitu kata Dewa.
“I-iya sih...” desis pelan Adeline karena otaknya masih pingsan. Harus dikagetin pakai colokan listrik kayaknya.
“Saya waktu itu menolak ya. Sekarang kayaknya saya berubah pikiran. Tapi cium saja ya, kalau yang lain-lain nanti kita bicarakan lagi.” Kata Dewa.
“Ha...ah...” des ah Adeline langsung lemas.
“Muka kamu merah banget loh... Perlu kompres dulu nggak?”
Merah?! Adeline bagai terhenyak. Lalu ia pun menampar dirinya sendiri.
Plakk!!
Sadar woy Elin!! Jaga wibawa lo! Berapa ribu orang yang pernah lo cium, masa cuma gini doang muka lo merah! Macam perawan aje lu!! Adeline memarahi dirinya sendiri.
“Hey...” Dewa meraih telapak tangan Adeline lalu mengusap pipi wanita itu, “Jangan nampar diri sendiri dong, memang nggak sakit?”
Adeline tertegun melayang ke langit.
“Pak, kalau dirimu merayu saya sekali lagi, saya benar-benar akan menyeret Pak Dewa ke kamar. Biarin ada yang bilang ‘masih pagi’...”
Dewa pun terkikik geli.
“Takut ah...” desisnya sambil melepaskan tangan Adeline.
“Ada yang bisa dibantu Mbak Ade?”
“Itu... angkatin kasurnya Ririn, saya mau bersihin kolongnya.”
**
Pukul 9 WIB. Beres sudah kamar Rinjani, sekarang tinggal kamar Argan. Adeline masih Shock, entahlah apa saja yang ia bersihkan tadi di kolong ranjang Rinjani yang jelas ia dan Dewa sepanjang acara bersih-bersih saling menatap.
Mau romantis, tapi ada Rinjani.
Mau berlagak cuek, tapi si Dewa ganteng banget.
Susah deh...
Adeline membenturkan kepalanya ke pintu Argan.
Niatnya sih mau mengetuk tapi kayaknya otaknya juga butuh dibenturkan saking berbunga-bunganya. Hal itu mengganggu fokusnya bekerja, apa lagi Boss Besar lumayan bawel.
“Misiii Pak Argaaaaannn...” gumamnya memanggil Argan.
Belum ada jawaban dari dalam kamar.
“Paakeeeeettttt?” panggil Adeline lagi.
Masih hening.
Adeline tengok kiri, tengok kanan, nggak ada orang alias aman.
“Boooooss, lo di dalem lagi pingsan apa lagi c+li?!” tegur Adeline.
Brakk!!
Argan membuka pintu kamarnya dengan wajah malas, lalu tangannya terulur ke leher Adeline, mencekik wanita itu dan langsung menariknya masuk ke dalam kamar.
“Hoek!” erang Adeline sambil tertarik masuk.
Dan sekali lagi Argan membanting pintu kamarnya agar tertutup.
“Ngomong tuh yang ‘beres’ sekali aja bisa nggak sih?! Awas lo kalo di Intercontinental lidah lo kebelit, gue pecat langsung lu.” Gerutu Argan sambil meneruskan kegiatannya di kamar mandi.
Pria itu tampaknya baru selesai mandi, dan hanya berbalut handuk. Terlihat tubuhnya masih basah oleh butiran air. Pantas saja ia tidak menyahut waktu Adeline memanggilnya.
“Iyaaa iyaaa, lain kali gue langsung masuk aja, nggak peduli lo di dalem lagi kayang...” desis Adeline.
Wanita itu menyalakan vacuum cleanernya dan mulai membersihkan kamar.
Tidak banyak yang ia bersihkan karena tadi malam sudah ia persiapkan.
Lalu ia masuk ke dalam kamar mandi Argan, pria itu melotot tajam ke arah Adeline sambil menggosok giginya.
“Serius lo masuk kamar mandi di saat gue ada di dalem?!” seru Argan kesal.
“Memang apa sih yang bisa dilihat?” balas Adeline sambil menggeser posisi Argan menggunakan pinggulnya dan membuka laci wastafel, ia mulai mengisi supply toilettiries.
“Lo bener-bener kurang ajar ya.”
“Boosss?”
“Apa? Gue belum ganti c ela na Dalam!”
“Bukan itu Boss, sensi banget sih lo.” Gerutu Adeline. “Gue entar harus ngapain di Intercontinental? Tebar pesona atau gimana? Siapa aja sih yang dateng? Klien lo? Relasi?”
Argan berkumur, lalu ngelap wajahnya dengan handuk.
“Ceritanya sambil pijetin kaki gue ya? Sama ganti perban nih...” desis Argan sambil keluar dari kamar mandi.
Ia membuka handuk yang melilit pinggangnya, dengan cara yang tidak biasa, ia lebarkan, ia panjangkan lalu ia selepet bok ong Adeline.
Pletakk!!
“Woy!!” seru Adeline kesal.
“Handuknya gerak sendiri.” Desis Argan cuek.
**
Mereka mengobrol mengenai hal-hal penting yang akan Adeline hadapi nanti, sambil Adeline memijat kaki besar Argan. Argan agak mengernyit saat jemari Adeline sampai di area pangkal pahanya. Ia menggunakan Boxer, namun jelas risih saat jemari Adeline menyusup ke sela-selanya.
Ia tidak terlalu suka berdekatan dengan wanita, Adeline adalah salah satu wanita yang dekat dengannya selain Rinjani. Adik palsunya.
Itu pun mau tidak mau ia harus dekat, karena ia kan sedang menyamar jadi kakaknya.
Namun kali ini berbeda.
Ia merasa kesemutan di area sensitifnya.
Hal yang aneh.
Karena sejak dulu di area itu Argan tidak merasakan apa pun seakan tidak ada aliran darah yang mondar-mandir di sarafnya.
Dokter memang bilang itu hanya sementara, tapi tidak tahu kapan sembuhnya.
Untung saja setelah beberapa saat Adeline pindah ke telapak kakinya, jadi Argan agak rileks.
Sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa, Pria itu menengadahkan kepalanya.
Adeline memperhatikan tingkah laku Argan.
Pria itu seakan tanpa waspada saat berhadapan dengan Adeline.
Hal yang bagus, karena itulah tujuan Adeline. Membangun kepercayaan, mencuri, lalu ia jatuhkan sejatuh-jatuhnya.
“Jadi sepakat ya Boss, Kita hanya ‘dekat’ saja. Bukan pacar. Kalau ada yang tanya, bilang saja kita besti-an.” Kata Adeline sambil mencuci tangannya.
“Hm... Pers bisa kebat-kebit kalau tahu gue punya pacar. Gue nggak mau mencolok. Jadi kita biarkan bermakna bias.” Argan memakai pakaian yang kemarin dipilihkan Adeline lalu mengangguk-angguk. Ia mengakui kalau sense of fashionnya Adeline lumayan bagus.
Adeline memilihkannya kemeja polo casual dengan celana khaki dan sepatu semi kets. Untuk jam tangannya adalah kesukaan Argan, jam dengan tali karet.
“Boss, pakai parfum yang wanginya lembut ya, udah gue taro di meja tuh.” Adeline masuk ke kamar mandi.
“Lo mau ngapain? Demen amat bersihin toilet.”
“Mau mandi.”
“Mau... apa?”
“Mau mandi lah Tuan Mudaaaaa, lo mau gue ke club bau ketek? Bukannya bikin harum nama Atmorajasa, bisa-bisa jadi bikin apek tujuh turunan!”
“ Ya masa mandi di kamar mandi gue?!”
“Terus di mana? Di kamar mandi Bodyguard bisa-bisa gue di-beng-beng!”
“Ya kan ada kamar mandi Rinjani, ada kamar mandi ART di paviliun seberang!”
“Kamar mandi Rinjani udah gue bersihin, udah kinclong kering fresh. Kalau kamar mandi paviliun kejauhan, gue lagi dibenci gara-gara lo mengistimewakan gue. Ya gue tahu gue ini memang cetar luar biasa, tapi kan jabatan gue masih ART, Bu Siti aja langsung buang muka kalo ketemu gue...” Adeline mengomel sambil menutup pintu kamar mandi.
Setidaknya, Pikir Argan, Pintunya ditutup.
“Ganjel aja pakai kursi kali ya biar nggak bisa keluar... hehe.” Desis Argan. “Ah nggak ah, nanti gue diomelin Dewa.”
gasss🔥🔥🔥🔥👌