Arumi sangat kesal dengan kedua orangtuanya. Di umurnya yang belum genap 23 tahun sudah di nikahkan dengan laki-laki yang tidak dia sukai. Meski laki-laki yang menjadi suaminya itu sudah ia kenal. Tapi tetap saja ia membenci Akbar. Bahkan di belakang Akbar, Arumi menjalin kasih dengan laki-laki lain yaitu salah satu cowok terpopuler di kampusnya.
Apakah Akbar akan mengetahui kelakuan Arumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memikirkan cara
Dengan kasar Arumi mengambil bantal dan selimut di ranjangnya hingga Akbar tidak kebagian selimut. Arumi akan tidur di sofa meski tidak luas seperti ranjangnya. Yang penting tidurnya tidak bersisian dengan Akbar.
"Laki-laki *ialan. Emang pinter banget kalo ngejawab. Nggak soal ngomong, nggak yang lain. Selalu saja aku yang kalah." Gerutu Arumi dalam hati sambil mendekap bantal dan selimut. Berjalan ke sofa.
Arumi meletakkan bantal dan selimut dengan kesal. Baru tubuhnya duduk menyandar. Ia harus mencari cara untuk mengalahkan Akbar. Karena laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu pintar sekali dalam segala hal. Dan Arumi akui itu.
"Tapi bagaimana caranya ya?" Arumi mengetuk-ngetuk hidungnya dengan jari telunjuk.
Sementara Akbar yang memang belum tidur, memandang Arumi dengan pose tubuh miring dengan tangan kanan sebagai penyangga kepala. Alis Akbar terangkat satu ketika Arumi seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Mikirin apa kamu?" Akhirnya Akbar bertanya juga karena penasaran.
Tapi tidak mendapat jawaban karena Arumi benar-benar berpikir keras untuk mengalahkan Akbar. Sehingga gadis itu tidak mendengar karena saking fokusnya memikirkan cara.
"Rum, Arumi. Arumi..." Panggil Akbar ketiga kali.
Nihil, Arumi masih tidak mendengar suaranya. Akbar beringsut bangun dari ranjang lalu menghampiri Arumi, berdiri di depan gadis itu. Akbar membungkuk, tangannya mengibas-ibas di depan wajah Arumi agar istrinya itu sadar dari lamunan.
Akbar berdecak karena Arumi tidak merespon sama sekali. Hingga dengan usil, ia menoyor kening Arumi membuat kepala gadis itu mendongak.
"Aww.." Arumi tersadar.
"Apa sih, noyor-noyor pala orang. Nggak sopan banget." Tegur Arumi galak.
Akbar kembali menegakkan badan dan menaruh kedua tangan di saku celana jeans-nya.
"Saya kira tadi kamu kesambet, makanya saya sadarkan kamu." Jawab Akbar santai tanpa merasa bersalah.
"Kesambet-kesambet, kamu yang kesambet. Udah sana!" Arumi mendorong Akbar agar tidak dekat-dekat dengannya.
"Yakin, kamu mau tidur di sofa? Itu tempatnya sempit lho. Enakan juga di ranjang." Dorongan Arumi pada tubuhnya tidak membuat Akbar berpindah tempat.
"Udah ah, sana! Jangan sok akrab. Kita nggak dekat." Tangan Arumi mengibas.
Akbar tersenyum miring.
"Oh ya?" Lalu tanpa aba-aba ia mengukung tubuh Arumi. Refleks Arumi menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan kepalanya menoleh ke samping, menghindari tatapan Akbar. Arumi was-was, semoga Akbar tidak berbuat apa-apa. Ia tidak mau kejadian kemarin itu terulang lagi.
Arumi semakin erat menutup matanya ketika hembusan napas Akbar menerpa lembut wajahnya.
"Rum." Bisik Akbar, memandang lekat wajah Arumi.
"Buka matamu dan lihat saya." Bisik Akbar lagi.
"Nggak mau." Geleng Arumi takut. Ia tidak akan membuka matanya sebelum Akbar benar-benar menjauhkan wajahnya.
"Kenapa?" Tanya Akbar pelan.
"Bar, menjauh lah. Jangan dekat-dekat kayak gini." Arumi berusaha menahan napasnya saat aroma woody yang melekat di tubuh Akbar tercium oleh indera penciumannya. Aroma itu membuatnya ingin terbuai saja.
"Saya tidak akan menjauh sebelum kamu buka mata kamu." Ucap Akbar.
"Apa yang kamu takutkan dari saya. Sampai kamu nutup mata seperti ini. Apa kamu berharap saya cium?" Tanya Akbar menggoda.
Sontak Arumi langsung membuka kedua matanya dan menatap nyalang. "Jangan terlalu percaya diri ya!" Dan mendorong tubuh Akbar hingga lelaki tampan itu mundur ke belakang.
Akbar tersenyum menyeringai. Jelas-jelas tadi istrinya itu takut tapi sekarang berubah menjadi garang.
***
Arumi membolak-balik tubuh. Tidurnya tidak senyaman di ranjang, ia tidak bisa bergerak bebas. Sofanya sempit, bahkan panjangnya tidak seberapa hingga kakinya harus dijulurkan ke sisian tepi.
Sementara Akbar, sang pencuri ranjangnya. Tidur nyenyak sekali meski tanpa selimut.
"Enak banget dia tidur." Keluh Arumi, memandang Akbar dari cahaya temaram lampu tidurnya.
"Bodoh, kenapa nggak pindah ke kamar tamu aja." Arumi memukul kepalanya pelan. Bisa-bisanya ia tidak ingat jika masih ada satu kamar kosong di rumahnya. Kenapa juga ia bisa sampai lupa ya?
Dengan gerakan pelan dan mengendap-endap Arumi membuka daun pintu. Nyaris pelan ia membukanya agar tidak ketahuan Akbar. Menutupnya juga hati-hati.
"Huff." Arumi mengusap dadanya lega begitu ia berhasil menutup pintu. Tapi agak merinding juga, karena semua lampu dimatikan. Padam tidak terlihat sama sekali, apalagi ia tidak membawa ponsel sebagai penerangnya.
"Duh, kok horor gini rumahku."
Mendadak sekujur tubuhnya merinding, bulu kuduknya berdiri semua melihat sekelilingnya yang gelap. Arumi pada dasarnya orangnya penakut.
"Mama juga, kenapa semua lampu dimatikan sih. Nggak ada yang di sisain satu." Arumi belum beranjak dari depan kamarnya. Ia takut untuk melangkah ke kamar tamu.
"Jalan nggak ya?"
Hingga tiba-tiba, ia merasakan sebuah tangan berada di pundaknya. Tubuh Arumi langsung menegang seketika. Tangan siapa itu, pikirnya.
Jangan-jangan..
"Aa_"
Arumi hendak menjerit saat membalik tubuh namun sebuah tangan langsung membekapnya.
"Sstt, ini saya, Rum." Dan ternyata itu adalah Akbar.
.
.
.
Bersambung.