"Dia putriku, Sofia." Begitu kata Judan ketika banyak perempuan bertanya siapa gadis cilik yang sedang bersamanya. Ia tidak ingin banyak orang tahu bahwa sebenarnya gadis cilik itu adalah keponakannya. Hingga akhirnya ia bertemu Runi, seorang Perawat di rumah sakit tempat ia menghabiskan waktu karena ingin melepas trauma buruk karena kematian kakak laki-lakinya yang tak lain adalah ayah dari gadis cilik itu.
"Dia adalah keponakanku," ungkap Judan akhirnya karena tidak mau perempuan itu salah paham. Ini pertama kalinya ia mau membuka diri pada seorang perempuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
Melihat Bu Misna yang takjub, Runi jadi ikutan takjub melihat ekspresi perempuan paruh baya ini.
"Kenapa Bi?" selidik Runi merasa heran. Ada senyum lucu di bibir Runi.
"Itu tidak biasanya, Nona. Pak Judan itu anti dibilang pria single. Beliau maunya di anggap sebagai pria yang sudah punya anak, begitu," timpal bibi di belakang mereka. Runi menoleh ke belakang untuk mendengarkan.
Pria yang aneh, batin Runi.
"Pasti Nona Runi ini menganggap Pak Judan aneh, ya ...," tebak Bu Misnah.
"Ah? Hehehe ..." Runi terkejut beliau bisa membaca pikirannya.
***
Malam ini Runi berada di kamar Sofia. Gadis ini tidak ingin hanya bersama Bu Misna. Dia ingin di temani oleh Runi.
"Tante enggak pergi kan?" tanya Sofia.
"Enggak. Sofia ingin Tante di sini?" tawar Runi. Kepala gadis ini mengangguk. Sepertinya tubuh Sofia melemah malam ini. Hingga dia terlihat lesu. "Baiklah. Tante akan temani Sofia. Kamu bisa tidur selama Tante temani kamu."
"Tapi Sofia enggak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Takut mimpi buruk."
"Benarkah?" Runi memperbaiki selimut yang menutupi tubuh gadis ini. Lagi-lagi Sofia mengangguk. "Kalau begitu mau Tante bacakan cerita?"
"Putri yang cantik ya." Sofia langsung memilih sendiri tema cerita yang ingin ia dengar.
"Putri yang cantik ya, hmmm ... baiklah." Runi mencoba mencari buku dengan tema yang di inginkan di antara buku cerita yang berderet. Dia menemukan satu dan mengambilnya. Memisahkan buku itu dari deretan buku di rak yang rapi. "Tante akan mulai bacakan ya ... Pada suatu hari ..." Runi mulai membacakan cerita soal putri cantik. Wajah gembira Sofia tercetak jelas. Bu Misna yang ada di sana ikut bahagia melihatnya.
Ternyata cerita Runi membuat gadis itu terlelap.
"Dia sudah terlelap Bu," bisik Runi pada Bu Misna. Perempuan baya itu melongok pada Sofia. Kemudian mengangguk seraya tersenyum. Dengan pelan dan hati-hati, Runi beranjak dari ranjang. "Saya mau ke dapur dulu minum teh."
"Saya buatkan, Nona?" tawar Bu Misna.
"Tidak perlu. Biar Bu Misna di sini saja." Tangan Runi mencegah beliau beranjak.
"Nona kalau lelah, tidur saja dulu."
"Masih sore, Bu. Saya biasa tidur malam di rumah sakit," ujar Runi ketika sesaat melihat ke jam dinding. Sekarang masih pukul 9 malam.
"Pak Judan ada di ruang bacanya," ujar Bu Misna padahal Runi tidak bertanya.
"Saya, tidak bertanya tentang beliau." Mata Runi mengerjap merasa heran.
"Mungkin saja Nona ada perlu." Bu Misna tersenyum.
"Oh ... ya. Makasih atas infonya." Runi segera beranjak dari kamar gadis itu menuju ke dapur. Tubuhnya membungkuk untuk mengambil buah anggur hijau yang ada di dalam kulkas. Lalu memungut satu dan memasukkannya ke dalam mulut. Kemudian tangannya kembali lagi mengambil satu buah, tapi tak langsung masuk ke dalam mulut. Ia tengah memikirkan sesuatu. "Kenapa aku harus tahu dimana Judan berada ...," dengus Runi pelan mengingat apa yang di katakan Bu Misna padanya.
"Tentu saja kamu harus tahu," ujar Judan yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Kemudian menangkap tangan Runi yang masih memegang buah anggur. Lalu menggeser tangan itu untuk menyuapkan buah anggur ke dalam mulutnya sendiri.
"Hei," pekik Runi tidak setuju.
"Enak," ujar Judan dengan matanya yang berkerling. Runi mengerutkan kening dan memasang wajah masam.
"Kamu kan bisa makan sendiri," sungut Runi seraya mendelik. Judan hanya terkekeh. Sepertinya pria itu menikmati tingkahnya barusan.
"Iya, aku akan makan sendiri." Judan mendekat dan memungut buah anggur di kotak mika yang ada di tangan Runi. "Kenapa menyebut namaku? Kamu sedang memikirkan ku?" tanya Judan yang mendengar gumaman bibir perempuan ini tadi.
"Tidak."
"Aku mendengar kamu bilang kenapa harus tahu di mana aku tadi, ada apa dengan itu? Apa kamu cemas jadi harus tahu dimana aku berada?" goda Judan.
"Bukan seperti itu," dengus Runi. Ia berjalan menjauhi pria ini dengan duduk di kursi meja makan. Judan mengikutinya. Pria itu juga ikut duduk di sana. Tepat di depan Perempuan ini.
"Lalu?"
"Bu Misna memberi tahu aku soal di mana keberadaanmu tadi. Padahal aku tidak tanya soal itu. Jadi menurutku itu aneh." Runi menjabarkan maksudnya menyebut nama Judan tadi. Ia merasa perlu meluruskan pemikiran yang ada di benak Judan.
"Kenapa aneh? Beliau hanya memberi informasi kalau-kalau kamu mencariku."
"Sudah aku bilang aku tidak mencari mu," geram Runi. Judan terkekeh lagi.
"Iya, iya. Bagaimana Sofia?" Judan menyudahi godaannya.
"Ia sudah tidur. Seharusnya kamu lihat sendiri dia di kamarnya, bukan malah kesini."
"Ya," sahut Judan sedikit melebarkan matanya karena sadar bahwa ia lebih memilih mendekati perempuan ini daripada menjenguk putrinya. Karena suara Judan mulai memelan ketika menjawab pertanyaan terakhir, Runi ikut diam. Perhatiannya pun kini di sibukkan dengan ponsel di tangannya. Sementara itu Judan yang terdiam kini justru memperhatikan Runi. Ia terlihat menikmati pemandangan di depannya.
"Jika benar Sofia itu bukan putrimu, apa ... " Runi mendadak mendongak. Dengan itu ia tahu Judan tengah memperhatikannya. Bola mata Runi mengerjap. Karena pria ini tidak mengalihkan pandangan ke arah lain meskipun ketahuan tengah memperhatikan, itu membuat Runi sendiri sedikit kebingungan. Ia sempat kehilangan kalimat yang tadinya sudah ada di ujung bibirnya. "Apa ... apa penyakit Sofia turunan dari orang tuanya?" Akhirnya Runi berhasil menyelesaikan kalimatnya.
"Ya. Ayah Sofia, kakak laki-lakiku juga punya penyakit yang sama. Ia meninggal dengan penyakit leukemia yang menyerangnya," jelas Judan dengan wajah sedikit gurat kesedihan di sana.
Runi mengangguk. Ia menunduk sejenak.
"Jadi kamu percaya kalau aku belum menikah, Runi?"
"Hah?" Runi mendongak cepat.
"Jika mendengar pertanyaan mu tadi, itu artinya kamu percaya kalau aku belum menikah. Aku pria single," tegas Judan. Runi menatap lurus pria ini.
"Lalu kenapa juga kalau aku percaya kamu itu pria single, ha?" tanya Runi santai. Ia mencomot satu buah dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Karena aku senang. Akhirnya kamu percaya padaku."
"Senang?" tanya Runi heran.
"Ya. Untuk sekarang cukup kamu percaya saja kalau aku adalah pria yang belum menikah, aku sangat dengan. Dan memang cukup dengan kepercayaan itu dulu. Itu sudah jalan yang bagus untukku."
"Aneh," dengus Runi seraya menggelengkan kepalanya heran.
"Tidak apa-apa kamu menganggap ku aneh. Aku tidak tersinggung. Lalu ... apa kamu benar tidak punya hubungan dekat dengan dokter itu?"
"Dokter? Siapa yang kamu maksud?"
"Tentu saja dokter pria yang aku temui bersamamu saat di rumah sakit. Karena tidak mungkin itu dokter Gio."
"Oh, dokter Ronal?" Runi sadar siapa yang di maksud Judan. "Hubungan apa yang kamu maksud? Dia punya istri, tahu. Jadi jangan berpikir macam-macam tentang aku dengan dia," protes Runi tidak suka.
"Bagus." Judan tampak puas dengan jawaban Runi. Ini justru membuat Runi mengerjapkan mata heran.
...----------------...
.. jangan sampai mengacaukan hasil tes DNA