Pertemuan kembali dengan tidak sengaja antara Ririn dengan Raka, membuat mereka terikat dalam sebuah pernikahan. Karena kesalahannya di masa lalu membuat Ririn terpaksa menerima pernikahan ini.
Ternyata ada seseorang yang selama ini sengaja memanfaatkan Ririn untuk menghancurkan Raka.
Apakah Ririn akan melindungi suami yang telah memaksanya menikah dengan sebuah ancaman atau Ririn lebih memilih bekerja sama untuk menghancurkan Raka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadis Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Segera Pulang
Pagi harinya Ririn terkejut mendapati dirinya berada di tempat tidur dan lebih terkejut lagi ketika melihat Raka yang masih tidur di sampingnya.
Dilihatnya waktu masih terlalu pagi. Ririn segera bangun dan membersihkan dirinya. Dia harus segera keluar dari kamar ini sebelum Raka terbangun.
Tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi Raka setelah kejadian semalam, yang jelas saat ini Ririn tidak ingin bertemu dengan Raka. Tapi itu sangat tidak mungkin sebenarnya.
Hufff
Ririn melangkahkan kakinya lemah menaiki anak tangga. Dia yang tadi tengah berbicara dengan beberapa pelayan yang sedang menyiapkan sarapan di dapur mendapat perintah dari Raka agar segera kembali ke kamar.
Ririn menundukkan kepalanya setelah masuk kedalam kamar. Ia mendapati Raka yang baru siap mandi sepertinya.
Dia ini kenapa si ?! kenapa tidak langsung memakai pakaian di kamar mandi. Apa dia sengaja mau menggoda ku ? Bukan, tapi dia sengaja mau mengerjai ku.
"Apa kau lupa yang aku katakan semalam ?" tanya Raka
Memangnya apa yang kau katakan semalam ?
Ririn mengingat ingat perkataan Raka yang mana yang dia maksud.
Melihat Ririn yang masih terdiam, Raka berjalan mendekat kemudian mengulurkan tangannya mengangkat dagu Ririn agar melihat padanya.
"Sepertinya kau suka lupa kalau sudah menjadi istri ku." ucap Raka dengan ibu jarinya mengusap usap bibir Ririn. Entah kenapa, sejak semalam bibir itu selalu menjadi pusat perhatiannya.
"Ah, iya. Aku minta maaf. Aku akan melakukannya sekarang." Ririn membuka suara ketika melihat Raka sudah mau mendekatkan wajahnya.
Ririn segera berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian Raka. Mungkin ini yang di maksudkan nya. Dia minta dilayani sebagai mana seorang istri melayani suami.
Aku kan memang istrinya. ish ish ish. . .
Setelah selesai memakai pakaiannya, Raka menyodorkan sebuah dasi. Ririn dengan segera memasang kan di lehernya.
Raka menahan tangan Ririn sebelum Ririn melepaskan dasi yang telah sempurna di pakainya.
"Aku ingin kau melakukannya setiap hari." ucap Raka lembut di depan wajah Ririn.
"Lakukan seperti yang pernah kau ucapkan dulu." lanjutnya.
deg
Ririn mengerti maksud perkataan Raka. Ingatannya langsung kembali ke masa lalu. Dimana Ririn berjanji akan melayani Raka dengan penuh cinta jika mereka menikah.
Cup
Ririn langsung tersadar dari lamunannya saat merasakan sesuatu menempel di bibirnya. Lagi lagi Ririn tidak bisa bergerak karena tangannya masih ditahan oleh Raka.
Tak ada pilihan lain selain hanya bisa pasrah menerima ciuman dari Raka. Bibir Ririn sudah seperti candu untuk Raka, setiap ada kesempatan dia tidak akan melewatkan untuk menyesapnya.
Setelah selesai dengan urusannya, mereka turun untuk sarapan. Ririn yang sudah tahu tugasnya mulai menjalani perannya sebagai istri.
*
*
*
Di gedung Wiratama Grup, David merasa pekerjaannya begitu lancar hari ini. Beberapa berkas proyek yang dia ajukan semuanya di setujui Raka.
Tidak seperti biasanya akan terjadi sesi tanya jawab, berbagai bantahan dan berujung pada penyusunan ulang proposal proyek.
"Sepertinya aku akan pulang cepat hari ini karena bos kita sedang baik hati." ucap David menyandarkan punggungnya di depan pintu. Arya yang sedang bekerja di mejanya hanya menoleh sebentar lalu melanjutkan lagi pekerjaannya.
"Apa kau tahu ? aku hampir tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan dia." sambungnya lagi sambil berjalan masuk menuju sofa.
"Sepertinya kau memang sudah bosan hidup ya. Berani beraninya kau memikirkan istri majikan mu."
ujar Arya.
"Aku benar benar penasaran." terang David, sudah berjalan kearah sofa.
"Kenapa kau tidak mencari tahu saja jika kau penasaran."
David mengangguk angguk mendengar usulan Arya. Sungguh dia tidak pernah terpikirkan untuk mencari tahu tentang istri teman baiknya itu.
"Kau mau pergi kemana ?" tanya David yang melihat Arya sudah berdiri berjalan menuju pintu.
"Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan, bukan hanya mendengarkan ocehan tentang rasa penasaran mu saja."
"Hey, kau mengusir ku ?" teriak David
"Tidak, tinggallah di sini selama yang kau mau."
kata Arya sambil berlalu meninggalkan David sendirian di ruang kerjanya.
"Huh, dasar sekretaris dan bos sama saja. Sama sama menyebalkan." Umpat David yang juga keluar dari sana.
Arya menuju ke ruang presidir, untuk menyampaikan beberapa laporan.
". . . dan Tuan Bagaskara secara pribadi mengundang Tuan dan nona untuk makan malam di rumahnya besok malam." Arya mengakhiri laporannya.
"Baiklah, percepat jadwal rapat dengan pemegang saham hari ini setelah jam makan siang. Aku ingin segera pulang ke rumah." perintah Raka sambil membayangkan wajah Ririn yang membuatnya ingin cepat tiba di rumah.
"Baik, tuan." Arya mengangguk dan keluar dari ruangan itu.
Hari apa ini ?? Kenapa semua orang jadi ingin cepat pulang ??
Arya bingung dengan sikap ke dua orang laki-laki di kantor ini yang tidak biasanya ingin cepat cepat pulang.
Pekerjaan di sebuah perusahaan yang cukup besar memang tidak akan ada habisnya. Tapi tetap saja ketika sore hari semua orang harus pulang dan melanjutkan kembali pada esok hari.
Sudah menjadi hal yang wajar jalanan akan macet pada saat jam pulang kantor seperti ini.
Keinginan Raka untuk pulang lebih awal pun mundur satu jam dari yang ia rencanakan.
Mobil yang dikendarai Arya tidak bisa melaju dengan maksimal karena banyaknya kendaraan lain di jalanan. Beruntung tidak terjebak kemacetan.
"Kenapa lama sekali ?!" Raka mengumpat kesal.
Dia sudah tidak sabar lagi untuk sampai di rumah. Raka membayangkan Ririn akan menyambut kepulangannya dan memberikan sesuatu yang istimewa.
Sementara itu di rumah, Ririn sudah membersihkan dirinya dan bersiap siap untuk menyambut Raka.
Perasaannya sudah berdebar melihat waktu yang semakin sore dan Raka pasti akan segera sampai.
Ririn segera berlari menuruni tangga ketika melihat mobil sudah memasuki gerbang. Berdiri di depan pintu sambil menenangkan gemuruh di dadanya, Ririn tersenyum manis melihat Raka yang sudah berjalan mendekat.
"Kau menungguku ?." Raka merasa senang karena apa yang ia bayangkan benar terjadi. Senyum samar terlihat di wajahnya.
Ririn mengangguk menjawab pertanyaan Raka.
Raka yang sangat merindukan istrinya langsung menarik pinggang Ririn dan ingin mengecup bibirnya. Namun kedua tangan Ririn menahan dada Raka.
Wajah Raka yang semula ceria seketika berubah menjadi kesal karena mendapatkan penolakan.
Ririn yang menyadari kekesalan Raka segera berucap.
"Lakukan di kamar saja." dengan penuh senyuman menatap Raka.
Apa yang aku katakan ?! Kau sungguh tidak waras Ririn.
Instingnya untuk menyelamatkan diri membuat Ririn refleks mengucapkan kalimat menggoda seperti itu kepada Raka.
Tidak menunggu lama lagi Raka langsung menggandeng tangan Ririn masuk ke dalam rumah dan menuju kamar.
Kaki Ririn terasa lemas berjalan di belakang Raka. Dia rasa menyesal telah mengucapkan kalimat itu.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.. . .
dosaaa lhoo
gak berbelit
cap cus gas poool