NovelToon NovelToon
Terlalu Goblok Mencinta

Terlalu Goblok Mencinta

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novi Artikasari

Pernah merasa goblok saat mencintai seseorang?

Tenang, kalian tidak sendirian! Karena aku juga masuk dalam antrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Siang itu juga aku menemani Anis berbelanja. Kukira ia ingin membeli segala sesuatu untuk dipakainya sehari-hari saja. Namun ternyata ... ia mengajakku berbelanja perlengkapan hantaran untuk acara pernikahannya.

Ah, nasiblah!

Setelah berkeliling dan keluar masuk toko demi toko, kami memutuskan istirahat sejenak sambil menikmati es dawet di pinggir jalan. Cuacanya cukup cerah, namun tak secerah perasaan. Tetapi, aku harus tetap kuat melewati segala cobaan.

Bukan karena perasaan tak enak atau sejenisnya sehingga aku masih mau menemaninya. Namun, semua itu murni aku lakukan karena perasaan sayangku padanya. Jika kalian kembali menghujatku dengan kata--'Gila', aku rasa tidak apa! Karena aku memang sudah lama menggilainya. Selagi hal itu bisa membuatnya bahagia, apa pun akan kulakukan untuknya.

Sore harinya!

"Mau kemana lagi?" tanyaku sembari mengerutkan dahi.

"Beliin pesanannya Mas Abdi," jawabnya seraya tersenyum tipis.

Apa?

Aku hampir saja melupakan nama pria itu. Bukan karena aku benci, namun karena aku merasa apa yang terjadi selama dua hari ini, teramat memabukkanku. Aku tenggelam dalam belaian gadisku itu. Sehingga aku hampir melupakan--yang dia bukanlah sepenuhnya milikku.

Mobil taxi yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah toko elektronik. Entah, apa yang membuat Anis lebih tertarik, yang jelas dia langsung mengajakku keluar dengan menghadiahkan senyuman unik.

"Emangnya dia titip apa?" Aku dengan ekspresi malasku kembali bertanya.

"Laptop," cetusnya singkat tanpa banyak bicara.

Setelah pelayan toko menunjukkan katalog dari berbagai jenis dan merk, Anis tampak mengambil gambar salah satunya. Mungkin untuk dikirim pada tunangannya.

Kucoba mengalihkan perhatian dengan melihat-lihat barang elektronik lainnya di dalam toko itu, sembari menunggu Anis yang sedang melakukan panggilan suara dengan prianya itu.

Tak bisa kupungkiri, hatiku terasa perih ketika mendengar ia berbicara lembut pada pria itu. Walau bagaimanapun aku ini bukanlah malaikat, yang tidak punya rasa iri maupun cemburu. Yang jelas, hatiku benar-benar terasa sakit bak tersayat sembilu.

Namun, sepersekian detik kemudian, kulihat wajah Anis berubah cemberut. Hal apakah yang sudah membuat ia menjadi emosi akut?

"Ayo, Ru ...," ajaknya yang sudah bergerak terlebih dahulu melewati pintu keluar.

Aku ... dengan wajah tak tahu-menahu, hanya bisa mengekori langkahnya yang terkesan terburu-buru. "Semuanya baik-baik aja, 'kan?"

Salah lagi pertanyaanku!

Tidak mungkin semuanya baik-baik saja, jika wajah Anis sudah ditekuk begitu.

Ah, dasar aku!

"Balik ke hotel aja yuk, Ru."

"Loh, gak jadi dibeli laptopnya?"

"Gak ah, sebel."

Aku tak lagi banyak komentar. Bisa kusimpulkan bahwa ada hal yang tidak beres, telah terjadi antara mereka berdua.

Di dalam perjalanan pulang ke hotel, Anis tampak hanya berdiam diri. Aku pun tak ingin banyak berbunyi, khawatir malah membuat suasana menjadi lebih buruk lagi.

"Ini, Pak ...." Kuserahkan uang tagihan taxi setelah mobil itu sempurna terparkir.

Anis masih dengan wajah manyunnya, langsung meninggalkanku tanpa pamit atau pun senyuman getir.

Baiklah, Abdi yang berbuat kesalahan, aku yang menjadi bulan-bulanan.

Tak apalah!

Sabar-sabar wahai hati ...!

Kuukir senyuman pada si resepsionis, sebelum akhirnya menaiki anak tangga satu per satu. Dalam setiap langkah aku berusaha merangkai kata untuk kupersiapkan sebagai jurus merayu. Entah berhasil atau tidak, aku pasrahkan semuanya kepada Yang Maha Tahu.

Ya, Lord, tolong aku!

Ketika sampai di depan pintu, kusibak daunnya dengan perlahan. Ternyata, gadis itu sudah menelungkupkan wajahnya di atas pembaringan. Kututup kembali daun pintu itu dengan perlahan. Lalu, melangkah pelan untuk menghampirinya yang terdengar dalam mode isakan.

***

Perlahan kutambah langkah kaki ini ke arahnya. Kusentuh pundaknya yang tampak bergetar seolah tak berdaya.

"Sayang ...." Aku dengan kerendahan hatiku, bersedia melakukan apa pun untuk memperbaiki kondisi ini.

Tidak masalah jika semuanya terjadi karena kesalahan Abdi. Karena sekarang, Anis sedang bersamaku di kamar ini.

"Kenapa, sih, dia jadi marah-marah begitu? 'Kan bisa ngomong baik-baik, hiks ... hiks ...." Anis mulai meluapkan unek-uneknya.

Persis seperti dugaanku sebelumnya, telah terjadi hal yang tidak beres di antara mereka.

"Kenapa bisa marah?" Kualunkan suara selembut-lembutnya. Kuelus pucuk kepalanya yang saat ini masih bergetar ria.

Merasakan perlakuanku itu, ia langsung bangkit dari posisi awal, kemudian duduk berhadapan denganku. Aduh, air lukanya, aku tidak suka melihat hal itu. Jujur, aku paling tidak suka jika ia sampai menangis pilu.

Dengan suara serak yang tak terkendali, Anis menceritakan kronologi pertengkarannya dengan Abdi. Aku mengernyit, sembari membenahi posisi diri. Ia masih terus meluapkan emosinya yang tampak semakin menjadi-jadi.

Dan dari ceritanya tadi, bisa kusimpulkan bahwa Abdi itu orangnya--selalu ingin menang sendiri.

Baiklah!

Sontak kurangkul tubuh Anis dari samping, walaupun terlihat sedikit lebih tenang, namun isakannya masih terdengar sesekali.

"Jadi, gimana dengan laptop itu?"

Baru saja Anis ingin menjawab pertanyaanku, ponselnya berdering, menandakan sebuah notifikasi. Anis merogoh ponselnya yang ia simpan di dalam tas kecil, lalu membuka pesan baru yang ternyata telah dikirim oleh Abdi.

"Gimana?" tanyaku sekali lagi untuk memastikan.

Anis masih memberengut masam, seolah menampakkan ekspresi malas untuk mengatakan isinya. "Dia bilang, beli aja laptop yang warna merah-hitam tadi."

Kuhela napas ringan, lalu kembali membelai lembut kepalanya. "Ya, udah, kamu mandi dulu gih. Nanti malam kita balik lagi ke toko itu."

Anis mematuhi titahku, lalu bergerak menuju bilik kecil yang terletak di pojokan kamar ini. Dan itu adalah ... kamar mandi. Sejujurnya ingin sekali aku mengekori. Siapa tahu bisa dapat rezeki di sore hari.

Eh, tenang! Saat ini aku belum kesurupan lagi.

Namun ... tidak tahu juga jikalau malam ini!

Haha!

***

Seusai ritual pengisian energi, aku dan Anis berangkat menuju toko elektronik yang tadi siang kami singgahi. Untungnya barang itu belum dibeli oleh konsumen lain, sehingga kami tidak perlu repot-repot mencarinya di tempat lain lagi.

Malam ini, Anis tampak kembali sumringah. Mungkin karena bisulnya tadi sore sudah pecah. Sehingga kali ini mood-nya kembali terarah.

Aku yakin tak ada seorang pun yang bisa membuat Anis seceria ini. Sekalipun Abdi. Aku bahkan bisa memastikan bahwa setelah menikah dengan pria itu nanti, Anis hanya akan semakin tersakiti.

Aku memang belum mengenal dekat sosok--seorang Abdi Nusa. Namun, dari beberapa informasi yang aku tangkap dari Anis, sepertinya pria itu agak cuek bebek dan tak banyak bicara. Bukannya pendiam, tetapi hanya menghemat kata saja.

Nah, kurasa setelah ini aku harus lebih mengenalnya. Agar aku bisa membantunya untuk dapat memahami karakter Anis yang suka diperhatikan dan dimanja.

Intinya, aku hanya ingin melihat Anis bahagia. Jika Abdi Nusa memang tercipta sebagai jodohnya, kuingin ia memperlakukan gadisku itu dengan sepantasnya.

Anis itu tipe penurut. Dia tidak mungkin bercerita kepada kedua orang tuanya mengenai hal tersebut. Dia juga tipe orang yang selalu memegang prinsip--asalkan mereka bahagia--dengan kata lain; Anis bukanlah seorang pengecut. Hanya saja, ia tidak ingin semua ini menjadi kemelut.

1
Han
Aku mampir ya kak
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Ruaaarrr biassyaaahhh.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!