Anggi sama sekali tidak bisa menolak ia harus menikahi seorang pria tajir yang belum pernah dilihatnya sekalipun.
Rumah tangga yang ia jalani ternyata penuh lika-liku karena seorang wanita muda mengaku-ngaku telah hamil anak Agus Soeripto.
Bagaimana nasib Anggi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merawat Baby Tidak Becus
Agus tidak terima dia tidur tempat lain sementara, kedua orang yang dia sayangi saat ini tidur enak di atas tempat tidurnya yang sudah lama tidak di tempati ya.
''Sayang kau tahu kan aku tidak bisa tidur di mana-mana kecuali di sini,'' jawab Agus takut.
''Kalau begitu kami yang pindah, mas lebih baik tidur di sini.'' Anggi berusaha untuk menggendong baby namun dengan secepat kilat Agus menghentikan niat Anggi
''Tunggu! Baiklah aku akan keluar!" ucapnya begitu pasrah.
Anggi tertawa kecil melihat wajah kekesalan Agus padahal dia tahu bagaimana niat suaminya itu antusias melihat buah hati ya.
''Maaf mas, saat ini aku belum bisa menerimamu,'' lirihnya.
Agus memilih turun ke lantai dasar tubuhnya dijatuhkan di sana. Tidak lama kemudian kedua bola mata itu tertutup dengan rapat karena sudah lama dia tidak merasakan tidur enak.
Semenjak kepergian Anggi tidur tidak teratur bahkan pekerjaan di kantor begitu menumpuk membuatnya sulit untuk memejamkan kedua bola mata ya.
Tengah malam Anggi turun ke bawah karena merasakan tenggorokannya haus.
Dia tidak sengaja melihat Agus tidur dengan terlentang tanpa menggunakan selimut. Bahkan pakaiannya dari kemarin ke masih itu dikenakan.
Anggi merasa sakit di melihat perubahan suaminya itu sama sekali tidak kena urus.
''Mas, bangun!" Anggi menggoyang kan tubuh Agus berharap pria itu bangun.
''Ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?" tanya Agus panik.
''Kau sudah makan atau belum? Setidaknya ganti pakaian mu dulu sebelum tidur?" Agus tersenyum mendengar pertanyaan istrinya itu.
Semenjak kepergiannya beberapa hari dari rumah ini perhatian itu tidak pernah lagi dia dengar.
''Ya, aku akan makan dan mengganti pakaian ku.'' Anggi tidak mengatakan apapun lagi langsung menuju ke dapur.
Tidak tahu lagi bagaimana wajah pria itu bahagia bukan main ternyata dibalik sikap dingin Anggi masih ada perhatian.
''Oh sayang, maafkan kebodohan suamimu ini,'' ucapnya sambel terus naik ke atas.
Agus masih belum terbiasa kehadiran baby ketika membuka pintu tiba-tiba perasaannya berdebar melihat makhluk kecil ada di atas tempat tidur ya.
Baby tersebut menangis mendengar kedatangan ya, spontan Agus hendak menggendong namun Anggi menghentikan ya.
''Mas belum mencuci tangan tidak baik menyentuh baby,'' tolak ya.
''Maaf, tadi aku melihatnya menangis tidak tega makanya aku tadi hendak menggendong ya,'' balas Agus.
Anggi tidak peduli yang menggendong baby yang masih belum disematkan nama kepadanya.
Walaupun Anggi sudah menerimanya kembali namun perasaan itu sepertinya sudah membeku. Agus langsung membasahi seluruh tubuhnya dengan air dingin.
Padahal sudah tengah malam tidak baik untuk mandi apalagi menggunakan air dingin.
''Anggi, aku tersiksa mengenai perubahan yang kau tunjukkan kepadaku. Sampai kapan kau akan dingin kepadaku?" batin ya.
Anggi menunggu Agus dari tadi keluar dari kamar mandi tapi tidak ada. Suara air yang terus keluar dari kran membuatnya heran apa yang dilakukan pria itu di dalam sana.
Baby sudah tidur padahal waktu sudah menunjukkan jam satu dini hari.
''Mas Agus kok lama sekali di dalam sana ya?" gumamnya.
Tidak lama kemudian pintu terbuka Anggi terbelalak melihat tubuh Agus basah.
''Mas habis mandi ya?" tanya Anggi terkejut.
''Ya,'' balas Agus.
''Kenapa? Tidak baik mandi tengah malam mas?" pekik Anggi.
''Aku tidak mau sesuatu terjadi kepada putraku.'' Anggi baru menyadari kalau dia baru mengatakan sesuatu kepada Agus tadi.
Dia merasa bersalah sudah membuat pria itu tersinggung, sebagai wanita dan sekaligus ibu dia tidak bisa membagi bagi dirinya saat ini.
Keretakan rumah tangga mereka bahkan belum bisa dipulihkan kembali.
Agus kembali ke luar setelah menggunakan baju tidur tidak lupa dia memberikan sebuah sentuhan tangan kepada putranya itu.
''Good night boy,'' bisik Agus.
Setelah itu Agus meninggalkan kamar kembali menuju ke ruang tengah. Anggi sakit melihat Agus seperti itu tapi sudah ini jalan rumah tangga mereka berdua pasca kejadian di hotel kemarin.
''Maaf kan mami ya sayang,'' lirih ya.
Agus lebih memilih menyalakan televisi karena tidak bisa lagi melanjutkan tidur.
Pikirannya tertuju kepada Anggi sampai larut hingga pagi menyapa mereka seperti biasanya.
Anggi kembali melihat Agus tidur tanpa mengenakan selimut ataupun bantal.
Wajah pria itu terlihat lelah bahkan kantung mata sudah tercetak di sana dengan jelas.
''Mas, kau tidak ke kantor hari ini?" Suara Anggi membuatnya bangun padahal dia baru saja memejamkan kedua bola matanya beberapa menit yang lalu.
''Ya,'' angguk Agus lalu naik ke atas.
Setiap hari mereka seperti itu tidak ada kebahagiaan ataupun sentuhan seperti biasanya mereka lakukan. Penghuni rumah itu bahkan merasakan kedua majikan itu dingin satu sama lain.
Hanya ada suara tangisan baby membuat rumah itu terdengar ribut.
''Sayang, kamu kenapa menangis dari tadi?" tanya Anggi ambil menggendong baby.
''Nyonya sepertinya baby haus,'' jawa pengasuh baby.
''Baiklah! Mami akan memberikanmu susu sayang.'' Anggi memberikannya langsung dari sumbernya baby boy langsung diam.
''Mbak, Mas Agus jam berapa tadi pergi ke kantor?" tanya Anggi.
''Subuh Nyonya,'' jawabnya.
Anggi terdiam dia langsung menatap wajah putranya itu duplikat Agus. Semakin lama rumah tangga mereka berdua jauh dari kata damai.
Tidak tahu disengaja Agus dia pergi ke kantor subuh dan pulang tengah malam. Diam-diam Anggi memperhatikan hal itu, Agus memberikan sentuhan hangat kepada baby boy sebelum meninggalkan kamar.
''Papi menyayangi kalian sayang,'' bisik ya halus.
Agus naikkan selimut mereka berdua yang sempat melorot ke bawah. Tidak lupa tangan itu mengusap kepala Anggi halus.
''Miss you darling,'' ucapnya.
Terkadang Anggi sedih dengan semua yang dilakukan Agus kepadanya setiap hari.
Sore hari telah menyambut mereka kembali kali ini Agus pulang lebih awal karena pekerjaannya di perusahaan sudah lebih longgar daripada sebelumnya.
Namun langkahnya berhenti karena mendengar suara tangisan baby boy.
''Boy?" pekik ya.
Tidak ada siapapun di sana kecuali baby boy menangis sendirian dalam box ya. Agus belum membersihkan tangan ya langsung menggendong baby.
''Ke mana semua orang?" ucapnya panik.
''Mas, kau sudah pulang?" tanya Anggi datang dari arah dapur membawa susu.
''Apa yang kau lakukan? Baby menangis di sini sendirian?!" sentak Agus kuat sampai membuat Anggi kaget.
''Mas, suaramu mengagetkan baby,'' pekik Anggi.
''Aku tidak peduli ternyata kau selama ini merawat baby tidak becus,'' tuduh Agus.
''Apa? Kau menuduhku tanpa ada bukti mas? Aku meninggalkan baby karena baru membuat susu ya?" balas Anggi.
''Aku tidak peduli Anggi, kedua bola mata ku sudah melihat secara langsung.'' Anggi tidak terima langsung mendekati Agus.
''Berikan boy kepadaku! '' ucapnya.
''Aku tidak bisa memberikan baby boy lagi kepadamu Anggi, sekarang biar aku yang mengurus ya!" Kedua bola mata Anggi terbuka lebar mendengar ucapan Agus.
''Apa kau bilang barusan, mas?" Anggi tidak terima.