Keduanya bertemu tanpa didasari perkenalan dan cinta satu malam terjadi begitu saja.
Sandra meninggalkan pria yang bercinta dengannya semalam. Tanpa ia tahu bahwa pria itu adalah tetangganya sendiri, Damian Ocean seorang duda yang kabarnya akan menikah lagi.
Disisi lain Sandra tengah hamil anaknya. Apa yang harus dilakukan Sandra. Apakah dia harus datang kepada pria itu dan memintanya untuk bertanggung jawab? Atau membesarkan anaknya seorang diri karena ia tidak ingin menjadi seorang pelakor. Konflik lain pun terjadi saat Sandra tahu wanita yang akan menikah dengannya adalah Ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Target Terkunci
Tiga hari kemudian, Merry masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sedangkan Sandra harus kembali ke Miami.
Pagi itu Sandra mengemasi barangnya yang cukup banyak, awalnya dia ingin berada di New York cukup lama tetapi kondisi berkata lain selain tidak ingin kehamilannya terbongkar, Sandra juga tidak enak, jika ijin terlalu lama karena statusnya yang baru menjadi karyawan.
Damian mencuri kesempatan untuk bertemu dengan Sandra. Ia berjalan beberapa langkah menuju rumah tetangga depannya yang tak lain adalah rumah Ibunya Sandra. Dengan sesekali memperhatikan sekelilingnya agar tidak ada tetangga yang mengintip.
"Damian, kau kenapa kemari?" tanya Sandra yang langsung menarik Damian masuk ketika pintu dibuka
Ia takut jika tetangganya melihat keberadaan Damian dirumah Merry
"Aku merindukan dirimu," ucap Damian seraya membelai pipi Sandra dan mengecup bibirnya
Sandra membalasnya sekilas kemudian melepaskannya dengan cepat, "Pulanglah, aku takut jika Sean datang dan memergoki kita,"
"Haha kita bukan maling kan? Untuk apa takut," ucap Damian yang melanjutkan kecupannya lagi, mendorong Sandra hingga bersandar pada pintu.
"Damian," ucap Sandra yang ingin mengakhiri kecupannya, tapi dengan rakus Damian menautkan bibirnya tanpa henti dan terus menyesapnya bagaikan sarapannya di pagi hari.
Setelah puas menikmati hidangan pembukanya, Damian mulai berbicara serius
"Aku sudah mengurus pernikahan kita, besok lusa di Los Angeles, California," ucap Damian
"Apa tidak terlalu cepat? Kenapa di California?" tanya Sandra
"Lebih cepat lebih bagus kan? Mansion utama keluarga Ocean ada di Los Angeles. Perusahaan utama juga berada di sana. Aku ingin membawamu ke Mansion keluarga ku, mengenalkan mu pada semua orang,"
"Ku pikir kantor utama itu ada di Miami," tanya Sandra
"Bukan, perusahaan di Miami memang besar, namun pendapatan jauh lebih besar di New York. Meskipun dia hanya anak perusahaan namun tak kalah besar penghasilannya dari perusahaan lainnya bisa dibilang hampir setara dengan pendapatan di perusahaan utama. Intinya seperti Don't judge the book by the cover, " ucap Damian
"Jadi itulah kenapa kau lebih sering berada di New York," tanya Sandra
"Ya, aku ingin memindahkan semua aset ke New York dan membuatnya jadi perusahaan utama. Karena kota New York dinobatkan menjadi kota terkaya di dunia. Kita harus melihat peluang Sandra," ucap Damian
"Kau sangat cerdas, aku yakin usahamu akan terus berkembang pesat," puji Sandra
"Terimakasih sayang," ucap Damian tersenyum, "Oh ya, apa kau sudah berbicara dengan Pamanmu?" tanya Damian menatap lekat Sandra dan menyatukan hidungnya dengan hidung Sandra yang mancung.
"Sudah, dia setuju. Tapi aku tidak tahu jika secepat ini. Aku akan menemuinya besok," ucap Sandra
"Baguslah kalau dia setuju. Kau jangan merepotkan dirimu. Kau sedang hamil, katakan saja dimana alamatnya nanti biar Diego yang mengatur perjalanannya ke Los Angeles," ucap Damian
Sandra mengangguk tanda mengerti, dan dia segera menyuruh Damian untuk pergi. Tapi belum sempat keluar, mobil Sean sudah datang dan berhenti di depan rumah
Alasan apa yang akan Sandra berikan jika Sean mengetahui keberadaan Damian didalam rumah itu, sungguh belum terpikirkan olehnya.
Sandra memainkan sedikit drama. Ia membuka pintu ruang tamu dengan lebar seperempat, ditariknya tubuh Damian dan menyuruh Damian mengecupi lehernya sembari memunggungi pintu masuk.
Saat Sean datang, ia melihat apa yang Sandra lakukan di dalam. Sandra berpura-pura terkejut dan menyuruh Sean untuk segera pulang dengan posisi Sandra masih memeluk Damian yang sedang mengecupi dirinya.
"Ok," ucap Sean seraya menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O
Ia melangkah pergi dan tersenyum kecil karena sang Kakak sudah menemukan kekasih hatinya. Tapi Sean belum tahu siapa pria yang bersama Sandra saat itu.
Sepergian Sean, Sandra mengelus dadanya yang sedari tadi berdegup karena takut ketahuan.
"Aman, ahhh aku sungguh takut," ucap Sandra
"Sandra kau membuat diriku menegang," ucap Damian
"Hah? Apa maksudmu," tanya Sandra. Damian menunjuk sesuatu yang menegang dengan arah matanya yang berada di bawah tubuhnya.
"Kita tidak bisa melakukannya disini, pergilah," usir Sandra seraya terkekeh
"Hmm lain kali jangan pancing diriku," ucap Damian setengah kesal tetapi dia tertawa melihat kelakuan Sandra.
Damian segera pergi meninggalkan rumah Sandra dengan langkah yang tidak nyaman karena benda miliknya mengeras.
.
.
.
Gerald memantau keadaan Sandra lewat anak buahnya. Sejujurnya dia tidak ingin memiliki keturunan yang berasal dari keluarga yang tidak terpandang. Hal licik pun akan di lakukan untuk menggagalkan pernikahan Damian dengan Sandra.
Saat Damian dengan Merry, Gerald terbaring lemah karena sakit yang di deritanya. Namun kini Gerald sudah kembali sehat dan selama dirinya masih bisa bernapas, ia akan berusaha menyatukan Damian dengan wanita pilihannya, dari keluarga terpandang.
"Kalau Sandra tidak mengandung anak dari Damian, maka sudah dipastikan Damian akan melepaskan Sandra. Dengan begitu dia tidak memiliki alasan lagi untuk menolak Alana," gumam Gerald.
"Lancarkan tugasmu, aku ingin wanita itu keguguran," perintah Gerald pada anak buahnya seraya tersenyum culas.
"Maaf Tuan Besar, tetapi dia mengandung cicit Anda Tuan," ucap asistennya yang bernama Vero.
"Kau membantahku?" tanya Gerald menatap Vero dengan sinis.
Pria bertubuh jangkung tersebut langsung membungkuk dan menundukkan kepala, tak berani membantah lagi. Ia lantas pamit undur diri untuk memerintahkan perintah tuannya itu.
Sementara itu Alana datang ke kantor Damian.
"Ini kantornya?" tanya Alana pada sang asisten yang duduk di depan.
"Iya nona, ini bukan kantor utama tetapi anak perusahaan yang baru berkembang. Kabarnya Tuan Damian masih sibuk mengurusi pekerjaan di anak perusahaannya," ucap Denis
"Hemm kantornya terlihat kumuh, dan lagi untuk apa Damian mengurusi perusahaan yang kecil ini. Jika tidak layak seharusnya tutup saja. Toh dia bisa menghandle semuanya dari jauhkan kenapa harus repot-repot datang ke perusahaan," cibir Alana
"Saya juga kurang mengerti Nona," ucap Ken
"Maaf Nona, mobil kita harus segera pindah karena ada mobil lain di belakang," ucap sang sopir memberitahukan jika keberadaan mobilnya yang tidak boleh terlampau lama terparkir di depan lobby
"Hmm kita pergi saja, sudah pasti didalam ada banyak debu. Aku alergi debu," perintah Alana
Mobilnya pun melesat pergi meninggalkan anak perusahaan Damian, yang sebentar lagi akan menjadi pusat utama perusahaannya dan hanya perlu renovasi dan penambahan lahan.
.
.
Setelah pamit dengan Ibunya, Sandra pergi ke Bandara dengan taksi online. Sepanjang perjalanan menuju Bandara, Sandra merasa tidak nyaman, seperti ada yang membuntuti dirinya.
Bahkan di dalam mobil yang ditumpanginya pun wanita itu melihat ada mobil yang membuntutinya.
"Pak, bisa kah lebih cepat?" tanya Sandra
"Ini sudah yang tercepat Nona," ucap Sopir taksi, sementara Sandra masih tidak nyaman karena masih ada mobil yang membuntuti nya
"Tapi kalau ada tidak keberatan kita bisa mengambil jalan tikus, namun jalannya tidak rata," ucap Sopir taksi meminta ijin sebelum melewati jalanan pintas tersebut
Sandra menyetujuinya, yang terpenting cepat sampai. Beberapa meter berjalan, ada asap putih yang keluar dari mobil. Sandra mengibaskan asal tersebut dan terbatuk-batuk karena tak sengaja terhirup. Tak berapa lama Sandra pingsan.
Sang sopir yang sudah memakai penutup hidung sebelumnya, segera menepikan mobil kemudian keluar dan menghubungi seseorang.
"Target terkunci," ucap sang Sopir
terima kasih banyak, kk author 🤗