Masa-masa SMA memang masa-masa yang tidak bisa dilupakan. Mulai dari percintaan, persahabatan, bahkan perseteruan diantara sesama teman.
Bagaimana jadinya jika para anak-anak sultan berkumpul menjadi satu? banyak suka duka, canda tawa, yang akan mereka rasakan.
Yuk, simak keseruan mereka dalam masa-masa remaja yang sangat menyenangkan dan dibalut dengan kisah komedi yang akan mengocok perut kalian semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Gavin Yang Bucin
Bel masuk berbunyi...
"Lah, Alea mana? kok, belum datang?" seru Aleena.
"Apa dia tidak masuk sekolah ya? tapi kan, dia akan hubungi kita kalau dia tidak masuk sekolah," sahut Alexa.
"Coba kamu hubungi dia, Aleena," seru Vina.
"Oke."
Aleena segera menghubungi Alea dan teman-teman yang lain ikut menempelkan telinganya ke ponsel Aleena, saat ini Alea sedang berada di jalan menuju sekolah dan kebetulan jalanan macet.
📞"Assalamualaikum, Al. Kamu kenapa gak masuk?" tanya Aleena.
📞"Waalaikumsalam, aku lagi di jalan Aleena, aku bangun kesiangan ini."
📞"Astagfirullah, ini sudah bel masuk."
📞"Bagaimana dong? pokoknya kalian harus bantuin aku supaya aku bisa masuk sekolah."
Tiba-tiba guru masuk ke dalam kelas, dan Aleena segera mematikan ponselnya.
"Ada apa?" bisik Vina.
"Katanya Alea lagi di jalan, dia kesiangan," sahut Aleena dengan berbisik pula.
Gabby segera mengirim pesan kepada Abangnya itu, dan dengan cepat Gavin membukanya.
✉️"Cewek Lo kesiangan tuh, dia gak bisa masuk"
Seketika Gavin membelalakkan matanya dan segera meminta izin untuk ke toilet. Sementara itu, Alea baru saja sampai di sekolah, dia terlambat karena tadi malam dia chat-chatan bersama Gavin sampai larut malam.
"Ya Allah, gerbangnya sudah dikunci lagi," gumam Alea.
Gavin yang melihat Alea panik, akhirnya menghampiri pos Satpam.
"Hai, mau ke mana kamu?" tanya Pak Satpam.
"Pak Satpam, tolong masukan teman saya," sahut Gavin.
Pak Satpam menoleh ke luar gerbang dan melihat ke jam yang melingkar di tangannya.
"Dia sudah telat setengah jam, jadi dia tidak bisa masuk, lebih baik kamu pulang lagi," seru Pak Satpam.
"Pak, saya mohon, izinkan saya masuk," rengek Alea.
"Tidak bisa."
"Ayolah Pak, kasihan teman saya," seru Gavin.
"Tidak bisa, ini sudah menjadi peraturan sekolah dan saya tidak mau sampai ditegur kepala sekolah karena sudah memasukan murid yang telat."
Gavin tampak berpikir, hingga beberapa saat kemudian Gavin pun menghampiri Pak Satpam dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan menempelkannya ke tangan Pak Satpam membuat Satpam itu kaget.
"Kamu mau menyogok saya?" sentak Pak Satpam.
"Ayolah Pak, memangnya Bapak tidak butuh uang apa? lumayan buat beli baju anak Bapak, tenang saja saya tidak akan mengadukan Bapak kepada siapa pun," bisik Gavin.
Pak Satpam itu tampak berpikir keras, di satu sisi dia takut dimarahi kepala sekolah tapi di sisi lain, uang yang diberikan Gavin lumayan banyak untuk kalangan seperti dia.
"Baiklah, tapi kamu harus janji jangan bilang sama siapa-siapa dan satu lagi, hanya kali ini saja lain kali tidak akan saya bukakan."
"Siap, Pak."
Pak Satpam pun membukakan gerbang untuk Alea.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, tapi jangan sampai diulangi lagi ya."
"Iya Pak."
Alea dan Gavin pun segera pergi dari sana, tapi baru saja beberapa langkah, keduanya dikejutkan dengan kehadiran Pak kepala sekolah.
"Eh, Pak Mahmud," seru Gavin cengengesan.
"Ada apa? apa kalian kesiangan?" tanya Pak Mahmud tegas.
"I-iya Pak, sa-saya kesiangan," sahut Alea takut.
Pak Mahmud melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Ini sudah setengah jam berlalu, dan kamu baru datang. Apa kamu tahu peraturan sekolah ini? jangankan telat setengah jam, telat lima menit saja anak itu tidak dibiarkan masuk. Jadi, siapa yang sudah membiarkan kamu masuk?" sentak Pak Mahmud.
"Maaf Pak, saya tahu peraturan sekolah ini tapi saya tadi bangun kesiangan Pak dan saya minta maaf karena saya ingin masuk sekolah," seru Alea dengan menundukkan kepalanya.
"Mending kesiangan daripada bolos gak masuk sekolah kan, Pak," seru Gavin.
"Diam kamu Gavin, kamu juga ngapain di luar kelas di jam pelajaran sedang berlangsung?" bentak Pak Mahmud.
"Pak, kalau Bapak tidak mengizinkan kita kembali ke kelas, nanti saya adukan kepada Om Angkasa loh," seru Gavin.
"Kamu mengancam saya, Gavin?"
"Tidak Pak, saya tidak mengancam Bapak hanya memperingatkan Bapak saja," sahut Gavin santai.
Pak Mahmud mengepalkan kedua tangannya, sungguh jabatan dia yang sebagai kepala sekolah itu tidak ada artinya apa-apa buat Gavin dan teman-temannya karena setiap mereka melakukan kesalahan, mereka akan mengancam mengadu kepada Angkasa yang merupakan Papa Langit dan sekaligus pemilik sekolahan itu.
"Kamu benar-benar ya. Baiklah, kalian boleh masuk kelas," seru Pak Mahmud dengan mengeraskan rahangnya.
Gavin tersenyum penuh kemenangan, Gavin pun menarik tangan Alea untuk masuk ke dalam kelas tapi Alea menolaknya.
"Pak, saya mengaku salah jadi, saya akan menerima hukuman dari Bapak," seru Alea.
"Al, sudahlah ayo masuk," seru Gavin.
"Tidak Kak, ini memang kesalahan aku jadi aku akan menanggung semuanya. Pak, Bapak boleh menghukumku jangan sampai nantinya ada kecemburuan sosial karena aku tidak mendapatkan hukuman dari Bapak," seru Alea.
"Tidak usah, lebih baik aku membiarkan kamu masuk kelas daripada aku hilang pekerjaanku," sahut Pak Mahmud.
"Saya tidak kenal dengan pemilik sekolah ini, jadi Bapak jangan khawatir karena saya tidak akan mengadu kepadanya."
Pak Mahmud terdiam sejenak. "Baiklah, sekarang kamu hormat di depan tiang bendera itu selama setengah jam."
"Iya, Pak."
Alea hendak melangkahkan kakinya tapi Gavin menahan Alea.
"Kalau begitu, biar saya saja yang menggantikan hukuman untuk Alea dan kamu Al, lebih baik sekarang kamu masuk kelas saja," seru Gavin.
Gavin pun melangkahkan kakinya menuju lapangan dan dia melakukan apa yang diperintahkan oleh Kepala sekolah itu. Alea merasa tidak enak, karena yang seharusnya di hukum itu dirinya bukan Gavin.
"Pak, karena di sini saya yang salah jadi, saya juga harus menerima hukuman juga."
Alea segera berlari ke lapangan dan berdiri di samping Gavin sembari hormat kepada bendera.
"Ngapain kamu ikut-ikutan, sudah sana masuk kelas."
"Lah, yang salah itu aku dan seharusnya aku yang dihukum, jadi lebih baik Kakak yang masuk kelas."
"Dasar, keras kepala."
Alea menyunggingkan senyumannya, akhirnya keduanya harus hormat di depan tiang bendera. Untuk sesaat, keduanya terdiam hingga Alea perlahan menoleh ke arah Gavin tapi tidak disangka Gavin pun ternyata menoleh ke arah Alea.
Gavin mengedipkan sebelah matanya kepada Alea membuat Alea tersenyum malu, dan seketika Alea menjadi salah tingkah.
Kali ini Gavin memang sedang bucin kepada Alea, belum jadian saja sudah bucin apalagi kalau sudah jadian, bisa dipastikan sedikit saja ada laki-laki yang menyentuh Alea, Gavin tidak akan mengampuni laki-laki itu.