Isabella dan Darren terjebak dalam situasi menggelikan yang tidak sengaja mereka ciptakan. Kesalahfahaman yang membawa mereka pada hubungan rumit. Bagaimana tidak rumit, Darren adalah kakak dari pria yang sudah menjadi tunangannya selama lima tahun!
***
"Aku akan membantumu agar bisa hidup normal kembali."
"Maksudmu?" Darren mengernyit bingung.
"Aku akan menjadi dokter untukmu."
"Seingatku, aku tidak sakit dan kau juga bukan seorang dokter."
"Dan kau akan menjadi Stylist-ku."
"Excuse me?"
"Kau akan sembuh dan normal kembali. Akan kubuat kau mampu menghamili wanita!!"
Darren tidak terkejut sama sekali dengan pemikiran ajaib wanita itu. Kemudian dengan tenang ia berkata, "Lalu kubuat Austin bersedia menidurimu?"
"Frontal sekali ucapanmu! Kau hanya perlu mengubah penampilanku agar adik tampanmu melirik ke arahku! Bagaimana, deal?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akankah Terwujud?
...Jatuh cinta tak hanya membuat seseorang bahagia, namun juga berjuang untuk orang yang disayang....
...****************...
Steven bersiul, berdecak kagum melihat mobil yang parkir di sebelah mobilnya.
"Sepertinya kau sangat ahli dalam memeras," Steven yang juga sangat mengidamkan mobil Porche tersebut, mengusap penuh kagum body mobil tersebut.
"Maksudmu?" Isabell membuka pintu mobil yang sontak memamerkan semua barang belanjaannya.
"Wow! Sepertinya kau baru saja menghamburkan uang negara," kelakar Steven begitu melihat barang belanjaan Isabell yang hampir memenuhi mobil.
"Aku menghamburkan uang saudaraku. Harry."
"Wah, aku tidak tahu jika Harry saudara yang sangat baik dan pengertian. Apa yang kau belanjakan?"
"Sesuatu yang tidak berharga," sahut Isabell tanpa bermaksud untuk melucu. Baginya barang-barang branded yang ia beli memang tidak berharga karena sudah pasti ia tidak akan mengenakannya.
Steven tergelak, baru kali ini ia menemukan wanita yang menghamburkan uang pada barang-barang yang menurut Isabell tidak berguna dan barang-barang yang disebut tidak berguna itu jelas ia tahu adalah barang-barang mahal impian banyak wanita di luar sana.
Ya, harusnya ia tidak heran mendengar jawaban gadis itu. Ia mengenal Isabell sudah sejak lama. Isabell bukan gadis yang suka foya-foya, tepatnya tidak tahu caranya berfoya-foya. Untuk itulah Steven sedikit terkejut melihat barang-barang yang begitu banyak.
Steve mengenal Isabell sejak gadis itu beranjak remaja. Andai hatinya tidak terpaut pada Lexi, mungkin ia sudah jatuh hati pada Isabell. Bahkan saat ayah angkat Isabell memintanya secara khusus untuk menjadi pendamping Isabell, Steve tidak langsung menolak. Ia butuh beberapa hari untuk menjawab dan pada akhirnya ia menolak demi kebaikan gadis itu. Ia mungkin menyukai Isabell, tapi sebatas kekaguman pria terhadap wanita. Tidak sampai memuja seperti perasaannya terhadap Lexi. Wanita yang sudah menjadi istrinya itu memperbudak dirinya atas nama cinta sejak pertemuan pertama mereka di sekolah. Ah, mengingat istrinya dia sudah merasakan rindu luar biasa. See, si bucin itu dirinya pada Lexi.
"Jadi untuk apa kau membeli begitu banyak barang?"
"Seperti yang kau katakan, aku menghambur-hamburkan uang Harry secara cuma-cuma."
"Wah, kau memiliki sisi ini juga rupanya."
"Percayalah, aku merasa berdosa," Aku Isabell terus terang. "Aku tidak bisa membayangkan bahwa uang sebanyak yang kuhamburkan bisa memberi makan anak-anak yang kurang mampu, bahkan bisa membeli seragamnya. Harusnya aku mendonasikannya. Nafsuku mengalahkanku."
Steve tersenyum, salah satu yang ia sukai dari Isabell. Sangat murah hati. Seperti istrinya. Yeah, memuji wanita lain harus diiringi dengan pujian untuk sang istri.
"Kita akan bertemu di rumah. Aku akan mengikutimu dari belakang," Steve berdiri di samping mobil, mempersilakan Isabell untuk masuk. Tergoda ingin meninggalkan mobilnya di sana demi bisa mengemudi mobil milik Darren. Sebelumnya, Steve sudah pernah meminta mobil itu kepada Darren agar bersedia menjualnya kepada dirinya. Terang saja Darren tidak mau. Saudara iparnya itu sudah mengincar mobil tersebut sejak pemberitaannya dirilis.
"Berikan kuncinya, aku yang akan mengemudi," pada akhirnya dia benar-benar tidak bisa menahan godaan mobil tersebut.
"Kita pulang bersama? Bagaimana dengan mobilmu?"
"Aku akan meminta seseorang menjemputnya. Aku penasaran seperti apa rasanya."
"Rasanya?"
"Ya, Bagaimana rasanya menungganginya."
"Siapa yang kau tunggangi?" Isabell berdehem salah tingkah.
Steve kembali menatapnya dengan aneh seakan Isabell adalah spesies alien yang terdampar di bumi.
"Kita berbicara tentang mobil. Aku penasaran."
"Oh, ya. Lu-luar biasa. Dia sangat gagah, gesit, dan lincah."
"Gagah?" Steve menipiskan bibirnya. Kata gagah mendadak terdengar menggelikan jika Isabell yang mengatakannya. "Gesit dan lincah. Ouh, aku semakin penasaran. Naiklah."
"Omong-omong, siapa yang mengajarimu?" Steve melaju dengan kecepatan rata-rata.
"Mengajari mengemudi? Saudaraku."
"Mengajarimu berpikiran mulai tidak sehat. Bendahara katamu mulai tidak normal. Para iparku sepertinya meracunimu?"
"Mereka membuatku kesal dan marah."
"Mereka memang sangat menjengkelkan. Sampai di mana persiapan pernikahanmu dengan Austin?"
"Nol. Belum ada persiapan sama sekali."
"Kau dan Austin sudah membahasnya."
"Dia menyarankan agar aku memikirkannya kembali. Dia mendorongku tapi aku terlalu mencintainya."
"Kukira kau mencintaiku."
"Harusnya aku merekam ucapanmu ini dan memberikannya kepada Lexi."
Steve tertawa, "Lexi terlalu mencintaiku, dia akan memaafkanku sebesar apa pun kesalahanku.
"Dan kutahu kau tidak akan membuat kesalahan yang bisa melukai hatinya."
"Yeah, you know me so well." Kelakar pria itu.
Isabell menarik napas panjang. Bisakah ia membuat Austin memandang ke arahnya seperti cara Steven meratukan Lexi. Ia dan Lexi jelas berbeda. Lexi dari penampilan fisik sangat amat cantik dan anggun. Gadis itu sangat baik hati.
"Steve..."
"Hmm?"
"Apakah ada kemungkinan Austin akan melirik ke arahku?"
"Tentu saja."
"Aku tidak butuh jawaban dusta hanya untuk membuatku tenang. Dia bahkan terganggu dengan kawat gigiku. Sepertinya."
"Kesempatan itu selalu ada. Selama ini Austin dikelilingi gadis-gadis cantik yang jelas bertolak belakang denganmu..."
Kalimat Steve menggantung di udara begitu melihat sorot mata Isabell yang menatapnya dengan tajam.
"Kau menghina fisikku, Steven Percy!"
"Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku dan kau sudah mengambil kesimpulan. Dengarkan sampai selesai. Austin terbiasa dengan gadis-gadis yang standar kecantikannya sama saja. Seksiih, elegan, berkelas. Tidak ada yang terlihat sepertimu. Kecantikan alami, natural yang bersumber dari dalam. Gadis-gadis itu hanya mainan untuknya. Belum ada yang bisa mengalahkannya. Artinya, bukan gadis seperti itu yang dia inginkan."
"Jadi yang dia inginkan gadis sepertiku? Dengan kaca mata tebal? Ini pemberiannya." Isabell sempat-sempatnya pamer soal kacamatanya.
"Aku juga tidak mengatakan bahwa gadis sepertimu yang dia inginkan. Aku tidak tahu seleranya. Sebagai tunangannya, sudah tugasmu untuk mencari tahu. Selamat berjuang!!"
Isabell memutar bola matanya dengan jengah, "Tidak ada solusi sama sekali. Kau semakin menyebalkan setelah menikah!"
"Beban hidupku bertambah. Tolong maklumi."
"Aku akan mengatakan hal ini pada Lexi!"
"Silakan, aku tidak berbohong. Tiap hari, otakku selalu berputar bagaiman caranya untuk membuat istriku lebih bahagia lagi dan lagi. Aku tidak ingin dia bosan denganku. Ayolah, Isabell, ini beban yang sangat berat. Kau akan sampai pada tahap ini saat seseorang yang kau cintai membalas perasaanmu."
"Ciih! Aku tidak melihat lagi Steven yang irit berbicara dengan wajah minim ekspresi."
"Aku bahagia."
Isabell tersenyum. Cinta memang bisa merubah segalanya. Tapi untuk mendapatkan cinta memang butuh perjuangan dan pengorbanan. Sampai detik ini, ia belum berkorban atau pun berjuang. Tapi perjuangan seperti apa yang diinginkan Austin agar pria itu mau menoleh ke arahnya. Harapannya, Austin sudah melirik ke arahnya saat pernikahan mereka nanti. Ia memimpikan keluarga. Andai ia menikah dengan Austin, pria itu adalah keluarga pertamanya, keluarga dalam arti sebenarnya. Dan ia menginginkan anak yang banyak, memberikan cinta kepada anak-anaknya sebanyak yang bisa ia berikan. Tidak akan ada celah bagi keturunannya untuk merasakan kesepian seperti yang ia rasakan.
Akankah itu akan terwujud? Mimpinya hanya sesederhana itu, tapi rasanya sangat sulit untuk menggapainya.