#Warning
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jadi jika kalian suka silakan ikuti dan komentar lah dengan sopan dan baik. Selain itu, cerita ini tidak ada sangkut pautnya dengan melecehkan perempuan bercadar. karena cerita ini. Alzena memiliki karakter tegas yang berbeda dari yang lain sehingga kalian mungkin akan bilang tidak sesuai dengan pakaiannya atau apa pun hal lainnya🙏🙏🙏🙏
Athar Azmi adalah seorang berandalan yang selalu menjadi ketakutan penduduk kampung di tempatnya berada.
Ia sangat suka menciptakan masalah besar yang mendatangkan keributan.
Hingga suatu hari Athar dan kelompoknya melakukan pengeroyokan pada seorang anak remaja.
Dimana saat itulah Ia di pertemukan dengan seorang gadis bercadar yang sudah di lecehkan nya.
~~~~
Jadi sebelum tahu bentuk pelecehan itu seperti apa? Alangkah baiknya di baca dahulu isi cerita di dalamnya😁😁😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobri Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Indahnya Malam Ini
Kejadian di rumah Dinda jauh berbeda dari pada di rumah Zena tinggal tadi. Kedua pasangan pengantin ini sedang asyik-asyik bergurau dengan raut wajah malu-malu kucing. Ardhan dan Dinda tidak banyak bicara. Tapi ekspresi jahil mereka menunjukkan kegemasan masing-masing.
"Aduh, sakit Dek!" Ardhan mengusap pipinya yang nanar di cubit oleh Dinda.
"Aduh maaf Sayang, habisnya kamu gemesin banget sih. Pipi kamu yang embem itu rasanya pengen Dinda gigit aja, Arrgh" Seringainya bak singa lapar mengaung kearah Ardhan.
"Ya udah deh, kalau gitu kita mulai aja yuk ritualnya!" Bisik Ardhan di telinga Dinda. Perempuan murah senyum itu mengangguk dengan bola mata yang terus berbinar menatap Ardhan.
"Mau atas apa Bawah Mas?" Tawar Dinda menunjukkan semangat yang menggebu.
"Tukeran aja nanti biar gak capek!"
"Oke Siap!"
Keduanya mulai menyulam kain baru merajut asa dengan benang yang akan menjadi penyatu ikatan keduanya. Mereka sudah melepas hasrat lebih dulu di banding Alan yang bingung karena Mayra masih saja mengacuhkannya.
"Sayang, gak mau main bentar aja ni?" Tanya Alan sembari merangkul pundak Mayra dari belakang. Masa iya malam pertama mereka yang indah itu akan di lewatkan begitu saja.
"Main apa Mas, Mayra lagi datang bulan?" timpal perempuan itu apa adanya membuat wajah Alan seketika layu seperti tersengat sinar matahari di tengah ubun-ubun.
"Astaga, Jadi Mas harus puasa ni!" Alan kembali duduk di tepi ranjang. Bingung tidak ada hal seru yang bisa di lakukan. Sudah menikah pun tetap harus sabar untuk melakukan olahraga malam bersama.
"Ya sabar dong Mas, paling dua hari juga selesai kok."
Ucapan Mayra membangkitkan kembali semangat Alan yang tadi telah pupus. Dua hari rasanya tidak akan lama. Itu artinya mereka bisa OTW di rumah Abah Dullah nanti.
"Beneran Dek?"
"Iya, Semoga ya!"
Mayra merebahkan diri di tepi ranjang di susul Alan. Keduanya menatap langit-langit sambil memikirkan sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu apa isi di dalam otak kepala mereka masing-masing.
"Sebenarnya aku belum mau menikah buru-buru Mas," ucap Mayra kemudian.
"Loh, emangnya kenapa May?"
"Karena Mayra masih kerjakan kemaren, tapi harus berhenti sekarang. uang itu buat bisa buat Ibu dan biaya sekolah Gavin. Ibu mana bisa kerja berat sedang Bapak pemabuk sepertimu!" Kali ini Mayra membuka semua yang dirahasiakannya pada Alan.
"Oh... karena itu. Tapi kenapa kamu mau menikah denganku May? Padahal kamu itu sangat jutek sekali?" Alan butuh penjelasan atas sikap dingin Mayra selama ini.
Perempuan itu pun hanya bisa menghela nafas panjang, "Ya mau bagaimana lagi Mas, aku takut kamu tidak bertanggung jawab dengan masa depan kita nanti. Seperti yang di lakukan Bapak sama Ibu. Kasihan anak aku kan jika punya Ayah berandalan sepertimu?"
"Waduh, jangan bilang gitu dong May. Aku bisa berubah kok. Asal kamu selalu tersenyum terus sama aku!"
Alan nyengir kuda, sembari membelai lembut pucuk kepala Mayra yang kini tidur miring berhadapan dengannya.
"Semoga kamu gak ingkar ya Mas, Mayra tidak mau terus-terusan menderita seperti ini. Jujur Mayra gak kuat jika kamu menghancurkan harapan Mayra nantinya!"
Alan menganggukkan kepala, "Iya, May. Aku janji akan bertanggung jawab untuk hidup kamu dan masa depan kita!"
Mayra mengembangkan senyumnya, Ia berharap Alan tidak sedang berbohong untuk melukai hatinya yang begitu mencintai Alan. Sejujurnya Mayra sengaja ketus pada Alan hanya untuk membuktikan kesetiaan Alan padanya.
Duh kok feeling aku ga enak ya aku takut ny athar kena imbas dri kelakuan teman2 nya palagi waktu itu syfa ambil fhoto ny athar di markas
untung malik masih percya lg sama athar,padahal athar pernah membuat malik sengsara.....kok masih ada kepercayaan nya....
jgn kita terlalu menilai dari segi sifat,sikap seseorang.......
terimakasih thor ceritanya.....walaupun pendek....manfaat juga..