Kata orang, mantan itu seharusnya dilupakan dan dibuang di tempat yang sewajarnya.
Tapi bagi Hazel Almondo, mantan harus diraih kembali untuk memperbaiki ketidaksempurnaan hubungan dimasa lalu.
Dan Bagi Vanila Granola, kembali ke mantan adalah hal yang sangat luar biasa jika itu bisa terjadi dalam hidupnya. Karena ia bahkan tidak pernah lagi menjadikannya tujuan.
Sakit hati pada sang mantan membuatnya jadi perempuan kuat dan tangguh.
Perempuan itu ingin memulai lembaran baru yang lebih berwarna.
Mampukah mereka merajut kembali kisah yang pernah hancur?
Nantikan di Back To Mantan hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 BTM
Hari yang cukup membahagiakan bagi seorang Hazel Almondo. Pria itu melangkah ke dalam ruangan kerjanya dengan bersiul-siul kecil dikarenakan hatinya yang sedang sangat senang.
Sang sekretaris cantik menyambutnya dengan ramah di depan ruang kerjanya.
Setelah memeriksa beberapa file tentang proyek-proyek besar yang akan dikerjakan oleh perusahaannya, ia pun meminta sekretarisnya agar menghubungi ketua Divisi Marketing agar segera ke ruangannya.
"Tari, tolong hubungi Pak Andre dari divisi marketing untuk segera menghadap kemari."
"Baik Pak." jawab Tari cepat. Gadis yang baru saja bergabung di Perusahaan itu cukup lincah dan gesit ketika diberikan perintah.
Tak lama kemudian ketua divisi yang dimaksud sudah berada di dalam ruangan CEO, Hazel Almondo.
"Tari baru saja menghubungi saya Pak. Katanya bapak ada perlu dengan saya." ujar Andre setelah lama duduk di depan meja pria muda pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Ah iya, maaf karena Pak Andre sampai lama menunggu. Saya sedang mengirim email penting ke investor kita di Luar Negeri.
"Tidak apa Pak. Dilanjutkan saja. Saya bisa menunggu." ujar Andre tersenyum.
"Nah, ini sudah selesai." Hazel Almondo segera memutar kursinya agar bisa langsung berhadapan dengan orang yang sangat penting dihadapannya ini.
"Begini pak Andre. Apa boleh saya menanyakan sebuah hal pribadi?" lanjut pria itu dengan sebuah pertanyaan.
"Tentu saja Pak. Silahkan." jawab Andre sembari mengangkat tangannya mempersilahkan secara sopan.
"Saya dengar anda memiliki seorang adik perempuan ya?" tanya sang CEO dengan nada hati-hati.
"Iya pak. Saya punya dua orang. Ada apa ya pak?"
"Apa salah satunya bernama Vanilla Granola?"
"Oh, Vanilla Granola adalah adik ipar saya Pak. Dia adalah adik kandung istri saya, kalau dia yang bapak maksud."'
"Oh iya, Vanilla itu yang saya maksud pak Andre." Hazel Almondo memperlihatkan deretan giginya yang rapih sembari tersenyum lebar. Ia sangat mendengar kabar ini.
"Ada apa ya Pak? apa adik ipar saya ada masalah dengan bapak?" tanya Andre dengan wajah penasaran.
"Oh tidak. Ini bukan masalah sebenarnya. Saya hanya ingin meminta bantuan Pak Andre untuk mengurus agar aku bisa kembali kepada Vanilla."
"Maksud bapak? Anda pernah menjalin hubungan dengan Vanilla adik ipar saya?" Andre menegakkan punggungnya dengan wajah serius.
"Iya Pak Andre. Saya adalah mantan suaminya dan ingin kembali padanya." tubuh Andre membeku. Ia bagaikan mendengar petir yang sangat keras dan sempat mengenai tubuhnya. Lima tahun bersama dengan Grinty sang istri, ia sungguh tak pernah mendengar kalau adik iparnya itu pernah menikah sebelumnya.
"Apakah yang anda katakan ini benar pak? setahu saya Vanilla tidak pernah menikah sebelum ini."
"Anda tidak percaya pada saya pak Andre?" tanya Hazel Almondo dengan tatapan intens pada karyawannya itu.
"Tentu saja saya percaya. Tetapi..." Andre tidak melanjutkan kata-katanya. Ia masih terlalu bingung dengan berita yang didengarnya ini.
"Kami berdua pernah menikah muda Pak Andre. Waktu itu masih kelas 12 SMA. Dan saya melakukan kesalahan dengan menceraikannya. Dan sekarang saya ingin kembali merajut kisah kami yang pernah rusak itu. Bolehkan Pak?"
UU
Andre tidak menjawab, ia tidak tahu harus berkata apa. Karena menurut kabar yang ia dengar dari sahabatnya Rifqy. Vanilla baru saja menerima lamaran pria itu. Lalu ia harus apa? memilih CEO nya atau memilih sahabatnya sendiri. Ia dilema.
"Mohon maafkan saya Pak Hazel, tetapi untuk hal tersebut, itu bukanlah wewenang saya untuk menentukan jawabannya. Sebaiknya anda menanyakan hal ini pada Vanilla saja."
"Oh begitu ya? tapi secara pribadi apakah Pak Andre menyetujui keinginan saya ini?" sekali lagi Andre tidak memiliki jawabannya. Secara kasat mata ia tahu semua yang dimiliki Hazel Almondo pastinya bisa memberikan kebahagiaan pada adik iparnya itu. Tampan, masih muda dan juga kaya raya. Tetapi?
"Pak Andre? anda mendengarkan saya 'kan?" Andre tersentak dari lamunannya. Ia langsung menatap Hazel Almondo dengan tatapan kosong. Ia jadi ingat sahabat baiknya yang begitu senang semalam.
"Eh iya Pak. Terus terang saya suka sama anda. Masih muda dan tentunya mapan. Tetapi saya mohon maaf. Semuanya adalah mutlak keputusan Vanilla, adik ipar saya."
"Terimakasih banyak Pak. Semoga nanti kita jadi keluarga." ujar Hazel Almondo sembari meraih tangan Andre dan menyalaminya. Ia benar-benar berharap mendapatkan dukungan dari keluarga Vanilla agar usahanya berhasil.
Dan yang terpenting adalah mengambil hati gadis itu agar ia bisa diterima kembali setelah memberinya luka.
"Baiklah pak, kalau tidak ada lagi yang dibicarakan, bolehkah saya kembali ke ruangan saya?"
"Ah ya silakan Pak Andre. Mohon maaf karena sudah mengganggu waktu kerja anda." ujar Hazel Almondo dengan sangat sopan. Andre hanya tersenyum kemudian segera keluar dari ruangan itu.
"Ndre? dari mana?" tanya Rifqy yang kebetulan berpapasan dengannya di arah menuju ruangannya sendiri.
"Habis ketemu Pak CEO."
"Apa ada masalah di divisimu?" tanya Rifqy lagi sembari memasuki lift bersamaan.
"Tidak."
"Lalu?"
"Tidak ada apa-apa, Pak Hazel cuma mau membicarakan hal pribadi denganku, gitu aja sih."
"Gak mau cerita?" tanya Rifqy dengan tatapan curiga.
"Aku bilang masalah pribadi ya pastinya gak boleh diceritakan kepada orang lain Qy." jawab Andre sedikit kesal. Entahlah apa yang sedang terjadi padanya. Ia tidak pernah seperti itu pada sahabatnya ini.
"Oh Maaf deh, Kayaknya kamu lagi PMS atau lagi sensi hahaha." ujar Rifqy sembari tertawa ngakak. Mereka cukup dekat hingga suka berbagi masalah pribadi jadi hal yang seperti ini sangat biasa mereka alami.
Andre hanya diam dengan pikiran yang bercabang. Ia berada dalam dua pilihan antara mendukung RIfqy atau Hazel Almondo.
"Apa pak Hazel menanyakan tentang Vanilla?" tanya Rifqy secara tiba-tiba. Pria itu hanya menebak-nebak saja tetapi berhasil membuat Andre tersentak kaget.
"Ah tidak. Kami hanya membicarakan keinginan dia untuk masa depannya." jawab Andre sekenanya.
"Hah? masa depan? puffft." Rifqy berusaha menahan dirinya untuk tidak tertawa karena ada beberapa karyawan yang juga berada bersama mereka di dalam lift itu.
Tring
Andre bernafas lega karena lantai tempatnya bekerja sudah sampai. Ia pun keluar dari lift itu tanpa mau menjawab semua pertanyaan Rifqy, sahabatnya yang selalu nampak ceria dimanapun berada.
Rifqy menarik nafas panjang sembari memandang punggung Andre yang semakin menjauh. Tiba-tiba saja perasaannya merasa tidak nyaman. Pria itu mencurigai sesuatu.
🍀
*Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
ternyata Tari😁👍
Terus berkarya ya