Cinta itu harus menghadapi banyak halangan.
Ibu Imah menganggap Zack terlalu tua bagi anak gadisnya. Pekerjaan Zack menuntutnya untuk selalu berada jauh dari Imah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RADISYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Seekor Laron Yang Mendekati Sebuah Lampu
Dengan senang hati, aku akan bertukar kabar dengan mu.
Aku pun ingin mendengarkan semua tentang kegiatan yang kau lakukan.
Tentang dimana kau tinggal saat mengunjungi sebuah kota, kemana kau menghabiskan waktu istirahat mu, mungkin juga cerita tentang teman-temanmu.
Jika kau tidak berkeberatan, aku ingin mendengar semua tentang mu. "
Tak disangka, Imah memberikan jawaban yang membuat Zack merasa lega, benar-benar lega.
Tadinya ia berfikir jika Imah akan menolaknya dengan alasan kesibukannya dibangku kuliah.
Ternyata apa yang ia inginkan sama seperti yang Imah inginkan.
Dengan semangat Zack menuliskan sebuah alamat pada Imah.
" Jika aku sedang libur dan berada dirumah, kau bisa mengirimkan kabar pada ku melalui alamat ini.
Disana juga ada alamat dimana aku beristirahat jika aku sedang menunggu waktu terbang.
Ada nomor telpon yang aku cantumkan disana, dan kau bisa menelpon ku."
Zack menyerahkan kertas berisi alamat itu pada Imah.
" Terima kasih, aku akan segera memberi kabar pada mu setelah kau kembali bertugas."
Imah mengambil kertas itu dan menyimpan ke dalam tas yang ia bawa.
" Aku tidak begitu pintar menulis, maksudnya aku tidak bisa merangkai kan kata-kata dengan indah.
Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk melakukan itu, menyampaikan suatu kabar pada mu dan kamu bisa mengerti apa yang aku sampaikan.
Aku ingin kita tetap berhubungan.
Aku ingin mendengar semua kegiatan mu di kampus, bagaimana kemajuan mu dalam menerima setiap materi mata kuliah, apa yang kau alami selama kuliah."
Zack berharap apa yang ia sampaikan, setidaknya membuat Imah merasa bahwa mereka berteman dengan baik, bersahabat, atau sebutan apapun yang membuat Imah nyaman, tapi tidak terlihat jika Zack merupakan seseorang yang melamar Imah atau Zack seorang calon suami bagi Imah.
" Zack sudah begitu terbuka, tapi ada beberapa hal yang tidak Zack sampaikan dan itu membuat aku penasaran.
Misalnya bagaimana Zack bisa tertarik dan ingin selalu berkomunikasi dengan ku. Apakah ada ketertarikan Zack pada ku? "
Melihat sikap Zack yang seperti ingin terus berkomunikasi membuat Imah berfikir dan bertanya apa yang sebenarnya yang dirasakan Zack mengenai hubungan mereka.
Imah belum bisa merasakan dengan pasti perasaan Zack, juga belum bisa menebak kemana arah fikiran Zack.
Zack sendiri sebenarnya merasa takut, takut menghadapi jika ia benar-benar menyukai dan mencintai Imah.
Mungkin Zack akan merasa terjerat pada Imah, dan itu merupakan hal tidak diinginkannya.
Jika ia bisa menyalurkan perasaannya melalui sebuah persahabatan, tidak akan ada resiko ataupun bahaya bagi mereka berdua.
Satu hal yang pasti, apapun yang terjadi, Zack tahu pasti bahwa ia tidak ingin kehilangan Imah.
Kali ini, Zack ingin tetap berhubungan dengan Imah dengan cara menjalin komunikasi.
" Kau sudah tahu alamat rumah ku kan Zack? Alamat rumah ku ada pada kartu nama yang diberikan oleh ayahku. "
Kata Imah bertanya pada Zack, dan mengingatkan bahwa ayahnya pernah memberi Zack kartu nama, dan disana tertera alamat rumahnya.
" Iya, aku ingat bahwa dikartu nama itu ada alamat juga nomor telpon rumah mu, dan aku selalu menyimpan kartu nama itu.
Aku juga menuliskan alamat rumahmu di kertas lain, aku menyimpannya didalam sebuah buku yang berisi catatan penting agar jika kartu nama itu hilang, aku masih menyimpan alamat mu di dalam buku itu."
Zack menjawab dan memberitahu Imah bahwa ia menyimpan alamat rumah Imah dengan baik.
" Tulislah surat segera setelah aku berangkat, agar aku juga bisa segera mendapatkan kabar dari mu. "
Zack sangat berharap Imah nanti bisa segera memberi kabar padanya.
Zack belum pergi meninggalkan Imah, tapi rasanya ia begitu ingin mendapatkan banyak hal dari Imah.
Suatu keadaan yang membuat Zack merasa lucu, saat ia begitu mengharap mendapatkan sebuah surat dari Imah.
Ia begitu tertarik pada Imah seperti seekor laron yang melihat terangnya cahaya lampu, begitu ingin mendekat.
Tak terasa malam itu berlalu begitu indah bagi Zack dan Imah.
Ketika orang tua dan kakak Imah kembali dari berpamitan dengan tuan rumah, mereka pun harus berpisah.
Imah harus kembali bersama keluarganya.
Dengan berat hati, Imah harus berpisah dengan Zack, harus meninggalkan Zack sendiri disana.
" Selamat jalan. " kata imah.
Imah berhenti sejenak saat kedua mata mereka saling berpandangan, saling menatap dengan segudang perasaan yang mereka ungkapan tanpa kata-kata, dan itu yang mereka rasakan dan mereka berdua inginkan.
Mereka sama-sama tak menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan semua rasa itu.
Beberapa saat kemudian imah melewati tempat api unggun dan menghampiri orang tuanya, lalu mereka meninggalkan tempat itu dan menghilang dari pandangan mata Zack.
Saat akan keluar dari tempat itu, imah membalikkan badannya menghadap kearah Zack, Imah melambaikan tangan pada Zack dan Zack membalas melambaikan tangannya.
Imah melihat Zack yang berdiri tegak, menatap kearahnya dengan ekspresi wajah yang serius.
Setelah Imah menghilang dari pandangan matanya, Zack berjalan perlahan mendekati api unggun dan duduk disana sendirian.
Masih terlihat beberapa orang disana, yang masih asik mengobrol dan ada yang sedang bermain gitar.
Zack tidak berniat mendekati atau bergabung dengan mereka.
Zack tidak mengenal mereka dan ia merasa lebih nyaman bila ia sendirian.
Zack ingin menghabiskan malam itu sendirian.
Temannya telah meminta ia untuk menginap di villa itu, dan Zack menghabiskan malam itu dengan lamunan dan impian akan kebersamaannya bersama Imah.
Banyak pengharapan yang ia tanam pada Imah.
Zack punya keyakinan jika Imah akan menghubungi dan memberikan kabar padanya.
Zack merasa tak sabar untuk menanti surat yang akan dikirim oleh Imah.
Ia begitu berkhayal, sementara ia masih berada disini, duduk sendiri ditemani hangatnya api unggun.
" Jika waktu bisa aku hentikan, ingin rasanya aku hentikan waktu saat aku bersama Imah agar tidak segera berlalu.
Agar tidak ada perpisahan dengan seorang gadis yang aku harapkan untuk selalu berada di sampingku.
Jika bisa aku hentikan waktu, aku ingin tetap berjalan berdampingan dengan saling bergenggaman tangan.
Mengapa malam ini begitu berat aku rasa saat aku harus membiarkan dirinya pergi."
" Kosong... Ada ruang yang terasa kosong dalam hatiku.
Saat ini terasa begitu sunyi walau tak jauh dariku masih ada yang sedang bernyanyi diiringi petikan gitar."
" Sepi... terasa teramat sepi, aku seperti sedang hidup sendiri di tengah sebuah kesunyian.
Ah.. rasa kehilangan ini membuat aku rasanya ingin menjerit, tak kuasa menahan rasa sepi ini sendiri.
Apa ini yang dinamakan merindu..??
Sebuah rasa yang hadir begitu saja saat dia tidak lagi bersama ku, saat dia begitu saja hilang dari sisiku.
Ya Tuhan... Bagaimana aku melewati semua ini? Semua rasa sepi dan kehilangan ini?
Belum lama ia ada disamping ku dan baru saja meninggalkan diri ku, tapi aku merasa telah begitu lama aku kehilangan dia, terasa begitu lama aku tidak melihat nya.
Ah... Rasa apa ini sebenarnya?
Baru kali ini, seumur hidup ku aku merasakan perasaan yang sangat menyiksa hatiku. "
Zack termangu sendiri, merasakan sesuatu yang terasa begitu menyiksa hatinya.
Ia berusaha memejamkan mata untuk mengurangi rasa sesak itu.
Tapi, saat matanya terpejam.. Seraut wajah seorang gadis muda justru hadir dalam pandangan matanya.
Seorang gadis yang tengah tersenyum dan menatap kearahnya dengan lembut.
Zack semakin mengeratkan menutup matanya agar bayangan gadis itu tidak hilang dari pandangannya.
Tak terasa, Zack tertidur didekat api unggun dan memimpikan kebersamaannya dengan gadis pujaannya.
ke ceritaku👃👃
Semoga Imah bisa kembali pulih setelah mengalami pendarahan. 🙏
Yg sabar ya Imah, semua merupakan cobaan dlm kehidupan mu. 🙏🙏
Semoga Imah dan bayinya baik" saja setelah kejadian itu. 🙏