Jika kita tidak pernah mencobanya makan dari mana kita akan tahu hasil akhir sebuah perjuangan? Rania memilih mundur ketika ia bukan menjadi pilihan satu satunya bagi seseorang. Trauma masa lalu Nia sapaan akrabnya yang ditinggal menikah sang kekasih dengan sahabat sendiri menyisakan trauma untuk jatuh cinta lagi. Kini ia dihadapkan dia pilihan, bersama tambatan hati atau merubah takdir cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Menikmati secangkir teh di tengah suasana dingin karena derasnya hujan. Rania duduk di sofa menatap kearah jendela besar.
Setelah usahanya stabil ia memutuskan untuk menyicil sebuah apartemen sederhana.
Lamunannya kembali ke masa masa itu. Ada suka juga duka ia dapatkan tiga tahun yang lalu.
Pertemuannya dengan Mario dan tante Ami menyadarkannya bahwa dunia begitu sempit.
Seolah ada hal yang belum selesai menuntut Rania untuk kembali kedalamnya.
Sania benar, seharusnya dulu ia tidak lari begitu saja. Lebih baik berpisah baik baik dibanding menghilang begitu saja seperti buih.
Rania bahkan harus sembunyi ketika Galih menjemput tante Ami di salonnya tadi sore. Ia belum siap setelah di kampus Rania harus kembali bertemu dengan Mario.
"Dia sudah memiliki tunangan, artinya Mario bisa bertahan selama ini. Dia mampu menjalani hidup tanpaku."
Entah mengapa hatinya berkata seperti itu. Bukankah bagus, namun Rania merasa tidak ikhlas mendapati kenyataan bahwa Mario sudah move on.
"Aku berhutang maaf padanya,,, "
Gumam Rania dengan tatapan kosongnya.
Di kantornya, Rania tengah mempersiapkan beberapa keperluannya untuk melakukan audit di sebuah perusahaan besar.
Setiap bulan nya ia akan melakukan kunjungan ke beberapa perusahaan untuk memeriksa data keuangan mereka.
Kali ini Rania diantar salah satu sekretaris nya, ia ingin wakilnya bisa menguasai tata cara audit supaya dapat menggantikannya jika sewaktu waktu Rania sibuk mengurus skripsinya.
Setibanya mobil yang membawa mereka, Rania begitu takjub melihat kantor yang bernuansa alam. Bukan gedung pencakar langit namun pekarangan luas yang dikelilingi pepohonan rindang di pinggir jalan nya.
Bahkan dari parkiran menuju kantor utama mereka sengaja memberi aturan untuk berjalan kaki. Kurang lebih seratus meter Rania dan Salsa harus berjalan.
"Selamat pagi bu, ada yang bisa kami bantu? "
Tanya petugas receptionist dengan penuh sopan santun.
"Saya audit dari instansi keuangan, sudah ada janji dengan pimpinan perusahaan."
Rania mengutarakan tujuannya.
Akhirnya mereka diantar petugas junior untuk pergi ke ruang kerja pimpinan perusahaan yang bergerak di bidang properti itu.
Kantor itu berkonsep open space dengan jendela yang mengelilingi ruangan. Bahkan disampingnya terdapat sungai buatan yang menambah kesan sejuk.
Rania begitu senang bisa datang ke tempat seperti ini. Ia mungkin akan betah berdiam diri meski seharian berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk.
"Selamat pagi,,, "
Sapa sang pemimpin yang baru tiba di ruang tunggu.
Rania menoleh ketika ia berniat menyapa kembali client nya. Namun ia malah terpaku menatap pria yang berada dihadapannya. Gagah, tampan dan memiliki senyum yang manis.
Meskipun hanya mengenakan kemeja putih oversize lengan pendek dan celana hitam tidak menghilangkan statusnya sebagai pemilik perusahaan tersebut.
"Oh ya, selamat pagi pak. Kami dari Jolly Law Firm yang diutus untuk mengurus beberapa aset milik Tusa Corp."
Rania sedikit kikuk dengan terus menatap ke sekeliling ruangan.
"Tempat yang bagus, aku maksud saya saya suka. Ehm,,, bisa kita mulai sekarang pak Galih Hartono? "
Salsa melirik bingung pada Rania, bahkan mereka belum sempat berkenalan namun atasannya itu sudah hafal nama pemimpin perusahaan.
"Anda bisa sepuasnya berkunjung, karena pintu ini akan selalu terbuka."
Galih melayangkan senyum kemudian mempersilakan Rania dan Salsa masuk ke ruang kerjanya.
Rania di paksa duduk di kursi kebesarannya untuk memeriksa laporan keuangan perusahaan induk milik Galih.
Sementara Salsa duduk di sofa ditemani Galih yang terus memperhatikan gerak gerik Rania.
Rania yang kini mengalami mata minus harus mengenakan kaca mata selama bekerja. Menambah kesan imut seperti anak remaja meski usianya sudah genap dua puluh lima.
"Jadi kapan saya bisa bertemu dengan pak Hartono?
Saya memerlukan beberapa syarat untuk tanda persetujuan akuisisi."
Rania bertanya tanpa melirik pada Galih, ia masih menatap fokus pada tumpukan berkas dihadapannya.
"Entahlah, aku khawatir dia terlalu sibuk dengan keluarganya. Mungkin dalam waktu dekat dia akan kembali ke Indonesia."
Galih memang tidak tinggal dengan papanya.
Hartono dan tante Ami ternyata sudah pisah sejak usia Galih menginjak tujuh belas. Namun hubungan orang tuanya terbilang baik karena mereka berpisah secara baik baik tentunya.
"Baiklah."
Rania tidak bertanya lagi.
"Bagaimana kalau kita makan siang setelah ini?"
Memberanikan diri Galih mengajak Rania pergi bersamanya.
"Salsa mungkin bisa, saya masih ada kuis hari ini."
Galih mengangguk paham mendengar jawaban Rania.
Pantas saja sejak tadi perempuan yang semakin dewasa itu tak mengambil jeda meski hanya untuk minum air yang sudah Galih sediakan. Rania mengejar waktu agar tidak terlambat ke kampus.
Mendadak asisten dosen barunya memajukan jadwal kuis setelah jam makan siang. Rania terpaksa izin pada atasannya untuk bekerja setengah hari.
"Terima kasih pak, hasil pemeriksaan aset anda akan keluar beberapa hari lagi. Untuk data keperluan akuisisi semoga bisa cepat dilengkapi."
Rania mengulurkan tangannya mengajak Galih berjabat tangan. Hampir empat jam Rania memeriksa keuangan perusahaannya. Kini masih ada satu jam untuk pergi ke kampus.
"Senang bisa bertemu denganmu Rania."
Galih membalas jabatan tangan gadis yang ia juluki my bias itu.
"Kami permisi,,, "
"Nia biar aku antar kamu ke kampus."
Galih menghentikan langkah Rania maupun Salsa.
"Thank you."
Tidak ada salahnya menerima ajakan Galih, toh ada Salsa diantara mereka. Jika Rania menolak malah akan terkesan aneh.
Salsa yang telah turun lebih dulu di suatu tempat makan kini tinggal menyisakan Galih dan Rania saja di dalam mobil.
"Wah, sekarang gadis pemalu disampingku ini sudah sukses ternyata. Aku sangat bangga padamu Rania."
Galih menengok sebentar ke arah Rania lalu kembali fokus menyetir.
"Berkat do'a bapak waktu itu aku bisa bertahan dan selalu bertekad untuk lebih semangat lagi menjalani hidup."
Galih merasa tersentuh mendengar ucapan Rania, ternyata dirinya bisa berdampak positif untuk orang lain.
Padahal berkat Rania pula Galih kini bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik dibanding sebelumnya.
"Kalau begitu aku ingin sebuah kompensasi untuk kontribusiku."
Galih tersenyum jahil menggoda Rania.
"Ternyata bapak belum berubah sama sekali."
Rania menatap tajam tak percaya jika Galih masih otoriter seperti dulu.
"Panggil saja aku Galih Rania, jangan bersikap formal denganku mulai sekarang."
Pinta Galih terhadap Rania.
"Hemm,,, bagaimana kalau pakai sebutan yang lebih sopan, biar rasanya tidak aneh."
Rania menimbang sebutan apa yang pantas untuk Galih.
"Ayolah Rania, kita hanya terpaut beberapa tahun saja. Aku tidak setua yang kamu pikirkan."
"Baik lah, kalau begitu kita akan berhenti di halte saja Mas Galih."
Rania menekankan kata Mas agar Galih merasa puas.
"That's sound great, tapi biar aku antar tuan Puteri kita hingga ke loby kampusnya."
Galih masih melajukan mobilnya sesuai dengan keinginannya.
Perhatian para mahasiswa tertuju pada sebuah mobil Fortuner keluaran terbaru yang berhenti di parkiran kampus.
Rania hanya bisa mengatur nafasnya untuk menetralisir rasa gugupnya.
"Tunggu sebentar,,, "
Perintah Galih yang kemudian turun membukakan pintu untuk Rania.
"Thank you."
Rania menyunggingkan senyum pada Galih.
"Selamat belajar Rania,,, "
Galih pamit namun sebelumnya ia mengacak gemas rambut perempuan itu.
Adegan itu tentu mengundang rasa iri para mahasiswi yang melihat ketampanan Galih. Berberapa mahasiswa yang sempat menyukai Rania pun merasa patah hati dibuatnya.
"Kalah saing loe haha... "
Ledek teman pria yang menaruh hati pada Rania.
Momen romantis keduanya juga tak luput dari pantauan Mario yang baru saja tiba di parkiran.
Jadi selama ini Rania masih berhubungan dengan Galih?
Apa pada sahabatnya kah Rania melarikan diri dan bersembunyi?
Jika Rania sudah berbohong telah kembali ke Bali Mario bisa Terima, namun lain halnya dengan kedekatan mereka.
Mario tidak bisa membiarkan mereka bahagia diatas penderitaannya.
Selama tiga tahun Mario berjuang bertahan demi menjaga nama baik Rania didepan orang tuanya.
Namun sekarang ia tahu Rania begitu tega menyakiti perasaannya dengan meninggalkan dirinya tanpa kata.
"Wah siapa tuh Nia, pacar ya? Ganteng banget tahu."
Tanya salah satu teman mata kuliahnya yang penasaran.
"Bukan, dia client tempatku bekerja. Ayo masuk! Aku tidak ingin telat mengikuti kuis."
Rania mengajak mahasiswi berkacamata itu menuju kelas mereka.
Rania yang masih mengenakan pakaian kerjanya sama sekali tak sungkan mengikuti kelas. Teman temannya pun mengerti situasi dirinya. Bahkan mereka salut pada Rania yang bisa mengatur waktu antara bekerja dan kuliah.
Dalam keadaan hening para mahasiswa fokus mengerjakan kuis yang sudah Mario siapkan. Rania memilih duduk di barisan paling belakang demi menghindari Mario.