jarum jam selalu berputar memutari dua belas angka yang sama yang terdapat di sekeliling nya, namun saat jarum jam membali menujuk angka yang sama, peristiwa yang perna terjadi sebelum nya telah menjadi masalalu.
Masalalu, sekuat apapum kita ingin kembali, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa terulang kembali layaknya jarum jam yang selalu berputar tuk kembali menujuk angka yang sama, kita hanya bisa memutar masa lalu hanya dalam sebuah ilasan kenangan.
"Gelang ini akan selalu tersenyum, mengingatkan mu padaku." Niana kembali mumutar ilasan kenangan nya, mengingat soso pria kecil penolong nya, setiap ia melihat gelang di tangan nya. "Aku ingin kembali ke hari itu."
Berharap pertemuan itu bisa terulang kembali, namun Waktu seakan merahasiakan Sebuah pertemuan yang tidak di sadari keduanya.
Hingga perjuangan, menjadi bukti kebersamaan mereka.
( Novel ini berkisahkan tentang perjuangan Niana dan Aksa untuk sampai akhirnya bisa bersama. Novel ini juga tidak hanya menceritakan percintaan saja, tapi juga mengangkat sebuah perjuangan seorang Aksa untuk meraih kesuseksanya, demi Gadis Impian nya, Keluarganya, juga Orang lain)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Sesampainya di di rumah Safira, dengan di sambut dua anak kembar perempuan yang tak lain Talea dan Talia yang memeluk Niana secara bersamaan.
"Kak Ana kemana saja, kenapa baru pulang?" Tanya Talea dan Talia bersamaan, tanpa melepaskan pelukan mereka.
"Maafkak kakak, kemarin Ayah kakak menjemput kaka, kakak harus pulang." Jawab Niana sembari melepaskan pelukan kedua anak kembar itu.
Niana melihat ke sekeliling rumah mencari orang yang sangat ingin dia temui, namun keberadaanya tidak ia temukan.
"Raksa tidak ada di rumah. Sejak kamu pergi dia udah gak masuk kerja, dia bilang akan punya kerjaan baru dan menyuruh tante untuk merekrut karyawan baru." Ucap Safira yang melihat Niana memperhatikan sekeliling seperti mencari sesuatu, yang ia simpulkan adalah Raksa.
keningnya berkerut akan rasa penasaran nya. "Dia kerja apa tante?"
"Tante juga tidak tau, kamu tau sendiri kan dia kalou di tanya seperti apa!" Jawaban Safira yang tidak bisa menjawab rasa ingin tau Niana.
"Tante ada yang ingin aku bicarakan serius, boleh aku tanya sesuatu?" Ucap Niana beralih melihat Safira
"Tentu sayang, Kalo begitu ikut tante kita bicara di kamar tante." Ajak Safira "Alea dan Alia lanjut main dulu ya, ibu mau bicara dulu sama kak Ana." lanjut imbuh Safira untuk kedua putri kembarnya.
***
Kini Niana sudah duduk di atas tempat tidur, berdua saling berhadapan bersama Safira. Pandangannya terfokus tatkala melihat sebuah poto keluarga yang terpajang di dinding kamar.
Terlihat di dalam poto, Safira yang jauh lebih muda nampak duduk di sebuah tempat tidur rumasakit menggendong seorang bayi, juga seorang pria yang sepertinya Ayah Raksa yang juga sedang menggendong bayi, bayi itu sepertinya tak lain Talea dan Talia. Dan satu orang lagi yang tak luput dari pandangan Niana yaitu anak kecil yang sangat Niana kenal.
"Itu poto terakhir keluarga kami bersama Suami tante, sebelum beliou meninggal." Tutur Safira melihat Niana yang memandangi poto itu begitu seksama.
"Itu poto yang diambil setelah Alea dan Alia lahir untuk kenang-kenangan, Kami belum sempat membuat poto keluarga yang lengkap setelah Alea dan Alea lahir. Makanya poto ini yang tante pajang, walou terkadang hati tante sakit tatkala melihatnya." Ujar Safira yang di iringi satu tetesan bening lolos keluar dari matanya.
"Apa itu Aksa?" Tanya Niana dengan sorot mata penuh harap dengan jawaban Safira.
"Iya itu Raksa."
"Jadi benar dia adalah Aksa yang aku cari selama ini." batin Niana, beranjak dari tempat tidur yang iya duduki menuju poto tersebut, tangan nya menjalar mengambil sebuah bingkai poto yang berada di atas nakas. Terlihat poto Raksa bersama seorang pria yang jelas adalah ayahnya. Tanpa di sadari Niana menitikan air mata memandang poto anak laki-laki penolongnya dulu.
"Terimakasih tante, semua ini sudah cukup untukku, aku bisa pergi sekarang." Niana menatap Safira setelah meletakan bingkai poto Raksa di tempat semula.
Kini Safira yang melihat Niana dengan penuh tanda tanya.
Seusai pertanyaan dari semua kepenasarannya terjawab, Niana kemudiam pamit kepada Safira kemudian pada Alea dan Alia akan keberangkatan nya ke Amerika.
****
Sebelum masuk kedalam mobilnya Niana berbalik melihat Rumah yang pernah memberi Niana kenangan indah, kehangatan sebuah keluarga yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, waloupun singkat tapi banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang yang tak akan pernah terlupakan oleh Niana.
Tak berapa lama sepeda motor memasuki halaman rumah itu, setelah motor itu terparkir Terlihat Raksa yang turun dari Motor sembari membuka helm yang dia pakai, yang kemudian perhatian pemuda itu tertuju pada Niana tang hampir memasuki mobilnya.
Niana menutup kembali pintu mobil yang sudah hampir ia masuki itu, berjalan menghampiri pria yang baru saja sampai di hadapan nya. Raksa sedikit memajukan langkahnya tatkala Niana menghampirinya.
"Aksa?" Pangil Niana, kedua matanya mulai memupuk cairan bening yang sudah hampir menetes keluar, namun sebisa mungkin ia mengejapkan matanya menahanya untuk kekuar. "Aku tau selama ini kamu sudah menyadari siapa aku?" pemuda di hadapan nya bergeming mendengar ucapan Niana.
"Lalu apa yang kamu harapkan, dari aku yang sudah tau siapa dirimu?" Jawab Raksa yang terdengar mengagetkan di telinga Niana. Niana yang mendengar ucapan Raksa jelas tidak bisa lagi menahan cairan bening yang sudah terpupuk di dalam matanya, untuk keluar.
"Aku selalu ingin bertemu dengan mu, dan setiap pertemuan kita kembali, pasti kita tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang lama."
Raksa hanya mengerjapkan matanya sesaat mengalihkannya dari Niana dengan sebuah tarikan Nafas dalam yang ia hembuskan, entah apa yang di rasakan nya saat ini.
"Aku akan pergi ke Amerika dua jam lagi, waloupun aku pergi untuk waktu yang lama, aku harap ini bukan pertemuan terakhir kita." Niana masih dengan mata yang meneteskan butiran kristal beningnya.
"Pergilah, jangan buat ayahmu kecewa." Jawaban singkat Raksa yang membuat Niana mengalikan pandangan berusaha untuk tak meneteska lagi air matanya.
"Aksa, aku tidak ingin pergi. Aku ingin bersamamu disini, pria kecil yang selalu hadir dalam bayangan ku." Niana melangkahkan kakinya semakin mendekat.
"Pergilah, untuk apa kamu di sini?" ucapan Raksa kembali membuat Niana tak percaya. "Amerika lebih baik untuk mu. Aku tidak menginginkan mu di sini, lupakan bantuan kecil yang pernah ku berikan. Banyak orang yang sudah ku bantu dan ku temui, tapi semuanya tidak berarti apa-apa lagi setelah itu, aku hanya tidak bisa melihat orang lain kesusahan."
Tak ada kata lagi yang sanggup Niana keluarkan, rasa kecewa yang sangat jelas dia rasakan membuatnya segera beranjak pergi. Satu hal yang Niana mengerti, dia tidak berarti apa-apa untuk Raksa, sama saja seperti orang yang dia tolong.
****
Setelah Niana tak terlihat lagi dari pandangan Raksa, pemuda itu nampak gusar, berteriak emosi, kaki nya melangkah tak beratura menuju motor nya, tubuhnya merengkuh mekul mukul jok motor melampiaskan perasaan kesal kecewa pada dirinya sendiri yang tak mampu berbuat apa-apa.
Ingatan nya kembali memutar ucapan Agata Wijaya.
flashback On....
Beberapa jam lalu, Raksa yang baknya remaja pada umum nya merasakan galau dengan pikiran nya yang penuh dengan Niana. Raksa pergi ke rumah sahabatnya, Harry. Di rumah Harry Raksa mencoba mecari data Niana di internet, dan informasi yang ia dapat sangat jelas bahwa Niana adalah seorang putri dari salah seorang pengusaha terpandang di negri ini.
"Harr, apa kamu tau pengusaha Agiata Argani Wijaya?" Tanya Raksa pada sahabatnya.
"Tentu saja dia itu CEO, Owner prusahaan properti terbesar PT Propat Jaya Mandiri pemilik sekolah kita juga, dia juga pemegang saham terbesar di perusahaan papaku," Penjelasan Harry, membuat Raksa antusias.
"Kalou begitu kamu tau rumahnya dimana?" Tanya Raksa yang begitu antisias, "Di googling alamatnya tidak tertera."
"Memang mau apa kamu ke rumahnya?"
"Gadis impianku, gadis kecil yang pernah ku bantu dulu, ternyata putri tunggal Agata Argani Wijaya."
Harry begitu terkesiap. "Sudah gila kamu, jangan bercanda."
"Aku serius, aku mohon."
"Tentu saja aku tau, aku dan ayah pernah mengantarkan bingkisan hari raya ke rumahnya. Kamu yakin mau kerumahnya?"
"Iya cepat mana alamatnya?"
"Kalou begitu aku yang akan mengantar mu, bertemu orang penting kamu kira gampang." Tukas Harry.
Salam Dari Navillera (Cinta yang beracun)
~Cinta Pertama~