Nadia Vega, gadis cantik yang mencintai pria yang tak di anggap oleh keluarga nya. terpisah karena ambisi sang kakak pria yang juga mengagumi nya. melakukan berbagai cara licik untuk memiliki nya.
banyak rintangan yang harus mereka hadapi, termasuk terhalang restu dari orang tua nya sendiri.
dapatkan Nadia memperjuangkan kebahagiaan nya dan melawan kakak dari pria tersebut?
apakah setelah berpisah mereka akan bertemu lagi?
yuk kepoin cerita nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun Nazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTUNANGAN YANG TAK DI INGINKAN
Part 19:
Sampai lah kami di sebuah taman kota yang di rias begitu indah, seperti sedang ada pernikahan dan sebagainya. Perasaan ku sudah mulai cemas dan bertanya-tanya, apa maksud dari semua ini. Tapi tetap ingin ku ikuti alur cerita nya.
Aku pun melangkah dengan seksama di atas karpet merah yang sudah di susun dengan sedemikian rupa. Yang di kelilingi oleh banyak orang di sana.
Namun langkah ku seketika terhenti. Aku terhenyak melihat orang yang berada di altar.
Untuk apa ka Andre dan keluarganya di sana?, apa arti dari semua ini?. Mengapa ka Andre berpakaian sangat rapi, dengan mengunakan setelan jas. Berbeda dengan yang lain, yang hanya menggunakan baju batik biasa. Ada satu yang membuat ku lebih heran, di sana aku juga melihat Avi bersama kekasih nya itu. Karena permasalahan ku yang cukup besar, aku pun tidak sempat untuk bertanya, kenapa dia bisa ada disini, di tempat orang-orang yang membangkang ku.
Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Soal diri nya yang akan memiliki ku seutuhnya. Apa dia akan melamar ku?. Dan artinya, aku dan ka Andre akan bertunangan, itu artinya, hubungan ku dan Daniel akan berakhir. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku menggeleng cepat, dan membalikkan tubuh ku untuk berusaha kabur dari tempat itu.
Tapi saat aku mencoba untuk lari, dengan sigap pula anak buah ka Andre mencekal lengan ku, hingga aku sulit untuk bergerak. Dengan paksa mereka menyeret tubuh ku ke atas podium dan menghadapkan ku ke mereka.
Ka Andre tersenyum puas kepada ku, dia seakan merasa menang karena telah berhasil mengelabui ku dengan cara licik nya itu.
***
Daniel yang masih berada di rumah sakit, berusaha berulang kali menghubungi Nadia, namun, tidak ada satu pun panggilan nya yang terjawab. Entah mengapa tiba-tiba perasaan Daniel jadi tak menentu. Pikiran nya terus saja tertuju pada Nadia, mungkin karena sekarang ini mereka sedang bertengkar.
Daniel pun masuk ke ruang rawat Mira, karena sejak Nadia pergi, Daniel tidak menghampiri Mira sama sekali, karena dia terus memikirkan Nadia.
" Ka Mira, apa keadaan ka Mira sudah mulai membaik?." Tanya Daniel saat sudah berada di ruangan Mira.
" Sudah agak lumayan sih. Kata dokter, hari ini juga boleh pulang." Jawab Mira lagi.
" Kalau gitu, bisa gak kita pulang sekarang?." Terdengar memohon.
" Bisa!. Tapi, emang kenapa? ko buru-buru?."
" Gak papa sih ka, cuma pengen cepat pulang aja, karena udah ngerasa lama di sini"
" Ah, enggak ko, baru jam tiga sore!." Sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.
" Tapi kalau kamu mau cepat pulang juga gak papa, tapi kamu nganterin saya sampai rumah kan?"
" Iya deh ka, nanti saya anterin sampai rumah, tapi saya gak bisa mampir, gak papa kan?"
Mira hanya mengangguk, tapi nampak ragu. Karena dia berharap Daniel bisa mampir ke rumah nya dan memperkenalkan kepada keluarga nya.
Setelah semua di rasa sudah siap, Mira dan Daniel pun menuju mobil dan segera menuju ke rumah Mira.
" Beneran nih gak mampir, padahal aku berharap banget loh kamu bisa mampir ke rumah aku." ujar Mira yang sudah berada di luar mobil Daniel. Daniel hanya menggeleng dan tersenyum menanggapi pertanyaan Mira. Dan untungnya Mira mau mengerti.
" Ya udah deh, tapi lain kali kamu berkunjung ya ke rumah?." Lagi-lagi Daniel hanya mengangguk sambil tersenyum.
" Ya udah kalau gitu saya pamit pulang dulu ya?." Pamit Daniel. Daniel pun langsung tancap gas untuk segera pulang ke rumah nya, tapi dia berubah pikiran. Daniel memilih untuk ke rumah Nadia terlebih dahulu, berusaha menyelesaikan permasalahannya dengan Nadia.
Namun setelah sampai di rumah Nadia, rumah itu terlihat sangat sepi. Bahkan tidak ada tanda-tanda ibunya berada di rumah.
Karena penasaran, Daniel keluar dari mobil nya dan bertanya pada salah seorang tetangga Nadia yang kebetulan tidak ikut ke pertunangan Nadia dan Andre.
" Pak, pak!." Panggil Daniel kepada laki-laki yang sudah lumayan tua, umur nya sekitar delapan puluh tahunan.
Bapak itu menoleh dan segera menghampiri Daniel. " Iya ada apa?." Tanya bapak tersebut.
" Saya mau tanya, orang yang ada di rumah itu kemana ya?." Daniel pun menunjuk ke arah rumah Nadia yang kosong itu.
" Oh itu, Bu Diana dan anak nya?, memang nya anak ini tidak tau kalau mereka sedang ada acara?." Ucap bapak itu malah balik bertanya.
" Tidak pak, memang nya sedang ada acara apa?."
" Kalau itu saya kurang tau, tapi yang saya lihat, mereka pergi dengan mobil mewah, dan pakaian nak Nadia sangat bagus, seperti putri-putri yang ada di dongeng. Cantik sekali!." Jelas bapak itu.
Daniel mulai mengerti yang di maksud orang tua tersebut. Dia mulai tidak enak hati, pikiran nya mulai tertuju pada kakak dan orang tua nya. Karena dia pernah mendengar mereka bertiga merundingkan sesuatu, meski dia tidak tau apa, karena Daniel tidak mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.
" Bapak tau ga mereka ke mana?." Daniel mulai cemas, dia bertanya sambil tergesa-gesa.
" Kalau itu saya kurang tau nak."
" Oke, makasih ya pak." Tanpa pikir panjang, Daniel segera melaju kan mobil nya. Dia benar-benar sangat takut jika apa yang dia pikirkan terjadi. Bagaimana jika Andre melamar nya, atau yang lebih parah, bagaimana jika dia menikahi Nadia saat ini juga. Perasaan nya benar-benar hancur jika itu terjadi, meskipun saat ini mereka sedang bertengkar, tidak seharusnya itu terjadi. Daniel masih sangat mencintai Nadia. Dia sadar, pertengkaran itu hanya bumbu-bumbu dalam cinta, agar sebuah hubungan terasa gurih, maka harus ada lika-liku nya.
***
Tak lama kemudian, seorang wanita muda membawa sebuah nampan yang di hias cantik yang berisi dua buah kotak merah. Wanita itu menyodorkan nampan tersebut kepada ka Andre, sebelum akhirnya seorang MC memberikan arahan.
Kini ka Andre sudah memegang sebuah cincin yang akan di semat kan di jari manis ku. Dengan hitungan detik cincin itu akan masuk ke jari manis ku. Hati ku benar-benar patah saat ini, tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali menangis. Air mata ku tak henti hentinya mengalir. Seharusnya yang menyematkan cincin itu adalah Daniel, pupus sudah harapan ku untuk bersanding dengan nya di pelaminan kelak. Apa mungkin ini akhir dari sebuah perjuangan ku dan Daniel?. Ini terasa begitu kejam bagi ku. Mengapa garis takdir ku seperti ini?. Mengapa ada pertemuan jika harus ada perpisahan?. hati ku sangat hancur berkeping keping saat ini, hingga berani berpikir demikian. Hati yang di selimuti emosi, akan mudah berpikir buruk.
Air mata ku semakin tak terbendung hingga membuat ku sesegukan, saat cincin itu telah berada di jari manis ku.
Semua mata para undangan tertuju pada ku, mereka melihat ku heran. Ada yang saling berbisik, dan ada yang menatap ku dengan tatapan tajam. Dan kini giliran ku yang memasangkan cincin di jari manis ka Andre. Diam-diam, mata ku mengitari para undangan yang hadir, berharap Daniel akan segera muncul di tengah-tengah mereka dan menghentikan pertunangan ini. Namun harapan hanya tinggal harapan, aku tidak menemukan Daniel di sana, dan tentunya pertunangan ku akan tetap berlangsung. Ada-ada saja Nadia, itu hanya ada di sebuah sinetron 😀.