" Tanda tangani surat pengalihan perusahaan Wisesa Grup, kalau tidak mau, kalian semua akan kami siksa "Gertak Vera, ibu tiri Hardiansyah.
Dengan disaksikan istrinya Kiara, Hardiansyah menandatangani pernyataan penyerahan pengelolaan perusahaan.
Juna menantu Hardiansyah mendengar dibalik pintu baja, ia bersembunyi di lorong bersama Alissa istrinya yang baru melahirkan satu minggu.
Aruna Putri Permana yang baru berusia satu minggu dibawa Jono dan Isah, supir serta pengasuh setia keluarga Hardiansyah, mereka telah menunggu Juna yang lewat lorong di rumah kecil disebelah rumah utama sampai dua jam tak kunjung datang, sehingga mereka berpendapat kalau keluarga Hardiansyah telah dibunuh maka untuk menyelamatkan Aruna sebagai keturunan Wisesa, Jono dan Isah lari ke Jogja.
AFfandra cowok tampan anak Ferdiansyah harus pindah sekolah ke Jogja di SMA Aruna sekolah bahkan sekelas dengan Aruna.
Tasya, ikut pindah ke sekolah Ffandra dan sekelas dengan Ffandra juga Runa.
Penasaran? baca ya cerita ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika77h, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17 Aruna Kecegur Kolam
Di dalam daadaa Tasya terasa perih, sakit bahkan mati rasa, ia tak mampu lagi konsentrasi, raga ada di pinggir kolam tapi pikirannya melayang entah kemana, selama di Jakarta ia bersama Ffandra penuh keceriaan, dia sering menuruti Tasya jalan bareng ke tempat tempat yang Tasya inginkan, tetapi tiba tiba Ffandra harus pindah sekolah ke Jogja, Tasya dengan mata kepala sendiri melihat kedekatan Aruna dan Ffandra, ia batinnya terluka sangat dalam, cowok yang ia sayangi lari ke lain hati, ia kaya sudah tidak tahan melihat kemesraan keduanya, Tasya tak kuat untuk tidak menangis, iapun bangkit terus menengok ke kiri ke arah Aruna yang masih digenggam erat punggung tangannya yang lagi pegang kail, dan saat itu Tasya yang sangat kesal tubuhnya sengaja ia senggolkan ke tubuh Aruna, dan Aruna tak punya keseimbangan untuk mempertahankan tubuh,
" Aaaaaaa, byuuuurrr!" Aruna kecebur ke kolam yang cukup dalam walau di pinggir, sementara Aruna tak bisa berenang, tangannya tadi sempat lepas dari genggaman Ffandra, dan Ffandra tanpa pikir dua kali langsung menceburkan diri ke dalam dengan menyelam, untung airnya jernih sehingga bayangan Aruna terlihat jelas dari atas dan Ffandra karena terus sigap bisa menangkap tubuh Aruna yang bagai batu betada di dalam, langsung ia angkat dengan berenang melingkarkan tangan kepinggang Aruna yang bisa tak bernafas di dalam air sehingga tak sempat minum air kotor, terus Ffandra mendudukkan Aruna di pinggir kolam.
" Aku tahu kamu di dorong tubuhnya oleh Tasya, aku jadi tambah tak simpatik padanya," kesal Ffandra, sementara tubuh keduanya basah tentu kaos putihnya juga basah, kaos putih Aruna ysng tipis terlihat jelas HB warna cream melingkar menutup dua gundukan yang menyembul ke depan, warna kulit putih dari bagian pinggang sampai leher terlihat jelas, Aruna menjadi sangat kikuk, dan kedua tangannya menarik kaos depan daadaanya biar tak terlihat lekuk depannya,
" Nduk, kamu kecegur kolam," Bunda berlari menghampirinya, matanya berkaca kaca,
" Ya Allah Run, untung ada Ffandra, kamu enggak bisa renang,"tangis Bunda tak bisa ditahan, ia sampai ketakutan kalau terjadi sesuatu yang membahayakan padanya.
" Bunda bisa gila Run kalau kamu kenapa napa," tangisnya lagi, Jono yang ada agak jauh berlari ketakutan juga ia memancing sendiri karena Isah tak mau ikut mancing mending duduk duduk di bawah pohon sambil menggelar tikar.
" Kenapa anakku Deee!" Jono yang panik juga sempat tanya dengan nada keras pada istrinya.
" Ya Allah putriku, bapak bisa gila kalau kamu kenapa napa!" matanya berkaca kaca sambil berangkulan tiga orang itu.
" Sudah Bun, Runa disuruh mandi dan ganti baju dulu, sudah kedinginan nanti masuk angin," pinta Ferdi yang mendekat juga, Bunda terus ngambilkan baju ganti dan mengambil sabun cair sama sampo yang selalu di bawa kalau bepergian.
" Ffan, kamu bawa ganti kan," ucap Mama.
" Iya bawa Ma, cuma sabunnya sama sampo enggak bawa,"
" Pakai punyaku Ffand, dan makasih ya kamu telah menolongku," kebetulan ia bawa sampo sasetan terus sabun cairnya di masukkan ke gelas mineral biar tidak nunggu gantian mandinya, sementara bibir Runa telah memucat, tubuhnya menggigil kedinginan dan dari tubuhnya juga sudah berbau amis demikian Ffandra.
" Ternyata bermanfaat bawa alat mandi," ucap tante Mia Mamanya Ffandra dan Ferdi juga mendekat.
" Bentuk bodi Aruna persis juga Alissa," sejauh ini Ferdi hanya membatin saja, untuk keceplosan tanya pada Jono belum terpikirkan.
Mereka ke kamar mandi agak lumayan jauh, Bunda sama Ayah Jono masih gemetar tubuhnya mengikuti dengan menunggu tak jauh dari kamar msndi.
" Sengaja di dorong sama Tasya mas anak kita,"
" Aku jadi geram pada dia, kalau sampai kenapa napa kita tuntut dia," ucap Jono.
Sementara Juna beserta keluarga memang satu lokasi dan mereka sempat mendengar ada cewek yang kecegur kolam, tetapi mereka tak tertarik mendekatinya, sebab mereka juga tak ingin banyak orang yang mengenal wajahnya, yang terpenting bagi mereka bisa refresing tanpa ada orang yang mengenali terutama suruhan Manyu, biasanya Juna, Alissa juga Hardiansyah beserta istrinya kalau ada orang yang menatapnya akan menunduk atau membalikkan tubuh selama bukan tetangga di lingkungan rumah, beda dengan Arine serta Alfin adiknya, mereka tak bisa melarang untuk bersosialisasi terutama dengan teman teman sebayanya, seperti sekarang di pemancingan,
" Mas Dani, bukankah itu anak yang tadi malam ditabrak sama mba Tasya," tunjuk Danis, Dani matanya mengikuti arah tunjuk jari Danis, dan Dani menatap lekat pada Alfin, sedang dia tak merasa ada yang memperhatikan karena jaraknya agak jauh dari tempat bermain dengan Arine.
" Iya bener De, tapi ngomong ngomong itu yang cewek sama cowoknya mirip 11, 12 ya," dan dalam hati mereka mirip Aruna terutama ceweknya, beda tipis dengan Aruna,
" Tentu kakak adik, mas Dani tertarik pada ceweknya, dekatin yuk," ajakkan Danis diterima, berdua berjalan sambil ngobrol.
" Ide kejadian Tasya tadi malam dengan nabrak ke ceweknya saja mungkin bisa di jadikan modus untuk bisa kenalan sama ceweknya yang mirip banget Aruna," batin Dani, dia sambil ngobrol sama Danis tapi cari jalan untuk bisa kenalan dengan mereka, sedang ide belum bisa dilaksanakan, kedua anak yang mirip Aruna lagi main bola, bolanya kena pipi Dani,
" Bluug," cukup lumayan keras karena pipi Dani sempat panas, terus Danis yang disebelahnya menangkap bolanya, Alfine merasa bersalah bersama Arine mendekati Dani dan Danis,
" Maaf kak, tak sengaja aku menendang bolanya dan aku enggak lihat kakak lewat," ucap Alfine.
" Tak apa De, lain kali hati hati ya main bola ditempat ramai, ohya boleh kami berdua kenalan," ucap Dani, dan keduanya menerimanya.
" Dani"
" Arine"
" Danis"
" Alfine"
Selanjutnya mereka saling berkirim nomer ponsel dan sempat foto bareng ada 5 pose.
" Oh ya mas Dani, guruku juga ada yang pindahan dari sekolahmu," cerita Arine agak malu ngomongnya.
" Iya bener pak Danu Wicaksana," ucap Dani, Arine mengangguk, dan tahu tahu Arine, Alfine di dekati Papanya diajak makan, dan Alfinepun cerita pada Papanya tentang kejadian tadi sehingga mereka jadi ngobrol bareng.
" Ayuk De ikut makan sekalian, kami bawa nasi dari rumah," karena dipaksa keduanya mau, mereka duduk di tikar dan Alissa membagi daun pisang yang sudah bersih sebagai alat untuk makan.
" De Alfine tadi malem saat masuk ke rumah makan Tentrem yang ketabrak temanku ya," Alfin mikir sejenak terus mengangguk.
Sepanjang menikmati makan pakai daun dengan piring rotan dibawah daun, Dani melirik ke Mamanya Arine juga ke Arine sama Alfine, juga seluruh anggota keluarga di tikar, batinnya selalu bilang Aruna Aruna, mereka pada mirip Aruna, tetapi ia tetap menikmati makanan dengan ayam goreng juga orek tempe cabai hijau.
Hampir satu jam Dani dan Danis bergabung dengan keluarga Arine, akhirnya kedua anak minta diri untuk kembali ke keluarga tentu ucapan terima kasih tak mereka lupakan.
Dani dan Danis kumpul lagi bersama rombongan, cumsn mereka masih enggan cerita telah di kasih makan oleh keluarga Arine, keduanya malu dikasih makan orang, tentu teman teman terutama Radhit akan menggoda terus kalau cerita.
" De Danis jangan cerita kita dikasih makan orang ya," Danis sehati juga sama Dani tentu sama kakaknya juga digoda sehingga mengiyakan.
" Mas Dani, pokoknya ini jadi rahasia kita berdua ya,"
" Yeeez!" kedua anak beda umur toz untuk tutup mulut.
" Lho mas Ffandra sama mba Aruna bajunya ganti, kenapa, basah lagi rambutnya?" usik Danis.
" Baru terpeleset terus kecegur kolam," ucap Aruna,
disitu ada Tasya, walau tak ada Tasyapun Aruna tak akan mengatakan di dorong oleh Tasya pada orang lain, cukup ia sendiri yang tahu.
" Bener bener Aruna anak sabar, ia kayaknya yang penting bisa tertolong karena tak bisa renang, tapi aku menjadi kesal sama Tasya," batin Ffandra, matanya ia tatapkan ke Tasya dengan tatapan tak bersahabat.
Setelah menjalankan kewajiban bersama di Mushola yang ada di areal pemancingan, rombongan menuju rumah makan dan kali ini yang bayar Papanya Ffandra.
Sementara keluarga Juna sudah keluar dari areal pemancingan, terus pulang ke rumah, sehingga tak sempat ketemu dengan Ferdiansyah.
" Habis ini kita langsung pulang ke Jogja ya," pinta Ferdi, semua yang sudah bawa pakaian selama menginap di rumah Jono mengiyakan.
" Tidak ada yang ketinggalan di motel kan, barang bawaannya," kata Jono,
" InsyaAllah tak ada," semua menjawab.
" Kalau ada aku bisa menghubungi ponakanku untuk disimpan, kapan kapan bisa di ambil," ucap Jono, Ffandra kaya pengin ikut mobil Jono, karena ia ingin menemani Aruna, tetapi sebenarnya Aruna belum ada benih benih dihatinya tentang nama Ffandra, ia masih menganggap teman kaya ke Bagas, cuman Aruna merasa berhutang budi padanya, tadi saat kecegur kolam dengan sigap Ffandra menolong, kalau dia tak cepat cepat menolong bisa terjadi Aruna sudah minum air kolam yang tercampur makanan ikan.
" Dan, kamu yang nyupir mobilku ya," pinta Ffandra, Dani tak menolak, ia sendiri otaknya tak henti henti membayangkan keluarga Arine.
" Kok bisa kok bisa ya mereka setipe fisiknya dengan Aruna," Dani orangnya suka pada cerita ditektif, bahkan Arine dengan keluarga sama Aruna yang punya kesamaan menggelitik dirinya untuk mengoreknya, seperti Tasya yang pindah ke Jogja sudah ia korek, baik dari Tasya, Ffandra sampai pada Danis juga Mamanya Ffandra, walau masing masing cerita kebenarannya perlu dipertanyakan, cuman Dani telah bisa menyimpulkan kalau Tasya sangat mencintai Ffandra sedang Ffandra sebagai laki laki normar tak bisa menolak yang Tasya berikan, cuman Ffandra masih nyadar bener, ia menolak saat Tasya mau menyerahkan dirinya,
" Gilaa kamu Sya, nyadar donk kita baru lulus SMP, tolong dipakai bajumu," itu cerita Ffandra, sedang Tasya ceritanya lain, yang memaksa untuk melakukan ialah Ffandra, Tasya sampai ketakutan dengan kekerasan yang dilakukan Ffandra,
" Bajuku sampai di sobek, karena aku tak mau melakukan itu Dan, Ffandra laki laki breenggseek," tandas Tasya.
" Lho kamu tahu Ffandra laki laki tak baik, kenapa kamu nyusul pindah sekolah disini bersama dia lagi?"
" Aku tentu menginginkan ia bertanggungjawab atas perlakuannya padaku, tentu aku malulah, karena ia telah tehu milikku dan aku selanjutnya hanya ingin dialah yang tahu tubuhku," aku sampai mengacungkan jempol padanya.
Aruna sama Ferdi dan Mia, di mulai dgn keakraban sm Jono dan isah, juga Ffamdra, sehingga hati nya sudah tertata, bahkan sebelum ketemu Juna sama Alissa, Aruna tidak tahu kalau mereka masih saudara.