Takdir tak pernah salah, terkadang kita saja yang tak bisa menerima. Semua yang di rencanakan Allah adalah yang terbaik dari rencana manusia.
**
Razka tak menyangka kepergian nya ke negara orang untuk mengawasi proyek ayahnya akan mempertemukan ia dengan seorang wanita yang lemah lembut bernama Fauziah Azahra Raymond
Satu kali saling menatap membuat pikiran Razka kalang kabut.
Demi menghindari zina pikiran, Razka pun berniat melamar Zia. Hatinya sudah mantap.
Hingga Razka pun menyampaikan niatnya pada sang Abi., Awalnya Gabriel sang ayah sangat senang karena anaknya mau membuka hati. Namun, setelah tau siapa ayah dari wanita yang ingin di lamar Razka dirinya hanya diam dan tak tau menjawab.
Bagaimana bisa anaknya ingin menikah dengan anak dari musuhnya yang telah membunuh keluarga istrinya di masa lalu.
Apa mungkin Gabriel akan mengizinkan Razka melamar anak musuhnya yang tak lain adalah putri dari Daniel.
Mengingat istrinya Aria masih belum bisa melupakan kejadian itu walau bibir mengatakan sudah ikhlas.
Bagaimana bisa mereka berbesan nantinya sedangkan masa lalu belum kunjung terlupakan?
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Akankah Gabriel menyetujui. Jika iya, bagaimana dengan Daniel?
Penasaran dengan lika-liku percintaan Razka dan Zia yang di bumbui sedikit hal mistis.
Simak selengkapnya disini di novel author
Cerita ini hanyalah fiksi.
Note:
Tidak menerima tindakan plagiat apapun itu, jika di temukan kasus plagiat maka akan saya bawa ke rana serius.
Hargai manusia selayaknya manusia!
Jika tak suka, silahkan tinggalkan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Rii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Masih di pagi yang hangat.
Pagi masih berlanjut, sarapan sudah tertata rapi di meja makan. Razka turun dengan wajah yang bahagia, ia sudah belajar dari Abi nya bagaimana cara membuat wanita grogi dan mati kutu. Ternyata ajaran Abi nya mujarab.
"Pagi, umi." Razka mencium pipi Aria lalu tersenyum manis ke arah sang ibu.
"Loh, kok rambut mu tidak basah?" Aria memegang rambut Razka.
"Maksudnya?" tanya Razka bingung.
"Ck, ck, ck, gagal malam pertama yah," ledek Gabriel mengacak rambut Razka.
"Bukan gagal, tapi di tunda," sahut Razka enteng sembari menatap sang ayah.
"Mana istrimu! Mengapa kau turun sendirian?" tanya Aria tak melihat Zia turun bersama Razka.
"Hahahaha, Abi. Rencana Abi bagus juga," tawa Razka membuat Gabriel ikut tertawa dan Aria malah kebingungan.
"Rencana apa?" tanya Aria.
"Rahasia," jawab Razka pergi meninggalkan Aria dan Gabriel berduaan.
"Rencana apa yang kalian katakan tadi? Apa kalian berbuat aneh-aneh pada menantu?" tanya Aria mengintrogasi suaminya.
"Bukan rencana apa-apa, sayang. Hanya sedikit mengajarkan Razka bagaimana menjadi laki-laki mesum," jawab Gabriel sembari tersenyum menampilkan gigi putih nya.
"Razka kan masih polos, mengapa harus di ajar yang mesum-mesum?" kesal Aria memukul lengan Gabriel.
"Lah, kalau polos-polos saja mana bisa, sayang. Nanti kita lama dapat cucu baru," sahut Gabriel mengelus lengannya.
"Mesum seperti apa yang kau ajarkan pada Razka, hm?" Tanya Aria.
"Seperti ini."
Gabriel menarik tangan Aria lalu sebelah tangannya memegang pinggang Aria dan tangan yang satu lagi sudah berada di leher Aria yang berbalutkan kain jilbab.
Dengan tatapan tajamnya ia berhasil membuat Aria terdiam dan menatapnya begitu dalam. Gabriel mendekatkan wajahnya lalu menikmati semilir hembusan udara.
"Kau cantik sekali, sayang. I love you, ummmachhh."
Mata Aria melotot sempurna ketika Gabriel mengecup bibirnya dengan suara yang keras. Mau taruh dimana wajah ini kalau ada yang melihat. Ini kan masih di rumah besan.
"Cie, cie." Gabriel dan Aria menoleh ke arah suara. Di sana ada Delisa yang melipat kedua tangannya di dada sembari sesekali bersiul.
"Eh, ada anak tuyul. Kenapa kau di sini, ha? Mengganggu orang saja," kesal Gabriel merasa momen mesum nya di ganggu.
"Lah, paman dan bibi saja seenak jidat ciuman di tempat umum. Kalau mau mesra-mesraan di kamar dong," sahut Delisa.
"Kami kan sudah menikah, ya suka-suka kami lah. Jomblo mana tau," timpal Gabriel semakin sengit menatap keponakan nya itu.
"Eleh, Delisa tau paman dan bibi sudah menikah. Tapi, jangan mesum di tempat umum. Sudah tua pula tuh," balas Delisa tak gentar.
"Eh, apa tau mu, ha? Dasar bocah bau kencur, kami ini walau sudah tua tapi jiwa muda kami masih membara. Beda dengan mu yang muda tapi jiwanya sudah tua," kesal Gabriel. Aria menepuk jidatnya melihat perkelahian dua manusia beda umur itu.
"Eh, paman jangan bilang jiwa Delisa tua yah. Dari mana paman tau kalau jiwa Delisa tua, memangnya paman ini paranormal," balas Delisa semakin membuat Gabriel kesal.
"Hei, sudah-sudah. Apa-apaan ini? Pagi-pagi sudah ribut. Pagi itu waktunya kita tersenyum dan mengisi perut, bukan malah saling mencaci," sela Aria menengahi pertengkaran tidak berguna itu.
"Paman yang duluan, masa sudah tua melawan anak muda sih? Kan tidak nyambung," sahut Delisa.
"Ck, ck, ck. Kau semakin kurang ajar rupanya yah, paman akan meminta ibu mu untuk memberikan les kesopanan agar kau tau bagaimana cara berbicara dengan orang tua," ucap Gabriel berkacak pinggang.
"Eum, terserah paman saja." Delisa pun pergi dengan masih meninggalkan jejak permusuhan.
"Kau seperti anak-anak," ledek Aria mencubit pipi Gabriel.
"Ck, jangan mulai."
"Hahahahahaha, lucu nya bayi besar nih."
*******
Meja makan.
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk segera sarapan. Razka dan Zia pun sudah duduk di posisi masing-masing.
"Mau makan apa? Nasi goreng, roti, lontong, mie goreng, atau yang lain?" bisik Zia pada Razka.
Razka pun mendekatkan wajahnya lalu ikut berbisik juga. "Makan dirimu saja, boleh?" bisik Razka dengan nada sensual.
Zia pun refleks mencubit paha Razka membuat laki-laki itu melotot karena merasa sakit.
"Jangan genit, ini sedang sarapan." Zia kembali berbisik.
"Tapi aku ingin makan dirimu," rengek Razka kembali berbisik.
"Ehem, ehem. Waktunya sarapan, nanti saja bergosip nya." Malik menengahi. Sebagai orang tertua ia pun harus bersikap tegas.
"Baik kakek."
Zia pun mengambilkan nasi goreng untuk suaminya lalu menyantapnya satu piring berdua. Awalnya mereka ingin makan satu piring satu orang, tapi ada peraturan dari keluarga Zia kalau pengantin baru itu harus makan sepiring berdua.
Dengan di suapi Zia, Razka sarapan dengan lahapnya. Menghiraukan tatapan orang-orang pada dua insan yang baru saja menikah itu.
"Iri? Bilang bos!"
_
_
_
_
_
...Masih pengantin baru nya. Belum merasakan, habis beras, air mati, listrik habis, susu anak habis, uang tak ada.🤧😂...
Lah kan mereka holang kaya Thor🤧
Oh iya, lupa. Kirain kasta kita sama dengan mereka🤧🤧😂
Maaf telat up yah, sebab author sedang banyak pikiran jadi agak susah untuk nulis.😁 Semoga tetap suka🤭
typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc.
paraaaaah pokoknya...
top banget otor pokoknya,selain tegang dengan perkelahian kasar,ada perkelahian halus juga...