Untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada orang tua angkatnya, Arabella bersedia menyamar dan menikah dengan Fardhan, lelaki yang sebenarnya dijodohkan dengan kakak angkatnya.
Fardhan adalah lelaki berhati dingin yang terluka karena cinta sebelumnya. Meskipun dia tahu keluarga angkat Bella telah menipunya, tapi dia tetap menikahi gadis itu.
Tapi cinta masa lalu Fardhan hadir kembali, merusak apa yang sudah terjalin dan membuat dia dilema. Sementara Bella merasa bersalah karena sudah membohongi Fardhan dan Ibunya.
Akankah Fardhan dan Bella mampu mempertahankan rumah tangga mereka setelah semua rahasia terbongkar?
Atau justru berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bella terkurung di dalam sebuah ruangan kosong yang gelap, banyak jasad yang sudah menjadi bangkai berserakan di sekitarnya, bau busuk begitu menyengat penciuman.
Bella benar-benar ketakutan, dia celingukan berusaha mencari sesuatu atau seseorang yang mungkin bisa membantunya keluar dari tempat mengerikan itu. Tapi tiba-tiba Fardhan datang dan memandangnya dengan tatapan membunuh, ditangan kanannya dia memegang erat sebuah kapak yang berlumuran darah.
"Fardhan ...?" Bella membelalakkan matanya demi melihat sosok suaminya yang terlihat menyeramkan itu, dia semakin ketakutan, tubuhnya gemetaran, lututnya lemas tak bertenaga.
"Ini hukumannya untuk seorang pembohong sepertimu." ujar Fardhan sinis dengan tatapan mata yang seolah ingin mencabik-cabik tubuh Bella.
"A-ampun! A-aku minta maaf." ucap Bella dengan suara yang bergetar.
"Nggak ada maaf untukmu." Fardhan mengangkat kapak ditangannya dan melayangkannya tepat di kepala Bella dan ....
"Jangan!!!" teriak Bella yang langsung tersentak bangun dari tidurnya, peluh sudah membanjiri tubuhnya. Ternyata dia bermimpi buruk.
Bella mengusap dadanya dan menghela nafas lega. "Astaghfirullah, ternyata aku cuma bermimpi."
Bella pun menoleh ke samping, tapi tak menjumpai sosok Fardhan. Bahkan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu tak terlihat di sekitar kamar.
"Apa ini pertanda buruk? Atau hanya akibat dari perasaan bersalah ku saja?" Bella coba menerka sembari mengatur nafasnya yang tersengal.
Tenggorokannya terasa kering, segelas air putih mungkin bisa menenangkan sekaligus menghilangkan dahaga.
Bella menjuntai kan kakinya ke lantai dan beranjak keluar kamar, dengan langkah yang pelan, dia berjalan menuju ruang tamu yang lampunya masih menyala, bahkan pintu depan juga terbuka. Itu menandakan jika seseorang ada di luar rumah.
Masih dengan langkah yang pelan, Bella berjalan mendekati pintu dan mengintip keluar. Benar saja, dia mendapati Fardhan sedang duduk membelakanginya sembari memandangi layar ponselnya, atau lebih tepatnya memandangi foto seorang wanita yang sedang tersenyum manis.
"Aku sangat merindukanmu. Tadinya aku pikir, kita akan menua bersama tapi nyatanya ...." Fardhan tak sanggup melanjutkan kata-katanya, hatinya merasa tertusuk berkali-kali, sakit tak tertahankan.
"Aku mencintaimu, Key. Aku nggak tahu sampai kapan rasa cinta ini akan terus ku simpan untukmu. Atau mungkin sampai aku mati." Fardhan mengoceh sendiri dengan begitu lirih.
Karena melihat Keyla tadi, api cintanya kepada wanita itu kembali berkobar-kobar, kerinduannya pun semakin menjadi.
Bella hanya tertunduk diam mendengarkan semua ungkapan perasaan Fardhan, ada sedikit rasa nyeri di hatinya. Mungkin dia belum mencintai lelaki itu, tapi bagaimanapun juga dia sudah menjadi istrinya.
Perasaan tak diinginkan dan tak diharapkan sudah cukup membuat Bella sakit serta malu pada dunia, sekarang dia mendengar sendiri betapa lelaki yang sudah menjadi suaminya itu sangat mencintai mantan kekasihnya. Dan tak ada kesempatan baginya.
Akhirnya Bella memutuskan untuk kembali ke kamar, membiarkan Fardhan hanyut dalam perasaan cinta dan rindunya kepada Keyla. Bahkan dia tak lagi tertarik untuk menenggak segelas air, membiarkan rasa kering di tenggorokannya begitu saja.
Harusnya ini menjadi malam pengantin yang syahdu dengan penuh kehangatan, tapi Bella justru harus merasakan sakitnya diabaikan.
***
Keesokan harinya, Bella bangun pagi-pagi sekali, dia sedikit terpana melihat Fardhan yang tidur seranjang dengannya, walaupun lelaki itu memunggunginya.
Bella tak mau larut dalam rasa jengah, dia bergegas bangkit dan segera melaksanakan shalat subuh. Melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Selesai shalat, Bella pun ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Di dapur Ranti sudah lebih dulu meracik beberapa bahan untuk membuat sarapan.
"Selamat pagi, Bu." sapa Bella lembut.
"Eh, selamat pagi, Karin. Kok sudah bangun?" Ranti memandang Bella dengan kening yang mengkerut, dia sadar, sepertinya tadi malam tak terjadi (malam pertama) yang semestinya. Sebab rambut menantunya itu -tak basah-
"Iya, Bu. Aku memang setiap hari bangun jam segini." sahut Bella yang tak mengerti arti tatapan mertuanya itu.
"Oh, gitu." Ranti pun tersenyum canggung.
"Mau masak apa, Bu?" tanya Bella yang perhatiannya tertuju ke bahan makanan yang sudah tersedia di atas meja.
"Mau buat bubur ayam untuk sarapan. Fardhan itu paling suka makan bubur ayam." jawab Ranti yang kini mencuci beras di dalam panci.
"Kalau gitu biar aku bantu, Bu." Bella mengambil ayam yang masih tersimpan di dalam plastik, lalu mencucinya.
"Eh, nggak usah, Karin! Biar Ibu saja! Nanti tanganmu bau amis." Ranti berusaha merebut ayam yang dipegang Bella, karena tak enak jika menantunya itu ikut memasak, tapi Bella mempertahankannya.
"Nggak apa-apa, Bu. Aku udah biasa masak kok."
Ranti melotot tak percaya. "Serius? Kamu udah biasa masak?"
Bella mengangguk. "Bantu-bantu Bi Sumi dan Ibu."
"Wah, kamu memang paket komplit. Sudah cantik, baik, rajin pula. Fardhan beruntung banget bisa menjadi suamimu." puji Ranti heboh. Dia tak menyangka Karina (palsu) mau turun ke dapur, karena setahu Ranti, Karina (asli) itu wanita yang manja.
Sedangkan Bella hanya tersenyum getir demi mendengar ucapan Ranti yang terdengar seperti pujian itu, dia kembali teringat kejadian tadi malam dan juga mimpi buruknya.
Mereka pun mulai memasak bubur ayam kesukaan Fardhan itu sambil sesekali mengobrol, walaupun hati Bella masih galau, tapi dia berusaha menutupinya.
Empat puluh lima menit kemudian, Fardhan pun keluar dari kamar. Ranti dan Bella terkesiap melihat Fardhan yang sudah rapi.
"Loh, kau mau kemana, Dhan?" tanya Ranti heran. Bella hanya memandangnya.
"Kerja!" jawab Fardhan singkat dengan wajah yang datar sembari duduk berhadapan dengan Bella, tapi sedikit pun dia tak mau melirik Bella, seolah-olah istrinya itu makhluk tak kasat mata.
"Loh, bukannya masih libur?"
"Ada klien yang menungguku, Bu." sahut Fardhan bohong dan mulai menyantap bubur dihadapannya dengan suapan besar.
"Tapi kau baru saja menikah, apa nggak sebaiknya kalian berbulan madu dulu?"
Fardhan meletakkan sendok nya dengan kasar sampai membentur tepi mangkuk lalu menatap tajam Bella.
"Nggak perlu, Bu. Masih banyak yang lebih penting dari itu." ujar Fardhan sinis dan langsung beranjak pergi.
"Dhan!!!" Ranti berusaha menghentikan putranya itu, tapi tak digubris.
Sementara Bella hanya tertunduk diam, merasa kesal dan sedih diperlakukan begini.
Lalu Ranti beralih memandang Bella, dia benar-benar merasa tak enak hati atas sikap Fardhan.
"Maafkan anak ibu ya?"
Bella mengangguk pelan. "Iya, Bu."
Bella bingung melihat sikap Fardhan, sangat berbeda dari sebelum mereka menikah. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa karena Keyla dia jadi berubah begini? Entahlah!
Rasanya dia ingin sekali melampiaskan kekesalan hatinya, tapi tak mungkin dia lakukan. Hanya bisa sabar dan berharap semuanya baik-baik saja. Anggaplah stok kesabarannya masih menggunung.
***
jadi begini misalnya suami author punya teman cewek yang perhatian pada suami author (kayak perhatian raka dan bella) dan suami author dengan senang hati menerima segala kebaikan cewek itu, dan suami author berinteraksi dengan cewek itu kayak intraksi raka dan bella
bagaimana perasaan author
coba tanyakan pada dirimu thor
*jika kau Terima suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain (kayak interaksi raka dan bella) maka pola pikir mu tidak ada masalah
*tapi jika kau tidak suka suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain ( kayak interaksi raka dan bella), maka pola pikir mu ada masalh thor
renungkan lah
saat di novelmu, kau membenarkan seorang istri berteman dan diperhatikan pria lain dan semua interkasi sang istri dengan pria lain kau benarkan maka tanya kan pada dirimu sendiri apakah kau Terima juga jika suamimu punya teman cewek dan diperhatikan oleh cewek lain
renungkan lah