Ketika dua orang dengan budaya berbeda bertemu, Bonar Siregar perantauan dari Tapanuli dengan Zulaikha gadis Minang nan cantik jelita. Takdir mempertemukan mereka dan memutuskan membina rumah tangga bersama.
Namun, pihak ketiga muncul di kehidupan mereka, ia adalah Putri Sakinah. Putri Mahkota kerajaan Padang Nunang.
Putri Sakinah yang juga atasan dari Bonar Siregar sebagai Pengawal pribadinya, jatuh cinta padanya. Berbagai cara dilakukan oleh Putri Sakinah untuk mendapatkan cinta dari Pemuda tampan dan baik hati itu.
Di lain sisi, pihak Kerajaan sedang terjadi kekacauan, akibat dari Kerajaan Majapahit melakukan penaklukan terhadap daratan Sumatera.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Pantengin terus ya, ada banyak sejarah abad ke 14 di Sumatera yang diselipkan dalam Novel ini.
#Season Dua
Putri Sakinah diculik oleh anak buah Patih Prawiranegara dan dibawa ke Majapahit.
Bagaimana nasibnya selanjutnya? atau tindakan apa yang akan dilakukan oleh Bonar Siregar?
Pantengin terus, ya. Karena alur ceritanya akan berbeda dengan season satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Regar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Padang Sidempuan
"Kita beristirahat di kota ini sayang!" seru Bonar Siregar membangunkan Zulaikha yang tertidur pulas dibelakang sambil memeluk suaminya itu. Bonar Siregar memegang sebelah tangannya supaya tak jatuh dari kuda. Sementara yang satu lagi memegang tali pengikat kuda.
"Hah ..." jawab Zulaikha sambil menguap, ia tertidur pulas setelah beberapa kali mabuk akibat goncangan kuda yang membuat perutnya mual. "Apa kita sudah di Sipirok?" tanyanya lagi, padahal suaminya bilang cuma istirahat.
"Belum, kita baru di kota Padang Sidempuan," jawab Bonar Siregar memarkirkan kudanya disamping penginapan yang terbesar di kota Padang Sidempuan ini.
Penginapan Saroha, itulah nama penginapan yang terbesar di kota ini. Bangunannya berbentuk rumah panggung besar dengan puluhan kamar dan bagian bawahnya yang terbuka dijadikan sebagai rumah makan. Sehingga para tamu penginapan tak perlu lagi jauh-jauh mencari tempat makan.
"Kita makan dulu atau memesan kamar?" tanya Bonar Siregar pada Zulaikha, setelah ia menambat kudanya di kandang yang disediakan oleh penginapan.
"Makan saja Uda, daripada bolak-balik turun," jawab Zulaikha.
Mereka kemudian menuju rumah makan itu dan memesan gulai arsik ikan mas, yang merupakan masakan khas daerah ini.
"Bagaimana enak tidak?" tanya Bonar Siregar padanya.
"Enak sih enak, tapi aku malu Uda." Zulaikha melirik pengunjung sekitarnya yang terus menatapnya.
"Jangan pedulikan mereka! Kau makan saja cepat. Kita istirahat di kamar saja!" seru Bonar Siregar lagi, "Hei dia ini istriku!" seru Bonar Siregar dengan bahasa Tapanuli pada pengunjung rumah makan.
"Uda ...." Zulaikha memegang pundak suaminya itu, ia takut kejadian yang di Panyabungan terulang lagi. Ketika suaminya itu membantai orang yang mengganggunya.
"Tak apa, aku cuma memberi tahu saja bahwa kau itu istriku pada mereka," jawab Bonar Siregar meyakinkan Zulaikha.
Para pengunjung kemudian memalingkan wajah mereka, ada yang makan dan yang lain pura-pura mengobrol dengan temannya. Namun mata mereka tetap curi-curi pandang pada Zulaikha.
Bonar Siregar segera bergegas menghabiskan makanannya, ternyata menjaga istri yang cantik itu sama dengan menjaga mutiara, yang sewaktu-waktu bisa dirampok dan banyak yang iri hati.
Setelah selesai makan, Zulaikha memakai kembali penutup wajahnya. Kemudian mereka membayar biaya makannya, Zulaikha juga merangkul tangan suaminya ketika berjalan. Ia ingin menunjukkan pada semua orang bahwa mereka adalah pasangan kekasih.
Bonar Siregar senyum-senyum sendiri ketika menyadari kelakuan istrinya itu. "Sayang hati-hati melangkah, nanti telapak kaki indahmu lecet!" seru Bonar Siregar lantang, supaya para pengunjung rumah makan itu mendengarnya.
"Huuuuu!" seru mereka.
"Mudah-mudahan kau impoten! Supaya istrimu meninggalkanmu!" seru yang lainnya.
"Iri ... ya," ejek Bonar Siregar sambil menutup pintu penginapan. Mereka menuju kamar ketiga, kamar yang mereka pesan.
"Ah ... nyamannya." Zulaikha melompat keatas kasur, ia sangat kelelahan berkuda sepanjang hari. Hanya beberapa kali mereka berhenti, itupun hanya sejenak saja. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan lagi.
"Jangan tidur dulu, ayo kita mandi!" seru Bonar Siregar membuka jendela kamar.
"Ayo ...." Zulaikha kembali bangkit dari tempat tidur.
Mereka kemudian berjalan menyelusuri lorong rumah dan di ujungnya ada pemandian umum. Bonar membayar lima keping perak untuk kamar mandi khusus. Yang mana suami istri boleh mandi bersama.
"Ah, beratnya!" Zulaikha mencoba menimba air dari sumur.
"Sini aku saja yang menimba!" Bonar meraih tali timba dari tangan Zulaikha. Ia kemudian mengisi ember kosong disebelah sumur.
Zulaikha lansung mengguyurkan air ke sekujur tubuhnya. "Ah segarnya ...."
Bonar Siregar yang melihat tubuh polos tanpa sehelai benangpun yang menempel pada istrinya itu langsung mimisan.
"Eh kau berdarah! Kenapa itu?" Zulaikha panik.
"Tak apa. Mantap!" seru Bonar Siregar mengacungkan jempol padanya.
"Ih mesum ...." Zulaikha menyadari apa yang dipikirkannya.
"Hehehe ...." Bonar Siregar tertawa cengengesan, ia kemudian menyiram air ke sekujur tubuhnya lansung dari timba.
Setelah selesai mandi mereka kembali ke kamar. Mereka kemudian istrihat setelah melewati perjalanan yang melelahkan, tak lupa sebelum tidur mereka lebih dulu melakukan aktivitas rutin yang menyegarkan pikiran dan raganya.
Malam-malam penuh bintang dengan diiringi suara jangkrik yang berdendang ria mereka lewati. Tak terasa ayampun berkokok dan fajar segera menyingsing. Kedua sejoli itupun bangun dari ranjang dengan hati yang penuh semangat. Tak lupa Bonar Siregar mencium kening istrinya, ia mengingat perkataan seseorang di Panyabungan untuk selalu memanjakan pasangan supaya hubungan tetap langgeng dan harmonis.
Zulaikha senyum-senyum dimanja oleh suaminya itu. Kemudian mereka bergegas meninggalkan penginapan untuk melangsungkan perjalanan menuju Sipirok.
Ketika mereka melewati sebuah pasar, Bonar Siregar memperlambat laju kudanya. Ia memperhatikan dagangan mereka dan matanya tertuju pada tumpukan salak sebuah lapak. "Kau mau salak tidak?" Ia menawarkan buah khas kota Padang Sidempuan ini.
"Iya ..." jawab Zulaikha.
"Bang bungkus satu!" seru Bonar Siregar pada pedagang salak itu.
"Sepuluh koin perak!" jawabnya sambil memberikan satu bungkus salak, yang bungkusnya terbuat dari anyaman pelepah kelapa muda.
"Ummmmm ... rasanya asam-asam manis, berbeda dengan salak pondoh yang pernah kumakan!" seru Zulaikha mencicipi satu.
"Itulah keunikan salak Sidempuan ini," sahut Bonar Siregar, ia juga mencicipi satu juga.
Kedua sejoli itu kemudian meninggalkan kota Padang Sidempuan. Bonar Siregar memacu kudanya dengan cepat, ia tak ingin kemalaman sampai di Sipirok nanti.
********************************************
Catatan: Uda adalah Abang (bahasa Minang)
Si Malin (Kundang) bangkit lg..
jd sobatny si Bonar nih ..🤣
Semangat Bang!!!
ini hanya saran dan masukan.
bagus sekali ceritanya. lucu dan seru. sangat menghibur.👍